December 14, 2015

[review] Rindu - Tere Liye


Judul : Rindu
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : Republika
Tahun : 2014
Halaman : 544
Rating : 5 of 5 stars
Luka fisik cepat sembuh, sedangkan pemahaman baik atas setiap kejadian akan selalu menetap – hal. 53
Sayangnya, lazimnya sebuah pertanyaan, maka tidak otomatis selalu ada jawabannya. Terkadang, tidak ada jawabannya. Pun penjelasannya. – hal. 222
Ringan tapi sarat hikmah.

Aku termasuk orang yang awalnya bingung, kenapa buku ini dikasih judul Rindu. Sempat mikir kalau ceritanya nggak akan jauh dari romantisme sepasang manusia. Eh…taunya lebih dari itu.

Rindu, bukan jenis bacaan yang membuat kita mengerutkan kening atau harus membaca kalimatnya berulang-ulang. Meskipun tebalnya sampai 544 halaman, gaya bahasa yang santai dan sederhana bisa bikin keep turning the pages kok. 

Karena keadilan Allah selalu mengambil bentuk terbaiknya yang kita tidak selalu paham – hal. 373

Bercerita tentang beberapa tokoh dari latar yang berbeda dengan tujuan yang sama, yaitu naik haji. Berlatar di tahun 1930an bikin aku berimajinasi, gimana sih rasanya berangkat haji naik kapal laut yang menghabiskan waktu berminggu-minggu. Ohmy….waktu nyebrang Selat Sunda jaman dulu aja aku mabok laut -_-“. Di atas kapal ini, semua tokoh bertemu, membawa pertanyaan-pertanyaan yang menjadi beban hidup masing-masing. Tere Liye membantu mengingatkan kita tentang pemahaman hidup yang lebih baik. Manusia kan memang begitu ya, butuh untuk terus diingatkan, meski pada hakikatnya pemahaman itu mungkin pernah singgah.
          
Konflik antar tokoh mungkin tidak terlalu menonjol karena sepertinya Tere Liye lebih mengedepankan konflik batin. Sudut pandang orang ketiga di luar cerita menjadi tempat ‘memandang’ paling asik karena kita pembaca jadi bisa melihat tokoh secara keseluruhan meski disajikan dalam potongan-potongan bab yang berbeda.     

          Kayaknya dari karya Tere Liye yang pernah aku baca,  ini yang paling oke deh.

Kita tidak perlu membuktikan kepada siapapun bahwa kita itu baik. Buat apa? Sama sekali tidak perlu. Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. – hal. 313
Dan tumben aku bingung mau nulis apa.

Intinya, buku ini pas banget buat bikin kita kembali berpikir tentang diri. Sudah seberapa bijak kita bersikap terhadap takdir? 


Takdir tidak pernah bertanya apa perasaan kita, apakah kita bahagia, apakah kita tidak suka. Takdir bahkan tidak pernah basa-basi. Menyapapun tidak. – hal 471

1 komentar:

Beby Rischka said...

Mungkin Rindu akan ke rumah Allah.. Gitu sik. Hahah.. :D aku sampe sekarang belom sempet baca novelnya. :'

 

tentangku © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates