Showing posts with label mahasiswa. Show all posts
Showing posts with label mahasiswa. Show all posts

May 20, 2014

Yang Muda Yang Milih, Yang Muda Yang Bangkit.

2komentar
Sudah bulan Mei. Tepatnya udah tanggal 20.
Mudah-mudahan masih banyak yang inget kalau hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional.

Atau mestikah aku ber-su’udzan; jangan-jangan nggak banyak lagi pemuda yang inget tentang hari bersejarah ini. Padahal cuma buat inget aja sih. Belom lagi kalau diminta inget kronologis sejarahnya, memaknai perjuangannya, apalagi mengambil hikmah dari peristiwa itu. Padahal lagi, kita nggak disuruh buat berjuang kayak mereka dulu. Kita mah udah enak. Udah nggak perlu perang, angkat senjata, atau bikin kelompok diskusi diem-diem kayak orang yang pacaran tapi backstreet.

Nggak kayak kita, pemuda di masa itu mesti berjuang untuk memajukan pendidikan. Masa itu lah yang menjadi episode sejarah munculnya kaum terpelajar. Bisa dibilang, berkat mereka kita bisa sekolah, berkumpul, berdiskusi, mencari informasi dengan leluasa sepeti sekarang.

Ya udah sih, past is the past. Yang lalu biarkan berlalu kata orang-orang yang udah move on.
Let’s talk about now.

Dengan tetap tidak melupakan sejarah, bahwa Hari Kebangkitan adalah momen dimana para pemuda pada saat itu adalah generasi pemula dalam memunculkan semangat nasionalisme dan generasi terpelajar, mari kita sedikit menatap masa depan. *cieee*.
Jika kita berdiri di titik 20 Mei 1908, kita saat ini adalah masa depan yang mungkin ingin dilihat para pemuda yang berjuang saat itu. Mungkin kita adalah hasil dari kepedulian mereka dalam membangkitkan pentingnya pendidikan dan semangat nasionalisme. That’s it. Peduli.

Apakah kita, sebagai pemuda masa sekarang, masih punya rasa peduli?
Kita ambil contoh kecil aja deh; Pemilu 2014.
Nope! Kita nggak akan ngobrol tentang siapa menjadi apa di daerah mana.

Sebagai pemuda, ternyata kita menjadi penyumbang yang memiliki persentase cukup besar dalam mempengaruhi jalannya Pemilu. Why? Berdasarkan data dari antara.net.id jumlah pemilih terdaftar terdaftar untuk pemilu tahun 2014 adalah sejumlah 186.612.255 orang dimana 20-30% nya adalah Pemilih Pemula. Pemilih Pemula ini terdiri dari mahasiswa dan siswa SMA yang menggunakan hak pilihnya pertama kali di trahun 2014.  Masih dari sumber yang sama,katanya persentase segitu mencerminkan sekitar 40 juta lebih jumlah suara. Suara segitu banyak bakal berpengaruh donk ya buat kemenangan seseorang atau partai tertentu. Sedangkan menurut info dari rumahpemilu.org, tingkat pertisipasi pemilih terus menurun. Begini, di tahun 1999 ada 93%. Berikutnya di 2004menjadi 84% dan berlanjut di 2009 sebesar 71%.

Bayangkan kalau semuanya kompak buat nggak peduli, terus  barengan nggak ikutan berpartisiapsi dalam pemilu alias golput. Sayang sekali saudara-saudara :( 

Masih berdasarkan data yang ada ternyata jumlah golput dalam pemilu legislatif terus meningkat. Data terakhir tahun 2009, jumlah golput mencapai 39,22%. Apakah yang golput ini berasal dari pemilih pemula, pemilih muda, atau siapa? Aku nggak tau pasti. Tapi paling tidak, dengan gambaran demografis yang menunjukkan jumlah pemuda Indonesia yang tinggi, besar kemungkinan memang kitalah penyebabnya.

Lantas, apa yang bikin kita, baik itu pemilih pemula ataupun pemilih muda, memilih untuk tidak memilih?
Mungkinkah karena banyak yang nggak tau caranya?
Helllooo....hari gini? Ada yang namanya internet buat cari tau.

Masih dari data rumahpemilu.org yang katanya mengutip dari factbrowser.com, Pemgguna Internet di Indonesia tahun 2013 mencapai 72,7 juta jiwa, yang kalau di breakdown lagi berdasarkan usia, 43% nya berumur 18-24 tahun. See? Seumuran dengan pemilih pemula kan?

Atau mungkinkah karena sosialisasi dari pihak yang berkepentingan seperti KPU, lingkungan sekolah/kampus, LSM, komunitas, social media, atau siapapun masih belum secara efektif menyampaikan informasi mengenai hal-hal teknis terkait pemilu? Atau mestikah kita kaji lebih rinci tentang seberapa efektif penyuluhan dan sosialisasi yang telah dilakukan?

Kalau itu, nanti deh ya. Di postingan berikunya aja kali. Kalau disini kepanjangan *kemudian dikeplak*

Yang jelas, hari ini informasi udah menyebar dengan mudahnya di internet. Bahkan sudah ada kelompok-kelompok sosial, ataupun komunitas-komunitas yang dengan sukarela membagi informasi kepada masyarakat. Seperti dalam waktu dekat, bakal ada acara Pekan Informasi Nasional. Sebuah acara yang dikemas untuk meningkatkan pengetahuan dan pemberdayaan masyarakat terhdap penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.

For a god sake, jangan bilang pada nggak tau tentang acara itu?!

Sudah..sudah..beneran kepanjangan jadinya.
Yang jelas, kita masih berdiri di masa sekarang dan sedang menatap masa depan.

Masih ada satu lagi rangkaian acara pesta demokrasi yang akan kita lalui. Masih banyak informasi yang bisa kita kumpulkan untuk ikut andil menuju Indonesia yang (mudah-mudahan) lebih baik.

Apakah kita masih mau menyia-nyiakan hak pilih kita? Atau justru dengan bangga menunjukkan bahwa kita, pemuda, PEDULI!  

July 27, 2013

Kalau Aja Nulis Skripsi Seasyik Nulis Blog

5komentar

WARNING: Bagi yang sedang berkutat dengan skripsi, postingan berikut tidak bermaksud mengiris hati anda.

Kalau kalian kira postingan kali ini berisi tentang tips dan trik buat cara bikin skripsi biar asyik, itu SALAH BESAR!! Sebagai eks-mahasiswa yang bikin skripsi nya juga lama banget aku terinspirasi buat mengungkapkan sedikit rasa (cieee...) dan cerita tentang skripsi.

Let me clarify something.
Masa studiku memang 5 tahun 7 bulan. Seluruh mata kuliah selesai selama 4 tahun. Maka 1 tahun 7 bulan dihabiskan untuk skripsi. Is it? The thruth is, aku mulai benar-benar berkutat dengan skripsi terhitung November 2012 sampai Februari 2013. So it takes only 4 months.  
But why it takes so long overall? 

Nah, inilah dia. Nulis skripsi itu banyak tantangannya. Orang-orang bilang Faktor X(es). Mulai dari judul yang gonta-ganti, pembimbing yang bisa jadi gonta-ganti juga, susah nemuin pembimbing, susah nyari bahan, nggak ngerti mau bikin apa, atau nggak bisa SPSS (buat yang pake SPSS). Pada saat itu juga kita mengenal yang namanya revisi, ganti metode penelitian, di-php-in sama dosbing, LDR-an sama dosbing. Apalagi kalau dosbingnya pejabat. Makin susah ketemuan.
Janji jam 2 bisa jadi jam 4. Dsuruh balik 3 hari lagi ternyata si dosen keluar kota. Bisa juga hasil revisi yang belum dibaca. Mahasiswa bimbingan tentunya pernah merasakan hal-hal itu.
Belum lagi mood yang ilang entah kemana, sampai pembimbing yang hilang entah kemana. Dan ujung-ujungnya kita yang hilang entah kemana. Kalau ada yang kurang silahkan ditambah di kolom komentar. *tetep*
Apalagi kalau ada dunia lain yang bikin kita lebih tertarik. Bisa kerja, organisasi, game online, atau cuma sibuk nggak jelas. Itulah awal mulanya folder skripsi bisa didiemin berlama-lama. 
Persamaan dengan ngeblog paling ada dua. Sama-sama bakal berdebu kalau ditinggal. Sama-sama nggak boleh plagiat. That’s it.
Bedanya, nulis blog itu memang jauh lebih seru. Kadang-kadang kita nggak pusing mikirin bentuk bahasa. Sepanjang orang lain mengerti, it’s ok. Sebagai sesuatu yang bersifat formal kita mestiu berkutat dengan tanda baca, bentuk bahsa, bentuk kalimat buat nulis skripsi. Apalagi peraturan sekarang, yang juga dijadikan jurnal on-line kalau skripsinya udah selesai. Nggak mungkin kan nulisnya sembarangan atau dengan bahasa 53P3RT1 1N1. Kemudian juga, silahkan bandingkan blogwalking dengan skripsiwalking.     

Beberapa hari lalu aku sempat nge-twit. And these are what they twit:

 

B.A.M.B.A.N.G (bukan nama sebenarnya) adalah salah satu korban kekejaman revisi lagi revisi lagi.


Mudah-mudahan ini nggak akan pernah ada. Jangan sampe deh kalau iya.



Naah...kalau doanya gitu kan asyik.

Tapi memang itu semua nggak bisa disamain sih. Setelah aku pikir-pikir, dengan skripsi kita bisa belajar menyelesaikan apa yang pernah dimulai. Juga belajar mennghadapi segala tantangan internal ataupun eksternal. Gimana mengontrol diri sendiri biar nggak tergoda sama yang lain daripada skripsi. Gimana juga melatih kesabaran dalam mengahadapi dosen pembimbing. (bisa jadi juga sih dosen pembimbing yang latihan kesabaran gara-gara kita)

Iya, nulis skripsi nggak selamanya sulit. Nggak selamanya juga makan waktu lama. Buktinya banyak juga yang bisa nyelesaiin tepat waktu. Intinya memang satu, dikerjain.
Well, buat yang belum merasakan sensasi nulis skripsi, jangan takut dulu, jangan gentar dulu. Ini cuma sekedar menupahkan isi pikiran. Setiap orang punya cerita seru tentang skripsinya.
Buat orang tuaku dan keluarga besar, terima kasih sudah mau menunggu lebih lama dari orang tua lain menunggu anaknya. tapi tenang, aku juga memang lain dari orang-orang itu.
Buat para dosen pembimbing, terima kasih telah membimbing dan membantu mahasiswanya dalam penyelesaian skripsi. Kalau nggak ada dosbing, aku nggak akan kenal sama yang namanya skripsi. Nggak akan juga merasakan sensasi seminar hasil.  

Sudah...sudah..ini bukan lembar ucapan terima kasih. 

November 15, 2012

Teori Relativitas Waktu Itu Berlaku!

1 komentar

It’s a long weekend. . .
Biasanya jadi moment paling ditunggu-tunggu. Doing something else. Jalan-jalan, dating, piknik keluarga, pulkam, atau sekedar santai tanpa ngapa-ngapain. Tapi kalau di kondisi luar biasa, long weekend potensial untuk menimbulkan kebosanan.
Beruntung buat golongan yang ‘nggak terjadwal’. Bangun terserah jam berapa, nggak ada jam malem, nggak harus ini, itu, dll.

Lain hal buat mahasiswa akhir tahun dari tahun ke tahun yang jadwal kuliahnya sedikit, atau malah nggak ada sama sekali a.k.a mahasiswa skripsi aja. Libur atau nggak bakalan sama.
Buat kaum yang masih punya aktifitas lain, kayak organisasi, part-time job, jualan, kayaknya nggak bakaln terlalu terasa. They have something more than killing time. Buat kaum yang nggak ada apa-apa, maka selamt datang mono.
Ada masa-masa yang secara signifikan beda.
Nungguin setelah skripsi disetor ama setelah dikembalikan bakalan terasa banget bedaanya. Menjelang nunggu jadwal ketemuan selanjutnya pasca setor tulisan kayak pacran, LDR-an, trus nunggu kpan bakal ketemuan lagi. Meski ketemuan sblmnya juga nggak nyampe 5 menit. Cuman sampe kata-kata keramat keluar:
“oya, saya baca dulu ya. Nanti saya kabari”

That’s all. Nunggu lagi. Berharap lagi.

Dan setelah “nanti saya kabari” udah sepakat atau tidak disepakati bersama maka kemudian akan muncul reaksi kimia dalam hati. Seneng, deg-degan, penasaran, dan ngarep bakal campur aduk. Seneng, akhirnya bimbingan lagi. Deg-degan, jadi atau nggak, kemaren yang dibikin bener atau nggak. Penasaran, seberapa banyak coretan yang berarti mesti direvisi. Dan pastinya harapan udah bisa move on atau belum.
Biasanya sih pasca ketemuan itu waktu akan terasa lebih cepat. 15 – 30menit 'dating' alias bimbingan. Lalu pulang dengan semangat untuk segera mengerjakan apa yang mesti dikerjakan. Semangat ini yang biasanya bikin produktif. Apalagi buat kaum yang sudah dikejar waktu dan didesak orang tua.
Selanjutnya, setoran lagi. Menunggu lagi. Begitu terus.

Saat-saat kosong itulah yang rentan sama kebosanan, atau level teringgi: kemalasan. Kejadian apapun bakalan mempengaruhi rutinitas berikutnya. Kalau pagi udah ‘bergerak’, it’s gonna be productive for the rest of the day.

Meskipun kondisi diatas nggak akan berlaku buat golongan yang diluar itu semua. Yakni yang nggak bisa ngapa-ngapain, nggak bisa kemana-mana. Waktu akan terasa panjaaaaaaaang sekaliiiiiiii.

Maka bersyukurlah, karena ada internet. Such a great escape.
Bisa kemana-mana meski nggak kemana-mana.
*salam kecup buat penemu internet*

20:58 – Balkon lantai 2


July 23, 2012

Diskusi Komisariat Ekonomi Menjelang Ramadhan

0komentar
bg Rusheryadi Abbas, bg Nanda Firdausy, Dwinda Rahman (Ketum Komisariat Ekonomi Unand)
Rabu, 18 Juni 2012.
Komisariat ngadain acara temu ramah jelang bulan Ramadhan. Alhamdulillah, dihadiri oleh Bg Nanda Firdausy dan Bg Rusheryadi Abbas. Acara ketawa-ketawa ini juga ga lepas dari diskusi ternyata *kebiasaan*. Diawali dengan ta’aruf  *lagi-lagi kebiasaan* kemudian abis shalat maghrib berjamaah, baru deh mulai diskusi yang agak serius oleh bg Rusheryadi Abbas.

Dihantarkan dengan statement:
Jangan gelisah. Mau dimanapun kita semua sama. Cintai saja apa kamu punya, karena dengan mencintai kita akan lebih mudah bersyukur. Ingat saja janji Allah kalau kita bersyukur, Allah akan menambah nikmatnya.
Abang yang sangat menikmati masa-masa saat dirinya menjadi konsultan pemberdayaan sebelum bekerja di BI ini mengingatkan akan 4 hal:
   1.   Sempurnakan ikhtiar.
Bagi Allah, yang penting itu perubahan. Makanya hari ini harus lebih baik dari hari kemarin.
    2.   Sertakan dengan doa.
Sesungguhnya setiap manusia adalah musafir, yang sedang melakukan perjalanan kehidupan. Suatu saat pasti berpulang.
    3.   Sabar.
    4.   Tawakal.
Karena terkadang apa yang diberikan Allah tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kita juga memiliki keterbatasan untuk mengetahui apa yang terbaik untuk diri kita karena yang tahu segala sesuatu tentang kita adalah Yang Menciptakan kita – Allah SWT.

Menurut yang beliau baca dari bukunya Koentjaraningrat, Capacity Building bangsa Indonesia tidak terbangun dengan baik. Sebagian besar memiliki mental lembek. Salah satu penyebabnya adalah sejak kecil kita tidak dibiasakan dengan tantangan, melainkan seringnya dimanjakan. Jadi ketika dewasa kita butuh proses adaptasi yang jauh lebih tinggi. Maka, semakin keras proses, semakin matang diri yang terbentuk.
Inilah yang menjadi kesalahan ketika melakukan studi banding. Orang hanya actual-seeing instead of process-seeing. Orang-orang hanya melihat bagaimana yang terjadi saat itu, padahal itu adalah dampak dari beberapa tindakan terus-menerus yang dilakukan sebelumnya.

Nah, keuntungannya berorganisasi biasanya adalah melatih kemampuan merespon, mengemukakan pendapat, bahkan berdebat. Namun yang paling krusial sebenarnya adalah mengasah sensitifitas terhadap sekitar. Hal penting lainnya yang dilatih dalam berorganisasi dan dibutuhkan sebagai bekal saat memasuku dunia nyata [dunia kerja] adalah penempatan diri dan penguasaan masalah.  
Dianalogikan dengan kunci inggris ketimbang kunci pas, Bg Rusheryadi mengingatkan tentang kreatifitas. Jadi, selayaknya kita selaku mahasiswa bahkan sarjana membawa kunci Inggris kemana-mana, bukan kunci pas. Melakukan analisis SWOT terhadap diri sendiri juga penting. Tujuannya untuk mencari jati diri. Gali potensi, minimalisir kelemahan. Kelemahan bukan untuk disembunyikan tetapi untuk diangkat ke permukaan dan dicari cara mengatasinya.  

Diskusi ini diakhiri dengan beberapa pesan:
~~ Jadilah seperti itik. Diatas kelihatan tenang tapi sebenarnya di bawah bekerja.
~~ Yang hebat adalah bukan bicara dalam waktu yang cukup, tapi dalam waktu singkat (efektif).

Beliau juga memberi penekanan bahwa yang sebenarnya pelupa adalah yang muda. Mudah-mudahan diskusi seperti ini tidak terhenti begitu saja, sehingga hubungan anatara pengurus, anggota, dan alumni tetap terjalin. Sebagaimana yang beliau sampaikan:
Tugas nan tuo: kok lupo-lupo mangingekan, takalok kalok manjagoan.

May 27, 2012

Pengakuan Hari Ini [Tidak Untuk Ditiru!!!]

3komentar

Pagi, tepatnya siang ini, ketika aku mendongakkan pandangan ke langit-langit kamar, tepat ke cahaya lampu, keningku berkerut. Silau. Cahaya matahari menerobos membentuk pantulan kotak-kotak jendela.
Disampingku kertas-kertas berserakan, buku-buku masih dalam kondisi terbuka, piring kotor bekas makan malam, gelas kopi yang tinggal ampas dan bungkus-bungkus snack yang ludes dimakan semalam.
Diatas meja kecil setentang kepalaku, notebook dengan posisi stand by dan kalender meja dengan tanggal yang tidak sesuai dengan waktu ini. Training berturut-turut kemaren itu memang sukses bikin aku LDR-an sama kamar.
Tempat tidur acak-acakan, bantal guling tidak (belum) tertata dan seprai kusu. Di pojokan ada gundukan kain yang belum disetrika. Beberapa helai rambut rontok tergeletak di lantai.
        Kamarku…
Sepertinya aku kembali pada situasi kemalasan akut. Akhir-akhir ini sebagian besar waktuku habis untuk tidur. Tanpa jadwal. Tidur mengalahkan usaha untuk mendisiplinkan membaca dan menulis skripsi setiap harinya. Buku yang sedang kubaca mendadak hampa, tak berasa.
Aku tidak heran. Aku bisa saja tidak tidur selama 2 hari berturut-turut. Juga, aku bisa saja tidur selama berjam-jam dengan sesekali terbangun.tapi aku tidak pernah (belum pernah) kuat membaca berjam-jam dengan sesekali tertidur.
Masalahnya kemudian adalah, waktu yang tersita tidur membuat aku kalang kabut menjalani hari-hari. Jangankan untuk membaca atau menulis, bahkan untuk sekedar merapikan kamar atau hal-hal sepele lainnya menjadi terabaikan.
Pada kondisi semacam itu kadang kala aku sedikit berfikir. Apa hanya aku saja yang pernah begini? Lantas, kalau tidak, adakah ini proses menuju dewasa? Sayangnya aku tidak punya alasan untuk menepis sekaligus menyetujuinya.

*22 mei 2012

September 18, 2011

Skripsweet




Skripsi tiada akhir menjadi sebuah cerita menarik dalam hidupku. ya sejak kapan ya aku mulai skripsi ini. berganti judul terus sampai akhirnya aku berjodoh dg judul skripsi terakhir ini (mudah”an).
pengen memang cepat mengakhiri fase hidup di kampus ini. segera dapat hidup tanpa ada ikatan kampus. meskipun jelas bukan kehidupan yang lebih santai memang.
tapi ada kelegaan ketika sebuah fase bisa telewati.

January 29, 2011

Soe Hok-Gie..,sekali lagi

0komentar

Diiringi lagu Donna Donna oleh Joan Baez aku mencoba melukiskan sosok Gie yang hanya kukenal lewat buku, tulisan dan film.

Sejujurnya aku mengenal lagu ini sejak kelas 6 SD dari kaset Felicia’s folks song papa. Tapi aku lebih menyukai versi yang kukenal pertama kali, karena lebih nge-beat dan lebih country. Jadi lebih semangat aja.

BUku, Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya. . . .
Sosok Gie baru kukenal ketika film GIE yang disutradarai oleh Riri Reza, diproduseri oleh Mira Lesmana dan diperankan Nicholas Saputra rilis tahun 2005. Sebelum nonton film ini, aku rela ngantri berhari-hari demi dapat gilran untuk meminjam buku Catatan Seorang Demonstran dari seorang teman (waktu itu masih kelas 2 SMA). Niat awalnya supaya nanti sedikt lebih mengerti jalan cerita yang kata teman-teman pada saat itu berat dan membingungkan.

Megembalikan memori ke jaman SMA saat aku membaca buku CSD teryata tidak mudah. (Apalagi mereka yang telah mengisi tulisan untuk buku ‘SHG, sekali lagi’ ya..). Aku mencoba mengingat-ingat apa saja yang kutangkap pada saat itu. Yang kuingat adalah betapa aku terpesona akan tulisan Gie yang kritis tapi juga puitis. Kontras, memang. Tapi itu kenyataannya. Kritis, ketika tulisannya yang di muat di koran selalu mengritik pemerintahan dengan lugas dan sangat berani. Puitis, ketika membaca kumpulan puisi, catatan haran dan beberapa suratnya.

Saat itu puisi Gie yang paling terkenal berjudul ‘Sebuah Tanya’ (1 April 1969). Puisi yang sampai saat ini masih jadi favoritku dianatara semua puisi Gie.
Setelah memabaca buku ‘SHG,sekali lagi’ baru kutau ternyata puisi favorit Gie dan beberapa pengagumnya justru ‘Mandalawangi-Pangrango’ (19 Juli 1966). Namun ada potongan puisi itu yang kusuka:
“Hidup adalah soal keberanian,
Menghadapi tanda tanya,
Tanpa bisa kita mengerti, tanpa bisa kita menawar
Terimalah, dan hadapilah”

Menurut mereka yang mengenal Gie secara langsung, Gie adalah sosok yang idealis, kritis, pembela rakyat, selalu memperjuangkan HAM, nasionalis, dan bersemangat.

Tidak berlebihan, kurasa.
Menurutku Gie memang sosok dengan intelektual yang tinggi, berani, konsisten dan tangguh. Dengan kondisi Indonesia yang masih belum stabil, semasa hidupnya Gie berani mengeluarkan tulisan yang jujur dan tajam. Tulisan yang begitu murni dari pikrannya. Mengingat bagaimana pada masa itu pers belum memiliki tingkat kebebasan dan keterbukaan seperti sekarang, Gie sebenarnya hidup dalam ancaman. Dalam bahasa minang, dia adalah sosok yang mada. Dia bisa saja dibunuh sewaktu-waktu karena tidak pernah kapok mengkritik pemerintah.

Gie adalah penulis yang produktif. Terbukti semasa hidupnya yang singkat (27 tahun), ia mampu menghasilkan 100an lebih artikel yang di muat di koran, 132 surat (temuan Stanley JA Prasetyo), dan catatan harian yang ditulis di buku biasa.

Dan aku iri pada kemampuannya yang dengan mudah tetap menulis tanpa pernah kehabisan inspirasi. Kurasa hobi mendaki gunung yang menjadikan dia selalu punya waktu untuk menjernihkan pikiran atau sekedar having sweet escape dari segala rutinitas dan dinamika kehidupannya.

Idealis. Gie adalah aktifis yang independen dan bebas. Selain aktif di Mapala dan Radio UI, Gie pernah menyandang ketua SM (Senat Mahasiswa)-FSUI, GMS (Gerakan Mahasiswa Sosialis) dan GP (Gerakan Pembaruan). Dialah yang menolak organisasi ekstra kampus yang merupakan antek-antek partai atau keagamaan masuk kedalam dunia kampus. Karena sikap bebas nya juga Gie memutuskan untuk tidak lagi bergabung dengan GP karena dirasa tidak lagi sejalan dengan hatinya.
Dengan menyandang status ‘mahasiswa’ yang berbeda zaman dengan Gie, aku salut dengan kepeduliannya terhadap rakyat, politik, dan pemerintahan. Dan bagaimana kepeduliannya itu benar-benar direalisasikan, dalam bentuk perbuatan dan tulisan.

Aku memang bukan mahasiswa yang seperti itu. Kusadari aku adalah orang yang realistis. Yang hanya melihat dan membaca situasi dan ujung-ujungnya berfikir, ya…begituah adanya…

Aku tidak mempunyai tingkat kepedulian setinggi itu untuk mengkritisi setiap hal politis yang terjadi di negri ini. Aku hanya suka membaca berita lalu sekedar mendiskusikan dengan beberapa senior dan teman-teman. Sebatas itu. Aku juga bukan orang yang suka turun ke jalan dan melakukan aksi. Aku malah cenderung kontra terhadap demonstrasi. Menurutku tidak begitu cara untuk menyalurkan apresiasi dan kritik agar didengar. Tentunya aku punya alasan sendiri dalam hal ini.

Ada satu hal yang kusuka dari sikap independen Gie. Hidupnya tidaklah tentang hitam dan putih. Ketika dia memilih sesuatu, hal itu lantas tidak berarti membuatnya langsung tidak suka pada pilihan lainnya. Gie menyediakan ruang abu-abu untuk kebimbangan dan ketidakpastian.

Berbeda dengan ‘Catatan Seorang Demonstran’ yang berisi tentnag tulisan-tulsan Gie, Buku ‘Soe Hok-Gie,sekali lagi…’ merupakan gabungan tulisan-tulisan tentang sosok Gie dari orang yang pernah mengenal dan berinteraksi langsung dengannya dan juga orang yang belum pernah bertemu namun terinspirasi dan kemudian mengaguminya.

Mungkin aku bukanlah pengagum Gie seperti mereka yang telah menulis di buku ini. Namun dari perepektifku dan dengan segala keterbatasan pengetahuanku tentang Gie.., aku mengakui Gie termasuk sosok fenomenal di zamannya.


Sebuah Tanya
Akhirnya semua akan tiba
Pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
(kabut tipis pun turun pelan-pelan
Di lembah kasih, lembah mandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjad suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap kau
Dekaplah lebih mesra, lebih dekat
(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi
Kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
Kau dan aku berbicara
Tanpa kata, tanpa suara
Ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
Apakah kau mash akan berkata
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta
(hari pun menjadi malam
Kulihat semuanya menjadi muram
Wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
Dalam bahasa yang kita tidak mengerti
Seperti kabut pagi itu)
Manisku, aku akan jalan terus
Membawa kenang-kenangan dan harapan-harapan
Bersama hidup yang begitu biru
29.01.11 – 10:28 pm. Rumah

January 28, 2011

Resume: HmI on Seminar

0komentar

I. “Catatan Aktifis Untuk Idealisme dan Pergerakan”

Oleh: Andi Mastian


Mahasiswa idealnya adalah lapisan masyarakat yang punya pemikiran luar biasa. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kiprah mahasiswa semakin tidak kelihatan baik dalam pada aktivitas maupun semangat intelektualitasnya.

Faktor yang paling dirasa paling berpengaruh adaah beban sejarah yang terlalu berat. Harus diakui, sejak zaman Orde Lama, sampai Reformasi, perjuangan dan pergerakan mahasiswa sangat terasa sekali.


Beban sejarah yang terlalu berat ini mungkin menjadikan mahsiswa mengalami kelelahan intelektual dan kehilangan kreatfitas. Akhrnya mahasiswa terjebak pada rutinitas organisasi dan akademis tanpa dinamika yang berarti. Tidak terdengar lagi pergerakan-pergerakan yang dilakukan mahasiswa.

Bisa silihat hanya sedikit mahasiswa yang tertarik ketika membahas masalah pergerakan, idealisme, aksi atau perjuangan. Mungkin selera berganti, tapi hedaknya jangan sampai rasa kepedulian tentang hal itu hilang. Karena Indonesia, masih butuh pemikir-pemikir yang diharapkan bisa menjadi pemimpin yang bisa membawa ke arah lebih baik.


II. “Seputar Pergerakan Mahasiswa: Idealisme, Realita, & Generasi yang Akan Bangkit”

Oleh: Riki Eka Putra


Citra mahasiswa sebagai manusia yang punya pemikiran dan pergerakan untuk masyarakat cenderung memudar. Tidak ada lagi aksi-aksi atau kegiatan yang dimotori oleh mahasiswa. Kenyataannya, kegiatan cepat tanggap atau aksi-aksi yang mengkrirtisi suatu kebijakan baik itu pemerintah nasional ataupun local justru dimotori oleh aktifis dari LSM.


Lalu, kemana mahasiswa? Terlalu sibuk dengan kuliah kah?


Seandainya mahasiswa tidak lagi tertarik dengan pergerakan, idealisme, politik, pemerintahan, hampir bisa dipastikan nasib Indonesia secara garis besar tidak akan lebih baik. Karena, pemikiran yang kritis berasal dari otak mahasiswa. Jadi jika kemudian mahasiswa tidak memilih untuk menjadi aktifis, kepada siapa Indonesia bisa berharap?

Masih belum terlambat sebenarnya. Acara yang diadakan dengan niat menghimpun mahasiswa untuk berdiskusi bisa diadakan dengan packaging yang lebih menarik. Mungkin tidak melulu dengan demo, aksi turun ke jalan, atau seminar yang mungkin terkesan membosankan.



Bisa saja, diadakan bedah buku yang dikemas dengan konser musik, diskusi dalam coffe break. Sehingga mahasiswa dituntut untuk lebih kreatif dalam membaca selera zaman. Tema yang diangkat pun harus disesuaikan dengan kebutuhan dan trend mahasiswa sekarang. Harus ada perubahan strategi dan taktik agar tidak terkesan ketinggalan jaman.

Ketika mahasiswa telah merasakan nikmatnya menjadi aktifis, dia akan bisa merasakan yang dilakukan adalah candu. Karena yang aktifis lakukan dan sumbangkan adalah pemikiran, yang harganya tak ternilai. Satu hal yang harus diingat, ketika telah memilih utuk menjadi seorang aktifis, mahasiswa harus siap menanggung beban sejarah.

27.12.10

 

tentangku © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates