October 19, 2016

12 Jam di Capsule by Container Hotel

Capsule by Container Hotel di Level 1 LCCT

Tinggal di daerah yang nggak punya penerbangan langsung kalau mau jalan kemana-mana, emang mesti pinter-pinter nyusun jadwal. Apalagi kalau pilihan penerbangannya nggak banyak dan nggak ada connecting flight. Seperti kalau kamu tinggal di Padang. Eits, tapi bukan berarti ini perjalanan jauh nggak bisa ditempuh ya. Hanya saja, kita jadi mesti pinter pinter milih tujuan wisata kalau mau jalan-jalan gembel alias low budget kayak yang beberapa kali aku lakukan tapi tulisannya masih aja belum diposting di blog.

Pertama kali having transit trip adalah ke Siem Reap. Biar bisa main agak lama di sana dengan tetap pulang ke Padang tanpa mesti in a rush karena mesti masuk kerja keesokan harinya, aku nggak punya pilihan penerbangan pulang di hari yang sama. Waktu kedatangan aku dari Siem Reap adalah jam 6 sore sedangkan waktu keberangkatan menuju Padang adalah jam 8 pagi besoknya. Maka, pertama kali itu pulalah aku menjadi airport sleeper. Nggak airport sleeper beneran sih. Dasar lagi kaya manja karena abis closing akhir tahun, aku memilih menginap di Capsule by Container Hotel KLIA2 yang sekarang namanya jadi LCCT, kenapa mesti ganti nama sih kan kerenan KLIA2, dan kenapa aku mesti heboh sendiri coba



penampakan kamar khusus perempuan

Konsep yang ditawarkan sama seperti hotel kapsul di Jepang, atau bunkbed yang biasa disukai oleh backpacker. Menginap disini memang menjadi plihan nyaman. Selain bisa rebahan di kasur yang empuk dengan nyaman, aku bisa melepas jilbab sebentar tanpa perlu khawatir karena ruangan untuk laki-laki dan perempuan dipisah. Ada pilihan queen size bed juga kalau punya temen bobo #eh. Tapi aku nggak tau sih ya giman ketentuan kalau mau menginap bareng pasangan HALALnya.

Nggak hanya menginap tapi juga tersedia fasilitas untuk mandi dan penyewaan loker. Pilihan waktu menginap pun beragam, mulai dari 3 jam, 6 jam, dan 12 jam dengan tarif berbeda juga. Berhubung udah booking online sejak masih di rumah, aku dapet tarif RM 90, lebih murah RM 10 jika dibandingkan dengan direct booking. Eh, ini tarif Februari 2016 ya, karena kalau nggak salah waktu aku transit di Mei dan Agustus 2016, ratenya udah naik. Mungkin karena banyak demand


all the things you got

Waktu check-in, kita akan mendapatkan goodybag yang boleh dibawa pulang berisi satu botol air mineral, sikat gigi dan handuk. Handuknya mesti dibalikin ya. Di kamar disediakan sandal jepit, colokan, telfon untuk wake-up call, meja lipat kecil, lampu, dan satu gantungan. Masing-masing kamar ada kain penutup yang bisa di tarik-ulur. Kalau lagi dibuka, pemandangan dihadapan kita adalah kamar lainnya. Jadi kalau kamu menghidupkan lampu, aktifitas di dalam kamar bisa keliatan dari luar. Oiya, barang-barang seperti koper sebelumnya disimpan di loker yang terpisah. Ada perpustakaan juga! 



kondisi kamar dengan curtain terbuka
kondisi kamar dengan curtain tertuitup
sendal jepit
tangga menuju lt.2
tempat sampah
Sayangnya, aku malah nggak bisa tidur. Ketika menjelang tengah malam sampai pagi, banyak orang datang yang mungkin juga memilih nginep disini. Suara langkah kakinya itu lhooo gedebak gedebuk. Belum lagi kalau mereka udah pada ngobrol tanpa mengontrol volume suara. Eerrgghhh, berisiknya jadi plus plus. Fyi, karena berkonsep container, semua suara nggak akan teredam dengan karena nggak ada tembok penghalang. Bahkan malam itu ada tetangga kamar yang nangis terisak-isak. -____-“

Share bathroom
Male - Female

Sepertinya aku nggak mau kesini lagi. Jadi airport sleeper beneran lebih asik dan lebih hemat pastinya. Trust me! 

Lumayan jadi pengalaman deh. Yang penting pernah mencoba.

2 komentar:

Beby Rischka said...

Aku semacam fobia sik kalok di tempat agak sempit gitu. Makanya kalok ada hotel kapsul, gak pernah mau nyobain :(

bara anggara said...

Menarik sih,,, tapi kalau malah suara2 dari luar kedengeran bgt ya susah juga buat tidur ya. apalagi bagi orang yang fobia tempat sempit.

 

tentangku © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates