Showing posts with label curhat. Show all posts
Showing posts with label curhat. Show all posts

January 07, 2016

Postingan Pertama di 2016

11komentar
Sudah 2016.

Yang aku nantikan di tahun ini cuma dua. Pertama, adalah tentang sesuatu yang tidak bisa disebutkan di sini. Kedua adalah Reading Challenge. Yang kedua ini murni demi mengurangi tumpukan buku sekaligus menikmati masa-masa yang ‘mumpung’ masih banyak waktu luang.

Jadi di Januari 2016 ini, secara resmi Read Big Challenge 2015 berakhir. Tapi aku belum bikin wrap-up postnya sih. Nanti aja. Masih ada satu buku lagi yang mesti diselesaikan. Kalau nggak dichallenge ini, ga tau deh kapan bakal diselesaiinnya. Berakhir satu reading challenge tentu diiringi dengan tantangan baru lainnya. Sayangnya sampai hari ini belum ada yang mau jadi host buat Read Big Challenge 2016. If you guys have any info about it, please let me know *kedipkedip*. Bikin nambah semangat buat menyegerakan selesai membaca buku bantal soalnya.

Nah, sama seperti tahun lalu, aku nggak berniat pasang target banyak-banyak. Hal besar yang ingin direalisasikan tahun ini mudah-mudahan bisa memotivasi biar reading challenge yang udah diset di awal tahun selesai lebih cepat.   

And my reading challenges for this year…are:
It’s so common ya buat para pembaca buku. Tahun ini aku tetap bikin target 30 buku. Syukur-syukur bisa lebih banyak dari target kayak tahun kemaren yang bisa sampe 45 buku.


Reading Challenge hosted by Mbak Yuska kayaknya bakal seru. Gampang-gampang susah atau susah-susah gampang, I don’t know yet. Gampang karena cuma mesti baca buku sesuai tema dengan tema yang ditentukan. Well it means, bisa satu buku aja per bulannya. Ga berat lah. Tema tiap bulannya ditentukan di awal bulan. Naah, di situ tantangannya. We’ll never know, apakah kriteria yang ditentukan ada dalam tumpukan buku yang belum dibaca atau mesti dicari dulu. Maybe that’s why, it’s your own risk!
That’s all about my reading challenge for 2016. Selain Read Big Challenge, aku nggak bakal nambah lagi deh. 

And that’s all what I concern about 2016 .

February 11, 2014

Setelah 6 Bulan: Updated!

2komentar
Udah 6 bulan lebih blog ini dianggurin. Berjuta maaf buat pembaca setia *kemudian dikeplak* dan diri sendiri karena nggak bisa ngurusin blog yang cuman satu-satunya dan bagi waktu dengan baik.

Banyak hal terjadi 6 bulan terakhir. Banyak juga yang berubah.

Mulai dari pengumuman lulus kerja, rumah baru papa-mama yang sudah bisa ditempati dengan baik, dapet kos baru, temen baru, usia baru, resolusi baru, tahun baru.  Yang belom ya pacar baru. Eh, nggak ah, calon suami aja, eeaaa...

Sebanyak itu, nggak tau keburu dipost semua apa nggak. Kalo ada tulisannya, ya di post nanti. Mudah-mudahan nggak lalai lagi. Lagipula blog ini udah hampir berusia 7 tahun. What?? Really?? Yeay!!! Kalo anak kecil itu udah mau naik kelas 2 SD.

Sudahlah, begitu saja sebagai salam pembuka setelah 6 bulan tidak mencogok disini

My dear blog, jangan ngambek ya. I love You.  

July 27, 2013

Kalau Aja Nulis Skripsi Seasyik Nulis Blog

5komentar

WARNING: Bagi yang sedang berkutat dengan skripsi, postingan berikut tidak bermaksud mengiris hati anda.

Kalau kalian kira postingan kali ini berisi tentang tips dan trik buat cara bikin skripsi biar asyik, itu SALAH BESAR!! Sebagai eks-mahasiswa yang bikin skripsi nya juga lama banget aku terinspirasi buat mengungkapkan sedikit rasa (cieee...) dan cerita tentang skripsi.

Let me clarify something.
Masa studiku memang 5 tahun 7 bulan. Seluruh mata kuliah selesai selama 4 tahun. Maka 1 tahun 7 bulan dihabiskan untuk skripsi. Is it? The thruth is, aku mulai benar-benar berkutat dengan skripsi terhitung November 2012 sampai Februari 2013. So it takes only 4 months.  
But why it takes so long overall? 

Nah, inilah dia. Nulis skripsi itu banyak tantangannya. Orang-orang bilang Faktor X(es). Mulai dari judul yang gonta-ganti, pembimbing yang bisa jadi gonta-ganti juga, susah nemuin pembimbing, susah nyari bahan, nggak ngerti mau bikin apa, atau nggak bisa SPSS (buat yang pake SPSS). Pada saat itu juga kita mengenal yang namanya revisi, ganti metode penelitian, di-php-in sama dosbing, LDR-an sama dosbing. Apalagi kalau dosbingnya pejabat. Makin susah ketemuan.
Janji jam 2 bisa jadi jam 4. Dsuruh balik 3 hari lagi ternyata si dosen keluar kota. Bisa juga hasil revisi yang belum dibaca. Mahasiswa bimbingan tentunya pernah merasakan hal-hal itu.
Belum lagi mood yang ilang entah kemana, sampai pembimbing yang hilang entah kemana. Dan ujung-ujungnya kita yang hilang entah kemana. Kalau ada yang kurang silahkan ditambah di kolom komentar. *tetep*
Apalagi kalau ada dunia lain yang bikin kita lebih tertarik. Bisa kerja, organisasi, game online, atau cuma sibuk nggak jelas. Itulah awal mulanya folder skripsi bisa didiemin berlama-lama. 
Persamaan dengan ngeblog paling ada dua. Sama-sama bakal berdebu kalau ditinggal. Sama-sama nggak boleh plagiat. That’s it.
Bedanya, nulis blog itu memang jauh lebih seru. Kadang-kadang kita nggak pusing mikirin bentuk bahasa. Sepanjang orang lain mengerti, it’s ok. Sebagai sesuatu yang bersifat formal kita mestiu berkutat dengan tanda baca, bentuk bahsa, bentuk kalimat buat nulis skripsi. Apalagi peraturan sekarang, yang juga dijadikan jurnal on-line kalau skripsinya udah selesai. Nggak mungkin kan nulisnya sembarangan atau dengan bahasa 53P3RT1 1N1. Kemudian juga, silahkan bandingkan blogwalking dengan skripsiwalking.     

Beberapa hari lalu aku sempat nge-twit. And these are what they twit:

 

B.A.M.B.A.N.G (bukan nama sebenarnya) adalah salah satu korban kekejaman revisi lagi revisi lagi.


Mudah-mudahan ini nggak akan pernah ada. Jangan sampe deh kalau iya.



Naah...kalau doanya gitu kan asyik.

Tapi memang itu semua nggak bisa disamain sih. Setelah aku pikir-pikir, dengan skripsi kita bisa belajar menyelesaikan apa yang pernah dimulai. Juga belajar mennghadapi segala tantangan internal ataupun eksternal. Gimana mengontrol diri sendiri biar nggak tergoda sama yang lain daripada skripsi. Gimana juga melatih kesabaran dalam mengahadapi dosen pembimbing. (bisa jadi juga sih dosen pembimbing yang latihan kesabaran gara-gara kita)

Iya, nulis skripsi nggak selamanya sulit. Nggak selamanya juga makan waktu lama. Buktinya banyak juga yang bisa nyelesaiin tepat waktu. Intinya memang satu, dikerjain.
Well, buat yang belum merasakan sensasi nulis skripsi, jangan takut dulu, jangan gentar dulu. Ini cuma sekedar menupahkan isi pikiran. Setiap orang punya cerita seru tentang skripsinya.
Buat orang tuaku dan keluarga besar, terima kasih sudah mau menunggu lebih lama dari orang tua lain menunggu anaknya. tapi tenang, aku juga memang lain dari orang-orang itu.
Buat para dosen pembimbing, terima kasih telah membimbing dan membantu mahasiswanya dalam penyelesaian skripsi. Kalau nggak ada dosbing, aku nggak akan kenal sama yang namanya skripsi. Nggak akan juga merasakan sensasi seminar hasil.  

Sudah...sudah..ini bukan lembar ucapan terima kasih. 

July 21, 2013

Yang Baru (Harusnya) Bikin Semangat Baru

2komentar
Idealnya, semangat baru bisa dimunculkan lewat suasana yang baru.
Bisa interior design kamar yang baru, teman baru, dunia baru, komunitas baru, hobi baru, baju baru, bahkan sekedar hal kecil seperti tampilan blog baru. Keinginan yang sudah lama baru sebatas niat akhirnya direalisasikan juga. Dikerjain dari selesai tarawih sampe sahur, diem-diem di kamar biar nggak ketahuan begadang, nahan ngantuk karena koneksi yang anti lelet itu ternyata lumayan menguji kesabaran. Ya sih, tumben mau!
Perubahan sesimpel itu ternyata memang memberikan dampak yang ‘lumayan’. Kenapa cuma lumayan? Karena dari sejak tampilannya diganti, jadi semangat ngerjain beberapa tulisan, nuangin ide, dan nyelesaiin baca buku biar bisa langsung direview. Meski sedikit ternoda dengan ketakutan akan ‘angek-angek cik ayam’ alias semangatnya cuma pas di awal aja.
I must confess, kalo lagi males, nggak niat, dan sejenisnya, pasti bakal nyari-nyari excuse alias alasan buat nggak ngerjain sesuatu. Nyalahin kecepatan koneksi lah, capek, nggak ada ide, nggak sempat, dll, dsb, dsj. 
Padahal kondisi bakal bisa berbalik kalau memang lagi pengen banget. Tuh buktinya pas ganti template blog.
Makanya kadang-kadang buat menumbuhkan semangat kita sengaja memunculkan kondisi-kondisi baru di sekitar. Confess it. Teorinya, kita selalu tahu gimana caranya bikin hati dan fikiran jadi lebih fresh. Kita selalu ganti susunan kamar dengan harapan biar lebih rapi dan semakin rajin beresin kamar. Atau kita sering menyengajakan (atau bahkan tidak)  jalan-jalan.Kemana aja, baik yang punya tujuan tertentu atau sekedar ngider-ngider aja. Harapannya supaya otak bisa lebih segar.
Itu baru hal kecil, sih.
Is there something bigger? Absolutely.
For me, Status baru.
Setelah lulus ujian komprehensif  11 Maret lalu dan seremonial perpindahan kuncir toga 1 Juni, status mahasiswa resmi lepas dari pundak. Mau tidak mau aku memasuki sebuah dunia baru. Kata orang namanya Dunia Nyata.
Maka, akupun menyandang status baru; jobless jobseeker. Iya, sampai saat ini, masih dengan semangat baru. Demi orang tua, adek-adek, dan aku sendiri pastinya. Ah, tentang yang ini dibahas di postingan selanjutnya saja ya (udah beda tema soalnya J).
Back to topic. Berarti pada dasarnya emang kita bisa memunculkan semangat baru dengan mengkondisikan diri pada hal-hal baru. Memang di point ini, keberanian kita untuk memulai hal baru bisa saja dipertanyakan. Sanggupkah kita melangkah dari zona nyaman untuk mencari dan menemukan apapun yang mungkin selama ini belum pernah kita temui? Atau justru kita enggan menghadapi hal tak terduga jika saja kita melangkah keluar dari tepat kita berpijak sekarang? Nggak bosankah?    

Emang sih ada juga dari yang ‘baru’ itu nggak bikin semangat.
Eng ing eng......... Judul Baru.
*pernah jadi korban soalnya* #IfYouKnowWhatIMean
Lantas, kalau pacar baru?
Err...itu..hmm...have no idea.
#eaaa  #gagalmoveon.

Ok, Sekian dan terima pitih.  

April 30, 2013

Society's Cruel, Isn't It?

5komentar

Society’s cruel. People judge other people. Brave enough to stand tall by our decisions. - @lalapurwono.

I don’t know how true this statement till I force to face certain condition on reality. Yes, people cruel. They assume. They judge. They tell it to other.
Karena berasumsi, memvonis dan menghakimi sudah menjadi hobi yang menyenangkan. Apapun yang dilakukan nggak pernah lepas dari komentar. Perbuatan baik saja bisa jadi buruk di mata orang lain. Apalagi perbuatan buruk. Bahkan tidak berbuat pun komentar tetap akan ada. Apalagi atas langkah yang kita ambil yang tanpa bisa kita sangkal akan terus bersinggungan dengan orang lain. Meskipun mereka tidak tahu pasti apa yang terjadi.
In my own life, bukankah normal jika aku tidak menginginkan menjadi orang yang dibenci? Melakukan hal-hal utuk membangun hidupku tanpa menimbulkan masalah bagi orang lain? Karena aku tau ketika aku berbuat, baik atau benar, akan ada komentar yang mengiringinya. Dan pada titik ini, komentar yang datang semakin banyak. Even they don’t know what really happen is. Tiba-tiba semua komentar, asumsi, dan vonis menambah kerikil dalam langkah hidupku.
Dan itu tidak mudah.
Perjalanan hidupku sudah cukup rumit.   
Dan aku sama sekali tidak berniat untuk menambah kerumitan itu. apalagi membuat daftar orang-orang yang kan menambah sulit jalan itu. not at all!
Bukan cita-citaku untuk menjadi musuh, atau menciptakan musuh.
Aku hanya ingin menjalani hidup dan berbuat untuk hidup.
Sayangnya entah kenapa, mereka masih saja bergunjing. Mereka masih menyebar gosip. Mereka masih mengeluarkan kata-kata yang membuat hatiku panas. Juga telinga dan mataku.
Dan ketika aku mengetik ini, ada sebuah kicauan dari @ndorokakung:
People will always tell you what you did wrong, but will hesitate to compliment you for what you did right. [Ronald Oliver]
Then what? Surely, aku tidak bisa memaksa orang lain untuk mencintai dan menyenangiku. I have no rights for that. Mereka pun punya hak untuk berkomentar, berasumsi, dan memvonis. Tapi aku juga punya hak untuk tetap berbuat dan menjalani hidupku. Haha.
Almost forget one thing. In fact, Aku memfasilitasi komentar itu datang. Buktinya, ada kolom ‘komentar’ atas tulisan ini setelah dipost. See? J

#Selfnote
30.04.2013

April 28, 2013

Hari Ini Aku Adalah Seorang Anak

2komentar
Hari ini aku adalah seorang anak
Belum pernah menjadi orang tua, jadi tidak tahu bagaimana rasanya menjadi itu.
Seringnya aku tidak mengerti dengan jalan pikiran mereka. Apalagi keputusan-keputusannya terhadap hidupku. Kalau aku bongkar lagi diary-diary yang sudah kutulis sejak SD, memang kebanyakan bercerita tentang perbedaan pendapat,kekesalan dan kemarahan yang tersimpan, perlawanan diam-diam, atau pertanyaan-pertanyaan tak terjawab. Syukurlah di titik ini aku bisa mendapatkan pemahaman (atau pemakluman?). Meskipun begitu, yang tidak kupahami sampai sekarang adalah bagaimana sinkronisasi impianku dengan harapan mereka. Surely, ini berpengaruh terhadap langkah-langkah yang mesti kuambil dalam hidup. Konsekuensinya, pemahaman mesti diberikan tanpa ada adu argument. Well, I don’t wanna be a betrayal either!
Memang nggak jarang muncul pemikiran kalau orang tua tidak sayang, tidak mengerti keinginan dan kebutuhan, cenderung memaksakan kehendak, named it. Tapi somewhere in my heart have no doubt about my parent’s love. The greatest love in the world.
Well, tidak ada orang tua yang sempurna dan jelas kita tidak bisa memilih orang tua.
Tapi ternyata, inilah pengakuan para orang tua:
Hampir semua orang tua ingin menjadi orang tua terbaik bagi anak-anaknya. Kita saja yang tidak tahu kita menangis malam-malam, menyesal entah karena kekurangan mereka atau karena kesalahan mereka lantas berjanji esok hari terus berusaha menjadi orang tua yang baik.

#selfnote
12.04.2013

April 18, 2013

Tentang Pilihan dan Memilih

2komentar
Memilih.
Mau tidak mau, suka atau tidak kita akan selalu memilih. Mau makan apa, mau pakai baju apa, mau kemana, mau kuliah dimana, mau kerja dimana, dst, dst.
Manusia  tak jarang yang merasa kebingungan ketika dihadapkan dengan pilihan. Pilihannya banyak, bingung. Pilihannya sedikit juga bingung. Ga ada pilihan? Ya memilih juga. . Pilihannya akan berubah menjadi memilih atau tidak memilih. Nah, saya mulai bingung.
Semakin banyak pilihan justru semakin manusia merasa bingung. Bingung gegara berbagai pertimbangan: resiko, dampak, kepentingan, kecenderungan. Internal atau eksternal.
Kalaupun pilihan itu cuma dua toh ternyata tidak lantas kemudian memudahkan si pemilih. Kalau tidak A ya B. Efek ketika memilih satu diantara mereka semakin besar untuk berbeda. Perubahan-perubahan yang mungkin akan dibawa dari pilihan tersebut justru membuat pemilih semakin membutuhkan waktu lama, kematangan berpikir, dan kesiapan akan konsekuensi setelahnya. Nggak jarang juga yang pada akhirnya memilih untuk mengambil pilihan secara gambling.
There are some well-known statements about choice:
I don’t have any choice,
Aku ga punya pilihan,
Aku bisa apa,
dsj, dsj, dsj
Tetap saja. Akui saja kalau sebenarnya kita punya pilihan: memilih atau tidak.
Terlepas dari segala konsekuensinya. Yang membedakan adalah dorongan apa yang membuat kita memilih. Keterpaksaan kah? Atau keihklasan? Mungkin itulah yang menjadi pilihan ketika diharuskan untuk mengambil pilihan yang dipilih orang lain. Yes, we have many things that we can’t control. Maka, posisi pilihan pun bergeser. Ikhlas atau tidak. Memilih untuk mengumbar rasa kesal, ngomel, ngeluh, ATAU legowo, nrimo, dan menyimpan rasa tidak enak dalam hati.
Yah, karena kita hidup tidak sendiri. Orang lain yang berpengaruh dalam hidup terkadang juga menjadi pertimbangan besar saat kita dihadapkan dengan situasi memilih. Apalagi kalau pilihan itu menyangkut orang tua, pasangan hidup, atasan atau mungkin kemaslahatan hidup orang banyak. Terkadang pilihan juga terkendala dengan izin atau restu. Apakah kemudian pilihan kita direstui atau tidak. Kalau tidak maka pilihan berikutnya: patuh atau berontak. Nah,ini akan menjadi bahasan baru yang bakal lebih panjang lagi kalau dijelaskan disini.
Maka berbahagialah orang-orang yang memiliki hak ini secara asasi Benar-benar memilih sendiri, menerima masukan dan saran orang lalu memilih sendiri langkah-langkah dalam hidupnya.  Tidak mengambil pilihan dengan paksaan atau bahkan dipilihkan orang lain. Bagi yang tidak? Sejatinya itu menjadi moment bagi manusia untuk belajar berkompromi (bahkan kalu bisa sih berdamai) dengan keadaan meski pahit

#selfnote.
06.04.2013     

November 11, 2012

Ngeliatin Ujan

0komentar

Ngeliatin hujan.
Sekedar melihat kumpulan air yang jatuh dari awan gelap, lalu menyentuh bumi. Aspal, tanah, genteng rumah, mobil yang lewat, payung, bahkan badan manusia yang nekat melewatinya. Lihat deh, saat satu tetes itu menyentuh bumi. Kadang pengen tau, rasanya gimana ya? Sakit? Atau lega?  

Akhir-akhir ini Padang memang musim hujan. Otomatis aktifitas ini jadi sering asuk agenda.
Mulai dari melihat berbagai ekspresi manusia menyambut datangnya hujan. Kebanyakan kesal, mengeluh, memilih berteduh daripada basah. Ada juga yang mengeluh tapi tetap berlari, memasrahkan diri basah dan kedinginan. Buat yang bermobil, bersyukurlah karena tidak harus mengeluh, tidak harus kedinginan apalagi kuyup. Lalau kalau masih saja ada yang mengeluh, itu urusan anda. Cuma, ingat saja, nggak semua orang merasakan kenyamanan yang anda rasakan.
Bagi yang bermotor atau pejalan kaki yang tidak berpayung dan tidak mau basah, mesti bersabar dulu. Berteduh di depan-depan emperan ruko, kedai, atau rumah yang punya pelindung (lupa namanya) Sampai entah kapan.
buat orang-orang seperti aku?

Kalau kata utopia,
Aku selalu bahagia, saat hujan turun…
Sudah, stop sampai disana. Karena memang hanya satu kalimat itu yang pas.
Memang ga setiap hujan itu bikin bahagia. Apalagi kalau ada janji keluar, ketemuan, pacaran, dsj yang bisa bikin orang yang udah terlanjur janji itu lantas urung dengan janji nya.
Buatku, Perasaan kesal yang kemudian muncul toh akhirnya bukan menyalahkan hujannya. Lha kok Cuma gara-gara ujan jadi batal. Hehe… J

Herannya ada manusia yang membenci hujan. Sayang sekali. Padahal ini berkah yang Tuhan kasih. Bahkan salah satu moment berdoa yang dikabulkan Tuhan bukankah saat hujan turun. Ya sudah, kalau hujan turun, berdoa saja banyak-banyak.

Kalau banjir? Itu lain cerita. Kapan-kapanlah ceritanya.
Dan hujan pun masi turun. Ternyata salah satu hikmah beberapa hari berada di sini adalah bisa menikmati hujan lebih leluasa. Dari balkon lantai dua ini semua terlihat jelas:
Lalu lalang kendaraan, motor dengan segala jenis cara pemakaian mantel, sampai berbagai warna payung, bahkan yang pengendara motor yang berpayung (itu payungnya nggak diterbangin angina apa yak?).
Yang paling penting, ceileeh, ya bisa ngoceh ga karuan sama keyboard. Mau sama siapa lagi, ya toh? Kalau hujan semua orang mendadak malas. Malas kemana-mana, malas ngapa-ngapain, bahkan males mandi.

Sudahlah, semakin lama semakin tak jelas. Disudahi aja.
Selamat menikmati turunnya hujan. Hujannya makin lebat lo…

18:02 – Balkon lantai 2 

July 27, 2012

My Confession

1 komentar

It’s been a year. I hear the people outside whispered: I didn’t make any change.
Did I?
Well then they do not know what I’ve been through. I have many parts of my life. I did many things, but Not about this thesis writing. Others. Yes, I did.
They do not have any idea about the path that I walk, about the conflict that I face, even my achievement. Anything. My life is not only about these campus things. Yet, I’ll finish this thesis no matter what!
I didn’t know what was waiting for me. But, I‘ve made up my mind, nothing going to stop me. Even fears. Sometimes we have to face our fears, rite?
I choose this way, I choose my dreams. And I will go for it. I will commit with this.

July, 22 2012  

July 07, 2012

Kali Ini Cerita Bahagia

0komentar




Aku sering berfikir untuk menunda rasa. Agar tak salah merasa.
Maka malam ini berbeda. Juga banyak malam sebelum ini.
Lembaran putih di hadapanku masih kosong. Hanya kursor yang berkedip-kedip.     
Aku tak pintar mengisahkan cerita bahagia.
Sebut aku tidak adil. 
Karena banyak kata tercipta untuk sedih dan lara tapi tidak untuk bahagia.
Bilang saja aku pilih kasih. 
Yang tidak mengabadikan rasa yang di damba setiap orang.
Yang kemudian kupilih untuk kusimpan saja dalam hati. Lalu senyum sendiri.
 Meski hujan sebentar tetap tak bisa menjadi pengungkit untuk memunculkan kata.
Ah, biarlah. Aku tak mau merusak rasa dan mengaduknya dengan logika.
Aku dan duniaku sedang bermesraan. Rasanya itu saja cukup.  

May 27, 2012

Pengakuan Hari Ini [Tidak Untuk Ditiru!!!]

3komentar

Pagi, tepatnya siang ini, ketika aku mendongakkan pandangan ke langit-langit kamar, tepat ke cahaya lampu, keningku berkerut. Silau. Cahaya matahari menerobos membentuk pantulan kotak-kotak jendela.
Disampingku kertas-kertas berserakan, buku-buku masih dalam kondisi terbuka, piring kotor bekas makan malam, gelas kopi yang tinggal ampas dan bungkus-bungkus snack yang ludes dimakan semalam.
Diatas meja kecil setentang kepalaku, notebook dengan posisi stand by dan kalender meja dengan tanggal yang tidak sesuai dengan waktu ini. Training berturut-turut kemaren itu memang sukses bikin aku LDR-an sama kamar.
Tempat tidur acak-acakan, bantal guling tidak (belum) tertata dan seprai kusu. Di pojokan ada gundukan kain yang belum disetrika. Beberapa helai rambut rontok tergeletak di lantai.
        Kamarku…
Sepertinya aku kembali pada situasi kemalasan akut. Akhir-akhir ini sebagian besar waktuku habis untuk tidur. Tanpa jadwal. Tidur mengalahkan usaha untuk mendisiplinkan membaca dan menulis skripsi setiap harinya. Buku yang sedang kubaca mendadak hampa, tak berasa.
Aku tidak heran. Aku bisa saja tidak tidur selama 2 hari berturut-turut. Juga, aku bisa saja tidur selama berjam-jam dengan sesekali terbangun.tapi aku tidak pernah (belum pernah) kuat membaca berjam-jam dengan sesekali tertidur.
Masalahnya kemudian adalah, waktu yang tersita tidur membuat aku kalang kabut menjalani hari-hari. Jangankan untuk membaca atau menulis, bahkan untuk sekedar merapikan kamar atau hal-hal sepele lainnya menjadi terabaikan.
Pada kondisi semacam itu kadang kala aku sedikit berfikir. Apa hanya aku saja yang pernah begini? Lantas, kalau tidak, adakah ini proses menuju dewasa? Sayangnya aku tidak punya alasan untuk menepis sekaligus menyetujuinya.

*22 mei 2012

May 08, 2012

Ini Akan Selesai

0komentar

Inginnnya menarik nafas panjang,

Dan melepaskan seluruh penat yang begitu nyata dan menyesakkan dada. Penggalan kisah-kisah hidup yang masih belum seberapa mempertemukan aku dengan berbagai kejutan. Mengantarkan aku dalam sebuah perjalanan yang harus dilewati.

 Meski terkadang ada enggan.

Aku ingin menyerah saja. Beban yang kian bertambah, desakan yang terus datang. Terus terang saja, inginnya lari dari kondisi ini. Disaat-saat seperti ini, aku kerap merasa begitu sendiri. Begitu sempit dunia.
Namun ada yang harus aku mengerti. Aku harus menuntaskan tanggung jawab ini. Apa yang dimulai, harus diselesaikan. Hanya butuh waktu dan usaha lebih keras lagi untuk menyelesaikannya. Meratapi apa yang terjadi toh tidak akan menuntaskannya.  

Ini akan selesai. Selesai pada waktunya. Aku memiliki cukup keyakinan bahwa ini akan selesai. Semua akan berakhir dan kesendirian dalam menghadapi ini akan menjadi kado pada akhirnya.

Ini akan selesai. Dan akan ada babak baru dalam kehidupanku.
  

March 29, 2012

Kamu yang Nyata

0komentar

Jemariku sudah beku menulis tentang kamu. Lelah sebenarnya. Tapi hatiku masih saja menerawang tentangmu. Aku tetap saja mengeja namamu. Lagi. Jadi biarkan aku memberanikan diri mengganggumu lagi. Bertanya kamu sedang apa. Kamu. Lagi-lagi kamu.

Kamu yang membuatku menjadi penulis. Memang bukan penulis berkualitas yang karyanya kemudian diterbitkan di koran atau dijadikan buku. Aku hanya penulis mimpi-mimpi agar dia abadi. Memang aku takut tulisan-tulisanku mengganggumu. Karena ternyata aku lebih sering memilih menulis mimpi ketimbang kamu. Ya sudahlah. Biarkan saja. Toh sudah menjadi tulisan.

 Lalu kamu? Ah, kamu tetap menjadi yang nyata bagiku.   

March 07, 2012

On the Period Of Questioning

0komentar

How I wish everything is right on the path so I can focus on what I’m doing
If only I can handle this well.
Things are just unplanned.

I realize that we all go through a journey in our lives though differently. Some of us may go through pains or betrayal, being an option not a priority, or some stuff come and teach us a lesson, force us to be this and that, and then leave us with so many question; what am I suppose to do?
We also may have felt irrelevant to some people. Taken us for granted, just left us in the corner pretending we have not been a part of their lives. Some of us may have been tired and push ourselves too hard just to fulfill our dreams.

I think I’m on that spot at this moment.
I’m going through a period of questioning.
I had many tears some time. And if only I cold shout, I will.
Sometimes it’s hard to believe that every pain that I feel come with a purpose.
I may not see it now, though I am still waiting for my prayers to be answered.
But I know, my God is still here, listening to my every cry, my every pray.
let's assume that i'm on the test for getting to the next level of my live.

December 21, 2011

Day 21: My ‘real’ December

1 komentar

Day 21: My ‘real’ December; New day and New Age  

I’ve been thinking about compiling things for my 22nd Years-Old. But I have decided not to make one. Because when I plan, I worry. Only few things become real finally. It does not mean that I’m afraid to make resolution for a year ahead of my life; well I did it every year.
Every single Birthday.

Speaking about resolution, till now, I haven’t decided what my goals are. But I’m sure a lot of things will change for my best. I’m just not pointed yet.

Today God, I can learn so many things.

The past years have given me so much pain that I can’t sometimes imagine.
Every pain or problem I assume as character building.
In every trouble it produces patience, which I try to learn it every time. Patience will produce strong character and it will last t forever.
I may fail at first, second, third, maybe hundred. But every time I try, I have belief that I get closer to it.
In every single trial to stand up, not only for myself, but also for people who loves me. I’m going through tough times that gave me the strength to look at it as learning process.
Everything that has been going on in my life now is just a part of my growth to maturity. In everything even how hard and painful it is, it has its own purpose.

Happy birthday Me,
Be Strong,
Be Always Strong!



well,  i have someone sang some songs to me last night. i appreciate it as my first gift, haha.
from many songs, i just pick two titles, because it was full-played. the songs are:~ panic at the disco -- always
~ he is we -- kiss it all better


and i've got this for my birthday gift J




 * thank you so much to everyone that remember today
** thanks a bunch to Koms Ekonomi for having celebration in Sekre 

December 15, 2011

Day 15

2komentar

Day 15: something/someone you can’t live without because u’ve tried it.

Horeee…udah separo jalan project ini. Setiap perubahan tema aku dibawa ke memori kenapa memilih tema itu. Kadang inget, lebih sering lupa…hehehe…

*ini lupa nular dari siapa sih

Anyway, makin hari yang ikutan project ini makin dikit. Sampe saat ini yang bertahan selain aku Cuma iif sama ona, (plok plok plok)
Yang lain, udah punya kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan.
Ya usahlah ya…
Back to topic,
Jawaban dari pertanyaan di atas adalah: Handphone + internet connection

-      Handphone
Terserah mau ada pulsa atau nggak, tapi aneh aja rasanya kalau sehari itu nggak liat hp. Perkara ada yang hubungin atau nggak sih, itu urusan belakangan (ini bo’ong). Yang penting, my handphone should be near me. Handphone ini terlupakan Cuma saat masak dan banyak tamu.
aku pernah mencoba cuek. I’m trying to make myself busy with another thing. Tapi tetap aja, pas mau tidur yang diliat adalah handphone. Hmm… you can say that I’m addicted. Yes, I will not deny it. Well I guess it’s the only way to keep in touch with my lovely people.
In addition, not only in term of communication, handphone juga selalu aku pake buat nulis ide-ide yang tetiba berseliweran di otak. I often bring my blocknote everywhere I go. Tapi kalo di angkot atau di jalan, nggak mungkin banget rasanya tetiba ngeluarin pulpen ama buku.  Pasti aku langsung ngeluarin handphone, ngetik disana, simpen di draft dan pas nyampe rumah/kos langsung eksplorasi ide. daripada idenya hilang begitu saja? Lebih berabe.

-      Internet connection.
Whether via handphone atau laptop, whatever! Kenapa ini penting? Because I need to update myself. Mau kabar tentang orang atau bahkan berita. Nggak banget rasanya kalau ga tau apa yang lagi kejadian di atas bumi ini. But, noted, beritanya ya harus berita yang berbau journalism. Not infotainment. Ga penting banget kabar artis, siapa yang cerai siapa yang merit, siapa yang selingkuh. Kecuali mungkin arit international. You can see my following list. That’s why, I prefer twitter than facebook.

It is in term of something. What if someone?
To be honest, I never be the one who try to ‘leave’. Not for once.

December 10, 2011

Day 10

0komentar

Day 10: someone you need to let go or wish you did not know

Ada. Satu oknum (pinjem istilahnya @iiphche yaaa).
Karena dia yang hobi berusaha cari masalah sama aku. yang nge fans sama aku dan hidupku di beberapa aspek tertentu karena dia suka komentar gitu sama apa yang terjadi dalam hidupku dan sama apa yang aku lakuin.  

*udahan yah. ceritanya lagi sakit kepala.

December 09, 2011

Day 9

0komentar

Day 9: Someone you didn’t want to let go, bust just drifted

Ada. Satu. Temen.
Dia yang memilih buat pergi. 

December 06, 2011

Day 6

3komentar

Day 6: Something you hope you never have to do

Bikin skripsi.

dan bikin tukang kayu sedih.

December 05, 2011

Day 5

4komentar

Day 5: Something you hope to do in your life
Hm…session ini kayaknya banyak yang suka deh J
So do i.
What I hope right now adalah nylesaiin skripsi, lulus kompre, dan wisuda.
Itu aja kalo buat sekarang.
Ga muluk.

Tapi kalo buat beberapa tahun ke depan..
I wanna be a lecturer. Kenapa? Karena jam kerja nya bisa diatur. Sekalian biar bisa nyambi jadi penulis.
Masalahnya? Nyambung s2 adalah rencana yang sepertinya masih di awang-awang.
I’m not a workaholic type of person.
Malahan dulu cita-citanya jadi ibu rumah tangga. Tapi setelah melhat realita hidup yang ada, jadi Ibu RT itu baru bisa dilakuin kalo dapet suami kaya. (amin)
Makanya mau nya jad penulis aja. Biar bisa ngurus rumah, anak, suami. Kayak mama. Selalu ada setiap saat.
Terus… satu lagi.
Mau punya perpustakaan pribadi.
Makanya udah niat banget. Benda mahal pertama yang harus aku beli dari gaji sendiri adalah Lemari Buku.
Semua harapan dan impian ini, setiap hari udah aku masukin di alam bawah sadar. Biar alam bawah sadar ini yang menggerakkan hati dan pikiran…
Mudah-mudahan dalam beberapa tahun kedepan, bisa jadi kenyataan.
Amin.

 

tentangku © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates