October 25, 2016

Sudah Saatnya Gantung Muts dan Gordon

0komentar


Sudah saatnya gantung muts dan gordon. 

Begitu pernyataan yang terucap 2 tahun lalu, April 2013. Ketika itu, ketika gelar sarjana akhirnya sudah ditangan, ada satu keinginan untuk menjadi bagian dalam kepengelolaan basic training untuk terakhir kalinya, sebelum memasuki dunia nyata. Demi komisariat tercinta dan terkasih.

Ternyata Allah SWT berkata lain.

Karena, pada Mei 2015, satu kalimat merubah segalanya; Tidak ada Master of Training untuk Komisariat Ekonomi Unand.

Tidak ada yang lebih menyedihkan bagi seorang instruktur atau master, yang tugas utamanya adalah kaderisasi, ternyata tidak mampu melahirkan generasi penerus. Apalagi bagi komisariat sendiri. Tidak ada yang lebih menyakitkan ketika mengetahui bahwa rantai proses itu putus di tangannya. Lebay? Mungkin. Tapi biarlah, kalau itu lebih baik daripada tidak merasa sama sekali. Then, who’s to blame? Apakah karena abang atau kakak yang tidak berusaha cukup keras untuk membina adik-adiknya? Apakah karena abang atau kakak yang tidak siap untuk menjadi contoh? Sehingga bagi mereka, proses yang bermula dari LK 1, komisariat, cabang, bahkan hingga jenjang yang lebih tinggi tidak lagi menarik. Atau apakah karena adik yang terbiasa dengan status ‘adik’, maunya selalu dimanja dan diperhatikan lalu terlena dengan suasana nyaman sehingga keinginan untuk menempa diri tidak lagi terbersit dalam hatinya? Apakah karena adik yang setiap kali mengalami kesulitan, tinggal mengadu ke kakak, sehingga tidak lagi muncul kreatifitas dalam menyelesaikan masalah sendiri?

Well, I don’t know.  Tentu akan lebih arif kalau kita bisa cover both sides dalam memandang fenomena tersebut.

Memutuskan untuk memakai kembali muts dan gordon yang sudah lama tergantung, tentu bukan tanpa pertimbangan yang masak. Bukan karena sekedar bujuk rayu adik-adik komisariat yang sudah ‘mambana’ ke kakak perempuannya. Tidak. Bukan berarti juga pengurus dan panitia tidak diminta untuk mencari tim master dari komisariat lain. Sudah. Toh, kenyataannya beberapa tim master generasi sekarang yang available dan dipercaya juga terkendala mengelola pada saat itu. Lalu kenapa tidak yang lain yang bisa saja? Kenapa harus memaksakan keinginan bahwa Master of Training pengelolaan kali ini tetap berasal dari komisariat sendiri? Sebenarnya tidak ada keharusan. Sama sekali. Ini hanya tentang siapa dan bagaimana sosok yang pertama kali dikenal oleh peserta training. Ini hanya tentang kepercayaan dalam mengelola seluruh elemen training. Tentang bagaimana nilai-nilai afektif yang menjadi penilaian terbesar dalam standar LK 1 ditransformasikan dengan maksimal sesuai dengan pedoman perkaderan. So, frankly speaking, bagi Tim Master yang tidak ‘dipercaya’, silakan tanya diri, kenapa seorang yang menjadi pucuk pimpinan dalam kepengelolaan malah menjadi sosok yang tidak dipercaya dalam mengemban amanah? Meski memang, terlepas dari itu semua, tentu tidak ada yang tidak ingin LK 1 nya dikelola oleh Master of Training dari komisariat sendiri. Kearifan tentang pemahaman kebutuhan dan budaya komisariat menjadi alasan paling pamungkas. Tapi, hey, siapa bilang mengelola di komisariat sendiri itu gampang? Nggak percaya? Silakan jadi instruktur, silakan jadi Master of Training.  

Langkah untuk ‘turun gunung’ juga tidak lantas lepas dari segala perseteruan. Internal dan eksternal. Memusatkan pikiran dan perhatian dengan kondisi setengah kaki sudah berada di dunia nyata bukanlah suatu hal yang mudah. Belum lagi segala bentuk perhatian berlimpah yang mendadak mucul dari orang-orang sekitar, kakak, abang, uda, uni, bahkan adik-adik sendiri. Jangan dikira tidak ada yang melarang. Meski pada akhirnya ada rasa terima kasih yang tak hingga untuk semua pihak atas perhatian tersebut, karena tentu semua dilakukan atas dasar kasih sayang.

Tentu banyak yang meyakini bahwa ini adalah bentuk kemunduran bagi komisariat jika LK 1 masih dikelola oleh generasi yang sudah lama tidak bersentuhan langsung dengan training formal. Sudah banyak melahirkan adik-adik baru pula. Tapi apa hendak dikata? Memilih jalan yang beda untuk mencapai visi besar butuh energi yang besar juga, kan? Kalau dinilai sekedar panggung yang dicari disana, perlu diketahui, di titik kehidupan tempat berpijak saat ini semua itu tidaklah relevan lagi. It’s not what I’m looking for. Not anymore. Sudah sejauh dan sebesar ini langkah yang diambil tentu akan sia-sia rasanya jika hanya hal ‘ecek-ecek’ yang dibawa.

Everything have to be worthy. Semua elemen training harus menjadi pihak yang ‘berproses’ di sana. Tidak hanya peserta, tapi pengelola dan panitia juga. Kalau dipikir-pikir, tidak apalah, jika kita mundur satu langkah untuk kemudian maju beberapa langkah. Bukankah Hatta sendiri pernah bilang dalam buku ‘Untuk Negriku’:

 “Kita pun tau, bahwa kemenangan tidak mudah didapat dalam perjuangan kita menuju cita-cita. Kita akan kalah berkali-kali dan tewas berulang-ulang”

Anggap saja, langkah mundur kemarin menjadi cambuk buat semua pihak, tidak hanya pengurus komisariat, tapi juga alumni, pengurus cabang dan BPL yang harusnya menjadi muara dalam mencari dan mencetak tim pengelola. Lagipula, selama ini kita digembar-gemborkan dengan pernyataan: ‘JIka mau HMI baik, perbaiki perkaderan. Jika perkaderan mau baik, perbaiki training. Jika training mau baik, perbaiki instruktur.’  Lalu bagaimana jika instruktur mau baik? Kalau diizinkan menyambung kalimat tadi, jawaban yang akan diberikan adalah dengan memperbaiki diri sendiri. Jadilah instruktur, perbanyaklah mengelola. Kalau sekiranya ada yang tidak suka dengan gaya dan tingkah polah pengelola yang ada, jadilah pengelola yang seperti kita inginkan.

Last but not least, untuk anggota-anggota baru, siapa saja, dari LK 1 apa saja. Selamat datang dan selamat berproses. Kita semua sudah memegang tongkat estafet. Mau bagaimana setelah ini dan mau menjadi apa kita nanti tentu tidaklah mudah. Kita tidak tau seberapa panjang jalan yang akan ditempuh dan apa saja yang akan dihadapi. Life is full of surprise, isn’t it? Bukankah dari yang tidak mudah itu kita bisa menjadi kuat? Apalagi menjadi generasi yang R.E.A.L: Religius, Educated, Attitude, Loyal (meminjam tema LK 1 Komisariat Ekonomi kemaren).  Kita semua belajar untuk itu. Dengan segala ujian yang ada.

Kalau kata @pidibaiq (you may check on twitter):

“Mudah-mudahan kita kuat, sekuat kehidupan, sekuat cinta dan pemahaman.”

After all, I do really apologize, mewakili tim pengelola, atas semua kekurangan, kesalahan, konflik yang tercipta, perseturuan yang muncul dengan berbagai pihak, semoga ini menjadi sesuatu yang mendewasakan kita. Juga sebagai seorang kakak, maaf karena seorang ‘KakPi’ belum maksimal dalam berperan aktif selama berproses di komisariat. Atas segala sisi yang tidak baik, silakan dibuang dan dijadikan pelajaran untuk tidak menjadi seperti itu. Ingatkan jika salah.

Puji syukur kepada Allah SWT, dan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat, karena LK 1 Komisariat Ekonomi Mei 2015 telah menciptakan pengalaman pertama (dan terakhir) untuk dapat merasakan sensasi hubungan yang dulunya adalah Master-Peserta menjadi Master-Instruktur. Mengelola bersama Andri (Komisariat ITP), Ferdi (Komisariat IS UNP), dan Ijek, Trendy, Ibob (Komsariat Ekonomi Unand) menjadi sebuah penutup manis dalam catatan sejarah kepengelolaan seorang Fia. Semua yang terjadi disana, hingga nanti, telah menciptakan ruang baru yang berisi kemenangan dan kekalahan, kekecewaan dan kerinduan, dalam satu titik di kehidupan ini.

Dan akhirnya.
Sudah saatnya gantung muts dan gordon.

P.S: pernyataan terakhir di atas bukanlah sebuah permohonan izin, tapi informasi. :)


13:13 - Jumat  19 Juni 2015. 
Hafizhah

October 19, 2016

[review] Genduk - Sundari Mardjuki

0komentar


Judul: Genduk
Penulis: Sundari Mardjuki
Penerbit: Gramedia pustaka Utama
Tahun terbit: Juli, 2016
Halaman: 232
Rating: 3 of 5

Awalnya tertarik dengan Genduk karena diskon 25% dari Gramedia untuk buku-buku yang masuk nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa 2016. Berhubung aku nggak terlalu suka baca buku puisi dan untuk kategori prosa udah baca buku O, pilihanku jatuh ke Genduk.

Buku tipis ini selesai aku baca hanya waktu 1, 5 jam. Ceritanya ringan, mengalir begitu saja, tanpa mesti berfikir keras. Tipikal buku yang memang lagi aku butuhkan karena lagi pengen baca buku yang nggak berat dan bisa langsung selesai sekedar untuk bikin otak segar.

Adalah Genduk, gadis yatim berusia sebelas tahun yang hidup dalam keterbatasan. Tidak hanya keterbatasan finansial tapi juga keterbatasan pengetahuan tentang sosok Pak’e, ayah kandungnya. Yung, singkatan dari biyung atau ibu, juga tidak bisa Genduk harapkan untuk bercerita tentang ayahnya karena responnyayang kerap membisu ketika ditanya. Konflik mulai menguat ketika rok warna oranye ubi jalar milik temannya mampu membakar hati Genduk yang sudah tak sanggup  lagi menahan laku prihatin setiap kali musim panen tembakau datang. Entah itu karena gejolak pubertas seorang gadis yang beranjak dewasa, yang ingin tampil cantik jelita, Entah itu karena hati yang sudah penuh dengan masalah-masalah yang ditahannya selama ini. Genduk memutuskan melakukan tindakan yang bahkan tak pernah dia pikirkan sebelumnya.

Tidak hanya Genduk, karakter masing-masing tokoh di buku ini pas, nggak lebay, dan menurut aku semua berjalan sesuai alurnya. Berlatar belakang kehidupan petani tembakau di lereng Gunung Sindoro, nuansa pedesaan yang digambarkan cukup kuat. Bahasa daerah yang digunakan untuk membangun tokoh dan menghidupkan suasana pun dirasa tidak berlebihan. Aku aja ngerti bacanya, padahal bukan orang jawa.

Meskipun ide ceritanya sederhana, salut deh sama penulisnya yang rela sebelumnya melakukan penelitian selama 4 tahun supaya tau proses tembakau sejak ditanam sampai panen. Kayaknya nggak sia-sia deh perjuangnnya. Meksipun mengambil latar tahun 1970-an, pembaca nggak perlu bingung untuk set their mind into that time karena penulisnya mewarnai cerita dengan kondisi sosial yang mungkin terjadi  di masa itu. Misalnya, penulis masih memasukkan cerita tentang PKI atau tentang ritual Yung dalam berdoa.  Eh, itu pendapat subjektif aku sih ya.      

Namun, ketika ada yang bilang novel ini seolah menjadi bayang-bayang novel Ronggeng Dukuh Paruk, aku cenderung mengiyakan. Memang sekilas novel ini mengingatkan aku dengan Ahmad Tohari. Malahan entah kenapa aku juga inget Gadis Kretek dan Entrok, padahal ceritanya nggak mirip. Tapi itu nggak mengganggu aku sih. Apalagi ketika mbak penulisnya menyebut AT sebagai salah satu penulis yang menginspirasinya. Katanya sih, itu biasa.

Aku suka buku ini! Covernya juga bagus. 

p.s: cerita ini terinspirasi dari kisah ibu kandung penulis sendiri, lho.


 

tentangku © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates