Showing posts with label selfnote. Show all posts
Showing posts with label selfnote. Show all posts

October 09, 2021

Some Times Alone

0komentar

 
 

I love you, babies…

But I need to have some fun times with other things.

Sebuah kalimat yang aku ucapkan tadi pagi untuk kedua bocah. Hari Sabtu idealnya adalah hari bersama anak-anak.  Namun hari ini aku memutuskan untuk tidak memasak dan meninggalkan mereka bersama pengasuhnya, just to have some times alone. To do things I love.

Because I need it.

So I don’t need to feel guilty about it.

January 18, 2016

Tempat Nongkrong 'Baru' di Kota Padang yang Sudah Rusak

10komentar
Let me tell you, guysWhoever and wherever you are.

Sebenarnya kota Padang dengan pemimpinnya yang sekarang, udah mengalami banyak kemajuan lho. Contohnya Pantai Padang yang dulu ‘terkenal’ dengan tenda ceper, sekarang udah nggak ada lagi. Pinggiran pantainya jadi makin luas, taman-tamannya udah ditambah, tempat duduk-duknya makin banyak dan lengkap dengan berbagai jenis jajanan seperti pensi, langkitang, kerupuk mie, kelapa muda, dll. Di ujung arah jalan menuju Hotel Pangeran pun udah ada lapangan sepak bolanya. Dulu? Buat jalan kaki sepanjang pantai aja susah karena sempit dan kotor. Belum lagi sisi jalan satunya sudah dibangun warung-warung bertingkat yang sengaja dijadikan spot kuliner dan tempat jualan ‘apa saja’, hasil kerjasama pemerintah kota disponsori oleh kantor dan beberapa pihak lain #eeaaa. Dibikin bertingkat supaya kalau selfie dengan latar pinggiran pantai jadinya bagus banget. Aku aja belum pernah foto disana. Bahkan, sekarang udah ada spot bertuliskan PADANG, which is, lagi-lagi aku belum pernah foto di sana karena keasikan kerja selalu ramai dengan pengunjung.

sumber foto: beritasumbar.com
Nggak hanya spot itu aja sih yang booming banget buat foto-foto. Pemerintah Kota Padang yang sepertinya memahami kebutuhan anak muda seperti saya untuk foto di setiap moment dan tempat demi upload ke jejaring sosial, mulai membangun tempat-tempat nongkrong, atau sekedar tempat berfoto lengkap dengan papan namanya. Apa sih itu istilahnya? Yang biasanya dibuat dari besi (mungkin?) sebagai petunjuk nama spot tersebut. Letter ya? Yang kayak tulisan PADANG gitu deh.  

Namun sayang sungguh sayang…

Umurnya nggak lama. Tempat-tempat ‘bagus’ tadi yang belum setahun jadi, malahan udah rusak. Coba deh instagramnya @infosumbar, waktu Emen adminnya mengunggah foto orang yang sedang berfoto tepat di depan tulisan ‘Dilarang Menginjak Rumput’. Padahal, disana udah ada papan pengumuman yang isinya nggak boleh menginjak rumput dan pinggir taman, juga dilarang berfoto berdiri di tempat kedudukan huruf-huruf itu. Tapi nyatanya? #sigh. Mungin kita tinggal menunggu waktu aja tempat itu jadi hancur dan jelek karena kita sendiri.

Well, beberapa tempat yang sudah pernah rusak di Kota Padang adalah:
1.    Mesjid Raya Sumbar
Ini bukan tempat nongkrong ya, tapi tempat ibadah :)) Sengaja dimasukin ke daftar, karena memang ada kejadiannya. Siapa sih yang nggak inget bulan Juli 2015 dimana huruf D pada tulisan Mesjid patah padahal belum genap dua bulan diresmikan? Dan nggak lama setelah itu huruf Y menyusul hilang di bulan September 2015. Seperti tidak selesai sampai di situ, huruf T pun ikut-ikutan raib. Why?  

sumber foto: IG @infosumbar
sumber foto: IG @infosumbar
sumber foto: IG @infosumbar

2.    Taman Dipo
Taman yang sebenarnya sudah lama menjadi lokasi nongkrong sore sampai malam anak muda kota Padang sekarang sudah dinamai dan dibuatkan papan namanya. Sayangnya kemaren sore, 17 Januari 2016, aku melihat huruf T yang letaknya bersebrangan dengan toko alat tulis terkenal di Padang, sudah tidak ada.

sumber foto: pribadi
huruf P dan O sisi satunya lagi sudah mulai miring
sumber foto: pribadi

3.    Taman Tugu Jong Sumatra
Sempat tidak dilirik oleh warga kota Padang, kini spot yang berada tepat di depan hotel Grand Ina Muara kini begitu eye-catching. Selain karena warna tugunya yang putih bersih dengan puncak berwarna biru, spot ini juga sudah dilengkapi tempat duduk-duduk dan papan nama berwarna merah. Tugu bersejarah ini merupakan tugu pertama yang dibangun di Padang, yaitu sejak tahun 1910. Sama kayak pabrik di kantor. Tugu ini juga dibangun menggunakan semen padang #eh #bukaniklan. Yang rusak memang bukanlah tugunya (jangan sampe deh). Tapi huruf TA dan G sudah mengenaskan.

sumber foto: pribadi

4.    Monumen Gempa
Tenang, papan nama di Monumen Gempa masih bener kok. Mungkin karena posisinya yang tinggi dan nggak bisa dirah dengan tangan ataupun dipanjat. Tapi kebersihannya…ampun deh.

sampah oh sampah
Kadang suka heran... Segampang itukah papan nama yang terbuat dari besi bisa patah dan rusak? Sepertinya nggak deh. Maka anak-anak alay pun kerap disalahkan karena suka merusak, buang sampah sembarangan, nggak mau dibilangin, dan ga patuh aturan. Aku sebagai anak muda yang pernah alay pun merasa malu sebenernya. Kayaknya aku dulu nggak gitu deh. Hebatnya, generasi alay ini nggak hanya yang muda, tapi juga ada bapak-bapak dan ibuk-ibuk tertangkap mata dan kamera menjadi pihak yang justru tidak menjaga fasum yang ada. Apa mungkin mereka ga bisa move-on ke siklus hidup berikutnya kali ya? Plis deh, apa nggak cukup cari bahu buat bersandar sampe butuh papan nama buat bersandar pas foto-foto?

Padahal kita dulu sering mengeluh ke pemerintah. Yang dibilang kurang perhatianlah dengan potensi wisata Kota Padang, kurang peduli dengan anak muda lah, atau nggak mendukung kreatifitas masyarakatnya. Nah, kayaknya sekarang pemerintah mulai belajar lo. Apa salahnya kita membantu dengan tidak merusak apa yang sudah dibangun. Pemerintah pasti senang, dengan semakin banyak foto-foto kece kota Padang atau daerah manapun di Sumatra Barat yang diupload di media sosial, maka nama Sumbar jadi semakin oke kan? Lah, kalau untuk berfoto aja masi susah diatur, gimana yang lain?

Jangan berharap deh punya pemimpin seperti Kang Emil yang udah bikin ini itu di Bandung sana kalau dari fasilitas yang kecil kayak gini di Padang aja kita nggak bisa menjaga.   

Ini baru tentang papan nama, belum lagi fasilitas lain.

Ini baru tentang Padang, apalagi kalau bicara Sumatra Barat.

Yah, begitulah. Jalan-jalan sore yang menginspirasi munculnya postingan ini. Beberapa kali postingan aku bercerita tentang indahnya Sumatra Barat sayangnya mesti ternodai dengan kenyataan yang ada. Sedih. 

Mulai sekarang, kita belajar menjaga fasilitas publik, yuk? 

May 20, 2014

Yang Muda Yang Milih, Yang Muda Yang Bangkit.

2komentar
Sudah bulan Mei. Tepatnya udah tanggal 20.
Mudah-mudahan masih banyak yang inget kalau hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional.

Atau mestikah aku ber-su’udzan; jangan-jangan nggak banyak lagi pemuda yang inget tentang hari bersejarah ini. Padahal cuma buat inget aja sih. Belom lagi kalau diminta inget kronologis sejarahnya, memaknai perjuangannya, apalagi mengambil hikmah dari peristiwa itu. Padahal lagi, kita nggak disuruh buat berjuang kayak mereka dulu. Kita mah udah enak. Udah nggak perlu perang, angkat senjata, atau bikin kelompok diskusi diem-diem kayak orang yang pacaran tapi backstreet.

Nggak kayak kita, pemuda di masa itu mesti berjuang untuk memajukan pendidikan. Masa itu lah yang menjadi episode sejarah munculnya kaum terpelajar. Bisa dibilang, berkat mereka kita bisa sekolah, berkumpul, berdiskusi, mencari informasi dengan leluasa sepeti sekarang.

Ya udah sih, past is the past. Yang lalu biarkan berlalu kata orang-orang yang udah move on.
Let’s talk about now.

Dengan tetap tidak melupakan sejarah, bahwa Hari Kebangkitan adalah momen dimana para pemuda pada saat itu adalah generasi pemula dalam memunculkan semangat nasionalisme dan generasi terpelajar, mari kita sedikit menatap masa depan. *cieee*.
Jika kita berdiri di titik 20 Mei 1908, kita saat ini adalah masa depan yang mungkin ingin dilihat para pemuda yang berjuang saat itu. Mungkin kita adalah hasil dari kepedulian mereka dalam membangkitkan pentingnya pendidikan dan semangat nasionalisme. That’s it. Peduli.

Apakah kita, sebagai pemuda masa sekarang, masih punya rasa peduli?
Kita ambil contoh kecil aja deh; Pemilu 2014.
Nope! Kita nggak akan ngobrol tentang siapa menjadi apa di daerah mana.

Sebagai pemuda, ternyata kita menjadi penyumbang yang memiliki persentase cukup besar dalam mempengaruhi jalannya Pemilu. Why? Berdasarkan data dari antara.net.id jumlah pemilih terdaftar terdaftar untuk pemilu tahun 2014 adalah sejumlah 186.612.255 orang dimana 20-30% nya adalah Pemilih Pemula. Pemilih Pemula ini terdiri dari mahasiswa dan siswa SMA yang menggunakan hak pilihnya pertama kali di trahun 2014.  Masih dari sumber yang sama,katanya persentase segitu mencerminkan sekitar 40 juta lebih jumlah suara. Suara segitu banyak bakal berpengaruh donk ya buat kemenangan seseorang atau partai tertentu. Sedangkan menurut info dari rumahpemilu.org, tingkat pertisipasi pemilih terus menurun. Begini, di tahun 1999 ada 93%. Berikutnya di 2004menjadi 84% dan berlanjut di 2009 sebesar 71%.

Bayangkan kalau semuanya kompak buat nggak peduli, terus  barengan nggak ikutan berpartisiapsi dalam pemilu alias golput. Sayang sekali saudara-saudara :( 

Masih berdasarkan data yang ada ternyata jumlah golput dalam pemilu legislatif terus meningkat. Data terakhir tahun 2009, jumlah golput mencapai 39,22%. Apakah yang golput ini berasal dari pemilih pemula, pemilih muda, atau siapa? Aku nggak tau pasti. Tapi paling tidak, dengan gambaran demografis yang menunjukkan jumlah pemuda Indonesia yang tinggi, besar kemungkinan memang kitalah penyebabnya.

Lantas, apa yang bikin kita, baik itu pemilih pemula ataupun pemilih muda, memilih untuk tidak memilih?
Mungkinkah karena banyak yang nggak tau caranya?
Helllooo....hari gini? Ada yang namanya internet buat cari tau.

Masih dari data rumahpemilu.org yang katanya mengutip dari factbrowser.com, Pemgguna Internet di Indonesia tahun 2013 mencapai 72,7 juta jiwa, yang kalau di breakdown lagi berdasarkan usia, 43% nya berumur 18-24 tahun. See? Seumuran dengan pemilih pemula kan?

Atau mungkinkah karena sosialisasi dari pihak yang berkepentingan seperti KPU, lingkungan sekolah/kampus, LSM, komunitas, social media, atau siapapun masih belum secara efektif menyampaikan informasi mengenai hal-hal teknis terkait pemilu? Atau mestikah kita kaji lebih rinci tentang seberapa efektif penyuluhan dan sosialisasi yang telah dilakukan?

Kalau itu, nanti deh ya. Di postingan berikunya aja kali. Kalau disini kepanjangan *kemudian dikeplak*

Yang jelas, hari ini informasi udah menyebar dengan mudahnya di internet. Bahkan sudah ada kelompok-kelompok sosial, ataupun komunitas-komunitas yang dengan sukarela membagi informasi kepada masyarakat. Seperti dalam waktu dekat, bakal ada acara Pekan Informasi Nasional. Sebuah acara yang dikemas untuk meningkatkan pengetahuan dan pemberdayaan masyarakat terhdap penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.

For a god sake, jangan bilang pada nggak tau tentang acara itu?!

Sudah..sudah..beneran kepanjangan jadinya.
Yang jelas, kita masih berdiri di masa sekarang dan sedang menatap masa depan.

Masih ada satu lagi rangkaian acara pesta demokrasi yang akan kita lalui. Masih banyak informasi yang bisa kita kumpulkan untuk ikut andil menuju Indonesia yang (mudah-mudahan) lebih baik.

Apakah kita masih mau menyia-nyiakan hak pilih kita? Atau justru dengan bangga menunjukkan bahwa kita, pemuda, PEDULI!  

July 21, 2013

Yang Baru (Harusnya) Bikin Semangat Baru

2komentar
Idealnya, semangat baru bisa dimunculkan lewat suasana yang baru.
Bisa interior design kamar yang baru, teman baru, dunia baru, komunitas baru, hobi baru, baju baru, bahkan sekedar hal kecil seperti tampilan blog baru. Keinginan yang sudah lama baru sebatas niat akhirnya direalisasikan juga. Dikerjain dari selesai tarawih sampe sahur, diem-diem di kamar biar nggak ketahuan begadang, nahan ngantuk karena koneksi yang anti lelet itu ternyata lumayan menguji kesabaran. Ya sih, tumben mau!
Perubahan sesimpel itu ternyata memang memberikan dampak yang ‘lumayan’. Kenapa cuma lumayan? Karena dari sejak tampilannya diganti, jadi semangat ngerjain beberapa tulisan, nuangin ide, dan nyelesaiin baca buku biar bisa langsung direview. Meski sedikit ternoda dengan ketakutan akan ‘angek-angek cik ayam’ alias semangatnya cuma pas di awal aja.
I must confess, kalo lagi males, nggak niat, dan sejenisnya, pasti bakal nyari-nyari excuse alias alasan buat nggak ngerjain sesuatu. Nyalahin kecepatan koneksi lah, capek, nggak ada ide, nggak sempat, dll, dsb, dsj. 
Padahal kondisi bakal bisa berbalik kalau memang lagi pengen banget. Tuh buktinya pas ganti template blog.
Makanya kadang-kadang buat menumbuhkan semangat kita sengaja memunculkan kondisi-kondisi baru di sekitar. Confess it. Teorinya, kita selalu tahu gimana caranya bikin hati dan fikiran jadi lebih fresh. Kita selalu ganti susunan kamar dengan harapan biar lebih rapi dan semakin rajin beresin kamar. Atau kita sering menyengajakan (atau bahkan tidak)  jalan-jalan.Kemana aja, baik yang punya tujuan tertentu atau sekedar ngider-ngider aja. Harapannya supaya otak bisa lebih segar.
Itu baru hal kecil, sih.
Is there something bigger? Absolutely.
For me, Status baru.
Setelah lulus ujian komprehensif  11 Maret lalu dan seremonial perpindahan kuncir toga 1 Juni, status mahasiswa resmi lepas dari pundak. Mau tidak mau aku memasuki sebuah dunia baru. Kata orang namanya Dunia Nyata.
Maka, akupun menyandang status baru; jobless jobseeker. Iya, sampai saat ini, masih dengan semangat baru. Demi orang tua, adek-adek, dan aku sendiri pastinya. Ah, tentang yang ini dibahas di postingan selanjutnya saja ya (udah beda tema soalnya J).
Back to topic. Berarti pada dasarnya emang kita bisa memunculkan semangat baru dengan mengkondisikan diri pada hal-hal baru. Memang di point ini, keberanian kita untuk memulai hal baru bisa saja dipertanyakan. Sanggupkah kita melangkah dari zona nyaman untuk mencari dan menemukan apapun yang mungkin selama ini belum pernah kita temui? Atau justru kita enggan menghadapi hal tak terduga jika saja kita melangkah keluar dari tepat kita berpijak sekarang? Nggak bosankah?    

Emang sih ada juga dari yang ‘baru’ itu nggak bikin semangat.
Eng ing eng......... Judul Baru.
*pernah jadi korban soalnya* #IfYouKnowWhatIMean
Lantas, kalau pacar baru?
Err...itu..hmm...have no idea.
#eaaa  #gagalmoveon.

Ok, Sekian dan terima pitih.  

April 30, 2013

Society's Cruel, Isn't It?

5komentar

Society’s cruel. People judge other people. Brave enough to stand tall by our decisions. - @lalapurwono.

I don’t know how true this statement till I force to face certain condition on reality. Yes, people cruel. They assume. They judge. They tell it to other.
Karena berasumsi, memvonis dan menghakimi sudah menjadi hobi yang menyenangkan. Apapun yang dilakukan nggak pernah lepas dari komentar. Perbuatan baik saja bisa jadi buruk di mata orang lain. Apalagi perbuatan buruk. Bahkan tidak berbuat pun komentar tetap akan ada. Apalagi atas langkah yang kita ambil yang tanpa bisa kita sangkal akan terus bersinggungan dengan orang lain. Meskipun mereka tidak tahu pasti apa yang terjadi.
In my own life, bukankah normal jika aku tidak menginginkan menjadi orang yang dibenci? Melakukan hal-hal utuk membangun hidupku tanpa menimbulkan masalah bagi orang lain? Karena aku tau ketika aku berbuat, baik atau benar, akan ada komentar yang mengiringinya. Dan pada titik ini, komentar yang datang semakin banyak. Even they don’t know what really happen is. Tiba-tiba semua komentar, asumsi, dan vonis menambah kerikil dalam langkah hidupku.
Dan itu tidak mudah.
Perjalanan hidupku sudah cukup rumit.   
Dan aku sama sekali tidak berniat untuk menambah kerumitan itu. apalagi membuat daftar orang-orang yang kan menambah sulit jalan itu. not at all!
Bukan cita-citaku untuk menjadi musuh, atau menciptakan musuh.
Aku hanya ingin menjalani hidup dan berbuat untuk hidup.
Sayangnya entah kenapa, mereka masih saja bergunjing. Mereka masih menyebar gosip. Mereka masih mengeluarkan kata-kata yang membuat hatiku panas. Juga telinga dan mataku.
Dan ketika aku mengetik ini, ada sebuah kicauan dari @ndorokakung:
People will always tell you what you did wrong, but will hesitate to compliment you for what you did right. [Ronald Oliver]
Then what? Surely, aku tidak bisa memaksa orang lain untuk mencintai dan menyenangiku. I have no rights for that. Mereka pun punya hak untuk berkomentar, berasumsi, dan memvonis. Tapi aku juga punya hak untuk tetap berbuat dan menjalani hidupku. Haha.
Almost forget one thing. In fact, Aku memfasilitasi komentar itu datang. Buktinya, ada kolom ‘komentar’ atas tulisan ini setelah dipost. See? J

#Selfnote
30.04.2013

April 28, 2013

Hari Ini Aku Adalah Seorang Anak

2komentar
Hari ini aku adalah seorang anak
Belum pernah menjadi orang tua, jadi tidak tahu bagaimana rasanya menjadi itu.
Seringnya aku tidak mengerti dengan jalan pikiran mereka. Apalagi keputusan-keputusannya terhadap hidupku. Kalau aku bongkar lagi diary-diary yang sudah kutulis sejak SD, memang kebanyakan bercerita tentang perbedaan pendapat,kekesalan dan kemarahan yang tersimpan, perlawanan diam-diam, atau pertanyaan-pertanyaan tak terjawab. Syukurlah di titik ini aku bisa mendapatkan pemahaman (atau pemakluman?). Meskipun begitu, yang tidak kupahami sampai sekarang adalah bagaimana sinkronisasi impianku dengan harapan mereka. Surely, ini berpengaruh terhadap langkah-langkah yang mesti kuambil dalam hidup. Konsekuensinya, pemahaman mesti diberikan tanpa ada adu argument. Well, I don’t wanna be a betrayal either!
Memang nggak jarang muncul pemikiran kalau orang tua tidak sayang, tidak mengerti keinginan dan kebutuhan, cenderung memaksakan kehendak, named it. Tapi somewhere in my heart have no doubt about my parent’s love. The greatest love in the world.
Well, tidak ada orang tua yang sempurna dan jelas kita tidak bisa memilih orang tua.
Tapi ternyata, inilah pengakuan para orang tua:
Hampir semua orang tua ingin menjadi orang tua terbaik bagi anak-anaknya. Kita saja yang tidak tahu kita menangis malam-malam, menyesal entah karena kekurangan mereka atau karena kesalahan mereka lantas berjanji esok hari terus berusaha menjadi orang tua yang baik.

#selfnote
12.04.2013

April 18, 2013

Tentang Pilihan dan Memilih

2komentar
Memilih.
Mau tidak mau, suka atau tidak kita akan selalu memilih. Mau makan apa, mau pakai baju apa, mau kemana, mau kuliah dimana, mau kerja dimana, dst, dst.
Manusia  tak jarang yang merasa kebingungan ketika dihadapkan dengan pilihan. Pilihannya banyak, bingung. Pilihannya sedikit juga bingung. Ga ada pilihan? Ya memilih juga. . Pilihannya akan berubah menjadi memilih atau tidak memilih. Nah, saya mulai bingung.
Semakin banyak pilihan justru semakin manusia merasa bingung. Bingung gegara berbagai pertimbangan: resiko, dampak, kepentingan, kecenderungan. Internal atau eksternal.
Kalaupun pilihan itu cuma dua toh ternyata tidak lantas kemudian memudahkan si pemilih. Kalau tidak A ya B. Efek ketika memilih satu diantara mereka semakin besar untuk berbeda. Perubahan-perubahan yang mungkin akan dibawa dari pilihan tersebut justru membuat pemilih semakin membutuhkan waktu lama, kematangan berpikir, dan kesiapan akan konsekuensi setelahnya. Nggak jarang juga yang pada akhirnya memilih untuk mengambil pilihan secara gambling.
There are some well-known statements about choice:
I don’t have any choice,
Aku ga punya pilihan,
Aku bisa apa,
dsj, dsj, dsj
Tetap saja. Akui saja kalau sebenarnya kita punya pilihan: memilih atau tidak.
Terlepas dari segala konsekuensinya. Yang membedakan adalah dorongan apa yang membuat kita memilih. Keterpaksaan kah? Atau keihklasan? Mungkin itulah yang menjadi pilihan ketika diharuskan untuk mengambil pilihan yang dipilih orang lain. Yes, we have many things that we can’t control. Maka, posisi pilihan pun bergeser. Ikhlas atau tidak. Memilih untuk mengumbar rasa kesal, ngomel, ngeluh, ATAU legowo, nrimo, dan menyimpan rasa tidak enak dalam hati.
Yah, karena kita hidup tidak sendiri. Orang lain yang berpengaruh dalam hidup terkadang juga menjadi pertimbangan besar saat kita dihadapkan dengan situasi memilih. Apalagi kalau pilihan itu menyangkut orang tua, pasangan hidup, atasan atau mungkin kemaslahatan hidup orang banyak. Terkadang pilihan juga terkendala dengan izin atau restu. Apakah kemudian pilihan kita direstui atau tidak. Kalau tidak maka pilihan berikutnya: patuh atau berontak. Nah,ini akan menjadi bahasan baru yang bakal lebih panjang lagi kalau dijelaskan disini.
Maka berbahagialah orang-orang yang memiliki hak ini secara asasi Benar-benar memilih sendiri, menerima masukan dan saran orang lalu memilih sendiri langkah-langkah dalam hidupnya.  Tidak mengambil pilihan dengan paksaan atau bahkan dipilihkan orang lain. Bagi yang tidak? Sejatinya itu menjadi moment bagi manusia untuk belajar berkompromi (bahkan kalu bisa sih berdamai) dengan keadaan meski pahit

#selfnote.
06.04.2013     

November 16, 2012

Sebenarnya Apakah Ada Batas Sabar?

6komentar

Nah, ada nggak?
Selama belajar dalam sebuah proses yang bernama kehidupan ini, bagi aku sabar adalah salah satu mata pelajaran hidup yang berat. Setelah proses yang berulang, aku menemukan sebuah kesimpulan sendiri tentang sabar:
Sejatinya, kesabaran itu tidak ada batasan. Hanya kemampuan manusia yang terbatas.
Bertahun-tahun kesimpulan ini melekat dalam diri, sehingga ini kerap menjadi sebuah pembenaran bahwa manusia punya hak untuk marah, menangis, atau melampiaskan emosi. Tapi hidup terus berjalan. Proses belajar terus berlanjut. Aku menyadari bahwa kesimpulan tadi belumlah kesimpulan akhir. Ternyata proses ini mengajarkan sesuatu yang kemudian sedikit demi sedikit merasuki pemikiran tadi:
Bahwa, sejatinya kesabaran itu tidak berbatas. Hanya kemampuan manusia yang terbatas. Tapi manusia juga dituntut untuk senantiasa ‘break the limit’ alias melakukan gebrakan atau terobosan dalam dirinya agar batasan-batasan itu tidak lagi menghambat potensi yang ada, apalagi mengkerdilkan kemampuan kita sebagai manusia.
I must confess: I’m still learning.
Yap, aku masih belajar. Selalu belajar. Belajar dalam level yang beda setiap saat. Iyalah, syarat belajar itu kan harus ada perubahan. Juga harus ada ujiannya. Pada ujian itulah kita akan melihat apakah kita sudah ‘layak’ buat ‘naik kelas’. Toh, orang besar itu melalui ujian yang besar juga.
And so am I.  
kadang berhasil, kadang kepeleset dan jatuh lagi. 
Akan selalu ada moment dimana kesabaran kita diuji. Dengan level yang berbeda. karena proses tidak akan berhenti sampai akhir hayat, maka ujian juga tidak akan berhenti. Mengutip kata seorang abang:
Pribadi yang matang adalah pribadi yang tau dengan apa ia mesti bertahan. Kadang diri kita perlu diuji, agar kita ngerti dan semakin kenal dengan kelebihan dan kekurangan diri.
Juga kata penulis Tere Liye:
Hidup tidak seperti novel, yang kalau halaman sekarangterasa sesak, sedih, menyakitkan, penuh masalah, maka dengan bersabar membaca 10, 20 halaman berikutnya semua selesai. Berubah menjadi kebahagiaan. Apalagi seperti film yang cukup beberapa menit jadi happy ending.Di kehidupan nyata, kita bahkan perlu 10, 20 bulan, bahkan tahun, harus BERSABAR agar semua selesai, berubah menjadi membahagiakan. Karena itu, menjadi sewasa oleh kehidupan, memiliki pemahaman baik karena proses kehidupan akan membuat seseorang lebih kuat.
Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat, buat aku, juga buat siapapun yang sedang mengikuti ujian kesabaran. Tulisan ini bukanlah kesimpulan akhir, karena jalan hidup masih panjang. 


22:32 – Balkon Lantai 2
*tulisan ini tercipta gara-gara status fb seorang adik.
 

tentangku © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates