May 17, 2015

Baru Tahu: Ada Spot Agrowisata di Lubuk Minturun

0komentar
Palang Penanda Memasuki Daerah Agrowisata
Ceritanya hari itu 15 Maret 2015 aku berniat jalan-jalan ke tempat yang deket-deket aja dari Kota Padang. Maksud hati sih hunting foto untuk kebutuhan instagram. Sekalian nyobain jepretan dari hape baru yang sekarang nggak baru lagi karena udah bulan Mei.
Yes, I know, this is sejenis posting yang dibuang sayang. Foto-fotonya juga udah lama mendem di hape. Jadi mumpung mindahin beberapa foto hasil jalan-jalan sebelumnya ke notebook, ya sekalian aja dibikin postingannya.

pemandangan Lb. Minturun yang masih sejuk
Back to story, niat jalan-jalan ke luar kota ternyata harus dibatalkan karena konddisi cuaca yang nggak mendukung. Langit mendung sejauh mata memandang. Maklum, jalan-jalannya naik motor. Akunya sih suka ujan-ujanan, tapi aku belum siap mental kalo hape baru rusak lagi. K

Alhasil, kami berbalik arah pulang melewati Lubuk Minturun. Waktu ngeliat palang besar bertuliskan BBI Lubuk Minturun – Agrotourism Park ide cerdas itupun muncul. Aku langsung ngeluarin hape dan foto-foto nggak jelas sepanjang jalan. I realize something: dulunya Lubuk Minturun ini hanyalah daerah yang menyediakan banyak tempat jualan bibit tanaman, pot bunga, dll yang berhubungan dengan itu. Makanya mungkin pemerintah kota jadiin daerah ini sebagai spot agrowisata.

Kreatif..kreatif..

Emang iya sih, jadi bagus gitu, karena berbagai jenis tanaman warna-warni berjejer sepanjang jalan. Nah, ketika tulisan ini di posting, aku sempat gugling sebentar dan baca artikel dari media setempat kalau Lubuk Minturun sebagai Agrotourism Park baru diresmikan bulan April lalu.  







Nggak hanya itu, Lubuk minturun juga terkenal dengan spot buat mandi-mandi di sungai. Karena disini juga ada irigasi. Selain sungai aliran air irigasi, ada juga sih kolam renang ABG yang terkenal karena suasananya yang alami, sejuk dan murah meriah. Sebenernya pengen sih kesana saat itu. mumpung partner jalan-jalan hobi berenang. Tapi ya,.. lagi-lagi karena takut ujan gede dan ga berani ambil resiko, kami memilih balik kanan. Mungkin nanti-nanti bisa deh dibikin kesempatan kesana. 


foto diambil dari stok lama: air irigasi
Kolam ABG
Jalan Masuk Menuju Kolam ABG
        Satu hal lagi yang nggak boleh dilupain dari Lubuk Minturun adalah: ada tempat makan yang enak di sana, yaitu Lubuk Lagan. Salah satu tempat makan favorit aku dan orang-orang kantor kalau kebetulan ada tamu. Yaa...kesempatan makan ke sana jarang sih, soalnya kan jauh banget dari Indarung. You should try Karupuak Jariang a.k.a Kerupuk Jengkolnya. Crispy,lho! Suasananya juga seru karena pemandangan sungai dan jembatannya. 

Lubuk Lagan
Karea daerahnya yang sejuk dan masih hijau, di Lb. Minturun juga tersedia banyak villa dan spot outbond yang bisa disewakan untuk umum. Salah satu yang terkenal aalah Henni Ali Minangkabau Craft Village. On one occasion, aku dan teman-teman kantor pernah ngadain outbond di sana. Halamannya luaaaas banget. Rumahnya bersih dan bagus, bahkan ada rumah gadang terpisah yang merupakan show room untuk hasil-hasil sulaman pemilik villa. For commercial purpose, off course.

jalan menuju Henni Adli
Henni Adli Minangkabau Craft Village
Lokasi Peragaan Manasik Haji
suasana Lb. Minturun sebelah ke sana nya lagi

Dengan segala hal yang ada di Lb.Minturun, memang oke deh daerah ini jadi pusat agrowisata. Nggak cuma seger di mata, tapi juga seger di badan kalo mau mandi, dan seger di perut kalo mau nyari makan. Paling nggak Padang punya alternatif lain di sektor pariwisata gitu *sok paham*. Lb. Minturun itu makin kece deh pokoknya. Pengen rasanya punya rumah di sekitar sana #kodekeras. Tapi sayang, jauh banget kalo dari kantor. 

Well, akhirnya secara tidak sengaja keinginan aku untuk jalan-jalan ke tempat yang deket-deket aja kesampaian juga. Dan memang benar-benar dekat untuk sebuah jalan-jalan.   

May 15, 2015

Ke Pemandian Tirta Alami Malibo Anai (Lagi) & Puncak Anai

0komentar

spot kolam renang dewasa

Sebenarnya ini adalah kedua kalinya aku dan teman-teman dari Komisariat Ekonomi jalan-jalan ke pemandian Tirta Alami. Mungkin karena jaraknya yang tidak terlalu jauh, cuma sejam perjalanan. Kata google sih sekitar 60 km dari Padang. Mungkin juga karena harga karcis masuknya yang relatif murah, cuma Rp 3.000 per orang.

Berlokasi di Malibo Anai, kecamatan Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, seperti namanya, Tirta Alami adalah tempat pemandian yang memang beruansa alami. Airnya bersih, tanpa kaporit, dan sejuk mengarah ke dingin *apasih* *ya gitu deh maskudnya*. Spot pemandiannya dibagi menjadi beberapa kolam, sesuai dengan kedalamannya. Jadi bisa disesuaikan mana yang buat anak-anak ataupun dewasa. Jangan bayangin kolam renangnya kayak kolam renang biasa yang pake keramik, karena di sini, suasananya beda. Setiap kolam renang terbuat dari batu alam yang disusun berundak-undak. Nggak perlu pake sunblock juga, karena tempat mandinya terlindung karena banyak pepohonan. 


nggak apa-apa nggak selfie, yang penting jadi model
Wahana bermain yang ada sebenarnya nggak banyak. Cuma ada titian dan ayunan yang dibikin diatas kolam buat uji keseimbangan. Kabarnya di sini ada flying fox dan fasilitas untuk outbond. Tapi sayang, meskipun udah dua kali kesini, aku nggak liat sama sekali. Apa mungkin harus dibooking dulu kali ya? FYI, nggak ada yang jual makanan berat di sini. Yang ada cuma penjual makanan & minuman kecil, juga orang-orang yang menyewakan tikar dan ban buat berenang. Jadi lebih baik bawa makanan dari rumah deh atau kalau mau makan di Pasar Padang Panjang kayak kami waktu itu. Sekitar 15 menit laaah dari sana. Kalo nggak macet tapi yaa... 

titian
'air terjun'


di balik terowongan


Sebelum pulang, kami mampir ke Puncak Anai. To be honest, ini pertama kalinya aku kesana. Kata bapak-bapak tempat kami nyewa tikar, ada kolam pemanian juga di sana. Berbekal penasaran, kami iseng deh ninggalin rombongan satu lagi yang sebenarnya udah pergi duluan buat beli makan siang. 



bagian luar tirta alami
 Ternyata di sepanjang jalan dari Tirta Alami menuju Puncak Anai, banyak terdapat resort yang bisa disewakan untuk umum. Pas dipintu masuk, kami dimintai lagi uang karcis masuk sebesar Rp 10.000 per orang. Dengan alasan, kami Cuma melihat-lihat dan nggak akan mandi, kami akhirnya berhasil menawar harga karcis menjadi 50.000 semobil (isi 8 orang). Well, agak kaget sih ketika nyampe. Meskipun namanya puncak, tapi kita nggak bisa melihat ke arah bawah karena ternyata di sisi lainnya hanyalah jurang. Tempat mandinya juga nggak sebanyak di Tirta Alami kok. Li’l bit disappointed, karena ‘cuma ini doank toh’. Viewnya sih bagus. Meskipun ada air mancur, tapi kolamya lebih ‘terbuka’ dan bikin suasana terasa lebih panas karena kena sinar matahari langsung.

meja batu
Puncak Anai




Kolam Renang Puncak Anai

The Top of Puncak Anai

Yah, yang penting udah kesana dan nggak penasaran lagi.

May 12, 2015

Tradisi Khatam Quran; Antara Tamat Mengaji dengan Tamat Sekolah Mengaji

0komentar

Artwork of Alquran


Sabtu, 9 Mei 2015 kemaren, aku dapet permintaan istimewa dari Si Bungsu (fyi, adek ya, bukan anak). Permintaannya adalah jadi make-up artist dia buat acara Khatam Quran.
Di Minangkabau, Khatam quran adalah salah satu tradisi untuk anak-anak MDA atau TPA atau sekolah ngaji deh pokoknya, yang udah selesai menyelesaikan pendidikan mengaji Al Quran. Jadi murid yang duduk di kelas tertinggi di MDA (ada yang sampe kelas 4, 5, bahkan 6) harus mengikuti ujian mengaji dulu sebelum ujian mata pelajaran lainnya. Kayak UAN versi MDA gitu deh. Ujiannya pun nggak sekedar ujian, tapi juga dimeriahkan dengan pawai keliling kota dan kemudian kembali ke sekolah untuk mengaji di hadapan  juri, guru-guru dan orang tua murid. 

Hebatnya adalah, pawai keliling kota ini diramaikan tidak hanya dari kalangan anak-anak yang akan berlomba dalam mengaji nanti, tapi juga ada anak-anak yang berpakaian adat, drum band, dan pemegang bendera, plus orang tua yang ada juga bawa-bawa anggota keluarga sekompi dari anak-anak yang ikutan. Iya, orang tua. Tapi karena aku sayang adek, jadilah aku yang dampingin selama acara. Biar dia seneng punya kakak baik hati dan tidak sombong meskipun sering nyuruh-nyuruh. Rame? Nggak serame 17 Agustus kok, karena peserta pawai hanya berasal dari 1 sekolah. 

siswa laki-laki peserta khatam quran
siswa perempuan peserta khatam quran
grup pakaian adat
grup pembawa bendera
meskipun sambil jalan, selfie sukaesih tetep ya, Dek

grup drum band
Khatam Quran, yang secara harfiah berarti menamatkan (membaca) Alquran, sebenernya mungkin hanya istilah. Kenapa? Karena ternyata anak-anak yang ikutan ini nggak semuanya sudah mengkhatamkan bacaan Alqurannya. Meskipun setelah aku tanya ke temen-temen blogger di grup whatsapp, pada umumnya mereka memang menamatkan baca Alquran dulu di jamannya ketika akan diadakan acara Khatam Quran. Tapi adek aku ini mengakui bahwa banyak juga temen-temennya yang nggak selesai bacaan Al Qurannya. Well, until then the fact remains true; yang mana yang rajin ya berarti beneran khatam ngajinya, yang nggak rajin, tetep ikutan khatam meskipun nggak beneran khatam *nah loh bingung*

Ya gitu deh pokoknya.

memasuki pusat kota
Adek kecil ini pengen njuga kali ya kayak rombongan di sebelahnya
suasana panggung
Rute pawai dimulai dari sekolah menuju pusat kota, istirahat di jam Gadang, trus balik lagi ke sekolah. Jangan tanya berapa kilo. I’m not good in numerical-kind-of-prediction. Abis pawai, pembukaan resmi, isoma, baru deh lomba ngajinya dimulai. Oiya, ada satu hal yang bikin heran. Penilaian ngaji nya aneh deh. Perbandingan tajwid, irama dan adab adalah 30:40:30. It surprises me! Ya wajar donk aku kaget, biasanya kalo ngaji itu dimana-mana yang dinilai paling tinggi adalah tajwidnya dulu. Masa irama sih. Kan percuma kalau irama bagus tapi tajwidnya salah. Lucu nih, jurinya anti mainstream. Kalo gitu kenapa ga ganti aja judulnya jadi lomba ngaji irama ya?

I don’t know. Mungkin karena aku cuma pernah ikutan MTQ tiap bulan Ramadhan jaman sekolahan, jadi taunya begitu. Mungkin jaman sudah berubah. Mungkin aturan sudah berubah. Atau mungkin emang begitu dari dulu dan akunya aja yang nggak tau. Dan segala mungkin-mungkin lainnya.  

Begitulah acara ini berlanjut sampe sore.

din-din ba din-din ooo din-din ba din-din
ada 36 peserta
Si Bungsu sempat sedih, karena nggak dapet lima besar. Haduuuh, Dek, there’re many things more important than dapet juara di lomba ngaji irama. Contohnya, dia satu-satunya anak perempuan yang aku lihat tetep shalat Zuhur dan Ashar, disaat temen-temen sebayanya takut make-up nya luntur jadinya memilih nggak shalat, at all. Padahal gurunya udah nyuruh berkali-kali.

Hasilnya, mushalla siswa perempuan itu sepi dari anak-anak.  

Nggak tau juga, apa orang tuanya nggak ngajak, nggak nyuruh, apa gimana. Nggak ngerti.

Heran Uni, Dek... 

meskipun nggak menang, tetep dapet hadiah hiburan 

May 07, 2015

Everything Left Unread and Unposted.

3komentar

Rasanya udah lamaaaaa banget ga posting.
It’s so hectic lately.
Review buku A.M.S.A.T. yang selesai dibaca 22 April aja baru dipost tadi siang, sesaat sebelum jam istirahat. Untungnya, mungkin karena lagi mood, cuma butuh 10 menit ngetik trus langsung deh di publish. Padahal di tanggal 23 April yang kebetulan bertepatan dengan Hari Buku Sedunia, aku update status di goodreads jadi gini:

“Currently Reading: Jejak Langkah – Pramoedya A. Toer”

Emang niatnya di hari itu mulai buka plastik lalu baca karena udah dianggurin sejak 1 Februari 2013. Eh, nyatanya malah lembur bo’. Pulang pulang ya blek, tidur. Dan itu berlanjut sampai besoknya, Senin berikutnya, besoknya, dan besoknya lagi sampe keliatan hilal buat closing.       

Hasil koleksi setahun terakhir: banyakan to-read daripada read -_-"
Begitu juga dengan my bucketlist of trip. Sebenernya weekend terakhir di April dihabiskan buat jalan-jalan sekeluarga. Two days, 5 spots totally! Keren nggak tuh. Keren juga buat nambah panjang daftar antrian tulisan yang mau dibagi di blog. Tapi yah apa mau dikata, liburan itu langsung disambut dengan closing di kantor yang ternyata malah ngabisin long weekend awal Mei. Iya, yang hari Jumat libur Hari Buruh itu. Rencana jalan-jalan luar kota otomatis di pending dan mesti direschedule.

Apalagi buat ngeblog dan ngutak-ngatik notebook. Rasanya maleeees banget kalo mata ini mesti pandang-pandangan sama layar lagi. Alhasil, semakin banyak sticky note yang ditempel biar apa-apa yang mau ditulis nggak lupa begitu aja.    

Sticky Notes: To-Post List

Menjelang weekend kedua *alias pertama buat aku* maka sudah tiba saatnya buat pulang kampung. Pulang kerumah, ketemu papa, mama dan masakannya, dan adek-adek. Tunda (lagi) dulu baca buku, jalan-jalan, atau sekedar update blog. Karena yang ini lebih penting, isn’t it?  
And due to all the things I mention above, everything left unread and unposted. 

But still, I’ll try my best to erase the ‘un’ on those words.

 

tentangku © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates