April 06, 2013

[review] Les Miserables

Seseorang berkata kepada dirinya sendiri, seseorang bicara kepada dirinya sendiri, berseru kepada dirinya sendiri tanpa memecahkan keheningan luar. Terjadi kekacauan hebat, semua yang ada pada diri kita berbicara kecuali mulut. Walaupun demikian kenyataan yang ada pada jiwa tetap merupakan kenyataan karena mereka tidak terlihat dan dapat dirasakan.
(hlm. 357)

Agak sedikit terganggu dengan pemaparan awal tentang Uskup Kota D alias yang begitu panjang. Bahkan aku hampir menyerah kalau saja keseluruhan buku ini hanya menceritakan siapa sosok Uskup ini. Untungnya nggak jadi sih. Karena di bagian berikut muncul beberapa tokoh lain yang terkoneksi dalam satu benang merah. Les Miserables memang bercerita tentang beberapa tokoh dalam kehidupan Prancis abad 19. Victor Hugo membangun sebuah kompleksitas dari kisah cinta, spiritual, kemiskinan, politik, sejarah, juga sistem sosial masa itu.
Les Miserables sebenarnya termasuk Big Book. Tapi sayangnya versi yang aku baca adalah keluaran terbaru dengan cover film, yang mungkin merupakan versi ringkas (atau tidak selesai?). Ending yang gantung bahkan tanpa ada cerita tentang Cossette. That’s why I li’l bit surprise when watch the movie.  
Tentang emosi saat membaca? aah...it's more than just emotion. Pada beberapa kisah Jean Valjean dan Frantine, pembaca tidak hanya diajak bermain dengan perasaan tegang, iba, atau penasaran. Tapi juga diajak menelusup lebih dalam untuk berfikir dan bertanya pada hati.

1 komentar:

Abdurrahman Kun said...

bolehkah aku meminjam novel ini kak? aku sudah lama menginginkannya.

 

tentangku © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates