Showing posts with label Flash of Idea. Show all posts
Showing posts with label Flash of Idea. Show all posts

December 21, 2021

Sebuah Postingan Tentang 32 Tahun

1 komentar

 Rasa-rasanya setahun kedepan sedang tak ingin memikirkan pencapaian. Di titik ini, aku menyadari bahwa setiap hari adalah pencapaian. Karena ternyata, berhasil melewati hari tanpa marah, tanpa ancaman, tanpa memburu-burui 2 balita adalah sebuah pencapaian.

Rasa-rasanya setahun kedepan boleh juga kalau lebih membuka hati dan pikiran tentang pertemanan dan hubungan-hubungan yang ingin kita pertahankan.

Dan tentu, rasa-rasanya lebih baik menghargai perjalanan sendiri. 

July 05, 2021

Welcoming Myself Back

1 komentar

Hello...I’m back.

Almost 4 years… Hampir 4 TAHUN lho, blog ini dianggurin.

Seumur anak aku yang pertama, Hadzib, dan itu berarti sejak jadi orang tua udah ga sempat menulis lagi. Apakah ini menjadi salah satu bukti bahwa menjadi orang tua itu susah? Well, maybe. Hampir sebagian besar waktu dihabiskan untuk urusan pengasuhan, kerja kantor, dan domestik. Urusan personal alias mengurus diri sendiri seringnya dikesampingkan dulu.  Eits, tapi scrolling-scrolling instagram tetep dooonk. Wkwkwk…

Officilally I’m welcoming myself back.

Aku tidak berjanji bakalan rajin menulis sih. Tapi aku berjanji akan tetap menjadikan menulis di blog as one of my passion. One of things that I put in the box, somewhere on my mind in case I ever need it again someday.

Untuk merekam isi pikiran yang sering loncat-loncat.

Untuk menemani hari-hari nanti ketika anak-anak sudah sibuk dengan dunianya sendiri.

Kupikir, menulis bisa menjadi salah satu temanku lagi selain membaca.

Karena membaca dan menulis adalah jendela dunia.

Bismillah, komisaris BUMN. #eh

April 21, 2016

Hari Kartini dengan Segala Kehebohannya (2)

0komentar
Ini beberapa jawaban yang oke menurut aku.

Q: Menurut teman-teman kenapa setiap hari kartini adaaaa aja polemik, debat, dan dipermasalahkan. Terus, menurut teman-teman perlukah hal seperti itu terjadi?

A:

Emen:
Nggak perlu kalau semua berjiwa besar. Twitwar tahunan mah tanggal 21.

Mbak Dwi:
Karena ada tulisan-tulisannya yang dikumpulkan jadi buku. Makanya ayo nulis.

Iqbal:
Kenapa mesti Kartini?

Udarian:
Ndak cuma hari kartini kok. Tiap bulan juga ada kok yang jadi debat ndak penting. Agenda rutin. Debat kok ndak berkesudahan. Online pula. Diajak diskusi langsung ndak datang.
Kalau ada yang sampe bongkar sejarah bilang kartini begini begitu, ‘’thank you for that” aja, minimal mereka udah nambah pengetahuan kita. Huehehehe

Da Max:
Kita berada di zaman bully. Dimana setiap orang mengkritisi apa  saja yang kadang tak perlu dikritik.

Awin:
Daripada debatin ini itu mending bikin sesuatu yang menginspirasi banyak orang kayak Kartini, Siti Manggopoh, Dewi Sartika. Nggak usah yang berat-berat deh. Sekitar kita aja dulu.

Ipit:
Ada perlunya sih kak, hehe. Dalam konteks ‘agar kita bisa kritis’; tidak Cuma bisa menerima apa kata sejarah tapi juga menelusurinya. Baca-baca gitu kak.

Bg Diming:
Namanya juga tradisi kekinian. Bahas apa yang lagi trending topic. Coba kalau ada Hari Datuk Maringgih, mungkin akan jadi bahasan tiap tahunnya.

Ijek:
Bisa jadi itu tradisi, bisa jadi itusalah satu cara untuk memperingati.

Bg Roni:
Karena sejarah Kartini itu mengalami complexity dari berbagai sudut pandang. Sehingga ruang kontroversinya jadi besar.

Sania:
Keluarga Kartini adalah keluarga yang terpandang pada zaman itu. Mungkin karena itu Kartini lebih mudah di ekspos.

Trendy:
Mungkin karena Kartini berani melawan budaya jawa, berani melawan ‘kodrat’ wanita jawa pada zamannya.

Rifki:
Sebenarnya nggak perlu kak. Kartini hanya perwakilan saja. Sama halnya kita memandang Soekarno-Hatta sebagai presiden dan wakilnya.

Fajri Alfalah:
Nggak perlu, karena yang diributkan itu bukan nilai-nilainya kan? Malah cenderung ke symbol atau ‘kartini’nya. Kalau bicara siapa yang berhak mewakili semangat perempuan di Indonesia, secara subjektif, siapapun berhak.

-------batas-------


Sekian dan terima pitih.

Hari Kartini dengan Segala Kehebohannya

0komentar
meski nggak pake kebaya, kita tetep semangat kerja

21 April.

Kalau kamu di Indonesia, maka kamu mesti tau kalau hari ini diperingati sebagai Hari Kartini. Siapa Kartini, aku pikir kamu cukup baca buku sejarah, baca tulisan-tulisannya, googling juga boleh, tapi jangan jadikan itu sebagai dasar. Internet bisa memuat apa saja. Baik buruk. Benar bohong. Bahkan tulisan ini sebentar lagi juga akan ada di google, kalau kamu mencari dengan keyword yang tepat. Juga kalau kamu buka twitter, lalu melihat twitwar tentang Hari Kartini, atau postingan-postigan hasil copy-paste artikel orang, pengamat, ahli, siapapun itu di grup-grup Whatsapp, atau BBM tentang polemik ke-kartini-an yang ke-kini-an sampai dikaitkan dengan rekayasa sejarah, maka yakinlah kamu memang sedang berada di Indonesia.

Hampir setiap tahun. Sejak jejaring sosial online menjadi dunia yang mudah untuk kita jangkau dan kita masuki, apa saja bisa dibahas, dibagi, dikritisi. Tentang apa saja. Termasuk Hari Kartini.

Seperti pagi ini, ada teman yang nge-twit: udah ada yang twitwar bahas kartini bukan pahlawan kah?

Lucu, yes?

Iyalah lucu. Sampai pada hafal kalo tiap tahun, tiap momen, apa aja bakal jadi bahan buat adu pendapat, kritik sana sini, twitwar, dll. Jadi deh debat tak berkesudahan. Padahal belum tentu juga hal penting, Contohnya, kenapa mesti pake kebaya? -_-"

Aku nggak tau, apakah SK Presiden RI no. 108 tahun 1964 tentang penetapan R.A Kartini sebagai pahlawan nasional udah dicabut atau belum. Kalau memang belum pernah dicabut maka benarlah adanya R.A Kartini adalah pahlawan nasional Indonesia. Maka hal itu nggak perlu dipermasalahkan lagi.

Lalu kenapa mesti diperingati? Ada banyak jawaban. Dari yang paling baik, netral, sampe yang paling ekstrim. Tergantung kita mau memilih yang mana.

Pertanyaan yang sering muncul selanjutnya adalah; kenapa mesti sosok Kartini? Kenapa nggak pahlawan perempuan lainnya, seperti Cut Nyak Din, Rohana Kudus, Dewi Sartika, atau Martha Christina Tiahahu? Well, lagi-lagi akan ada banyak jawaban. Dan lagi-lagi, terserah mau memilih jawaban yang mana. 

Hanya saja yang mesti diingat adalah, tanggal 21 April merupakan hari lahir Kartini yang kemudian diperingati sebagai salah satu hari penting (atau hari besar?) tapi tidak dijadikan hari libur nasional. Namanya saja Hari Kartini. Kalau mau, mungkin kita bisa mengajukan proposal atau surat permintaan ke pemerintah untuk menjadikan tanggal 20 Desember sebagai Hari Rohana Kudus, atau 4 Desember sebagai Hari Dewi Sartika. Sekalian diajukan sebagai hari libur nasional juga bagus. Kalau disetujui, seluruh pegawai apalagi aku akan bersukur, karena bertambah satu hari libur. Hahaha. Mudah-mudahan aja pemerintah mau, kan yang penting usaha J  

Sepertinya dunia akan lebih indah kalau kita cukup mengambil nilai-nilai positif dari semangat Kartini. Bahwa pendidikan adalah penting, apalagi bagi perempuan. toh, Rohana Kudus juga bilang begitu. Kalau ada yang beda, kita jadikan sesuatu yang memperkaya diri saja. Kalau ada yang tidak sesuai, ya cuekin saja. Tidak ada salahnya toh? Dengan kita mengapresisasi satu hal alih-alih mendebatnya, wawasan kita bisa makin luas. 

Taken from @infosumbar, credit to @ajhojie

Kalau sebelumnya Hari Kartini sudah ‘terlanjur’ terkenal, boleh juga tuh kita jadikan hari lahir pahlawan wanita lainnya sebagai trending topic di jejaring sosial. Mana tau pemerintah tergerak hatinya, karena melihat rakyatnya bisa selalu ingat dan menghargai semangat pahlawan terdahulu.

Kemudian, stop comparing. Perempuan nggak suka dibanding-bandingkan. Tandanya kamu nggak terima aku apa adanya #loh. Emangnya enak dibanding-bandingin sama orang lain? Masing-masing pahlawan punya jalan hidup dan perjuangan yang berbeda. Siapapun bisa kita tiru semangatnya. Kalau kemudian diperingati secara khusus atau tidak, biarlah itu menjadi sesuatu hal lain yang mungkin bisa dibahas di ruang tersendiri pula.  

            Males aja sih, kalau jadi ribut gini. Membahas kartini adalah membahas kompleksitas. Semua unsur dari berbagai sudut pandang; budaya, suku, agama, politik, sosiologi, gender, daaaaan masih banyak lagi.

Berbagai perbedaan pendapat kita jadikan pengetahuan aja, yes? Buktinya ketika hari ini aku sengaja melemparkan pertanyaan iseng ke group whatsapp temen-temen blogger, organisasi, dan random ke beberapa orang jawabannya ya beragam.

Yah begitulah. Mau twitwar kayak gimana juga, paling cuma sehari ini aja kan. Besok udah nggak dibahas lagi. Terus lupa. Sampai 21 April tahun depan. Haks.


P.S: makasi buat teman-teman yang bersedia aku kasi pertanyaan. Jawaban teman-teman semua jadi inspirasi tulisan ini. 


March 07, 2016

Tentang Tere Liye, Sejarah, dan Hal Lainnya

5komentar
Indonesia itu merdeka, karena jasa-jasa tiada tara para pahlawan–yang sebagian besar diantara mereka adalah ulama-ulama besar, juga tokoh-tokoh agama lain. Orang-orang religius, beragama.
Apakah ada orang komunis, pemikir sosialis, aktivis HAM, pendukung liberal, yang pernah bertarung hidup mati melawan serdadu Belanda, Inggris atau Jepang? Silahkan cari.
Anak muda, bacalah sejarah bangsa ini dengan baik. Jangan terlalu terpesona dengan paham-paham luar, seolah itu keren sekali; sementara sejarah dan kearifan bangsa sendiri dilupakan.


Belakangan kita dihebohkan dengan insiden ‘status update’ dari pages Tere Liye, seorang novelis terkenal yang karyanya digemari dari berbagai kalangan. Status yang akhirnya sudah dihapus, meskipun masih beredar di sosial media lainnya. Status yang kemudian tidak hanya menjadi bahan olok-olok bagi sebagian orang, tapi juga sampai menjadi bahan perdebatan dan bahan bully. Bahkan di twitter sudah muncul hestek #SaveTereLiye beserta twitpictnya. Iya, aku masih sering main twitter dan bukan termasuk golongan anak-anak gaul path


Sebut saja Saut Situmorang. Siapa dia? Googling aja. Eh, well, to make it balance, let me explain a few things. Jadi dia adalah penulis, penyair, kurator sastra, dsb, silakan dibaca sendiri. Nah, di akun twitternya @AngrySipelebegu, Saut bener-bener bikin Tere Liye skak mat (bener nggak sih gini tulisannya?). Silakan kepo-in deh timelinenya.

Aku sendiri sebenarnya suka dengan novel- novel Tere Liye. Suka juga dengan beberapa quote dia yang kadang-kadang, menyentuh dan memotivasi. Apalagi kalo lagi baperan. Haks. #Tereliyenisme, begitu hesteknya di twitter.

Kalau tulisan ini dibikin untuk membela Tere Liye, terus terang tidak. Lantas kalau dibilang aku akan menyerang Tere Liye dengan tulisan biar terkesan lebih ‘terhormat’ dari sekedar ngomong doank, nggak juga sih. Aku mah apa atuh.

Aku bukan sejarawan.

Aku bukan sastrawan.

Aku hanya pembaca. Kalau lagi cerdas aku bisa dengan mudahnya menyerap isi, makna, hikmah dari apapun yang kubaca. Kadang bisa sampai menuliskannya juga, meski cuma di personal blog begini. Tapi aku membaca apapun. Ralat. Aku pernah berada di masa-masa mau membaca apapun. Aku pembaca Pram, juga Hamka. J.K Rowling dan N.H Dini, termasuk penulis perempuan favorit aku. Belum lagi Dari Penjara ke Penjara Jilid I, II, III – Tan Malaka, Capita Selecta-M. Natsir, atau beberapa jilid Sejarah Kecil (Petite Historie) Indonesia – Rosihan Anwar, juga boleh. Memang sekarang pilihanku lebih sering ke novel dan hal-hal fiktif lainnya. Well, lately, that’s my easiest escape from those serious things in this jokey world. And I think I deserve it.

Maka, ketika status Tere Liye yang bikin geger itu muncul, otomatis membuat kalangan sastrawan, sejarawan, juga netizen seperti aku nggak bisa menahan diri untuk tidak merespon.

Jadi gini, Om Tere Liye yang nama aslinya  Darwis adalah lulusan akuntansi UI. Memang profil dia nggak pernah dibeberkan secara gamblang –p.s: one thing that I like, actually–  entah apa motifnya menulis status yang debat-able banget.

Kenapa bisa gitu?

Salah tulis? Salah baca buku? Entahlah, yang jelas bukan salah akun.

Mungkin Om Tere Liye lupa kalau ada periodisasi  sejarah kemerdekaan Indonesia. Sebut saja mulai dari zaman ketika bermunculan kerajaan-kerajaan, sampai masa penjajahan. Seiring berakhirnya peperangan di beberapa daerah nusantara, kemudian ada yang namanya Politik Etis sehingga muncul tokoh-tokoh intelektual yang ditandai organisasi-organisasi kepemudaannya. Masa pergerakan nasional, masa pendudukan Jepang, sampai masa meraih dan mempertahankan kemerdekaan. Semuanya tidak lepas dari perjuangan untuk ‘bertarung hidup & mati’, secara fisik ataupun pemikiran. Ah, Terlalu panjang kalau harus dibahas di sini. Bukankah memahami peristiwa dan peran tokoh di dalam sejarah tidak semudah ketika membaca novel atau menonton movie? Temanku yang pernah kuliah di jurusan sejarah pernah bilang sih; sejarah Indonesia tidak hanya hitam dan putih, Begitu?

Well, paling tidak Om Tere Liye mengajarkan aku beberapa hal. Pertama, untuk tidak sembarangan bikin status update, apalagi kalau tentang ilmu yang kita sama sekali tidak mendalaminya. Makanya Om, aku yang juga lulusan akuntansi bisanya cuma baca buku, untuk kemudian berdiskusi dengan siapa saja. Discuss, not Debate, apalagi menjustifikasi. Kedua, untuk makin rajin membaca apa saja. 

Mana tau nih ada yang dari kalangan mahasiswa yang mau baca blog ini. Sedikit pesan sih *mulai keliatan tuanya* makanya, rajin-rajin baca deh. Kalau bisa diimbangi, baca buku berat sama buku ringan *apasih*. Kalau nggak bisa, ya nggak apa-apa, yang penting baca buku. Tumbuhin dulu minat bacanya. Nggak lucu kan, karena kejadian ini malah ketahuan kalau kita nggak tau siapa para pahlawan yang juga tokoh agama, juga kita nggak tau apakah memang benar tidak ada pemikir sosialis, komunis, aktivis HAM, yang ikutan melawan penjajah? Apalagi kalau ditanya tentang arti sosialis, kapitalis, liberalis, dan -is -is lainnya. Atau jangan-jangan justru kita nggak tau siapa itu Tere Liye, trus malah ikut-ikutan komentar.  -______-“

          As I told you. Tulisan ini tidak untuk menyerang ataupun membela. I'm a Moslem, and I'm proud of it. Aku masih suka dengan karya-karyanya Tere Liye. Dan mungkin masih akan terus membacanya. Aku hanya harus mengingat bahwa tokoh idola, orang ternama, atau siapapun mereka sepanjang masih berwujud manusia, tempatnya salah dan lupa. 
        
      

January 18, 2016

Tempat Nongkrong 'Baru' di Kota Padang yang Sudah Rusak

10komentar
Let me tell you, guysWhoever and wherever you are.

Sebenarnya kota Padang dengan pemimpinnya yang sekarang, udah mengalami banyak kemajuan lho. Contohnya Pantai Padang yang dulu ‘terkenal’ dengan tenda ceper, sekarang udah nggak ada lagi. Pinggiran pantainya jadi makin luas, taman-tamannya udah ditambah, tempat duduk-duknya makin banyak dan lengkap dengan berbagai jenis jajanan seperti pensi, langkitang, kerupuk mie, kelapa muda, dll. Di ujung arah jalan menuju Hotel Pangeran pun udah ada lapangan sepak bolanya. Dulu? Buat jalan kaki sepanjang pantai aja susah karena sempit dan kotor. Belum lagi sisi jalan satunya sudah dibangun warung-warung bertingkat yang sengaja dijadikan spot kuliner dan tempat jualan ‘apa saja’, hasil kerjasama pemerintah kota disponsori oleh kantor dan beberapa pihak lain #eeaaa. Dibikin bertingkat supaya kalau selfie dengan latar pinggiran pantai jadinya bagus banget. Aku aja belum pernah foto disana. Bahkan, sekarang udah ada spot bertuliskan PADANG, which is, lagi-lagi aku belum pernah foto di sana karena keasikan kerja selalu ramai dengan pengunjung.

sumber foto: beritasumbar.com
Nggak hanya spot itu aja sih yang booming banget buat foto-foto. Pemerintah Kota Padang yang sepertinya memahami kebutuhan anak muda seperti saya untuk foto di setiap moment dan tempat demi upload ke jejaring sosial, mulai membangun tempat-tempat nongkrong, atau sekedar tempat berfoto lengkap dengan papan namanya. Apa sih itu istilahnya? Yang biasanya dibuat dari besi (mungkin?) sebagai petunjuk nama spot tersebut. Letter ya? Yang kayak tulisan PADANG gitu deh.  

Namun sayang sungguh sayang…

Umurnya nggak lama. Tempat-tempat ‘bagus’ tadi yang belum setahun jadi, malahan udah rusak. Coba deh instagramnya @infosumbar, waktu Emen adminnya mengunggah foto orang yang sedang berfoto tepat di depan tulisan ‘Dilarang Menginjak Rumput’. Padahal, disana udah ada papan pengumuman yang isinya nggak boleh menginjak rumput dan pinggir taman, juga dilarang berfoto berdiri di tempat kedudukan huruf-huruf itu. Tapi nyatanya? #sigh. Mungin kita tinggal menunggu waktu aja tempat itu jadi hancur dan jelek karena kita sendiri.

Well, beberapa tempat yang sudah pernah rusak di Kota Padang adalah:
1.    Mesjid Raya Sumbar
Ini bukan tempat nongkrong ya, tapi tempat ibadah :)) Sengaja dimasukin ke daftar, karena memang ada kejadiannya. Siapa sih yang nggak inget bulan Juli 2015 dimana huruf D pada tulisan Mesjid patah padahal belum genap dua bulan diresmikan? Dan nggak lama setelah itu huruf Y menyusul hilang di bulan September 2015. Seperti tidak selesai sampai di situ, huruf T pun ikut-ikutan raib. Why?  

sumber foto: IG @infosumbar
sumber foto: IG @infosumbar
sumber foto: IG @infosumbar

2.    Taman Dipo
Taman yang sebenarnya sudah lama menjadi lokasi nongkrong sore sampai malam anak muda kota Padang sekarang sudah dinamai dan dibuatkan papan namanya. Sayangnya kemaren sore, 17 Januari 2016, aku melihat huruf T yang letaknya bersebrangan dengan toko alat tulis terkenal di Padang, sudah tidak ada.

sumber foto: pribadi
huruf P dan O sisi satunya lagi sudah mulai miring
sumber foto: pribadi

3.    Taman Tugu Jong Sumatra
Sempat tidak dilirik oleh warga kota Padang, kini spot yang berada tepat di depan hotel Grand Ina Muara kini begitu eye-catching. Selain karena warna tugunya yang putih bersih dengan puncak berwarna biru, spot ini juga sudah dilengkapi tempat duduk-duduk dan papan nama berwarna merah. Tugu bersejarah ini merupakan tugu pertama yang dibangun di Padang, yaitu sejak tahun 1910. Sama kayak pabrik di kantor. Tugu ini juga dibangun menggunakan semen padang #eh #bukaniklan. Yang rusak memang bukanlah tugunya (jangan sampe deh). Tapi huruf TA dan G sudah mengenaskan.

sumber foto: pribadi

4.    Monumen Gempa
Tenang, papan nama di Monumen Gempa masih bener kok. Mungkin karena posisinya yang tinggi dan nggak bisa dirah dengan tangan ataupun dipanjat. Tapi kebersihannya…ampun deh.

sampah oh sampah
Kadang suka heran... Segampang itukah papan nama yang terbuat dari besi bisa patah dan rusak? Sepertinya nggak deh. Maka anak-anak alay pun kerap disalahkan karena suka merusak, buang sampah sembarangan, nggak mau dibilangin, dan ga patuh aturan. Aku sebagai anak muda yang pernah alay pun merasa malu sebenernya. Kayaknya aku dulu nggak gitu deh. Hebatnya, generasi alay ini nggak hanya yang muda, tapi juga ada bapak-bapak dan ibuk-ibuk tertangkap mata dan kamera menjadi pihak yang justru tidak menjaga fasum yang ada. Apa mungkin mereka ga bisa move-on ke siklus hidup berikutnya kali ya? Plis deh, apa nggak cukup cari bahu buat bersandar sampe butuh papan nama buat bersandar pas foto-foto?

Padahal kita dulu sering mengeluh ke pemerintah. Yang dibilang kurang perhatianlah dengan potensi wisata Kota Padang, kurang peduli dengan anak muda lah, atau nggak mendukung kreatifitas masyarakatnya. Nah, kayaknya sekarang pemerintah mulai belajar lo. Apa salahnya kita membantu dengan tidak merusak apa yang sudah dibangun. Pemerintah pasti senang, dengan semakin banyak foto-foto kece kota Padang atau daerah manapun di Sumatra Barat yang diupload di media sosial, maka nama Sumbar jadi semakin oke kan? Lah, kalau untuk berfoto aja masi susah diatur, gimana yang lain?

Jangan berharap deh punya pemimpin seperti Kang Emil yang udah bikin ini itu di Bandung sana kalau dari fasilitas yang kecil kayak gini di Padang aja kita nggak bisa menjaga.   

Ini baru tentang papan nama, belum lagi fasilitas lain.

Ini baru tentang Padang, apalagi kalau bicara Sumatra Barat.

Yah, begitulah. Jalan-jalan sore yang menginspirasi munculnya postingan ini. Beberapa kali postingan aku bercerita tentang indahnya Sumatra Barat sayangnya mesti ternodai dengan kenyataan yang ada. Sedih. 

Mulai sekarang, kita belajar menjaga fasilitas publik, yuk? 

 

tentangku © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates