Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

April 30, 2023

[Review] Berani Bahagia - Ichiro Kishimi & Fumitake Koga

0komentar

 

Judul: Berani Bahagia

Penulis: Ichiro Kishimi, Fumitake Koga

Halaman: 340


Nggak nyangka bakalan seseru ini. Udah lama banget kayaknya nggak baca buku filsafat. Dikemas dalam bentuk percakapan seorang pemuda dengan filsuf mengenai penerapan Teori Adler dalam kehidupan sehari-hari. Beranjak dari pembahasan pendidikan dan pengasuhan (yang ternyata cocok dengan teori dan kelas parenting jaman now) hingga berakhir dengan kesimpulan tentang rasa hormat dan cinta. 

Somehow menurutku baca dulu buku pertama sih ya, biar kenal dulu dengan teori Adler. Akupun akhirnya googling duku biar paham sama konsepnya Adlerian. Buku kedua ini, katanya, lebih banyak membahas hal-hal nyata dan praktis alih-alih hal abstrak dan teori,juga bukan tentang idealisme tapi tentang realitas. Jadi pengan baca buku pertamanya. 

March 13, 2023

[review] Dunia Kafka - Haruki Murakami

0komentar

 

Judul : Dunia Kafka
Judul Asli: Kafka On The Shore
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit : Pustaka Alvabet
Halaman : 608 halaman

Sebuah usaha yang berat untuk menikmati novel ini sejak awal cerita. Ada perasaan: Duh, kapan selesainya? Namun perasaan itu ternyata berubah ketika menemukan bagian menarik setelah 250-an halaman. Memang ciri khas Murakami yang detail dalam mendeskripsikan sesuatu. Namun, disitu pula kekuatan Murakami yang selalu berhasil membuatku bertahan sampai halaman terakhir.
 
Berkisah tentang Kafka Tamura, remaja yang kabur dari rumah dan dari ayahnya, serta Nakata, seorang kakek yang memiliki keahlian untuk berbicara dengan kucing. Masing-masing tokoh memiliki alur yang berbeda dalam dunia yang berbeda pula. Keduanya tidak saling bertemu bahkan sampai di akhir cerita tapi ada satu titik dimana dunia mereka terhubung.
 
Aku suka endingnya.

Meskipun begitu, bagi yang belum pernah membaca Murakami sebelumnya sangat disarankan untuk tidak menjadikan Dunia Kafka (Kafka On The Shore) sebagai perkenalan. Nanti kaget.
 
Keren sih. Dari semua buku Murakami yang sudah aku baca sebelumnya (1Q84 dan Norwegian Wood), Dunia Kafka lebih terasa magical realism-nya. Lebih sureal deh pokoknya.

Kita masing-masing telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi kita. Kehilangan berbagai kesempatan, berbagai kemungkinan, kehilangan perasaan yang tidak akan kembali lagi. Itu merupakan bagian dari apa artinya hidup. Tapi di dalam kepala kita -paling tidak di situlah kita membayangkannya- di sana ada sebuah ruang kecil di mana kita menyimpan kenang-kenangan tersebut. Ruangan seperti rak-rak di perpustakaan ini. Dan untuk memahami hasil-hasil karya hati kita, kita harus membuat kartu-kartu referensi yang baru. Sesekali kita harus membersihkan semuanta, membiarkan udara segar masuk, mengganti air dalan vas bunga. Dengan kata lain, kau akan tinggal selamanya dalam perpustakaan pribadimu. ~ Hal. 592

January 29, 2023

[review] Aku, Meps, dan Beps - Soca Sobhita & Reda Gaudiamo

0komentar

  

Judul: Aku, Meps, dan Beps
Penulis: Soca Sobhita & Reda Gaudiamo
Penerbit: Post Press
Jumlah Halaman: 89 halaman

Sebuah bacaan yang menyegarkan otak dan menyejukkan hati. Dituturkan dari sudut pandang anak-anak, justru membuat pembaca menyadari bahwa hal-hal sederhana yang menjadi perhatian bagi anak-anak terkadang luput dari pandangan kita.
Bagaimana Soca memperhatikan keseharian Meps dan Beps dan berinteraksi dalam keluarganya, rasanya benar-benar relate 'seperti kita waktu masih kecil'. 

Bisa dibaca siapa saja. Kurang dari 100 halaman, tentu saja bisa diselesaikan dalam sekali duduk.

January 08, 2023

[review] Pembunuhan di Rumah Miring - Soji Shimada

0komentar

  

Judul: Pembunuhan Di Rumah Miring
Judul Asli : Murder In The Crooked House
Penulis: Soji Shimada
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 400 halaman

Bukan Soji Shimada kalau tidak menciptakan sesuatu yang rumit.
Buatku yang punya keterbatasan kemampuan dalam hubungan ruang, aku kesulitan dalam memvisualisasikan latar tempat. Awalnya kupikir akan seperti cerita And Then There Were None- Agatha Christie, tapi ternyata pembunuhannya ga sebanyak di novel Agatha Christe. Seperti biasa, penulis benar-benar mengajak pembaca menebak siapa pelakunya dalam satu bagian khusus. Lucky me, kali ini aku berhasil who-done-it meskipun how-done-it nya tidak tertebak.

 
Ada 2 hal yang kusuka dari 2 karangan Soji Shimada yang sudah kubaca. Pertama, sama seperti novel sebelumnya-Tokyo Zodiac Murder- selalu ada penjelasan yang menimbulkan perasaan lega dan tuntas setelah membacanya. Kedua, motif selalu menjadi fokus dalam proses pemecahan masalah.

September 21, 2017

[review] 1Q84 Jilid 3 - Haruki Murakami

5komentar

Judul: 1Q84 (Jilid 3)
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Halaman: 562

Pengetahuan besar menuntut tanggung jawab besar – hal. 19

Here it comes, jilid 3!
Dimana akhirmya, dalam latar waktu Oktober-Desember, pertanyaaan-pertanyaan tentang kelompok Sakigake, hubungan Fuka Eri dengan pimpinan Sakigake, apa itu kepompong udara (which is still so absurd to me), dan kelanjutan hubungan Tengo dengan Aomame terungkap. Di jilid 3, semua mengalir tanpa kejutan berarti. Seolah hanya ingin menyelesaikan apa yang telah dimulai di 1Q84 jilid 2. Beberapa bagian cerita pun sebenarnya jadi mudah ketebak. Sayangnya lagi, cerita tentang Fuka Eri dan kelanjutan tentang Sakigake malah hilang begitu saja.

Meskipun buku ini lebih tebal daripada jilid 1 dan jilid 2, tapi ceritanya tidak serumit dua buku sebelumnya. Bahkan menurut aku sih, kurang kerasa greget apalagi di bagian akhir. It seems so,.. ‘yah, gini aja?’, meskipun aku suka karena happy ending. Begitulah, finally buku yang dibeli 3 tahun lalu selesai dibaca hari ini. #eh

Dimana ada harapan disitu ada cobaan – hal. 37
Kau harus melalui cobaan berat. Saat berhasil melewatinya, kau akan melihat segala sesuatu sebagaimana mestinya. – hal 244
Setiap orang pasti punya pola berpikir dan pola bertindak. Dan di mana ada pola di situ ada kelemahan. – hal 309
Tiap-tiap rasa sakit memiliki ciri khas. Kalau boleh menyadur ungkapan terkenal Tolstoy, semua kesenangan itu serupa, tapi tiap rasa sakit menyakitkan dengan cara masing-masing. – hal 461

September 03, 2017

[review] 1Q84 Jilid 2 - Haruki Murakami

1 komentar

Judul: 1Q84 (Jilid 2)
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Halaman: 452


 Manusia belajar mencintai dirinya sendiri dengan mencintai dan dicintai orang lain

Sedikit demi sedikit pertanyaan pada 1Q84 Jilid 1 mulai terjawab. Hubungan antara dua tokoh utama, Tengo dan Aomame, juga mulai terlihat benang merahnya. Muncul beberapa tokoh baru dalam jilid kedua ini Tokoh-tokoh baru ini selain menjadi jembatan antara tokoh yang lain, juga menjadi bagian yang justru menimbulkan penasaran-penasaran baru mengenai kisah yang diceritakan sebelumnya. Alur yang tidak selambat buku pertama, sepertinya membuat aku lebih ‘bertahan’ untuk membaca dalm waktu yang cukup singkat. Nggak kayak buku pertama deh pokoknya. Malah penasaran pengen segera ngelanjutin buku ketiga.  

Konflik yang dimunculkan dalam jilid kedua ini juga beragam. Fuka Eri yang menghilang disaat novel Kepompong Udara masih menduduki novel paling laris, ‘teman wanita’ Tengo yang menghilang begitu saja, hingga sosok Pemimpin yang mulai diperlihatkan. Juga mulai dijelaskan maksud dari dua rembulan yang menggantung di langit. Orang Kecil dan Kepompong Udara tidak luput diceritakan dari mana asal-usulnya. Dari situ, baru deh terasa bagaimana surealisnya cerita 1Q84. Meskipun di bagian Orang Kecil, aku nggak terlalu paham maksudnya.

Menjelang akhir cerita, Tengo dan Aomame ‘dipertemukan’ dengan cara yang bikin menggigit hati. Boleh lah, dibilang Ala ala drama korea eh jepang.  

Penasaran deh sama jilid ketiganya -_-“
 


August 13, 2017

[review] 1Q84 Jilid 1 - Haruki Murakami

1 komentar

Judul: 1Q84 (Jilid 1)
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Halaman: 516

Kekerasan tidak selalu bersifat fisik, luka tidak selalu menegeluarkan darah – hal. 403

Setelah berkenalan dengan Haruki Murakami lewat Norwegian Wood, aku memberanikan diri memulai membaca buku pertama dari trilogi 1Q84 yang kata banyak orang membingungkan. Kesan itu tidak sepenuhnya salah. Tapi tidak sesulit itu juga. Namanya juga Murakami, yang terkenal dengan tema-tema surealis.

1Q84 sebenarnya berarti 1984, tahun dimana kisah ini terjadi. Q, berarti Question Mark, dimana tokoh utama merasakan dunia pada tahun 1984 penuh dengan pertanyaan dan kejanggalan. Buku ini pun mengungkit 1984 karya George Orwell, dimana sedikit menyinggung perbandingan Bung Besar dan Orang Kecil.

Dua tokoh utama, Tengo dan Aomame, yang sama-sama menyadari bahwa ada 2 bulan yang menggantung di langit, menjadi bagian yang terpisah. Alur lambat yang disajikan di bagian permulaan cerita memberikan kesan membosankan. Bahkan sampai akhir cerita belum ditemukan hubungan antara dua tokoh ini. sepertinya Murakami tidak ingin pembaca terlalu cepat memahaminya. Tentang Tengo dan Aomame selalu dikisahkan terpisah, bab demi bab.

Meskipun begitu, alurnya tidak selambat yang aku kira. Setelah sepertiga bagian, aku mulai penasaran dengan kehidupan masing-masing tokoh utama. Murakami pun menjelaskan semuanya dengan detail. Seolah-olah setiap detail akan berguna sampai cerita ini selesai. Meskipun begitu, narasi yang bagus membuat aku cukup mengerti tentang gagasan dari buku ini. Memang, pertanyaan demi pertanyaan dibiarkan menggantung sampai halaman terkahir. Tentang Tengo dengan Fuka-Eri, tentang Aomame dengan Ayumi, tentang kelompok Sakigake, tentang dua bulan yang menggantung di langit.  

February 26, 2017

[review] Asiyah, Sang Mawar Gurun Fir'aun - Sibel Eraslan

0komentar

Tak ada satupun anak yang tak memiliki hal yang besar. Setiap bayi yang terlahir ke dunia merupakan harapan baru bagi kehidupan. – hal. 360

Tidak banyak buku yang bercerita tentang Asiyah. Salah satu yang berani memunculkan kisah istri Fir’aun, yang juga ibu yang membesarkan Nabi Musa a.s adalah penulis perempuan asal Turki; Sibel Eraslan. Meskipun dalam bentuk novel, yang tentunya membuat pembaca berfikir ulang mana unsur fiksi dan mana yang real, cerita ini ditulis berdasarkan riset yang mendalam. Contoh potongan cerita yang bikin agak kaget karena baru tau setelah baca buku ini adalah, ternyata sosok Raja Fir’aun suami Asiyah yang pernah memerintahkan membunuh semua bayi laki-laki, dengan Fir’aun yang ditenggelamkan ketika melawan Nabi Musa a.s adalah dua orang yang berbeda. Fir’aun pertama adalah Ra, sedangkan Fir’aun berikutnya menggantikan Ra yang telah wafat adalah Pangeran Menmatre. Hanya saja, pengakuan raja sebagai ‘tuhan’ memang terjadi di masa pemerintahan Raja Ra, yang kemudian bergelar Fir’aun.

Merupakan buku yang cukup ‘mengenyangkan’ untuk dikunyah. Gaya bahasanya yang beda dari buku-buku yang biasa aku baca di satu sisi bikin seru. Mungkin efek hasil terjemahan. Oya, ada beberapa typo yang aku temuin, tapi ya It doesn’t matter, sih. Toh, jalan ceritanya bias membuat pikiran teralihkan kembali.

Bagian awal mungkin sedikit membosankan, apalagi karena aku nggak tau siapa tokoh yang dia ceritakan seperti Guru Apa dan dua pengawal setia Asiyah, Tahnem dan Sare. Mulai menuju akhir, baru deh bagaimana keteguhan hati seorang Asiyah diuji dalam mengakui keesaan Allah bener-bener terasa.     

Recommended buat yang suka kisah tentang perempuan. Jadi pengen baca semua serial wanita penghuni surga karangan Sibel Eraslan. Masih ada tentang Khadijah, Maryam, dan Fatimah. 

Yaa…mungkin nanti. Kalau berhasil mengurangi beberapa timbunan dulu. #sigh


Orang-orang yang tak bersalah pun, bisa merasa takut seperti orang yang bersalah. Semua orang punya rasa takut, tapi keberanian selalu berada di tempat yang setiap orang percaya, meskipun dalam ketakutan. – hal. 365

 

tentangku © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates