Showing posts with label kehilangan. Show all posts
Showing posts with label kehilangan. Show all posts

May 03, 2013

Entah Ini Postingan Berjenis Apa

5komentar

Kamu melihat dan bercerita ke dunia tentang orang baruku.
Tapi lihat siapa yang sebenarnya menghadirkan orang baru?
Siapa yang menunjukkannya ke dunia?
Kenapa dunia tak bisa melihat itu?
Bukankah aku sudah memilih untuk tidak memilih kalian?
Ya, aku berbohong dengan menemuinya lagi., tapi tak bisakah kau lihat, apa yang kukerjakan?
Aku mengungkapkan hatiku di depan matanya bahwa aku tidak memilih dia. Sama dengan yang kulakukan padamu. Dan memintanya tidak menggangguku.
Dan sekarang?
Siapa yang memiliki orang baru?
Meski tanpa kata sayang, perbuatanmu sudah membuktikan bahwa sayang itu nyata, kamu yang menunjukkan bahwa ‘more than words itu ada’. Pada yang bukan aku.
Sesuatu yang selalu aku harap itu ada untukku. Dulu. L
Meskipun kamu pernah memohon untuk memberikanmu kesempatan untuk menunjukan semua itu dan berjanji akan berubah dan menjadi yang terbaik untukmu
dan aku tidak bisa lagi. Karena hatiku sudah terlanjur hancur.
What does it mean? Should i let you go?
Should i give it up?
Aku hanya ingin menemukan kebahagiaanku.
Dan jika bahagia berarti melepasmu; jika itu berarti melewati hari-hariku tanpamu, tak mengapa.
Karena yang kuinginkan saat ini adalah melindungi jiwaku, dan memastikan bahwa setelah ini hatiku masih punya kapasitas yang cukup untuk mencinta.

May 02, 2013

Did We Miss Something?

0komentar

24 jam. 7 hari. Kita semua memilikinya.
Dari semua itu, dari seluruh waktu yang sudah kita habiskan, apa yang telah kita lewati?
Apa yang sudah kita lakukan?
Apa yang belum kita lakukan?
Apa yang sudah kita lewati?
Sudahkah kita mengikuti setiap momen hidup dengan baik dan mengingatnya?
Sudahkah kita merekam semua dalam memori?
Sudahkah kita meninggalkan jejak dan menciptakan makna pada masing-masingnya? 
Sudahkah kita memberikan yang terbaik?
Atau apakah ternyata semua kita lalui begitu saja?
Maka izinkan aku bertanya, pada siapa saja, pada apa saja.
Apa yang sudah kita lewati? Adakah yang kita lewati tanpa kita?
Apakah kita benar-benar hadir dalam setiap momen kehidupan kita?
Apakah kita terlalu sibuk dengan diri dan waktu kita?
Tanpa menyadari bahwa hari ini sejatinya terjadi atas rangkaian proses masa lalu.
Tanpa menyadari bahwa kita telah menghiraukan orang-orang yang menganggap kita ada.
Tanpa menyadari bahwa ada orang-orang yang selalu menyediakan sesudut ruang di hatinya untuk kita singgahi.
Atau ternyata kita sebenarnya telah melewati banyak hal tanpa menyadarinya. Lalu menyesal karena belum memberikan yang terbaik sementara kesempatan kadang tidak datang dua kali dan waktu tak bisa diulang.

Did we miss something?
Have we ever realized that?

April 06, 2013

[review] Les Miserables

1 komentar
Seseorang berkata kepada dirinya sendiri, seseorang bicara kepada dirinya sendiri, berseru kepada dirinya sendiri tanpa memecahkan keheningan luar. Terjadi kekacauan hebat, semua yang ada pada diri kita berbicara kecuali mulut. Walaupun demikian kenyataan yang ada pada jiwa tetap merupakan kenyataan karena mereka tidak terlihat dan dapat dirasakan.
(hlm. 357)

Agak sedikit terganggu dengan pemaparan awal tentang Uskup Kota D alias yang begitu panjang. Bahkan aku hampir menyerah kalau saja keseluruhan buku ini hanya menceritakan siapa sosok Uskup ini. Untungnya nggak jadi sih. Karena di bagian berikut muncul beberapa tokoh lain yang terkoneksi dalam satu benang merah. Les Miserables memang bercerita tentang beberapa tokoh dalam kehidupan Prancis abad 19. Victor Hugo membangun sebuah kompleksitas dari kisah cinta, spiritual, kemiskinan, politik, sejarah, juga sistem sosial masa itu.
Les Miserables sebenarnya termasuk Big Book. Tapi sayangnya versi yang aku baca adalah keluaran terbaru dengan cover film, yang mungkin merupakan versi ringkas (atau tidak selesai?). Ending yang gantung bahkan tanpa ada cerita tentang Cossette. That’s why I li’l bit surprise when watch the movie.  
Tentang emosi saat membaca? aah...it's more than just emotion. Pada beberapa kisah Jean Valjean dan Frantine, pembaca tidak hanya diajak bermain dengan perasaan tegang, iba, atau penasaran. Tapi juga diajak menelusup lebih dalam untuk berfikir dan bertanya pada hati.

February 16, 2013

[review] Burung-Burung Manyar - YB. Mangunwijaya

1 komentar
Burung-burung manyar tidak merebut betina dari rivalnya, tetapi menerima dan menghormati pilihan si betina. Boleh sedih, membongkar, dan menghempaskan sarang yang dibangunnya dengan susah payah, dengan dedikasi sepenuhnya, dengan hati seluruhnya. Tetapi jantan yang tidak dipilih tetap menghormati kedaulatan pemilihan betina...
... .Tetapi sekali lagi inilah kesulitanku. Aku bukan manyar. (hlm. 262)
I must confess: I never seen this Burung Manyar before. Baru setelah baca bukunya langsung googling (terpujilah Google dengan segala pengetahuan di dalamnya - @deritamahasiswa). Penasaran, penampakannya kayak gimana, sarangnya seperti apa.
Ternyata butuh waktu seminggu buat namatin buku yang terbilang tipis ini. Lagi-lagi sebuah roman sejarah, yang terjadi ketika masa penjajahan Belanda, Jepang, sampai masa kemerdekaan, memaksa memori megingat kejadian-kejadian sejarah yang pernah dipelajari waktu SMP (atau SMA?) kemudian mengimajinasikannya. Gaya bahasa Romo Mangun yang seringnya berfalsafah membuat pembaca berfikir dua kali atau menelusup dalam untuk mencari maknanya, dan banyak ditemukan di bagian ketiga. Meskipun, pemaparan seperti inilah yang cenderung tidak membuat bosan *pandangan subjektif*
Lalu apa hubungan burung manyar dengan tokoh Aku (Teto) dan Atik? Kisah burung manyar baru akan ditemui di bagian ketiga, di saat Atik sidang untuk mempertahankan tesisnya. Itupun hanya satu bab. Namun, setiap potongan ceita dari bagian pertama dan kedua merupakan sebuah pertalian yang membuat analogi burung manyar sebagai kisah cinta Teto dan Atik menjadi make sense. Well, baca aja kalimat pembuka tulisan ini.

Aku termasuk orang yang berharap cinta Atik dan Seta (Teto) akan bersatu. Meski sayang, harapan itu pupus.
Ah, kalau saja Romo Mangun mau membuat Teto ‘sedikt’ berjuang untuk Atik, cerita ini nggak akan berujung tragedi.
Perang tidak bisa dimenangkan dengan emosi. Tetapi perhitungan yang dingin. (hlm. 85)


Aku tidak tahu apakah harus berterima kasih atau mengutuk memori. Ingatan manusia menolong kita belajar mengalami dan membentuk hari depan yang lebih baik, dan kretivitas kita sebagian besar berudik dari sumber-sumber yang hidup; ingatan kita. Bahkan cinta atau benci hanya mungkin bila memori kita hidup. Tetapi justru itulah, segi-segi gelap seperti benci, balas dendam dan bisa juga kekuatan seperti kebimbangan bermunculan. (hlm. 220) 


May 21, 2012

Tak Ada Kamu Hari Ini

1 komentar
Tak ada kamu hari ini.
Maka tak ada kata yang mampu ku torehkan disini.
Kepalaku memang kecil. Namun hampir seluruhnya dipenuhi olehmu.
Sekarang bagaimana bisa aku meluapkannya dalam kalimat?
Ini bukan tentang jarak, bukan tentang waktu. Tapi tentang hati yang kamu buhul mati.
Bagaimana aku bisa menulis cerita bahagia jika hatiku ngilu karena mu…

May 19, 2012

Carrie Underwood - I Told You So

0komentar

*my most favorite  video version

How I miss this song so much.
Even, originally sung by Randy Travis, Carrie bisa bikin merinding pas dengernya. Setelah beberapa minggu lalu melepas kerinduan dengan nyanyiin lagu ini pas karaokean, sejak itu nangkring lagi deh di playlist setelah diilupakan sesaat.
        To be honest, I’d like to stand from male point of view. Selain karena pertama kali dinyanyiin ama cowok, somehow it fits in me *ups*. Whatever the lyric interpreted, this song seems to reach the deepest side of a person’s feeling. Just take the message of the lyric.

One of my most favorite lines is:
If I got down on my knees and told you I was yours forever, would you get down on yours too and take my hand?

Romantic, isn’t it?

But anyway…it’s not the point of that song. tapi ada di line ini:
I told you someday you’d come crawling back and asking me to take you in…I told you so...

December 14, 2011

Day 14

5komentar

Day 14: Hero that has let you down

Well, this idea comes up when I saw my youngest brother watch TV on Sunday. A whole day spent only in front of it. One of TV program that He watched –I forgot the title- is something, kinda robotic things. So whatever!


And suddenly, my mind jump into memory on my childhood when I also spent my Sunday at home just watching TV all day long. And I used to favorite Power Ranger. They were so cool, brave and sophisticated. But as time goes by, and as I grow up, Power Ranger become less interesting. In addition, there are so many competitors. For worse, it’s just Ranger ‘abal-abal’.


i used to be Yellow Ranger. my oldest sister Pink Ranger and my younger brother Red Ranger (at the time Amal and Nia was not born yet). when the program begin, we usually act like them. We remember the style of 'berubaaah...Poweeer Rangeeer'. we also remember the sound of their clock when chaos come. we love Zordon and Alfa.

As a child, I feel disappointed because Power Ranger no longer exists. No innovation. The plot of story is flat. but, the theme is changing every session. there are Power Ranger Rescue, Power Ranger SPD, Mistic Force, etc, which is hard to remember.
 And, finally it was beaten by other robotic film that has more sophisticated technology, colorful form of robot model, and so on.


Yes. I miss Power Ranger.
If you, guys, have complete session of it, would u mind to contact me? I would like to borrow it, or copy it.

November 20, 2011

something about 'Goodbye'

0komentar

*pict from google


What if I have to say goodbye to someone I care about?
The particular sad farewell left a hole in my chest and a bittersweet taste in my mouth. As saying goodbye, has a way of doing.
Why is it?
The hardest I attempt to heal from something painful, the more frequently it haunts?
And something ‘holey’ in my chest suddenly makes me stupid. I can’t find the right words, I can’t form complete sentences, and all I could do just stare into the eyes of someone that really meant to me.
I just stood.
Uncertain. Undefined. Communicating through eyes than with words.
I just stood.
And stare the back of him walk to the motorcycle. Pull away down the street and disappear into the night.
Perhaps that is the hardest part of saying goodbye to someone:
-         Knowing I must move on even tough every single thing on my body screams at me
-         Every aching muscle screams give up and wants to go home but I have to be strong, resolved and steadfast.
-         For letting go someone we love, it’s the hardest thing in everyone’s life. It seems like we climb a mountain on our own. It’s painful.
However, we’ve got our own mountain to climb up. Take heart. Be encouraged. Dealing a goodbye is always difficult. Because everytime we say goodbye, I die a little.   

November 09, 2011

Malam Ini Hujan Tak Datang

3komentar

Sudah seharian jari ini terdiam di atas tuts hitam milik notebookku. Sudah puluhan kali pula kakiku mondar-mandir mencari sesudut tempat yang nyaman sambil mengharap sang inspirasi datang. Seketika aku kehilangan kemampuan menulisi apa yang aku pikirkan dan kurasakan. Mungkin karena masih berduka karena tidak mampu melawan sepiku sendiri. Hingga aku hanya bisa diam berjam-jam memandang layar Ms. Word yang masih polos.
Bip. 1 new message.
Hatiku berdetak kencang. Harusnya itu kamu, Ari. Kuraih ponsel dengan tangan gemetar.
Kamu dimana De? Jangan menghilang ginilah. Share donk. Gue pinjemin bahu deh buat nangis. Jangan sok kuat sendiri deh.
Lyra.
Dia pasti tau ada apa-apa padaku karena tak menemukan tulisan baru di teras blog coklat milikku. Antara senang dan kecewa. Senang karena hubungan persahabatan yang telah kami jalin sejak SMP dulu menciptakan ikatan emosi yang kuat. Kecewa, karena itu bukan kamu Ari. Dengan enggan kubalas sms Lyra.
Sabar. Having writer’s block nih.
Sent.
Gambar surat meloncat-loncat di layar ponselku. Seperti pikiranku yang meloncat kian kemari. Pada tiap moment yang telah kulewati bersamamu setelah hampir setahun. Hampir. Beberapa menit lagi. Satu tahun kita.
Sudah hampir jam 9 malam. Belum ada satu kata pun yang kuketik. Juga belum ada satu kabar pun darimu. Aku memutuskan untuk mengambil strawberry cupcake kesukaanmu. Tahukah kamu? Saat aku beli tadi pagi, Ami, si penjaga toko tersenyum padaku. Akhirnya, dia tersenyum! memang sih, ada yang sedikit aneh dari tatapannya. tapi, ingatkah gara-gara kamu sering berbelanja disana, dia naksir kamu dan bersikeras untuk menjadi orang yang selalu melayani kamu? Itu membuat kamu takut. Sehingga sejak saat itu kamu tidak pernah berani menginjakkan kaki ke toko itu tanpa menggandeng tanganku. Sepertinya itu cukup membuat dia patah hati sampai-sampai aku menjadi korban muka masamnya tiap kali aku kesana. Mungkin dia kesal karena aku merebut pujaan hatinya. Hahaha…kamu memang gampang membuat wanita jatuh hati Ari. Wanita mana yang tidak meleleh melihat senyum kamu?
Strawberry cupcake itu masih dalam kotak dan terbungkus plastik. Aku mengeluarkannya dengan hati-hati. Takut lepas dari genggaman tanganku yang mulai mengigil. Aku meletakkannya dari plastik. Berharap beberapa saat lagi kamu datang dan kita berdua bisa menghabiskan malam sambil menyantap cupcake itu sampai habis.

January 27, 2011

Teman dan Kehilangan

0komentar
Bagaimana rasanya?
Ketika orang di sekitar kita tidak merasa kehilangan saat kita tidak berada di sekitarnya.
Atau mungkin menyadari nya, tapi nanti, setelah rentang waktu yang sangat lama.
Sedihkah?
Terasing?
Atau biasa saja?
Entahlah.

Terinspirasi dari kisah hidup salah satu temanku saat SMA, yang ternyata ‘pernah’ hilang,tanpa kami ketahui,bahkan sampai dia sudah ditemukan kembali, kami tidak tahu kabar bertanya.

Berawal dari satu foto masa SMA yang di-tag ke facebook, barulah berita itu terungkap.

Setelah berpuluh-puluh komen, tiba-tiba ada yang nyeletuk. Niat awal cuma bercanda tentang kabar dan eksistesi teman kami ini (yang ternyata ga punya facebook). Setelah berbalas komen, saya dan beberapa teman lainnya baru menyadari bahwa kami tidak mengetahui dimana dia kuliah.

Keterlaluan mungkin. Tapi, wajar bagiku yang tidak terlalu mengenal dan cenderung tidak peduli dengan ‘dya’ yang hilang ini. Lagipula dulu dia anak yang pendiam, sedikit ga nyambung kalo diajak ngomong tapi jenius. Mengingat dya adalah anak yang sangat pintar, tebakanku dia kuliah antara di UI dan ITB. Temanku yang lainlah yang mengingatkan bahwa mereka sekampus (beda fakultas) di UI. Tiba-tiba temen cowokku yang lain mengirimkan balasan komen berupa link mengenai berita orang hilang.

Bercanda yang kelewatan, kupikir. Iseng, aku klik link itu dan muncul raut wajah yang tak asing. Antara percaya dengan tidak, berita nya menunjukkan bahwa temanku hilang sejak Desember 2009.

Komentar di foto langsung berubah serius. Kami yang kebetulan sedang di Bukittinggi langsung menghubungi keluarganya. Ternyata memang benar. Temanku pernah hilang di kawasan Depok. Bagaimana cerita pasti tentang hilangnya teman kami tak pernah kami ketahui, karena pihak keluarga sendiri juga tidak tahu cerita pastinya. Entah mereka berkata jujur atau tidak. Mungkin saja mereka bermaksud tidak lagi mengungkit fakta yang pastinya pahit. Aku tidak tahu.

Yang lebih mengherankan, berita hilangnya dya tidak heboh di kampus. Tidak ada selebaran, tidak ada pertanyaan dari dosen atau teman. Mungkinkah dia ‘lagi-lagi’ tidak punya teman, seperti SMA dulu? Sekali lagi, aku tidak tahu.

Yang kutahu, secara fisik temanku masih sehat. Tapi mentalnya sedikit terganggu. Dya yang dari dulu memang pendiam semakin tak pernah bicara. Bahkan sekarang tidak kuliah lagi. Sangat kusayangkan, karena dya termasuk siswa sangat pintar saat SMA. Kalo ga, ga mungkin kan masuk ke Teknik Elektro UI.
Aneh, memang..
Entah kami yang terlalu sibuk dengan dunia masing” atau apalah. Kami terbilang sering mengadakan reuni dan acara, setiap puasa, lebaran, ataupun libur semester. Paling tidak, dunia maya menyatukan kami.
Namun itulah kenyataannya.
Lalu…Bagaimana kalau itu aku?

Wuiiih…
Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tepatnya teralu takut untuk kubayangkan.
Mungkin karena aku adalah manusia komunitas.
yang butuh untuk berada di tengah orang banyak.
Butuh teman. Butuh keramaian. Butuh pengakuan juga pastinya.
Kesendirianku hanya kulakukan ketika memang aku ‘butuh’ sendiri.
Hobi mengautis yang sempat sering kulakukan pun mulai kutinggalkan.
Aku lebih memilih situasi dimana aku bisa berbicara, berdiskusi, tertawa, menangis, apa saja..
Setiap canda, tawa, masalah, cekcok, pertengkaran, kritik, saran, salah paham, apa saja….sedikit banyaknya ikut berperan dalam membentuk siapa aku dan bagaimana aku di mata mereka.
Berinteraksi menjadi suatu kebutuhan dan kenyamanan.
Bukannya tidak bisa kalau harus sendiri. Tapi, kalau ada teman…rasanya beda.

27.01.11 – 09:55 PM. Rumah
 

tentangku © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates