February 09, 2016

[review] Tempat Paling Sunyi - Arafat Nur


Judul: Tempat Paling Sunyi
Pengarang: Arafat Nur
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juni 2015
Halaman: 328
Rating: 3 of 5

Judulnya. Itu yang membuat aku tertarik untuk membelinya. Selain karena tambahan keterangan di sampul: Peraih Khatulistiwa Literary Award 2011.

Ada kesan tersendiri dari Tempat Paling Sunyi buatku. Buku ini yang secara special menjadi teman perjalanan jauh pertamaku dalam mencari kesunyian terselubung. Meskipun nggak sengaja memilih buku yang terbilang tipis buatku, maksudnya sih biar bisa selesai dibaca selama di pesawat saja.

Kesan pertama yang aku tangkap begitu selesai membaca; buku ini unik.

Siapa sangka buku ini berisi tentang cerita cinta. Cinta dalam rumah tangga. Tentang pergolakan batin seorang Mustafa, yang sering cekcok dengan istrinya, Salma, yang menemukan seseorang lainnya yaitu Riana, karena sikap Salma yang ‘nggak banget deh’ untuk jadi seorang istri. Well, it seems I have to remember and pray not to be like her in the future, eeaaa. Mustafa, yang sebenarnya juga membutuhkan tempat sunyi dan tenang untuk dapat menyelesaikan novel yang ingin ia tulis dengan judul Tempat Paling Sunyi ini.

Dengan latar peperangan dan pemberontakan Aceh yang menurutku tidak terlalu kentara, Mustafa berjuang mati-matian dalam berbagai hal. Mulai dari bertahan dengan Salma yang menurutnya bodoh dan sering mengganggu konsentrasi menulis, berjuang menyelesaikan naskah, entah itu ketika bersama Salma ataupun Riana, berjuang mendapatkan bahan bacaan hingga ke Medan untuk referensi dan inspirasi novelnya, hingga berjuang menyebarkan novel yang ‘akhirnya’ naik cetak ke orang-orang sekitarnya, karena pada masa itu orang-orang masih tidak peduli dengan novel manapun.

Yang mencengangkan adalah ternyata cerita tersebut bukan diceritakan oleh Mustafa. Penggunaan aku memang sempat meragukan, karena Mustafa juga kerap memakai kata aku. Aku, pun bukanlah sosok ketiga di luar cerita. Ketika Mustafa sudah meninggal, Aku muncul dengan sangat dominan. Aku, akhirnya menjadi tokoh penting berikutnya. Selain karena dia juga penulis yang ‘mirip’ dengan Mustafa, dialah yang bersikeras untuk menemukan cetakan novel Tempat Paling Sunyi sudah nggak ada lagi dimana-mana. Aku jugalah, yang mencoba menelusuri kembali catatan-catatan dan buku-buku bacaan Mustafa ketika menulis novel itu. Bahkan Aku mulai tertarik dengan Riana dengan cara yang mirip dengan Mustafa. Aku seolah-olah menjadi tokoh yang hidup dalam Mustafa. Meskipun alurnya agak lambat, ketika udah sampe bagian akhir aku malah penasaran bin nggak sabaran.

Kalau dilihat dari ide cerita sebenarnya mungkin biasa aja ya. Namun cara penyajian Arafat Nur bikin beda.

Oya, aku perrcaya setiap orang perlu tempat paling sunyi dalam hidup.

3 komentar:

gunawan efendi said...

Baca review nya jadi bikin penasaran ni sama Aku nya..

#siapsiaphemat

maryulis max said...

Greattt... lanjutken

Tira Soekardi said...

wah thanks reviewnya jadi penasaran membacanya

 

tentangku © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates