January 13, 2015

[review] Entrok - Okky Madasari


Berjodoh dengan Entrok sebenarnya ada kesan yang special. Bukan hanya karena beli dengan harga cuma Rp 10.000 di Gramedia Obral akhir tahun, tapi juga karena nemu dengan nggak sengaja di rak buku anak-anak. Aku heran deh sama yang narok disana.
Entrok.
BH.
Iya, BeHa a.k.a Kutang a.k.a Bra.
Bukan ini bukan novel jorok. Nggak ada hubungan yang mendalam malah antara judul dengan isi keseluruhan cerita. Entrok hanya diceritakan sedikit di permulaan. Sebuah pengantar yang bagus sebenarnya jika ‘entrok’ dapat dijadikan penyambung dua generasi. Hal ini menjadi poin ‘sayangnya’ buatku. Sayangnya ‘entrok’ Cuma sedikit disinggung. Sayangnya ‘entrok’ modern sama sekali tidak disinggung. Sayangnya, ‘entrok’ menghilang begitu saja.
Menceritakan dua perempuan dari dua generasi dengan dua sudut pandang, Ibu dan Anak. Entrok bercerita dari sejak Marni kecil, yang terobsesi ingin memiliki ‘entrok’, hingga menikah dan memiliki anak, Rahayu.
 Marni tumbuh besar dengan kondisi sulit secara ekonomi. Bahkan membeli ‘entrok’ saja Marni harus rela menjadi kuli angkut di pasar agar mendapat upah berupa uang. Menutup mata dan telinga dari kepatutan pada masa itu, dimana perempuan tidak patut, tidak pantas jika menjadi tukang angkut lebih lagi jika diupah tidak dengan bahan makanan. Marni tidak peduli. Upah duit yang ia terima kemudian dikembangkan, menjadi penjual kebutuhan sehari bahkan menjadi penjual duit itu sendiri.
Rahayu, hidup dengan zaman yang lebih modern. Berkecukupan dan berpendidikan. Namun disinilah konflik Ibu dan Anak dimulai. Tidak hanya menjadi korban dari ‘cap sosial’ akibat pekerjaan Ibunya, Rahayu juga sering mengkritisi kebiasaan sesajen dan bentuk syukur Sang Ibu. Ketidakharmonisan berlanjut hingga akhirnya Rahayu memilih jalan hidup sendiri
Kenyataan budaya disuguhkan dengan sisi feminisme yang kental. Kondisi politik saat itu diceritakan dengan sederhana melalui penggambaran pemilu dari masa ke masa. Hanya saja memang alurnya jadi terkesan lambat. Mungkin karena benar-benar dari Marni kecil, sampai masa tuanya.
Aku sendiri sebenarnya tekecoh. Buku ini tidak seringan yang aku pikir.     

0 komentar:

 

tentangku © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates