October 18, 2016

3 Hari di Siem Reap; Angkor Wat, What?

Touch Down!
Waktu itu, Februari 2016.

Setelah masa peak season yang penuh perjuangan, dimana dua bulan terakhir menghabiskan sebagian besar waktu di kantor, akhirnya aku bisa sedikit bernafas lega. Lebih lega lagi setelah melihat payslip hasil lembur akhir tahun yang cetar membahana. Sudah saatnya memberi reward untuk diri sendiri: Jalan-jalan!

Nggak butuh waktu lama untuk menjadikan Siem Reap sebagai destinasi liburan. Ketika itu masih di kantor sekitar jam 9 malam, sehari sebelum bom Jakarta, aku nyambi buka situs penerbangan, pilih-pilih jadwal dan tiket promo, lalu klik, beli. Mungkin karena kode internasional bandaranya yang menarik hati #eh. Mungkin juga akibat suasana hati yang nggak jelas bercampur kecewa karena batal ke Borobudur bareng uni untuk mengejar sunrise.

Siem Reap, Kamboja, mungkin bukan tempat yang bakalan dilirik orang-orang pada umumnya kalau mau liburan ke luar negri. Mau liat apasih? Nggak banyak juga kok. That's why, kalau cuma punya waktu 3 hari 2 malam di Siem Reap, cukup kok. 

Ada Angkor Wat, salah satu UNESCO World Heritage Site. Disana juga jadi tempat syutingnya Angelina Jolie waktu jadi Lara Croft di Tomb Raider. Angkor Wat ini gede banget. You may googling it, please. Siapa sangka, Siem Reap justru lebih terkenal daripada ibukota negaranya sendiri, Phnom Penh. 

form kedatangan
Singkat cerita, hari yang ditunggu tiba. Semua sudah disiapkan. Udah blogwalking, ngumpulin berbagai informasi yang mungkin berguna nanti, bahkan udah tanya ini itu juga ke senior SMA yang sebelumnya pernah kesana buat lomba maraton (what?). Aku hanya perlu nyiapin tiket pastinya, bukti booking penginapan di Siem Reap, bukti booking penginapan di Capsule by Container Hotel (karena aku mesti nginep di bandara KLIA2 yang namanya sekarang berubah menjadi LCCT sebelum pulang ke Padang) koper setengah kosong, dan USD, karena dollar Amerika adalah mata uang yang dipakai disana. Oya, nggak ada perbedaan waktu dengan Indonesia bagian barat. Jadi nggak perlu bingung mengatur jadwal penerbangan. Hanya mesti sedikit aware ketika mesti transit di Kuala Lumpur yang lebih cepat 1 jam.

Sampai di Siem Reap, aku mesti mengisi arrival card. Sebenernya ada dua sisi kertas, arrival dan departure. Sisi kartu kedatangan bakalan disobek sama petugas imigrasi sedangkan departure card akan ditempelin ke paspor. Inget, jangan sampai hilang, karena kartu ini bakalan diambil ketika kita akan meninggalkan negara mereka. Biasalah ya, prosedur umum ketika sampai ke negara orang. And the good news to get in here is, bebas visa! 

tuk-tuk ala Kamboja
      Hal pertama yang kepikiran ketika sampai di penginapan sekitar jam 4 sore adalah cari makan. Menemukan makanan halal di sini memang rada susah. Untungnya, penginapan yang aku pilih terletak dekat dari pusat keramaian. Pilihannya hanyalah restoran India yang berlogo halal (karena ada juga yang nggak pakai logo), kebab Turki yang penjualnya Muslim, atau KFC! Yessss… KFC di Siem Reap ada logo halalnya, kok. Karena nggak terlalu banyak pilihan, harga makanan halal cenderung jauh lebih mahal dibanding yang lain. Bahkan, foodtruck penjual bir dan minuman beralkohol lainnya pun lebih banyak ketimbang yang jualan jus buah. Harganya pun jauh lebih murah. Mbok ya murah pun nggak akan aku beli toh.

Amok
Detinasi pertama aku di Siem Reap adalah Pub Street dan Night Market yang terkenal dengan kehidupan malamnya. Dibilang begitu, karena emang merupakan pusat perbelanjaan, kuliner, fish spa dan tempat turis-turis nongkrong yang bakalan baru ramai  dari sore sampai malam. Atau sampai pagi, nggak tau juga. Aku nggak sampe tengah malem juga sih ngider-ngidernya. Jadi asiknya, nggak perlu panas-panasan belanja. Jadwal keliling candi kota pun nggak terganggu dengan jadwal belanja. Nggak perlu ditanya, setelah selesai makan, aku langsung bersemangat untuk,.. belanja!

Pub Street
ala ala anak gaul Pub Street
Night Market
Art Center Night Market
anak gauk Pub Street beneran

Seru kan, baru sampai udah langsung beli oleh-oleh.          
Serunya belanja disini adalah pedagangnya yang lancar berbahasa Inggris. Nggak hanya pedagang, tapi juga tuk-tuk drivernya. Mungkin karena Siem Reap memang sangat ramai dengan wisatawan, mau nggak mau penduduk setempat mesti bisa bahasa inggris walaupun sekedar tawar-menawar harga dan kalimat rayuan “Balilah Da…Balilah Ni…”

Puas belanja dan cuci mata, aku pesen tuk-tuk buat nganterin balik ke penginapan sekaligus booking drivernya untuk seharian di Angkor Wat besok. Seharian means, dari sebelum subuh masih demi melihat sunrise, ngider dari satu candi ke candi lainnya sampai sore dan balik ke penginapan lagi. Tarif tuk-tuk pada dasarnya sih standar. Untuk perjalanan dekat, seperti dari penginapan ke Pub Street, aku ‘cuma’ bayar $2. Padahal ya, kalau naik angkot itu udah 4 kali bolak balik. Sedangkan untuk seharian di Angkor Wat aku mesti bayar $20. Seharga carter avanza, yes? Namun, sangat disarankan untuk nanya ke pihak hotel untuk tau berapa kisaran tarif biar nggak dikibulin dan bisa tawar-menawar.   

toko cemilan khas Kamboja
tembikar dan kerajinan tangan
bekas karung semen!

Hari kedua di Siem Reap.

Meski harus melawan ngantuk, aku rela berangkat menuju Angkor Wat jam setengah lima pagi. Biar nggak terlambat dan nggak kelamaan antri, kata tuk-tuk drivernya. Selain itu juga mesti rela shalat subuh di tempat yang aku pikir layak, karena aku nggak tau disana ada mushalla atau nggak. Setelah shlat, baru deh aku ngantri buat beli daily pass seharga $20. Lumayan juga. Itu baru harga buat seharian keliling candi. Apalagi tiket untuk 3 hari atau seminggu. Lebih mehong lagi. Bahkan kalau nggak salah, aku baca di twitter, harga tiket masuk Angkor Wat sekarang udah naik.  Oya, jangan lupa senyum, karena untuk mendapatkan kartu tanda masuknya, kita mesti difoto! 

antri!
batal sunrise di Borobudur, Allah kasih kesempatan sunrise-ing disini
memasuki areal Angkor Wat








Angkor Wat tampak belakang

istirahat dulu


salah satu spot favorit buat yang mau ngambil foto sunrise


 


Bayon Temple

Elephant Terrace
bagian depan komplek Ta Phrom Temple
candi dulu trus pohonnya tumbuh atau pohonnya tumbuh duluan baru candi dibangun?


Fia Croft!


Berhubung Angkor Wat ini luas banget, nggak semua sudut bisa dijelajahi. Lumayan gempor juga kaki. Supaya bisa menghemat waktu juga karena nggak hanya Candi Angkor ini yang menarik. Ada Bayon Temple dan Ta Phrom Temple. Sebenarnya masih banyak komplek-komplek candi yang bisa dikunjungi. Hanya saja, jarak antara satu candi ke candi lain itu cukup jauh (that’s why we need tuk-tuk), aku udah keburu laper. Mengingat aku cuma berbekal sarapan seadanya dan itupun disambi selama ngider-ngider Angkor, aku memilih kembali ke pusat kota. Why? Selain karena udah ngabisin waktu sampe sore, di kawasan Angkor aku nggak nemu makanan halal. Mas tuk-tuknya sih sempat nganterin ke salah satu tempat makan yang katanya nyediain makanan halal. Sayangnya, disana juga jual pork. Duh.

Maka jatuhlah pilihan ke restoran India lagi.

Sepanjang perjalanan sebelum menuju restoran, aku sempat melihat outlet Madam Sachiko Cookies. Letaknya nggak jauh kok dari pusat kota. Tergoda untuk kesana, aku minta sama Mas tuk-tuknya untuk nganterin kesana. Untung dapet Mas tuk-tuk yang baik sih. Dia rela nungguin aku makan dulu, kemudian balik lagi biar aku bisa foto beli kue.


        Madam Sachiko Cookies menjual kue kering yang berbentuk Angkor Wat. Tenang, ada label halalnya. Selain itu, di sana juga jualan souvenir, kopi dan the khas Kamboja, juga rempah-rempah. Sayangnya, harga kue dan souvenir disini lumayan mahal. Sekotak cookies isi 20 dihargai $10. Nggak apa-apa deh ya dibeli sekotak, daripada nyesel nggak nyobain. 

cetakan kue Angkor Wat


souvenir khas Siem Reap

menu makan malam: kebab Turki
Hari Ketiga di Siem Reap


Artisans D'Angkor
Hari terakhir. Untungnya flight pulang ke Kuala Lumpur masih nanti siang. Aku masih bisa nyempetin untuk berkunjung ke Artisans D’Angkor. Merupakan pusat kerajinan dan tenun khas Kamboja, yang terbuka untuk umum. Ketika kita kesana akan ada guide yang bakalan nemenin kita melihat-lihat sekaligus menjelaskan proses pembuatan kerajinan, mulai dari patung yang dipahat dari kayu dan batu, lukisan, dan tenunun khas Kamboja yang dipintal dari ulat sutra. Selesai ngider, rombongan tur dianter ke galeri, tempat kita bisa membeli hasil kerajinan tersebut. Harganya tentu beda dengan barang-barang yang udah aku beli di Night Market. Ada harga ada kualitas donk ya. Namun, saking mahalnya, aku cuma sanggup beli pembatas buku seharga $2 dan 2 buah syal untuk aku dan uni. Harga syalnya nggak usah disebut deh, hihi. 




ini gaya doank
berhubung nggak boleh foto di dalam galeri, foto di luar aja

belanjaan paling mahal :)
Sebelum kembali ke hotel, aku memutuskan untuk beli makan siang dulu. Daripada kelaparan di bandara. Demi menghindari masakan India lagi, akhirnya kau ke KFC. Yeay! Alhamdulillah, rasa nasi dan ayamnya masih cocok di lidah. Plus telur dadar pula.

Kembali ke bandara, aku pilih menyewa jasa airport shuttle dari pihak penginapan. Biar nggak repot. Dipikir-pikir sih daripada susah nyari taksi. Kan koper yang tadinya setengah kosong kini sudah beranak pinak.   

And I’m ready to go home


1 komentar:

Beby Rischka said...

Huaaaa.. Kambojaaaa.. Keren banget bisa ke sana! :D

Tapi makanan halal di sana gak terlalu banyak ya. Tetep lah kaepci jadi andalan :3

 

tentangku © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates