April 19, 2015

Jalan-Jalan Anti Mainstream: Puncak Pato, Sumatera Barat.

Foto Papan Petunjuk ini diambil pas pulang dan saat itu udah mendung
Sepertinya tidak banyak orang yang mengenal nama Puncak Pato, termasuk teman-temanku yang juga orang Sumatra Barat. Buktinya, ketika aku seketika mengganti display picture BBM, banyak yang mengirim pesan yang sama: Ini dimana?. Dan ternyata pertanyaan tidak terhenti disana, karena berikutnya sebagian besar dari mereka menginginkan jawaban yang lebih detail tentang lokasi ini. 

Disaat orang-orang sedang memboomingkan beberapa spot wisata pantai atau pulau di Sumatra Barat, aku memilih jalan-jalan kesini lebih dulu, biar nggak kena efek rame karena orang pasti berbondong-bondong ke daerah yang lagi sering disebut-sebut.  

Puncak pato sebagai tempat wisata memang tidak setenar Puncak Lawang di Agam atau tempat-tempat lain di daerahnya, seperti Tabek Patah yang sekarang terkenal dengan home industry Kiniko atau Istano Basa Pagaruyung. Mungkin karena keduanya terletak di pusat pariwisata sehingga gampang untuk dikunjungi. Sedangkan untuk menuju Puncak Pato masih harus menempuh 17 km lagi dari Batusangkar dengan kondisi jalan yang menanjak dan tentunya belok-belok ke daerah bernama Lintau Buo. Berada tepatnya di Nagari (desa kecil) Batu Bulek, Puncak Pato sebenarnya bukan hanya untuk wisata alam tapi juga objek wisata sejarah.

Pohon Pinus
      Untuk masuk kesana, kita mesti membayar Rp 4.500,- per orang. Setelah itu kita mesti berjalan menuju puncak, ada dua jalur kiri dan kanan. Terserah mau lewat mana duluan. Ya.., namanya juga puncak bukit, spotnya memang bisa buat ngider dan ujung-ujungnya akan balik ketempat semula.

Aku memilih jalan kanan duluan. Kalau lewat tangga ini, di sisi kiri adalah hutan pinus, dan sisi kanan adalah pemandangan daerah Sungayang. 

Pemandangan dari Atas Puncak Pato

Keliatan banyak puncak bukit-bukit lain
Yang menjadi main-spot Puncak Pato adalah Monumen Perjanjian Sumpah Satiah Bukit Marapalam. Ada yang bilang mestinya Sumpah Satie atau Sati, karena katanya Satie/Sati itu artinya sakti. Bunyi sumpah itu adalah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”. Masih inget donk, pertentangan antara Kaum Adat dengan Kaum Agama yang menjadi pemicu terjadinya Perang Paderi? Nah, ‘sumpah’ tersebut ternyata hasil dari kesepakatan tiga unsur kepemimpinan di Minangkabau yang terkenal dengan Tigo Tungku Sajarangan, bahwa antara adat dengan agamas ebenarnya tidaklah bertentangan. Adat itu mesti berdasarkan Syarak/Agama, dan Agama berdasarkan Kitabullah (Alqur’an). Maka dibangunlah tiga buah patung yang melambangkan sosok Cadiak Pandai (intelektual), Niniak Mamak (sosial masyarakat) dan Alim Ulama (agama). 
main spot
Kesepakatan ini terjadi di bukit Marapalam yang merupakan bukit tertinggi Kabupaten Tanah Datar. Marapalam berasal dari kata ‘Merapatkan Alam’, yang mengandung makna untuk merapatkan tiga Luhak yang ada di Minangkabau: Luhak Agam, Luhak Tanah Datar, dan Luhak Limo Puluah Koto. Apa itu Luhak kayaknya nggak usah dijelasin disini ya. Nanti kepanjangan jadinya -_-“. Bener kan, jadi inget masa-masabelajar BAM alias Budaya Alam Minangkabau pas sekolah dulu. Nah, puncak bukit tertinggi ini dinamakan Puncak Pato, yang katanya pato itu berarti pakta alias perjanjian.





Yang namanya puncak otomatis udaranya sejuk. Hanya saja..banyak kekurangan yang aku temui disini. Mulai dari kamar mandi yang nggak ada (ada sih, setelah pintu mauk, tapi kondisinya kotor banget, dengan rumput tinggi dan bikin ogah buat masuk), tempat shalat yang nggak ada, dan tidak terawat. 
Padahal, sebelum kesini, aku udah googling via google maps karena nggak tau jalan dan buka beberapa situs media lokal dan blog pribadi, aku  terpesona dengan pemandangannya yang bagus. Tapi ternyata, pemandangan bagus ini nggak didukung dengan fasilitas yang cukup. Bahkan sebuah bangunan dekat monument penuh dengan coret-coretan dan menimbulkan efek ‘peninggalan sejarah’ tersendiri. Bikin nggak nyaman buat berfoto disana deh jadinya. 

bangunan ini udah penuh dengan coretan
     Hal berbeda lainnya adalah warung yang katanya ada justru nggak aku temuin. Untung banget udah makan siang ketika masih di daerah Sungayang (p.s: ada warung nasi enak di Sungayang. Lokasinya sebelah kiri jalan di daerah pasar). Jadi kalau mau kesana pas nggak moment liburan, lebih baik bawa air minum dan cemilan sendiri aja deh. Mungkin adanya warung hanya di hari libur panjang atau lebaran aja kali ya, pas pengunjung lagi rame. Memang sih, pas aku kesana suasananya tidak terlalu ramai. Sebagian besar pengunjung adalah anak-anak masih berbaju sekolah yang nggak langsung pulang, beberapa keluarga dan of course...couple(s). 
Nggak apa-apa foto sendiri, yang penting gaya :D




Nambah satu, Bundo Kanduang. Tapi sayang, nggak pake rok atau baju kurung. Posenya gitu pula -_-"

nggak lengkap kalo nggak selfie








di arah kebawah sana, banyak pohon tebu 
Jalan Pulang

Then, who’s to blame atas ketidaknyamanan ini? Pemerintah? Kasian ya pemerintah disalahin terus karena nggak ngurusin tempat wisata bagus plus bersejarah kayak gini. Pengennya tentu penduduk setempat atau paling tidak, pengunjung juga ikut membantu dengan nggak nambah masalah, kayak yang nyoret-nyoret gitu.   
      Mudah-mudahan suatu saat kesini lagi, tempat ini bisa lebih terawat dan lebih ‘dijual’ ke masyarakat luas.  


Jalan Pulang dari Puncak Pato
     Pas pulang ke Padang, aku mengambil jalan ke Padang via Solok. Berharap bisa mampir ke Danau Singkarak, eh malah keburu hujan pas disana. 

Perjalanan Pulang ke Padang



Jl. Raya Batusangkar-Solok





Pemandangan dari rumah makan pinggir jalan menuju Singkarak
berasa pengen nyemplung


Notes of April, 4th 2015. 

3 komentar:

Beby Rischka said...

Aku belom pernah ke Puncak Patooo.. Selama ini ngarepnya selalu ke Sikuai en Pasumpahan mulu.. Masukin ke list ah :D

Akhsan Chaniago said...

Fix, masukin "Puncak Pato" dalam list perjalanan berikutnya :D

fandi dharma said...

Ijin buat referensi min

 

tentangku © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates