Showing posts with label koleksi. Show all posts
Showing posts with label koleksi. Show all posts

April 15, 2014

[review] Memang Jodoh - Marah Rusli

1 komentar

Adalah hadiah ulang tahun ke 24 dari seorang adik di himpunan yang juga seorang teman di kantor. Termasuk dalam daftar buku yang pengen dibeli sebenarnya. Eh, malah dikasih. Alhamdulillah, rejeki anak shaleh J

Bagi yang nggak tau Marah Rusli, mungkin masih inget sama Siti Nurbaya. Tahun 1920-an (lupa tahun berapa pastinya) Siti Nurbaya merupakan novel roman yang member warna baru dalam dunia sastra Indonesia. Pasalnya, Siti Nurbaya berkisah tentang pertentangan mengenai adat istiadat Minang dalam hal perkawinan. Novel ini merupakan bentuk protes dan perlawanan dari seorang Marah Rusli terhadap adat istiadatnya sendiri. Hebatnya gitu sih, cara melawannya elegan; menulis dan menghasilkan karya.

Nggak berlebihan deh kalau akhirnya beliau dikenal sebagai bapak Roman Modern Indonesia.

Bingung dan kaget karena tiba-tiba ada novel baru dari Marah Rusli. Toh, Beliau udah almarhum. Ternyata, Memang Jodoh udah rampung sejak tahun 1961. Sengaja dirilis tahun 2013, 50 tahun lebih setelah novel ini diselesaikan. Alasannya, buku ini baru boleh diterbitkan setelah orang-orang yang terlibat dalam kisah di dalamnya meninggal dunia.

Dari judulnya aja, kita udah bisa nebak kalau Memang Jodoh lagi-lagi bercerita tentang adat-istiadat perkawinan di Minang. Yang nggak nyangka, ternyata kisahnya adalah kisah pribadi dari Marah Rusli. Maka wajar lah ya, buku ini baru terbit setelah nunggu semua yang terkait udah nggak ada dulu meskipun nama-nama tokoh udah disamarkan.

Dan masih sama seperti karya sastra Indonesia lainnya. Gaya bahasa Indonesia yang masih menggunakan tatanan lama selalu jadi favorit aku.

Memang Jodoh membukakan cakrawala kita dalam melihat kembali nilai historis di Minangkabau. Tentang gaya hidup masyarakat dahulu yang menjaga adat-istiadat dengan tidak megizinkan pernikahan dengan suku lain selain Minang. Meskipun seiring perubahan zaman, kemudian sudah ada kelonggaran dalam banyak hal. Termasuk adaik babuhua sintak kali ya? *sok iyes inih, padahal lupa pelajaran BAM* *yang nggak tau BAM itu apa, silahkan googling*.

Mungkin ‘Memang Jodoh’ sudah kita maklumi dengan celetukan: Ya kalau jodoh, mau gimana lagi?’ 


Tentu saja tiap hidup akan mati dan tiap perjumpaan akan berpisah; tapi bukan itu pint akita. Kita masih muda, baru hendak dewasa. Galibnya, perjalanan kita masih panjang dan masih banyak cobaan yang akan kita tanggung (hlm. 35)
Tetapi janganlah tak kita percayai bahwa Tuhan tidak berbuat sia-sia. Segala perbuatan-Nya niscaya ada juga faedahnya. Apabila kita tak dapat menyelami faedah ini dengan sedalam-dalamnya, bukanlah karena tak ada faedah itu, melainkan semata-mata karena kita yang tak dapat mengetahuinya dengan pancaindra dan pikiran kita.  (hlm. 404)
Bukankah ilmu pengetahuan pun mengakui bahwa pancaindra kita tak sempurna, untuk menyandarkan sekalian yang ada dalam semesta alam ini; karena ia terbatas. (hlm. 404)
Tuhan tidak berbuat sesuatu yang tak baik, atau sesuatu yang sia-sia. Segala perbuatan-Nya semata-mata menuju kepada kebaikan juga, walaupun tidak selamanya dapat kita rasakan dan kita pikirkan. (hlm. 407)

July 15, 2013

[review] Oeroeg - Hella S. Haasse

0komentar
Oeroeg.
Buku tipis yang secara tidak sengaja dibeli saat bazaar buku murah. Seriously, tertarik beli karena dua hal. Pertama karena gambar covernya. Kedua karena tulisan ‘World Classic’ di covernya. Nggak nyangka aja ternyata penulisnya adalah seorang Sastrawan Belanda. *keplak Fia*
I have no idea what this novel about.
Setelah membaca beberapa halaman, gambaran awal yang muncul di otak adalah kisah tentang persahabatan dua anak yang berasal dari ras dan strata social berbeda. Eropa dan pribumi.
Semakin kebelakang, ada yang lain ternyata.
Novel ini tidak bertutur sebatas tentang kisah persahabatan tokoh ‘Aku’ dan Oeroeg, yang dianggap sebagai sahabat bahkan pelengkap kehidupan ‘Aku’. It’s more than that. Novel ini menyiratkan kisah perubahan-perubahan kehidupan yang dialami si dua tokoh, kemampuan menyikapi perbedaan asal-usul, hingga pencarian jati diri. Pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul dalam pikiran tokoh ‘Aku’ terhadap Oeroeg maupun keadaan sekitar terkadang membuat kita lupa bahwa sebenarnya ‘Aku’ terhitung masih belia secara usia.
Pembaca akan sampai pada bagian di mana perubahan yang terjadi dalam diri dua tokoh penting ini digambarkan dengan kuat. Sedikit dari bagian favoritku, di halaman 81-83, tertulis:
Kali ini Oeroeg dan aku menyadari dengan semacam perasaan kecewa yang mengejutkan bahwa mandi di sungai tidak lagi kami nikmati sepenuhnya. Mungkin ini agak berlebihan. Sebaiknya mungkin aku mengatakan ini: berenang ketika itu – dan sejak saat itu—tidak lebih dari sekedar membenamkan diri di air demi mencari kesegaran, tindakan yang timbul akibat kebutuhan mendinginkan tubuh. Begitu keinginan itu terpenuhi, sebetulnya tidak ada lagi alasan bagi kami berdua untuk tetap berada di air. Kendati kami berdua memang menyadari hal ini, kami tetap bermain air agak lama, karena kebiasaan, dan mungkin juga karena rasa malu terhadap satu sama lain. Perbedaannya adalah, kami memnadang berenang, sungai, aliran sungai yang berkelap-kelip dengan mata yang berbeda, dengan mata yang tak lagi bisa melihat dunia nyata sebagai dunia ajaib. ...
... Sesuatu telah berlalu. Kami bukan lagi anak-anak.
Sampai ke ujung buku ini, aku sedikit terkejut karena esensi nasionalisme Indonesia dimunculkan di akhir cerita. Bedanya, kali ini diceritakan oleh sudut pandang orang Belanda.

March 20, 2013

[review] The Man Who Loved Books Too Much

0komentar



This book belongs to none but me
For there’s my name inside to see.
To steal this book if you should try,
It’s by the throat that you’ll hang high.
And ravens then will gather ‘bout
To find your eyes and pull them out
And when you’re screaming “Oh, Oh, Oh!”
Remember, you deserved this woe.
--- Warning written by medieval Germany scribe


Secara nggak sengaja berserobok mata di tumpukan paling sudut dari meja paling ujung, di sebuah toko buku. Sambil menahan nafas, dan membelalakkan mata aku langsung ambil buku ini. Pas! Karena ternyata ini buku terakhir. And overall, i’m not disappointed with what i found.  
How lucky Gilkey is!
Ini yang namanya ‘out of the box’. Not in a good way. Haha.
Gaya penceritaan yang beda dari Allison, seorang jurnalis San Fransisco Magazine, kuat dalam deskripsi serius dan straight to the point. Kisah nyata yang diangkat dideskripsikan dengan begitu jujur pada setiap sesi wawancara dan potongan moment bersama Gilkey, seorang bibliomania, yang membuat Sanders, agen buku yang merangkap sebagai ketua ABAA (Antiquarian Booksellers’ Association of American) geram.
Kasus yang unik dari rangkaian pencurian buku. Motifnya? Murni karena ‘cinta’ yang direfleksikan dengan bentuk ‘ingin memiliki’. Nggak tanggung-tanggung, buku yang selalu diinginkan adalah buku langka yang termasuk Top 100 dalam kategori tertentu. Meski sayang, caranya dalam mendapatkan buku itu salah.
Lucunya, dia sempat mengeluarkan celetukan:
 “Itu kan pencurian” (hlm. 178).
Suatu tindakan yang tidak dia sukai. Ya jadi, lo ngapain kalo ga nyuri namanya, Mas???
Anyway, ada nggak sih kasus seperti ini di Indonesia?  Atau, ada nggak sih asosiasi kolektor buku langka di Indonesia? *gugling dong! #selftoyor*

Let me share some statement:

Buku merupakan artefak sejarah dan tempat berkumpulnya kenangan – kita senang mengingat-ingat siapa yang memberi buku kepada kita, di mana kita saat membacanya, berapa usia kita, dan sebagainya.

Hlm. 12

Kami ingin buku-buku ini bersama dengan orang-orang yang mencintai mereka, orang-orang yang mau membeli mereka, yang menghargai mereka.

Hlm. 214

November 16, 2012

[review] Life of Pi

0komentar

Pindah dari India ke Kanada ternyata mengantarkan Piscine Patel dalam sebuah petualangan luar biasa. Bertahan hidup lebih kurang 6 bulan di atas sebuah sekoci bersama harimau, dan beberapa hewan yang akhirnya mati juga.
Di awal penulis menuturkan ini adalah cerita yang bisa membuat kita percaya pada Tuhan. Nggak berlebihan sepertinya. Berangkat dari kisah masa kecil Pi yang memeluk 3 agama berbeda, akan terasa unik dan mengusik sedikti sisi rohani pembaca. Ditambah kemampuan bertahan hidup Pi yang tentunya bnggak lepas dari kehendak Tuhan.
Martel mendeskripsikan semua yang dialami dengan sangat jelas. Makanya agak sedikit ngeri juga membayangkan beberapa kisah ‘berdarah’ disana. Meskipun latar tempatnya hanya satu: di atas sekoci yang mengarungi Samudra Pasifik, ternyata nggak bikin bosen karena pengalaman dan penemuan Pi selama bertahan hidup.  

Highlited on Life of Pi:
Kalau kita, para warga Negara, tidak memberikan dukungan kepada seniman-seniman kita, berarti kita telah mengorbankan imajinasi kita di altar realitas yag kejam, dan pada akhirnya kita jadi tidak percaya pada apapun, dan mimpi-mimpi kita tak lagi berarti.
` Yann Martel, p. 14
Sebab seperti itulah binatang: konservatif, malah bisa dibilang reaksioner. Perubahan-perubahan sekecil apapun akan mengganggu bagi mereka.
` Pi, p. 38
Memilih keraguan sebagai falsafah hidup sama halnya memilih kemandekan sebagai sarana transportasi.
`Pi, p. 55
Ingatan manusia bagaikan samudra dan dia timbul tenggelam naik-turun di permukaanya.
`Yann Martel p. 74
Kemajuan tidak bakal bisa dihentikan. Kita semua mesti berbaris mengikuti irama gendering. Teknologi akan berperan, dan gagasan-gagasan bagus akan menyebar – itulah hukum alam.
`Ayah Pi, p. 119
Orang berpindah karena berharap memperoleh kehidupan yang lebih baik
`Pi, p. 123
Kalau nyawa kita sendiri terancam, kemampuan kita berempati jadi tumpul oleh hasrat egois yang amat sangat untuk bertahan hidup.
`Pi, p. 178
Benar sekali bahwa kita jadi kreatif kalau terdesak oleh kebutuhan, amat sangat benar.
`Pi, p. 204
Rasa takut adalah satu-satunya lawan sejati kehidupan. Hanya rasa takut yang dapat mengalahkan kehidupan. Rasa takut sama sekali tak kenal malu, tak pedulihukum atau aturan apa pun, dan tak kenal ampun. Dengan mudah dia bisa menemukan kelemahan kita yang utama, dan menyerangnya. Dan yang mula-mula diserang selalu pikiran kita.
`Pi, p. 234
Harimau, bahkan semua binatang, tidak begitu senang dengan menggunakan kekerasan sebagai cara untuk menyelesaikan masalah. Kalu binatang sampai berkelahi, berarti dia memang berniat membunuh, atau merasa dirinya bakal terbunuh.
`Pi, p. 296
 Ada dua jenis rasa takkut yang tidak bisa kita buang dari dalam diri kita: reaksi terkejut karena mendengar suara berisik yang tidak disangka-sangka, dan vertigo
`Pi, p. 371
Kesulitan utama melatih binatang adalah mereka bertindak berdasarkan insting atau kebiasaan. Mereka cukup cerdas untuk memahami asosiasi-asosiasi baru yang bukan bersufat naluriah
`Pi, p. 385
Dunia bukan seperti yang kelihatan. Tapi sesuai cara kita memahaminya,bukan begitu? Dan dalam memahami sesuatu, kita memasukkan sesuatu kedalamnya, bukan begitu?
`Pi, p. 423

July 14, 2012

[review] Anak Semua Bangsa - Pramoedya Ananta Toer

0komentar

Buku kedua dari tetralogi buru Pramoedya Ananta Toer. Yang pertama, Bumi Manusia, berhasil bikin penasaran banget sama buku kedua. Seterusnya, ini lagi ‘gantung’, nggak sabar pengen dapet buku ketiga. Begitulah ‘penyakitnya’ kalo baca buku berseri.
Disini Minke dihadapkan dengan situasi yang jauh berubah. Minke diminta, bahkan dipaksa oleh dua orang dekatnya, Jean Marais dan Kommer untuk membuka mata lebar-lebar dan melihat realita yang terjadi pada bangsanya, tepatnya pada penduduk Pribumi. Ditantang menulis dalam bahasa Melayu dan Jawa sering kali menjadi poin yang bisa menyulut emosi. Namun, apa hendak dilawan, niatnya untuk merubah kehidupan bangsa sendiri yang mengharuskan dia, sekuat tenaga, bersikap adil, bahkan sejak di dalam pikiran. Maka niat itu dimulai dengan melihat secara langsung kehidupan salah satu keluarga petani tebu di Tulangan bernama Trunodongso.
Seolah tanpa ada hentinya, Minke masih saja dihadapkan dengan hal-hal yang sampai menghambat dirinya untuk melanjutkan sekolah kedokteran. Setiap hal terjadi untuk menguji keteguhan hati Minke untuk menjadi orang yang sebenarnya terpelajar.
Maka, untuk memperkuat nilai buku ini nggak ada salahnya mengutip potongan kalimat:
… namun juga mengisi isu kesusasteraan yang sangat minim menggarap periode pelik ini. Karena itu, hadirnya roman sejarah ini, memberi bacaan alternatif kepada kita untuk melihat jalan dan gelombang sejarah secara lain dan dari sisinya yang berbeda. mungkin pembaca ada yang mengatakan bahwa novel tak lebih hanya membangun khayal penulisnya. Akan tetapi, roman ini disandarkan penulisnya lewat sebuah penelusuran dokumen pergerakan awal abad 20 yang kukuh dan ketat.

Highlight on Anak Semua Bangsa:
Orang bilang, apa yang ada di depan manusia hanya jarak. Dan batasnya adalah ufuk. Begitu jarak ditempuh sang ufuk menjauh.
~ MInke, 2.

Mendapat upah karena menyenagkan orang lain yang tidak punya persangkutan dengan kata hati sendiri, kan itu di dalam seni namanya pelacuran.
~ Jean Marais, 78.

Sepandai-pandai ahli yang berada dalam kekuasaan yang bodoh ikut juga jadi bodoh, Tuan.
~ Khouw Ah Soe, 88.

Orang tua-tua kami bilang: Di langit ada sorga, di bumi ada Hanchou, dan kami  menambahkan, di hati ada kepercayaan.
~Khow Ah Soe, 89.

Eropa tidak lebih terhormat dari kau sendiri, Nak!
~ Nyai Ontosoroh, 100.

 Benar sekali: batu-batu kali, kerikil, dan cadas pun bisa menyatakan perasaannya. Jangan remehkan satu orang, apalagi dua, karena satu pribadi pun mengandung dalam dirinya kemungkinan tanpa batas.
~ Minke, 108.

Kesulitan terbesar hanyalah karena kehabisan teman.
~ Minke, 114.

Sebesar-besar ampun adalah yang diminta seorang anak dari ibunya, sebesar-besar dosa adalah dosa anak kepada ibunya.
~ Robert Mellema, 130.

Kami percaya, Minke. Akhir-akhirnya semua diciptakan Tuhan untuk kita semua. Dan tiada kebahagiaan tanpa melewati ujian.
~ Miriam de la Croix, 141.

 Semakin sibuk orang mencari-cari dan menemukan, semakin jelas, bahwa dia sebenarnya diburu-buru oleh kegelisahan hati sendiri.
~ Miriam de la Croix, 143.

Untuk apa hidup sesungguhnya? Buakn untuk menampung semua yang tidak diperlukan.
~ Nyai Ontosoroh, 148.

Apa artinya pandai kalu tak berbahagia di rumah sendiri? Belajar juga penting – belajar membangun kehidupan sendiri. Sekolah kan cuma penyempurna saja.
~ Jean Marais, 150.

Pohon tinggi dapat banyak angin. Kalau Tuan segan menerima banyak angin, jangan jadi pohon tinggi.
~ Kommer, 155.

Bahkan tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang takkan mengenal bangsanya sendiri. Dan tanpa mengenal bangsa-bangsa lain, ornag takkan dapat mengenal bangsa sendiri dengan lebih baik.
~ Kommer, 158.

Lulus H.B.S. ternyata hanya makin membikin orang tahu tentang ketidaktahuan sendiri. Maka kau harus belajar berendah hati, Minke!
~ Kommer, 163.

Kritik boleh ditangkis, tapi harus didengarkan dulu, direnungkan, kalau perlu tidak ditangkis dan diterima sebagai saran. Orang tak perlu marah mendapatkan kritik.
~ Kommer, 270.

Kau masih lebih banyak menimbang-nimbang baik-buruk orang lain. Bagaimana tentangmu sendiri? Sudah pernah kau pertimbangkan secara adil?
~ Jean Marais, 275.

Jelas menulis bukan hanya untuk memburu kepuasan pribadi. Menulis juga harus mengisi hidup.
~ Jean Marais, 280.

Pada suatu kali kau akan kecewa karena anggapanmu sendiri.
~ Jean Marais, 293.

Yang tadinya dianggap pegangan yang kukuh, kuat, terpercaya, ternyata hanya tinggal sekepal pasir semata. Barangkali ini yang dinamai tragedi kehidupan. Begini rapuhnya manusia.
~ Nyai Ontosoroh, 338.

Biarpun kecil jumlahnya, kalau suatu golongan sudah bangkit, bangsa yang sekecil-kecilnya juga akan bangkit.
~ Ter Haar, 406.

Semua yang terjadi di kolong langit adalah urusan setiap orang yang berpikir. Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang memang berjiwa kriminal, biar pun dia sarjana.
~ Kommer, 522.



July 02, 2012

[review] Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer

0komentar
Dan tak ada yang lebih sulit dapat dipahami daripada sang manusia… jangan dianggap remeh si manusia, yang kelihatannya sederhana; biar penglihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput. – PAT
Kita disuguhkan dengan kalimat ini sebelum memulai perjalanan menelusuri roman ‘BumiManusia’. Diulang di halaman 165 oleh Nyai Ontosoroh, seolah diingatkan bahwa yang dibicarakan dalam kalimat diatas adalah kita, sang manusia.
Terlepas dari siapa sosok Pramoedya Ananta Toer, kita harus mengakui bahwa karya-karyanya adalah sebuah sumbangan Indonesia untuk dunia. Penyumbang warna tersendiri dalam wajah sastra Indonesia karena gaya bahasa yang khas dan genre yang beda [roman dan novel sejarah].
Buku pertama dari Tetralogi Buru yang ditulis selama di penjara ini bercerita tentang Minke dengan segala lika-liku kehidupannya.  Secara pribadi aku terpikat dengan sosok Nyai Ontosoroh yang luar biasa. Kita bisa menilai sosok perempuan satu ini dari berbagai sudut pandang dan bisa menjadi bahan diskusi yang menarik.

Highlight:
Kau harus berterimakasih pada segala yang memberimu kehidupan,
~ Annelies, 50

Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri dan maju Karena pengalamannya sendiri.
~ Nyai Ontosoroh, 59.

Pendapat umum perlu dan harus diindahkan, dihormati, kalau benar. Kalau salah, menapa dihormati dn diindahkan? Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak pikiran, apalagi dalam perbuatan.
~Jean Marais, 77.

Cinta itu indah, Minke, terlalu indah yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini.
~Jean Marais, 81.

Lagipula, tak ada cinta muncul mendadak, karena dia adalah anak kebudayaan, bukan batu dari langit.
~Jean Marais, 81.

 Wanita lebih suka mengabdi pada kekinian dan gentar pada ketuaan; mereka dicengkam oleh impian tentang kemudaan yang rapuh itu dan hendak bergayutan abadi pada kemudaan impian itu.
~Jean Marais, 89.

Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya.
~Minke, 186.

Kau terpelajar, cobalah bersetia pada katahati.
~Jean Marais, 274.

Melawan pada yang berilmu dan pengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan.
~ Miriam de la Croix, 282.

Jangan takut pada pelajaran apapun, karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua.
~Nenenda Minke, 310.

Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.
~Juffrow Magda Peters, 313.

Dalam kehidupan ilmu tak ada kata malu. Orang tidak malu karena salah atau keliru.
~Dokter Martinet, 375.

Manusia membutuhkan belasan, malah puluhan tahun untuk jadi dewasa, manusia dalam puncak nilai dan kemampuannya. Mantap-tidaknya kedewasaaan dan nilai terantun pada besar-kecilnya dan banyak-sedikitnya ujian, cobaan.
~Dokter Martinet, 392.


March 30, 2012

Si Anak Panah

0komentar

Buku ini udah terlalu lama tergeletak di atas lemari. Entah kenapa nggak ada ketertarikan padahal kayaknya ni buku udah manggil-manggil. Mungkin karena belum baca buku pertamanya, Si Anak Kampung, jadi takut nggak seru. Tapi kemudian, niat itu muncul karena saran seorang teman. Dengan modal pede bakalan ngerti walau tanpa baca buku pertamanya, yah, dibaca juga akhirnya. 

Mengangkat kisah Syafii Maarif saat muda. Sebuah novel bertemakan pendidikan yang sangat memotivasi. Sarat nilai dengan cara penyajian yang simpel untuk menggambarkan seorang yang dianggap tokoh di Indonesia. untuk mengerti alurnya dan menangkap nilai yang terkandung dalam cerita juga cukup mudah karena bahasa yang dipakai bukanlah bahasa ilmiah modern yang cenderung berat. Sayangnya, potongan-potongan cerita yang diangkat penulis seolah kurang memiliki koherensi satu sama lain. Banyak potongan cerita yang datang 'tiba-tiba' dan kadang tidak di bungkus dengan baik di akhir sehingga menimbulkan kesan 'gantung'.
         
Quotes dari Si Anak Panah:
Tidak perlu memusingkan hal-hal yang tidak perlu. Karena kadang-kadang ketakutan bisa lebih besar daripada masalah yang ditakuti.
Hlm. 46

Pergilah kemana kau harus pergi, tapi jangan sampai keadaan mendesakmu melakukan apapun yang sedang kau lakukan. Kau harus melakukannya karena kau memang memutuskan untuk itu. Jangan biarkan orang lain mendikte jalan hidupmu.
Hlm. 99

Mengetahui tapi tidak berani menyuarakannya adalah sama saja dengan tidak mengetahui apa-apa.
Hlm. 113



January 12, 2012

Muhammad, Para Pengeja Hujan

0komentar



Judul: Muhammad, Para Pengeja HUjan
Pengarang: Tasaro GK
Penerbit: PT Bentang Pustaka
Cetakan I: Mei 2011 – 687 halaman
Harga: Rp 99,000,-


Buku pertama yang aku baca di tahun 2012. Bersyukur banget karena ada yang berkenan ngasih buku ini buat kado *yang merasa dilarang gede rasa*.

Buku kedua (ulasn buku pertama ada disini)dari Trilogi Novel biografi karangan Tasaro GK punya daya tarik yang kuat sehingga rasanya tangan nggak mau berhenti membalik halaman berikutnya. Sayang rasanya kalau harus berhenti di tengah jalan. Meski butuh waktu 3 hari untuk menyelesaikannya, (I must confess that kecepatan membaca aku menurun. Don’t know why) I really enjoy it.

Sama seperti buku pertamanya, novel ini punya dua sudut pandang. Sejarah hidup Rasulullah dan cerita fiksi tentang Kashva. Masih dengan gaya penulisan yang penuh dengan bahasa sastra yang indah bikin menggugah hati dan nggak ngebosenin. Nggak jarang juga bikin merinding dan terenyuh saat kisah hidup Rasulullah diulas.
Kisah hidup Rasulullah yang digambarkan di buku kedua adalah tentang orang tuanya, masa kecilnya, kehidupan anak istrinya juga perang yang dihadapi sampai wafatnya Rasulullah. Namun sebagian besar adalah kisah tentang sahabat, khusunya Abu Bakar. Karena masih berharap disuguhkan kisah tentang Rasulullah tapi yang banyak dibahas adalah tentang kepemimpinan pasca Beliau wafat. Inilah yang bikin aku merasa anti klimaks.

Sedangkan kisah Kashva berlanjut tentang ‘temannya’ di Tibet. Tujuannya untuk belajar agama-agama baru dan memurnikan Zardusht sedikit terpecah sejak ia terpisah dengan Xerxes. Sebenarnya masih banyak tanda tanya yang berseliweran tentang potongan-potongan kisah Kashva. Apalagi cerita ini diakhiri dengan cara yang sangat menegejutkan.

Bikin penasaran. Berharap semoga buku ketiganya segera keluar.  

Words from "Muhammad, Para Penggenggam Hujan" :

November 29, 2011

My Stationery

0komentar

Meskipun udah (masih) mahasiswa tetep aja ga bisa ngilangin hobi ngumpulin yg namanya alat” tulis..

blocknote


blocknote yg hampir abis


masi hobi ini

isi kotak pensil








isi binder yg masi dsimpen
































*dibikin krn kurang kerjaan

November 27, 2011

Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan

0komentar

Buku ini sebenernya udah selesai aku baca beberapa minggu lalu, tapi baru ada kesempatan buat bikin review nya sekarang. (ciee..sok sibuk)
Selama membaca buku ini aku dibikin merinding karena penggunaan bahasa nya yang indah dan bernilai sastra tinggi. Kita diajak untuk mengenal Muhammad secara personal karena penggambaran karakter yang sangat kuat. Sosok Muhammad digambarkan begitu tangguh, namun lembut dan penuh cinta terhadap umatnya. Itu adalah gambara bagian pertama.
Di bagian kedua, penulis menceritakan tentang pemuda Persia bernama Kashva yang melakukan perjalanan untuk menemukan kebenaran dan menjawab ketidakjelasan yang kerap dia disikusikan dengan Elyas, seorang sahabat pena dari Suriah.
Sayangnya kedua bagian ini belum bertemu dalam satu titik, sehingga klimaks novel ini kurang terasa. Seandainya dibikin titik temunya, baru novel ini ‘digantung’ dan disambung ke novel keduanya (Para Pengeja Hujan) mungkin greget dan rasa penasaran pembaca semakin terpancing. Tentunya pembaca tidak akan ragu untuk membeli buku kedua.

Words on Muhammad:

 

tentangku © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates