Showing posts with label It's so Me. Show all posts
Showing posts with label It's so Me. Show all posts

August 13, 2017

Setelah 6 bulan berlalu; Welcome Back, Fia!

0komentar
Seperti biasa, blog ini diabaikan lagi.
Dan sudah saaatnya untuk ‘bersih-bersih’ lagi.  

6 bulan berlalu, tulisan makin banyak numpuk, tapi semangat nulis makin turun. Nggak ada akses internet di rumah jadi alasan.

Akhirnya setelah merengek ke bapak suami, dibeliin deh modem. Tapi ya gitu, setelah dibeliin malah eh belum dipake-pake sampe sekarang. Bahkan kayaknya paket internetan awal udah habis begitu saja. Hih!

Sudahlah sodara-sodara. Saya emang banyak alasan. Ya mudah-mudahan aja setelah ini tetep bisa nyuri-nyuri waktu buat ngetik. I won’t leave this blog, never. Setelah ini mungkin akan ada tulisan-tulisan ‘basi’ yang sayang kalo nggak dibagi di sini.

Oya,  6 bulan berlalu pun banyak yang terjadi.
Salah satunya: I’m going to be a Mother!!
And I’m welcoming the third semester by now.

Rasanya, campur aduk. Deg-degan juga. Bahagia apalagi. Tentang ini akan ditulis dalam bagian yang terpisah sepertinya. Biar nggak kepanjangan.

Sudahlah, demikian prolog setelah 6 bulan berlalu.  


Welcome back, Fia!
Semoga istiqomah :D 

October 19, 2016

12 Jam di Capsule by Container Hotel

2komentar
Capsule by Container Hotel di Level 1 LCCT

Tinggal di daerah yang nggak punya penerbangan langsung kalau mau jalan kemana-mana, emang mesti pinter-pinter nyusun jadwal. Apalagi kalau pilihan penerbangannya nggak banyak dan nggak ada connecting flight. Seperti kalau kamu tinggal di Padang. Eits, tapi bukan berarti ini perjalanan jauh nggak bisa ditempuh ya. Hanya saja, kita jadi mesti pinter pinter milih tujuan wisata kalau mau jalan-jalan gembel alias low budget kayak yang beberapa kali aku lakukan tapi tulisannya masih aja belum diposting di blog.

Pertama kali having transit trip adalah ke Siem Reap. Biar bisa main agak lama di sana dengan tetap pulang ke Padang tanpa mesti in a rush karena mesti masuk kerja keesokan harinya, aku nggak punya pilihan penerbangan pulang di hari yang sama. Waktu kedatangan aku dari Siem Reap adalah jam 6 sore sedangkan waktu keberangkatan menuju Padang adalah jam 8 pagi besoknya. Maka, pertama kali itu pulalah aku menjadi airport sleeper. Nggak airport sleeper beneran sih. Dasar lagi kaya manja karena abis closing akhir tahun, aku memilih menginap di Capsule by Container Hotel KLIA2 yang sekarang namanya jadi LCCT, kenapa mesti ganti nama sih kan kerenan KLIA2, dan kenapa aku mesti heboh sendiri coba



penampakan kamar khusus perempuan

Konsep yang ditawarkan sama seperti hotel kapsul di Jepang, atau bunkbed yang biasa disukai oleh backpacker. Menginap disini memang menjadi plihan nyaman. Selain bisa rebahan di kasur yang empuk dengan nyaman, aku bisa melepas jilbab sebentar tanpa perlu khawatir karena ruangan untuk laki-laki dan perempuan dipisah. Ada pilihan queen size bed juga kalau punya temen bobo #eh. Tapi aku nggak tau sih ya giman ketentuan kalau mau menginap bareng pasangan HALALnya.

Nggak hanya menginap tapi juga tersedia fasilitas untuk mandi dan penyewaan loker. Pilihan waktu menginap pun beragam, mulai dari 3 jam, 6 jam, dan 12 jam dengan tarif berbeda juga. Berhubung udah booking online sejak masih di rumah, aku dapet tarif RM 90, lebih murah RM 10 jika dibandingkan dengan direct booking. Eh, ini tarif Februari 2016 ya, karena kalau nggak salah waktu aku transit di Mei dan Agustus 2016, ratenya udah naik. Mungkin karena banyak demand


all the things you got

Waktu check-in, kita akan mendapatkan goodybag yang boleh dibawa pulang berisi satu botol air mineral, sikat gigi dan handuk. Handuknya mesti dibalikin ya. Di kamar disediakan sandal jepit, colokan, telfon untuk wake-up call, meja lipat kecil, lampu, dan satu gantungan. Masing-masing kamar ada kain penutup yang bisa di tarik-ulur. Kalau lagi dibuka, pemandangan dihadapan kita adalah kamar lainnya. Jadi kalau kamu menghidupkan lampu, aktifitas di dalam kamar bisa keliatan dari luar. Oiya, barang-barang seperti koper sebelumnya disimpan di loker yang terpisah. Ada perpustakaan juga! 



kondisi kamar dengan curtain terbuka
kondisi kamar dengan curtain tertuitup
sendal jepit
tangga menuju lt.2
tempat sampah
Sayangnya, aku malah nggak bisa tidur. Ketika menjelang tengah malam sampai pagi, banyak orang datang yang mungkin juga memilih nginep disini. Suara langkah kakinya itu lhooo gedebak gedebuk. Belum lagi kalau mereka udah pada ngobrol tanpa mengontrol volume suara. Eerrgghhh, berisiknya jadi plus plus. Fyi, karena berkonsep container, semua suara nggak akan teredam dengan karena nggak ada tembok penghalang. Bahkan malam itu ada tetangga kamar yang nangis terisak-isak. -____-“

Share bathroom
Male - Female

Sepertinya aku nggak mau kesini lagi. Jadi airport sleeper beneran lebih asik dan lebih hemat pastinya. Trust me! 

Lumayan jadi pengalaman deh. Yang penting pernah mencoba.

October 18, 2016

3 Hari di Siem Reap; Angkor Wat, What?

1 komentar
Touch Down!
Waktu itu, Februari 2016.

Setelah masa peak season yang penuh perjuangan, dimana dua bulan terakhir menghabiskan sebagian besar waktu di kantor, akhirnya aku bisa sedikit bernafas lega. Lebih lega lagi setelah melihat payslip hasil lembur akhir tahun yang cetar membahana. Sudah saatnya memberi reward untuk diri sendiri: Jalan-jalan!

Nggak butuh waktu lama untuk menjadikan Siem Reap sebagai destinasi liburan. Ketika itu masih di kantor sekitar jam 9 malam, sehari sebelum bom Jakarta, aku nyambi buka situs penerbangan, pilih-pilih jadwal dan tiket promo, lalu klik, beli. Mungkin karena kode internasional bandaranya yang menarik hati #eh. Mungkin juga akibat suasana hati yang nggak jelas bercampur kecewa karena batal ke Borobudur bareng uni untuk mengejar sunrise.

Siem Reap, Kamboja, mungkin bukan tempat yang bakalan dilirik orang-orang pada umumnya kalau mau liburan ke luar negri. Mau liat apasih? Nggak banyak juga kok. That's why, kalau cuma punya waktu 3 hari 2 malam di Siem Reap, cukup kok. 

Ada Angkor Wat, salah satu UNESCO World Heritage Site. Disana juga jadi tempat syutingnya Angelina Jolie waktu jadi Lara Croft di Tomb Raider. Angkor Wat ini gede banget. You may googling it, please. Siapa sangka, Siem Reap justru lebih terkenal daripada ibukota negaranya sendiri, Phnom Penh. 

form kedatangan
Singkat cerita, hari yang ditunggu tiba. Semua sudah disiapkan. Udah blogwalking, ngumpulin berbagai informasi yang mungkin berguna nanti, bahkan udah tanya ini itu juga ke senior SMA yang sebelumnya pernah kesana buat lomba maraton (what?). Aku hanya perlu nyiapin tiket pastinya, bukti booking penginapan di Siem Reap, bukti booking penginapan di Capsule by Container Hotel (karena aku mesti nginep di bandara KLIA2 yang namanya sekarang berubah menjadi LCCT sebelum pulang ke Padang) koper setengah kosong, dan USD, karena dollar Amerika adalah mata uang yang dipakai disana. Oya, nggak ada perbedaan waktu dengan Indonesia bagian barat. Jadi nggak perlu bingung mengatur jadwal penerbangan. Hanya mesti sedikit aware ketika mesti transit di Kuala Lumpur yang lebih cepat 1 jam.

Sampai di Siem Reap, aku mesti mengisi arrival card. Sebenernya ada dua sisi kertas, arrival dan departure. Sisi kartu kedatangan bakalan disobek sama petugas imigrasi sedangkan departure card akan ditempelin ke paspor. Inget, jangan sampai hilang, karena kartu ini bakalan diambil ketika kita akan meninggalkan negara mereka. Biasalah ya, prosedur umum ketika sampai ke negara orang. And the good news to get in here is, bebas visa! 

tuk-tuk ala Kamboja
      Hal pertama yang kepikiran ketika sampai di penginapan sekitar jam 4 sore adalah cari makan. Menemukan makanan halal di sini memang rada susah. Untungnya, penginapan yang aku pilih terletak dekat dari pusat keramaian. Pilihannya hanyalah restoran India yang berlogo halal (karena ada juga yang nggak pakai logo), kebab Turki yang penjualnya Muslim, atau KFC! Yessss… KFC di Siem Reap ada logo halalnya, kok. Karena nggak terlalu banyak pilihan, harga makanan halal cenderung jauh lebih mahal dibanding yang lain. Bahkan, foodtruck penjual bir dan minuman beralkohol lainnya pun lebih banyak ketimbang yang jualan jus buah. Harganya pun jauh lebih murah. Mbok ya murah pun nggak akan aku beli toh.

Amok
Detinasi pertama aku di Siem Reap adalah Pub Street dan Night Market yang terkenal dengan kehidupan malamnya. Dibilang begitu, karena emang merupakan pusat perbelanjaan, kuliner, fish spa dan tempat turis-turis nongkrong yang bakalan baru ramai  dari sore sampai malam. Atau sampai pagi, nggak tau juga. Aku nggak sampe tengah malem juga sih ngider-ngidernya. Jadi asiknya, nggak perlu panas-panasan belanja. Jadwal keliling candi kota pun nggak terganggu dengan jadwal belanja. Nggak perlu ditanya, setelah selesai makan, aku langsung bersemangat untuk,.. belanja!

Pub Street
ala ala anak gaul Pub Street
Night Market
Art Center Night Market
anak gauk Pub Street beneran

Seru kan, baru sampai udah langsung beli oleh-oleh.          
Serunya belanja disini adalah pedagangnya yang lancar berbahasa Inggris. Nggak hanya pedagang, tapi juga tuk-tuk drivernya. Mungkin karena Siem Reap memang sangat ramai dengan wisatawan, mau nggak mau penduduk setempat mesti bisa bahasa inggris walaupun sekedar tawar-menawar harga dan kalimat rayuan “Balilah Da…Balilah Ni…”

Puas belanja dan cuci mata, aku pesen tuk-tuk buat nganterin balik ke penginapan sekaligus booking drivernya untuk seharian di Angkor Wat besok. Seharian means, dari sebelum subuh masih demi melihat sunrise, ngider dari satu candi ke candi lainnya sampai sore dan balik ke penginapan lagi. Tarif tuk-tuk pada dasarnya sih standar. Untuk perjalanan dekat, seperti dari penginapan ke Pub Street, aku ‘cuma’ bayar $2. Padahal ya, kalau naik angkot itu udah 4 kali bolak balik. Sedangkan untuk seharian di Angkor Wat aku mesti bayar $20. Seharga carter avanza, yes? Namun, sangat disarankan untuk nanya ke pihak hotel untuk tau berapa kisaran tarif biar nggak dikibulin dan bisa tawar-menawar.   

toko cemilan khas Kamboja
tembikar dan kerajinan tangan
bekas karung semen!

Hari kedua di Siem Reap.

Meski harus melawan ngantuk, aku rela berangkat menuju Angkor Wat jam setengah lima pagi. Biar nggak terlambat dan nggak kelamaan antri, kata tuk-tuk drivernya. Selain itu juga mesti rela shalat subuh di tempat yang aku pikir layak, karena aku nggak tau disana ada mushalla atau nggak. Setelah shlat, baru deh aku ngantri buat beli daily pass seharga $20. Lumayan juga. Itu baru harga buat seharian keliling candi. Apalagi tiket untuk 3 hari atau seminggu. Lebih mehong lagi. Bahkan kalau nggak salah, aku baca di twitter, harga tiket masuk Angkor Wat sekarang udah naik.  Oya, jangan lupa senyum, karena untuk mendapatkan kartu tanda masuknya, kita mesti difoto! 

antri!
batal sunrise di Borobudur, Allah kasih kesempatan sunrise-ing disini
memasuki areal Angkor Wat








Angkor Wat tampak belakang

istirahat dulu


salah satu spot favorit buat yang mau ngambil foto sunrise


 


Bayon Temple

Elephant Terrace
bagian depan komplek Ta Phrom Temple
candi dulu trus pohonnya tumbuh atau pohonnya tumbuh duluan baru candi dibangun?


Fia Croft!


Berhubung Angkor Wat ini luas banget, nggak semua sudut bisa dijelajahi. Lumayan gempor juga kaki. Supaya bisa menghemat waktu juga karena nggak hanya Candi Angkor ini yang menarik. Ada Bayon Temple dan Ta Phrom Temple. Sebenarnya masih banyak komplek-komplek candi yang bisa dikunjungi. Hanya saja, jarak antara satu candi ke candi lain itu cukup jauh (that’s why we need tuk-tuk), aku udah keburu laper. Mengingat aku cuma berbekal sarapan seadanya dan itupun disambi selama ngider-ngider Angkor, aku memilih kembali ke pusat kota. Why? Selain karena udah ngabisin waktu sampe sore, di kawasan Angkor aku nggak nemu makanan halal. Mas tuk-tuknya sih sempat nganterin ke salah satu tempat makan yang katanya nyediain makanan halal. Sayangnya, disana juga jual pork. Duh.

Maka jatuhlah pilihan ke restoran India lagi.

Sepanjang perjalanan sebelum menuju restoran, aku sempat melihat outlet Madam Sachiko Cookies. Letaknya nggak jauh kok dari pusat kota. Tergoda untuk kesana, aku minta sama Mas tuk-tuknya untuk nganterin kesana. Untung dapet Mas tuk-tuk yang baik sih. Dia rela nungguin aku makan dulu, kemudian balik lagi biar aku bisa foto beli kue.


        Madam Sachiko Cookies menjual kue kering yang berbentuk Angkor Wat. Tenang, ada label halalnya. Selain itu, di sana juga jualan souvenir, kopi dan the khas Kamboja, juga rempah-rempah. Sayangnya, harga kue dan souvenir disini lumayan mahal. Sekotak cookies isi 20 dihargai $10. Nggak apa-apa deh ya dibeli sekotak, daripada nyesel nggak nyobain. 

cetakan kue Angkor Wat


souvenir khas Siem Reap

menu makan malam: kebab Turki
Hari Ketiga di Siem Reap


Artisans D'Angkor
Hari terakhir. Untungnya flight pulang ke Kuala Lumpur masih nanti siang. Aku masih bisa nyempetin untuk berkunjung ke Artisans D’Angkor. Merupakan pusat kerajinan dan tenun khas Kamboja, yang terbuka untuk umum. Ketika kita kesana akan ada guide yang bakalan nemenin kita melihat-lihat sekaligus menjelaskan proses pembuatan kerajinan, mulai dari patung yang dipahat dari kayu dan batu, lukisan, dan tenunun khas Kamboja yang dipintal dari ulat sutra. Selesai ngider, rombongan tur dianter ke galeri, tempat kita bisa membeli hasil kerajinan tersebut. Harganya tentu beda dengan barang-barang yang udah aku beli di Night Market. Ada harga ada kualitas donk ya. Namun, saking mahalnya, aku cuma sanggup beli pembatas buku seharga $2 dan 2 buah syal untuk aku dan uni. Harga syalnya nggak usah disebut deh, hihi. 




ini gaya doank
berhubung nggak boleh foto di dalam galeri, foto di luar aja

belanjaan paling mahal :)
Sebelum kembali ke hotel, aku memutuskan untuk beli makan siang dulu. Daripada kelaparan di bandara. Demi menghindari masakan India lagi, akhirnya kau ke KFC. Yeay! Alhamdulillah, rasa nasi dan ayamnya masih cocok di lidah. Plus telur dadar pula.

Kembali ke bandara, aku pilih menyewa jasa airport shuttle dari pihak penginapan. Biar nggak repot. Dipikir-pikir sih daripada susah nyari taksi. Kan koper yang tadinya setengah kosong kini sudah beranak pinak.   

And I’m ready to go home


 

tentangku © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates