Showing posts with label in my head. Show all posts
Showing posts with label in my head. Show all posts

October 20, 2021

Hanya Setelah Sekian Lama Tidak Begini

0komentar

Pukul 01.30

Kubiarkan semangkuk sereal di pangkuanku sedikit lunak karena susu. Lampu kamar kubiarkan padam. Menjaga agar anak-anak tetap lelap disaat ibunya terjaga. Rasanya sudah lama tidak begini. Membiarkan kata-kata mengalir begitu saja. Bedanya, tidak di kertas maupun layar laptop. Pakai saja apa yang ada. Yang penting kamu mulai menulis lagi. Begitu pikiranku berkata.
Harusnya aku tidur saja. Bukan malah membiarkan pikiranku berkelana kemana-mana. Tidak ada ujungnya juga. Sambil makan pula. Haduh, kenapa harus menumpuk penyakit.
Atau mungkin ku harus mengerjakan ritual ibadah tengah malam lalu membaca buku, agar begadang kali ini bernilai manfaat?
Halah. 

February 16, 2017

Postingan Pertama di 2017

1 komentar
Already 2017. Already February, 2017.

Berarti udah 4 bulan blog ini dianggurin. Udah saatnya bersih- bersih untuk kemudian diisi dengan postingan-postingan yang sudah menumpuk seperti timbunan buku. Hobi banget sih ya nimbun tulisan dan bacaan. #selftoyor

Mari mulai  postingan pertama di 2017 ini dengan flashback ke 2016.

It was DestinASEAN!!
Siapa sangka tahun ini Allah ngasih kesempatan Aku buat jalan-jalan gembel ke Siem Reap, Yangoon, Kuala Lumpur dan Bangkok. In A Year!! Pake duit sendiri!! #horangkayah #biarinaja. Bahagia banget, having trip without guide, susun itinerary sendiri, obrak-abrik blog orang buat cari info, sampe rela berkerut kening buka Google Maps demi ngedapetin penginapan strategis yang murah. Padahal sendirinya punya kecerdasan hubungan ruang yang ala kadar. 

My 2016 Reading Challenge: Accomplished!
Got 46 out of 30 books. Beyond expectation banget mah ini. Pencapaian luar biasa karena memang di titik kehidupan sekarang, waktu yang tersedia untuk leyeh-leyeh sekedar untuk ngulet diatas tempat tidur sambil baca buku udah jauh berkurang. My trip can be the reason why I have soooo many times to read. Airport moment emang selalu jadi waktu yang pas buat baca. Apalagi saat nunggu satu flight ke flight berikutnya bahkan sampai jadi airport sleeper. Buku selalu jadi teman paling setia disaat travel mate aku having their own times.

Nongol di Majalah Kantor ^_^
Menjadi seorang blogger yang juga pegawai kantoran (eh, pegawai kantoran yang juga blogger) ternyata membawa berkah tersendiri. Setelah ikutan acara ulang tahun kantor yang mengundang blogger, kemudian aku diwawancara untuk mengisi profil karyawati di majalah yang beredar seholdco alias holding company. Ulasannya pun rilis di edisi triwulan keempat 2016 lalu.    





And, oh, I got MARRIED!!
How can I not be happier? I’m a wife now!
Setelah perjalanan panjang, kesabaran yang benar-benar diuji dan doa yang tiada henti, Allah mengabulkan doa-doaku, as I mention previously di postingan pertama 2016. Sepertinya ini jadi alasan terbesar kenapa blog ini dicuekin. ‘Cause I’ve got so many things to prepare at that time. But everything’s worth at the end.



In a nutshell, my 26th-Resolution is officially done. And I thank God for it, for everything.
Yes, 2016 is soooo traveling years for me.
Traveling to see several places. Traveling from Ms to Mrs.
#Eeaaaaaaak

Dan sekarang sudah 2017.  Mudah-mudahan blog ini tetap bias diisi dengan berbagai hal-hal positif dan bermanfaat. Mengingat kondisi sosial media yang lagi panas dan sedikit berisik belakangan, mending bikin adem sendiri.

About 27th-Resolution?

Biasalah…
Menyelesaikan 2017 Reading Challenge yang targetnya sengaja diturunkan krena udah ada yang mesti diurusin. #eaaaaklagi.  
Dan…
Having trip with my new (and forever) travelmate. ^_^          

October 25, 2016

Sudah Saatnya Gantung Muts dan Gordon

0komentar


Sudah saatnya gantung muts dan gordon. 

Begitu pernyataan yang terucap 2 tahun lalu, April 2013. Ketika itu, ketika gelar sarjana akhirnya sudah ditangan, ada satu keinginan untuk menjadi bagian dalam kepengelolaan basic training untuk terakhir kalinya, sebelum memasuki dunia nyata. Demi komisariat tercinta dan terkasih.

Ternyata Allah SWT berkata lain.

Karena, pada Mei 2015, satu kalimat merubah segalanya; Tidak ada Master of Training untuk Komisariat Ekonomi Unand.

Tidak ada yang lebih menyedihkan bagi seorang instruktur atau master, yang tugas utamanya adalah kaderisasi, ternyata tidak mampu melahirkan generasi penerus. Apalagi bagi komisariat sendiri. Tidak ada yang lebih menyakitkan ketika mengetahui bahwa rantai proses itu putus di tangannya. Lebay? Mungkin. Tapi biarlah, kalau itu lebih baik daripada tidak merasa sama sekali. Then, who’s to blame? Apakah karena abang atau kakak yang tidak berusaha cukup keras untuk membina adik-adiknya? Apakah karena abang atau kakak yang tidak siap untuk menjadi contoh? Sehingga bagi mereka, proses yang bermula dari LK 1, komisariat, cabang, bahkan hingga jenjang yang lebih tinggi tidak lagi menarik. Atau apakah karena adik yang terbiasa dengan status ‘adik’, maunya selalu dimanja dan diperhatikan lalu terlena dengan suasana nyaman sehingga keinginan untuk menempa diri tidak lagi terbersit dalam hatinya? Apakah karena adik yang setiap kali mengalami kesulitan, tinggal mengadu ke kakak, sehingga tidak lagi muncul kreatifitas dalam menyelesaikan masalah sendiri?

Well, I don’t know.  Tentu akan lebih arif kalau kita bisa cover both sides dalam memandang fenomena tersebut.

Memutuskan untuk memakai kembali muts dan gordon yang sudah lama tergantung, tentu bukan tanpa pertimbangan yang masak. Bukan karena sekedar bujuk rayu adik-adik komisariat yang sudah ‘mambana’ ke kakak perempuannya. Tidak. Bukan berarti juga pengurus dan panitia tidak diminta untuk mencari tim master dari komisariat lain. Sudah. Toh, kenyataannya beberapa tim master generasi sekarang yang available dan dipercaya juga terkendala mengelola pada saat itu. Lalu kenapa tidak yang lain yang bisa saja? Kenapa harus memaksakan keinginan bahwa Master of Training pengelolaan kali ini tetap berasal dari komisariat sendiri? Sebenarnya tidak ada keharusan. Sama sekali. Ini hanya tentang siapa dan bagaimana sosok yang pertama kali dikenal oleh peserta training. Ini hanya tentang kepercayaan dalam mengelola seluruh elemen training. Tentang bagaimana nilai-nilai afektif yang menjadi penilaian terbesar dalam standar LK 1 ditransformasikan dengan maksimal sesuai dengan pedoman perkaderan. So, frankly speaking, bagi Tim Master yang tidak ‘dipercaya’, silakan tanya diri, kenapa seorang yang menjadi pucuk pimpinan dalam kepengelolaan malah menjadi sosok yang tidak dipercaya dalam mengemban amanah? Meski memang, terlepas dari itu semua, tentu tidak ada yang tidak ingin LK 1 nya dikelola oleh Master of Training dari komisariat sendiri. Kearifan tentang pemahaman kebutuhan dan budaya komisariat menjadi alasan paling pamungkas. Tapi, hey, siapa bilang mengelola di komisariat sendiri itu gampang? Nggak percaya? Silakan jadi instruktur, silakan jadi Master of Training.  

Langkah untuk ‘turun gunung’ juga tidak lantas lepas dari segala perseteruan. Internal dan eksternal. Memusatkan pikiran dan perhatian dengan kondisi setengah kaki sudah berada di dunia nyata bukanlah suatu hal yang mudah. Belum lagi segala bentuk perhatian berlimpah yang mendadak mucul dari orang-orang sekitar, kakak, abang, uda, uni, bahkan adik-adik sendiri. Jangan dikira tidak ada yang melarang. Meski pada akhirnya ada rasa terima kasih yang tak hingga untuk semua pihak atas perhatian tersebut, karena tentu semua dilakukan atas dasar kasih sayang.

Tentu banyak yang meyakini bahwa ini adalah bentuk kemunduran bagi komisariat jika LK 1 masih dikelola oleh generasi yang sudah lama tidak bersentuhan langsung dengan training formal. Sudah banyak melahirkan adik-adik baru pula. Tapi apa hendak dikata? Memilih jalan yang beda untuk mencapai visi besar butuh energi yang besar juga, kan? Kalau dinilai sekedar panggung yang dicari disana, perlu diketahui, di titik kehidupan tempat berpijak saat ini semua itu tidaklah relevan lagi. It’s not what I’m looking for. Not anymore. Sudah sejauh dan sebesar ini langkah yang diambil tentu akan sia-sia rasanya jika hanya hal ‘ecek-ecek’ yang dibawa.

Everything have to be worthy. Semua elemen training harus menjadi pihak yang ‘berproses’ di sana. Tidak hanya peserta, tapi pengelola dan panitia juga. Kalau dipikir-pikir, tidak apalah, jika kita mundur satu langkah untuk kemudian maju beberapa langkah. Bukankah Hatta sendiri pernah bilang dalam buku ‘Untuk Negriku’:

 “Kita pun tau, bahwa kemenangan tidak mudah didapat dalam perjuangan kita menuju cita-cita. Kita akan kalah berkali-kali dan tewas berulang-ulang”

Anggap saja, langkah mundur kemarin menjadi cambuk buat semua pihak, tidak hanya pengurus komisariat, tapi juga alumni, pengurus cabang dan BPL yang harusnya menjadi muara dalam mencari dan mencetak tim pengelola. Lagipula, selama ini kita digembar-gemborkan dengan pernyataan: ‘JIka mau HMI baik, perbaiki perkaderan. Jika perkaderan mau baik, perbaiki training. Jika training mau baik, perbaiki instruktur.’  Lalu bagaimana jika instruktur mau baik? Kalau diizinkan menyambung kalimat tadi, jawaban yang akan diberikan adalah dengan memperbaiki diri sendiri. Jadilah instruktur, perbanyaklah mengelola. Kalau sekiranya ada yang tidak suka dengan gaya dan tingkah polah pengelola yang ada, jadilah pengelola yang seperti kita inginkan.

Last but not least, untuk anggota-anggota baru, siapa saja, dari LK 1 apa saja. Selamat datang dan selamat berproses. Kita semua sudah memegang tongkat estafet. Mau bagaimana setelah ini dan mau menjadi apa kita nanti tentu tidaklah mudah. Kita tidak tau seberapa panjang jalan yang akan ditempuh dan apa saja yang akan dihadapi. Life is full of surprise, isn’t it? Bukankah dari yang tidak mudah itu kita bisa menjadi kuat? Apalagi menjadi generasi yang R.E.A.L: Religius, Educated, Attitude, Loyal (meminjam tema LK 1 Komisariat Ekonomi kemaren).  Kita semua belajar untuk itu. Dengan segala ujian yang ada.

Kalau kata @pidibaiq (you may check on twitter):

“Mudah-mudahan kita kuat, sekuat kehidupan, sekuat cinta dan pemahaman.”

After all, I do really apologize, mewakili tim pengelola, atas semua kekurangan, kesalahan, konflik yang tercipta, perseturuan yang muncul dengan berbagai pihak, semoga ini menjadi sesuatu yang mendewasakan kita. Juga sebagai seorang kakak, maaf karena seorang ‘KakPi’ belum maksimal dalam berperan aktif selama berproses di komisariat. Atas segala sisi yang tidak baik, silakan dibuang dan dijadikan pelajaran untuk tidak menjadi seperti itu. Ingatkan jika salah.

Puji syukur kepada Allah SWT, dan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat, karena LK 1 Komisariat Ekonomi Mei 2015 telah menciptakan pengalaman pertama (dan terakhir) untuk dapat merasakan sensasi hubungan yang dulunya adalah Master-Peserta menjadi Master-Instruktur. Mengelola bersama Andri (Komisariat ITP), Ferdi (Komisariat IS UNP), dan Ijek, Trendy, Ibob (Komsariat Ekonomi Unand) menjadi sebuah penutup manis dalam catatan sejarah kepengelolaan seorang Fia. Semua yang terjadi disana, hingga nanti, telah menciptakan ruang baru yang berisi kemenangan dan kekalahan, kekecewaan dan kerinduan, dalam satu titik di kehidupan ini.

Dan akhirnya.
Sudah saatnya gantung muts dan gordon.

P.S: pernyataan terakhir di atas bukanlah sebuah permohonan izin, tapi informasi. :)


13:13 - Jumat  19 Juni 2015. 
Hafizhah

July 20, 2016

Raindrops and Up & Up

0komentar
pict from here

We’re gonna get it, get it together right now,
Gonne get it, get it together somehow,

Coldplay suddenly comes up while I’m sitting here alone in my room. The raindrops falls by the light of the lamppost where my eyes are staring at. I’m busy with nothing but my minds busy with everything.
Well, live is confusing enough already.
And to live, is to be strong even when the universe seems to be against us.
And all that matters to feel alive.

We’re gonna get it, get it together, I know,
Gonna get it, get it togehther and flow,
Gonna get it, get it together and go.
Up and up and up.

When you’re in pain, when you think you’ve had enough.
Don’t ever give up.  

March 08, 2016

Untitled

0komentar

Dear God,

The only thing I asked of you is to hold her when I’m not around, when I’m much too far away. – A7X



Hold her, God. Hold my Mama. 

I’m here. She’s there. It’s only a couple hour from here but I do nothing just because she said so.

:’(

March 07, 2016

Tentang Tere Liye, Sejarah, dan Hal Lainnya

5komentar
Indonesia itu merdeka, karena jasa-jasa tiada tara para pahlawan–yang sebagian besar diantara mereka adalah ulama-ulama besar, juga tokoh-tokoh agama lain. Orang-orang religius, beragama.
Apakah ada orang komunis, pemikir sosialis, aktivis HAM, pendukung liberal, yang pernah bertarung hidup mati melawan serdadu Belanda, Inggris atau Jepang? Silahkan cari.
Anak muda, bacalah sejarah bangsa ini dengan baik. Jangan terlalu terpesona dengan paham-paham luar, seolah itu keren sekali; sementara sejarah dan kearifan bangsa sendiri dilupakan.


Belakangan kita dihebohkan dengan insiden ‘status update’ dari pages Tere Liye, seorang novelis terkenal yang karyanya digemari dari berbagai kalangan. Status yang akhirnya sudah dihapus, meskipun masih beredar di sosial media lainnya. Status yang kemudian tidak hanya menjadi bahan olok-olok bagi sebagian orang, tapi juga sampai menjadi bahan perdebatan dan bahan bully. Bahkan di twitter sudah muncul hestek #SaveTereLiye beserta twitpictnya. Iya, aku masih sering main twitter dan bukan termasuk golongan anak-anak gaul path


Sebut saja Saut Situmorang. Siapa dia? Googling aja. Eh, well, to make it balance, let me explain a few things. Jadi dia adalah penulis, penyair, kurator sastra, dsb, silakan dibaca sendiri. Nah, di akun twitternya @AngrySipelebegu, Saut bener-bener bikin Tere Liye skak mat (bener nggak sih gini tulisannya?). Silakan kepo-in deh timelinenya.

Aku sendiri sebenarnya suka dengan novel- novel Tere Liye. Suka juga dengan beberapa quote dia yang kadang-kadang, menyentuh dan memotivasi. Apalagi kalo lagi baperan. Haks. #Tereliyenisme, begitu hesteknya di twitter.

Kalau tulisan ini dibikin untuk membela Tere Liye, terus terang tidak. Lantas kalau dibilang aku akan menyerang Tere Liye dengan tulisan biar terkesan lebih ‘terhormat’ dari sekedar ngomong doank, nggak juga sih. Aku mah apa atuh.

Aku bukan sejarawan.

Aku bukan sastrawan.

Aku hanya pembaca. Kalau lagi cerdas aku bisa dengan mudahnya menyerap isi, makna, hikmah dari apapun yang kubaca. Kadang bisa sampai menuliskannya juga, meski cuma di personal blog begini. Tapi aku membaca apapun. Ralat. Aku pernah berada di masa-masa mau membaca apapun. Aku pembaca Pram, juga Hamka. J.K Rowling dan N.H Dini, termasuk penulis perempuan favorit aku. Belum lagi Dari Penjara ke Penjara Jilid I, II, III – Tan Malaka, Capita Selecta-M. Natsir, atau beberapa jilid Sejarah Kecil (Petite Historie) Indonesia – Rosihan Anwar, juga boleh. Memang sekarang pilihanku lebih sering ke novel dan hal-hal fiktif lainnya. Well, lately, that’s my easiest escape from those serious things in this jokey world. And I think I deserve it.

Maka, ketika status Tere Liye yang bikin geger itu muncul, otomatis membuat kalangan sastrawan, sejarawan, juga netizen seperti aku nggak bisa menahan diri untuk tidak merespon.

Jadi gini, Om Tere Liye yang nama aslinya  Darwis adalah lulusan akuntansi UI. Memang profil dia nggak pernah dibeberkan secara gamblang –p.s: one thing that I like, actually–  entah apa motifnya menulis status yang debat-able banget.

Kenapa bisa gitu?

Salah tulis? Salah baca buku? Entahlah, yang jelas bukan salah akun.

Mungkin Om Tere Liye lupa kalau ada periodisasi  sejarah kemerdekaan Indonesia. Sebut saja mulai dari zaman ketika bermunculan kerajaan-kerajaan, sampai masa penjajahan. Seiring berakhirnya peperangan di beberapa daerah nusantara, kemudian ada yang namanya Politik Etis sehingga muncul tokoh-tokoh intelektual yang ditandai organisasi-organisasi kepemudaannya. Masa pergerakan nasional, masa pendudukan Jepang, sampai masa meraih dan mempertahankan kemerdekaan. Semuanya tidak lepas dari perjuangan untuk ‘bertarung hidup & mati’, secara fisik ataupun pemikiran. Ah, Terlalu panjang kalau harus dibahas di sini. Bukankah memahami peristiwa dan peran tokoh di dalam sejarah tidak semudah ketika membaca novel atau menonton movie? Temanku yang pernah kuliah di jurusan sejarah pernah bilang sih; sejarah Indonesia tidak hanya hitam dan putih, Begitu?

Well, paling tidak Om Tere Liye mengajarkan aku beberapa hal. Pertama, untuk tidak sembarangan bikin status update, apalagi kalau tentang ilmu yang kita sama sekali tidak mendalaminya. Makanya Om, aku yang juga lulusan akuntansi bisanya cuma baca buku, untuk kemudian berdiskusi dengan siapa saja. Discuss, not Debate, apalagi menjustifikasi. Kedua, untuk makin rajin membaca apa saja. 

Mana tau nih ada yang dari kalangan mahasiswa yang mau baca blog ini. Sedikit pesan sih *mulai keliatan tuanya* makanya, rajin-rajin baca deh. Kalau bisa diimbangi, baca buku berat sama buku ringan *apasih*. Kalau nggak bisa, ya nggak apa-apa, yang penting baca buku. Tumbuhin dulu minat bacanya. Nggak lucu kan, karena kejadian ini malah ketahuan kalau kita nggak tau siapa para pahlawan yang juga tokoh agama, juga kita nggak tau apakah memang benar tidak ada pemikir sosialis, komunis, aktivis HAM, yang ikutan melawan penjajah? Apalagi kalau ditanya tentang arti sosialis, kapitalis, liberalis, dan -is -is lainnya. Atau jangan-jangan justru kita nggak tau siapa itu Tere Liye, trus malah ikut-ikutan komentar.  -______-“

          As I told you. Tulisan ini tidak untuk menyerang ataupun membela. I'm a Moslem, and I'm proud of it. Aku masih suka dengan karya-karyanya Tere Liye. Dan mungkin masih akan terus membacanya. Aku hanya harus mengingat bahwa tokoh idola, orang ternama, atau siapapun mereka sepanjang masih berwujud manusia, tempatnya salah dan lupa. 
        
      

February 10, 2016

Apa yang Aku Bawa Pulang dari Perjalanan

2komentar
gambar diambil disini

Allah memang baik.

Tahun lalu, saat aku resmi diangkat menjadi seorang pegawai salah satu perusahaan ternama di Sumatra Barat, aku membuat bucketlist of trip. Hanya daerah-daerah dalam provinsi. Tapi Allah memberiku lebih. Sekali itu aku berkesempatan tidak hanya keluar kota, tapi juga ke luar negri, untuk pertama kalinya dalam hidup.

Tahun ini, memasuki tahun kedua aku bekerja, aku membuat bucketlist baru. Kali ini targetnya luar propinsi. Meski yang lama tetap ditempel di dinding kamar.

Lagi-lagi Allah memang baik.

Aku diberi kesempatan secara tidak sengaja untuk pergi lebih jauh. Siapa sangka, batal trip ke Borobudur malah membuka peluang mengunjungi Angkor Wat. Toh tujuannya sama, melihat sunrise dari candi.

Aku pergi membawa semua keruwetan dalam hati dan pikiran. Mencari kesunyian terselubung. Sekedar untuk kosong, lalu menepiskan semua yang rumit.

Aku berangkat dengan hati tak menentu.
Deg-degan karena pertama kalinya ke negri orang pakai pesawat terbang.  Belum lagi beberapa momen yang terjadi sebelum berangkat. Mungkin karena itu aku mengambil buku Tempat Paling Sunyi sebagai travelmate. Ditambah suara Meghan Trainor ft. John Legend yang aku putar berulang-ulang. We’re not promised tomorrow, begitu katanya.

Tanpa ekspektasi apa-apa. Aku membiarkan semua mengalir. Bagiku yang penting hati ini senang. Meskipun pikiranku tetap saja melayang kemana-mana tanpa mengurangi kenikmatan berada disana.

Banyak hal yang aku lihat. Banyak yang aku rasakan. Sepanjang perjalanan. Selama menjelajahi candi. Selama menikmati keriuhan pasar malam. Selama menunggu waktu transit ataupun ketika mesti bermalam di bandara untuk pulang esoknya.

Apa yang aku bawa pulang dari perjalanan ini?

Oleh-oleh.

Foto.

Apalagi?

Sepertinya aku membawa cakrawala yang lebih luas.

Sedikit penerimaan.

Dan mungkin; hati yang lebih lapang.

Meski ada juga yang aku tinggalkan.

September 23, 2015

Perasaan Mono

2komentar

Perasaan mono itu kadang aneh.
Rasanya lagi ga pengen ngomong aja tapi sebenernya banyak yg mau diceritain. Atau berasa pengen ga kemana-mana tapi sbnrnya butuh kemana. Atau serasa pengen kemana-mana tp malah ga tau mau kemana. Atau lagi ga pengen baca padahal tumpukan yg belumndibaca banyak. Atau pengen nulis, tp malah ga tau mau nulis apa.
Kayak sekarang.
Jadinya nulis ga jelas.
Udah lama juga sih ga lama-lama depan laptop nulis ga jelas gini.
Mau bahas apa juga bingung. Padahal utang-utang tulisan yang mesti di update banyak. Malah nulis ga jelas.
Udah nulis beberapa kalimat terus bingung mau nulis apa lagi.
Ah dasar ga jelas.
Ya tapi apasih yang jelas di dunia ini?
Halah. Malah bahas dunia.
jangan ditanya maunya apa.
karna maunya banyak.

- 21:14, on my way home buat Lebaran Idul Adha -

September 18, 2015

Mudah-Mudahan Semua Baik-Baik Saja

1 komentar


Sometimes I feel the fear of uncertainty stinging clear.
And I can’t help but ask myself how much I let the fear take the wheel and steer.
It’s driven me before, and it seems to have a vague
Haunting mass appeal.

Seperti lirik lagunya Incubus, begitu yang aku rasakan pagi ini. Sama rasanya ketika aku mau pergi ke provinsi tetangga hari itu. Deg-degan. Weird aja pokoknya. It seems like there’s a butterfly, not in my stomach but on my chest. Kayak grogi mau tampil ke panggung trus diliatin banyak orang. Pagi ini sama persis. Hal-hal aneh, ketakutan-ketakutan nggak jelas, malah gentayangan di pikiran.
Biasanya kalau udah begini aku cuma bisa tarik napas dalam-dalam. Sebelum-sebelumnya mungkin dengan mudah aku bisa menceritakan hal-hal seperti ini ke orang-orang tertentu. Anggapannya setelah berbagi jadi lebih enak. Tapi akhir-akhir ini banyak yang kupilih untuk kusimpan sendiri. Mungkin karena perubahan itu jadinya aneh kali ya. As an expressive person, aku nggak biasa seperti itu. But somehow, aku mulai menyadari bahwa nggak semua orang mesti tau semua hal. Karena kadang-kadang ketidaktahuanlah yang melindungi kita.
            Sebenarnya Incubus udah kasi tau jawaban hal ini. Tinggal terusin aja liriknya;
Lately I’m beginning to find that I should be the one behind the wheel.   
 Sayangnya, aku belum lihai dalam hal itu.
Tapi mudah-mudahan semua baik-baik saja. Allah with me.
 

tentangku © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates