March 07, 2016

Tentang Tere Liye, Sejarah, dan Hal Lainnya

Indonesia itu merdeka, karena jasa-jasa tiada tara para pahlawan–yang sebagian besar diantara mereka adalah ulama-ulama besar, juga tokoh-tokoh agama lain. Orang-orang religius, beragama.
Apakah ada orang komunis, pemikir sosialis, aktivis HAM, pendukung liberal, yang pernah bertarung hidup mati melawan serdadu Belanda, Inggris atau Jepang? Silahkan cari.
Anak muda, bacalah sejarah bangsa ini dengan baik. Jangan terlalu terpesona dengan paham-paham luar, seolah itu keren sekali; sementara sejarah dan kearifan bangsa sendiri dilupakan.


Belakangan kita dihebohkan dengan insiden ‘status update’ dari pages Tere Liye, seorang novelis terkenal yang karyanya digemari dari berbagai kalangan. Status yang akhirnya sudah dihapus, meskipun masih beredar di sosial media lainnya. Status yang kemudian tidak hanya menjadi bahan olok-olok bagi sebagian orang, tapi juga sampai menjadi bahan perdebatan dan bahan bully. Bahkan di twitter sudah muncul hestek #SaveTereLiye beserta twitpictnya. Iya, aku masih sering main twitter dan bukan termasuk golongan anak-anak gaul path


Sebut saja Saut Situmorang. Siapa dia? Googling aja. Eh, well, to make it balance, let me explain a few things. Jadi dia adalah penulis, penyair, kurator sastra, dsb, silakan dibaca sendiri. Nah, di akun twitternya @AngrySipelebegu, Saut bener-bener bikin Tere Liye skak mat (bener nggak sih gini tulisannya?). Silakan kepo-in deh timelinenya.

Aku sendiri sebenarnya suka dengan novel- novel Tere Liye. Suka juga dengan beberapa quote dia yang kadang-kadang, menyentuh dan memotivasi. Apalagi kalo lagi baperan. Haks. #Tereliyenisme, begitu hesteknya di twitter.

Kalau tulisan ini dibikin untuk membela Tere Liye, terus terang tidak. Lantas kalau dibilang aku akan menyerang Tere Liye dengan tulisan biar terkesan lebih ‘terhormat’ dari sekedar ngomong doank, nggak juga sih. Aku mah apa atuh.

Aku bukan sejarawan.

Aku bukan sastrawan.

Aku hanya pembaca. Kalau lagi cerdas aku bisa dengan mudahnya menyerap isi, makna, hikmah dari apapun yang kubaca. Kadang bisa sampai menuliskannya juga, meski cuma di personal blog begini. Tapi aku membaca apapun. Ralat. Aku pernah berada di masa-masa mau membaca apapun. Aku pembaca Pram, juga Hamka. J.K Rowling dan N.H Dini, termasuk penulis perempuan favorit aku. Belum lagi Dari Penjara ke Penjara Jilid I, II, III – Tan Malaka, Capita Selecta-M. Natsir, atau beberapa jilid Sejarah Kecil (Petite Historie) Indonesia – Rosihan Anwar, juga boleh. Memang sekarang pilihanku lebih sering ke novel dan hal-hal fiktif lainnya. Well, lately, that’s my easiest escape from those serious things in this jokey world. And I think I deserve it.

Maka, ketika status Tere Liye yang bikin geger itu muncul, otomatis membuat kalangan sastrawan, sejarawan, juga netizen seperti aku nggak bisa menahan diri untuk tidak merespon.

Jadi gini, Om Tere Liye yang nama aslinya  Darwis adalah lulusan akuntansi UI. Memang profil dia nggak pernah dibeberkan secara gamblang –p.s: one thing that I like, actually–  entah apa motifnya menulis status yang debat-able banget.

Kenapa bisa gitu?

Salah tulis? Salah baca buku? Entahlah, yang jelas bukan salah akun.

Mungkin Om Tere Liye lupa kalau ada periodisasi  sejarah kemerdekaan Indonesia. Sebut saja mulai dari zaman ketika bermunculan kerajaan-kerajaan, sampai masa penjajahan. Seiring berakhirnya peperangan di beberapa daerah nusantara, kemudian ada yang namanya Politik Etis sehingga muncul tokoh-tokoh intelektual yang ditandai organisasi-organisasi kepemudaannya. Masa pergerakan nasional, masa pendudukan Jepang, sampai masa meraih dan mempertahankan kemerdekaan. Semuanya tidak lepas dari perjuangan untuk ‘bertarung hidup & mati’, secara fisik ataupun pemikiran. Ah, Terlalu panjang kalau harus dibahas di sini. Bukankah memahami peristiwa dan peran tokoh di dalam sejarah tidak semudah ketika membaca novel atau menonton movie? Temanku yang pernah kuliah di jurusan sejarah pernah bilang sih; sejarah Indonesia tidak hanya hitam dan putih, Begitu?

Well, paling tidak Om Tere Liye mengajarkan aku beberapa hal. Pertama, untuk tidak sembarangan bikin status update, apalagi kalau tentang ilmu yang kita sama sekali tidak mendalaminya. Makanya Om, aku yang juga lulusan akuntansi bisanya cuma baca buku, untuk kemudian berdiskusi dengan siapa saja. Discuss, not Debate, apalagi menjustifikasi. Kedua, untuk makin rajin membaca apa saja. 

Mana tau nih ada yang dari kalangan mahasiswa yang mau baca blog ini. Sedikit pesan sih *mulai keliatan tuanya* makanya, rajin-rajin baca deh. Kalau bisa diimbangi, baca buku berat sama buku ringan *apasih*. Kalau nggak bisa, ya nggak apa-apa, yang penting baca buku. Tumbuhin dulu minat bacanya. Nggak lucu kan, karena kejadian ini malah ketahuan kalau kita nggak tau siapa para pahlawan yang juga tokoh agama, juga kita nggak tau apakah memang benar tidak ada pemikir sosialis, komunis, aktivis HAM, yang ikutan melawan penjajah? Apalagi kalau ditanya tentang arti sosialis, kapitalis, liberalis, dan -is -is lainnya. Atau jangan-jangan justru kita nggak tau siapa itu Tere Liye, trus malah ikut-ikutan komentar.  -______-“

          As I told you. Tulisan ini tidak untuk menyerang ataupun membela. I'm a Moslem, and I'm proud of it. Aku masih suka dengan karya-karyanya Tere Liye. Dan mungkin masih akan terus membacanya. Aku hanya harus mengingat bahwa tokoh idola, orang ternama, atau siapapun mereka sepanjang masih berwujud manusia, tempatnya salah dan lupa. 
        
      

5 komentar:

The Yuneva said...

dulu suka banget baca buku, semenjak punya anak, agak susah bagi waktu *alasan* hehehe

Wulan Dalu (@bulansujud) said...

Saya juga pembaca TL, bbrp bukunya udah saya baca tp emang agak kaget dengan kontroversinya akhir2 ini, terus terang kalau saya sih jd kurang simpati lg, dulu semua yg ditulis rasanya bagus dan benar, skrg agak mikir sih, ini beneran apa cuma fiksi2an aja kyk novelnya

Positifnya adalah saya diingatkan lg kesempurnaan hanga milik Allah, manusia mah banyak lupa dan salahnya nya

Maap komen panjang bener hehe

TFS mbak, salam kenal

Fhia said...

Katanya sih gitu ya mbak..hehe..
Aku blm tau soalnya :p

Fhia said...

Mbak @bulansujud, iyasih mbak. Tp positifnya bisa kita jadikan pelajaran yaa.. :))
Salam kenal juga Mbak,

Fajri alfalah said...

Nice... :)

 

tentangku © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates