Showing posts with label quotes. Show all posts
Showing posts with label quotes. Show all posts

October 14, 2015

[review] Pulang - Tere Liye

0komentar
Ketahuilah, Nak. Hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapapun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran. – hal. 340

Sejatinya dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu semua sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja. – hal. 219
       Out of expectation sebenarnya. Aku kira buku Pulang ini ceritanya bakalan berkisar tentang romantisme berbalut tragedi. Tapi ternyata nggak. Pulang malah menyuguhkan aku sesuatu yang lain dari seorang Tere Liye. Bagi yang pernah baca Negeri Para Bedebah atau Negeri Di Ujung Tanduk mungkin nggak akan kaget. Tapi buat aku yang belum pernah, cukup mengejutkan juga ternyata. Siapa sangka ‘Pulang’ berkisah tentang kehidupan keluarga besar mafia, penuh dengan pertempuran, berantem, dan juga membahas tentang shadow economy. Hebat ya Tere Liye dalam memanfaatkan latar belakang pendidikannya dalam nulis novel gini. 

Hidup ini adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus. Pada hari ke berapa dan pada jam ke berapa, kita tidak pernah tau, rasa sakit apa yang harus kita lalui. Kita tidak tahuh kapan hidup akan membanting kita dalam sekali, membuat terduduk, untuk kemudian memaksa kita mengambil keputusan. – hal. 262
Aku suka alurnya yang maju mundur. Ada bab-bab yang secara sengaja dibuat sebagai flashback ke masa lalu padahal cerita kejadian masa sekarang lagi ser-serunya. Tentunya semua jadi saling terkait juga sih akhirnya. Meminjam bahasa di buku itu; semua orang memiliki kelindan sejarang dengan masa lalu.

         Seru. Dan untuk novel keluaran penulis dalam negeri, Tere Liye selalu sanggup memberi warna yang lain. Nggak banyak kan ya novel-novel yang serunya kayak nonton film action gini. 

Tapi sungguh, jangan dilawan semua hari-hari menyakitkan itu, Nak. Jangan pernah kau lawan. Karena kau pasti kalah. Mau semuak papaun kau dengan hari-hari itu matahari akan tetap terbit indah seperti yang kita lihat sekarang. Mau sejijik apapun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap memenuhi janjinya, terbit dan terbit lagi tanpa peduli apa perasaanmu. Kau keliru sekali jika berusaha melawannya, membencinya, itu tidak pernah menyelesaikan masalah. – hal. 339


July 01, 2014

[review] Amba: Sebuah Novel - Laksmi Pamuntjak

1 komentar

Mungkin itu sebabnya kita diajari untuk tidak mengumbar kata, karena begitu sesuatu diikrarkan, kita terikat dan tidak bisa menariknya kembali. Di hari itu aku semakin sadar, tak ada laku yang lebih ksatria dibanding menepati janji – hal. 289
Jleb banget yak?

Butuh waktu dan energi yang lumayan besar untuk menyelesaikan Amba. Novel berlatar sejarah 1965 setebal  496 halaman ini awalnya memang sedikit bikin bingung. Bingung karena,meskipun diramu dengan gaya bahasa yang puitis, kisah yang padat dengan nilai sejarah dan politik bikin aku ga kemudian langsung mengerti dengan sekali baca. Mesti pelan-pelan biar lebih menjiwai  #yakali.  

Memang tentang cinta. Namun mencintai Bhisma, seorang aktivis perkumpulan yang dinilai ‘bertentangan’ pada zaman itu tentu tidak mudah. Pun, mencintai seorang Amba, perempuan yang ‘berbeda’ dari kebanyakan kaumnya  pada masa itu juga bukan perkara gampang. Amba memiliki keteguhan hati dan prinsip. Beradu argument dengan adiknya yang kembar tentang apa itu kebahagiaan dalam membangun rumah tangga, Amba berani mengatakan bahwa ia pikir Ibunya tidak bahagia. Paling tidak begitulah yang dia lihat. Dan dengan gamblangnya Amba mengatakan ia tidak mau seperti itu. Bahkan Amba mampu membuat Si Ibu menangis-nangis karena lebih memilih kuliah dan meraih mimpi-mimpinya ketimbang menikah. Wel, buat kita yang hidup di zaman sekarang mungkin itu biasa. Tapi masa itu? Lain cerita! Terlepas setuju atau tidak pada akhirnya setelah dewasa, bagi Amba, Ibu tetaplah dipandang sebagai sosok yang berperan dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan untuk diri dan adik kembarnya.
Rahasia itu, Nduk, seperti kain lurik. Kita pakai di badan kita seperti tidak ada apa-apa di permukaan, tapi hangatnya menyelimuti tubuh. Itu akan membuat kita tak tergantung pada siapapun. Jangan mudah takut. – hal. 174
Bukankah ibu selalu mengajarkan, sebagai perempuan Jawa tenan, kau tak boleh mengumbar perasaan; Kita tidak dilahirkan dengan bakat menangis di panggung orang ramai.
Ibu, disini, tidak ada panggung orang ramai. – hal. 206
Aku mulai benar-benar menyukai novel ini ketika surat-menyurat antara Salwa dan Amba. Gimana tutur kata Salwa dalam mengekspresikan kerinduan-kerinduan dan harapannya tentang masa depan. Juga sikap Amba dalam merespon setiap surat; setiap keraguan yang muncul, setiap keheranan yang muncul karena Salwa yang begitu setia, semua ditulis dengan bahasa yang penuh kias. Sudut pandang yang berganti-ganti sesuai dengan tokoh membantu aku yang akhirnya mengerti jalan cerita novel ini. Bukan sekedar ‘cinta segitiga’. Karena dari novel ini aku baru tau dan tertarik dengan kisah Mahabrata, bahwa Amba adalah tokoh perempuan yang ditolak dua kali, oleh dua pria yang berbeda. Meskipun dalam novel ini Amba nggak secara eksplisit ditolak juga sih.  Tentang perjuangan Amba mengejar Bhisma sampai ke Pulau Buru dengan segala kenekatan seorang perempuan yang sudah berusia lanjut demi menjawab tanda tanya masa lalu berujung sia-sia, ada poin menarik disana...
Jika aku berbuat dan kalah, setidaknya kekalahan itu tidak kehilangan nilai. – hal. 260
Satu lagi yang membuat aku terkesan dengan novel ini, karena menjadikan Pulau Buru sebagai latar tempat. Jadi bikin nambah wawasan tentang Pulau yang terkenal dengan pengasingan. Kalau ada novel yang ngambil latar di sana, mau deh baca lagi. Entah kenapa aku cukup tertarik dengan cerita-cerita tentang kondisi 1965 yang dibalut dengan ‘ringan’ seperti ini.

Oya, banyak kalimat-kalimat yang bisa diambil buat pembelajaran hidup:
 Aneh memang: selalu ada yang membuat terlena dan tak berdaya pada hujan, pada rintik dan aromanya, pada caranya yang pelan sekaligus brutal dalam memetik kenangan yang tak diinginkan. – hal. 24
Apabila kita bertanya pada seorang ksatria tua, apa keberanian yang paling purba, dia akan menjawab: kewajiban. – hal. 58
Harga diri sering dekat dengan tinggi hati. – hal. 208
Bukankah terpisah,mengucapkan selamat  tinggal, adalah salah satu krisis terhebat dalam kehidupan manusia? – hal. 215
Sebab satu-satunya hal yang kekal adalah cinta orang tua pada anaknya dan cinta itu adalah yang bahagia melihat anaknya bahagia. – hal. 291
 Well, guys, I give 4 of 5 stars for this. Selamat membaca, terus saling berbagi komentar deh. Karena mana tau, apa yang aku nilai nggak sama J   
Kadang-kadang hidup ini bisa begitu...begitu sinting. Bahwa situasi tertentu sering mengundang tafsir tertentu. – hal. 23

June 02, 2014

[review] Life Traveler - Windy Ariestanty

1 komentar

Terima kasih kepada @penuliscemen yang telah meminjamkan buku ini. Nggak murni minjem juga sih, tukar pinjam tepatnya. Aku meminjamkan buku Eka Kurniawan, dia meminjamkan aku ini. Udah lama juga nggak minjem buku ke orang.
Bercerita tentang pengalaman penulis selama travelling di berbagai negara. Kita dibawa meloncat-loncat dari suatu tempat ke tempat lainnya. Aku mengira Windy Ariestanty akan bercerita tentang pengalamannya travelling di Indocina aja, karena itulah yang disuguhkan di awal bab. Ternyata kita dikasih lebih, nggak hanya Indocina, penulis juga bercerita tentang pengalamannya selama di Eropa, seperti Prancis, Jerman, Czech a.k.a Ceska a.k.a Ceko, dan Belanda. Bahkan di akhir bab buku ini juga ada tambahan cerita jalan-jalannya di Indonesia. Sejujurnya ini bikin bingung sih, karena ada bebrapa yang flashback dari perjalanan sebelumnya.
Tapi yang asyik saat membaca buku ini adalah, nggak hanya tentang jalan-jalannya aja. Menceritakan latar tempat adalah hal biasa dalam novel travelling. Yang bikin beda adalah penulis juga menyisipkan beberapa pandangan-pandangan terhadap apa yang dia lihat. Kita jadi tau bagaimana si penulis memaknai nggak hanya setiap perjalananya, tapi juga semua hal yang berhubungan dengan itu. Mulai dari berkemas, melihat kearifan lokal, menunggu, bahkan tentang pulang.
Ini yang berhasil aku kutip, dari novel Life Traveler. Tentang Windy yang melihat perjalanan lebih dari sekedar jalan-jalan:
Berkemas buat saya tak ubahnya dengan menyisakan ruang kosong lebih banyak agar bisa memuat lebih banyak – hal. 3
Hampir setiap hari kita hidup dalam batasan yang dibuat orang lain, nilai kebenaran yang berlaku umum karena dibentuk oleh lingkungan sosial kita. Perjalanan memberikan kita jeda dari itu, sedikit merdeka dari batasan tadi – Hal. 100
Cinta adalah sebuah perjalanan yang tak bisa ditempuh dalam satu atau dua hari. Tidak juga dalam sebulan atau saru tahun. Tidak ada peta untuk menemukan tempat bernama cinta. Tak ada buku panduan travelling yang bisa menuntun kita kesana. Cinta adalah perjalanan panjang, ia tumbuh tua bersama waktu dan manusia. Dan ia tak pernah benar-benar jauh, selalu memeluk manusia dengan erat. Mengisi celah yang mungkin hanya sejengkal itu. Memberi kita alasan untuk selalu pulang. – hal. 117.
Menunggu memang seperti sebuah jebakan. Bersembunyi di antara sela-sela waktu yang tak terduga. Ketika saya ingin bergegas, ia justru membuat saya harus memelankan langkah. Meminta saya melihat sesuatu dengan lebih jeli. Memberi saya sedikit ruang untuk menarik nafas untuk menikmati apapun tanpa tergesa – hal 233.
Entah di sudut mana, ia meninggalkan kita dalam rasa sesal karena kehabisan waktu. Padahal waktu tak pernah habis. Ia hanya terus bergulir dengan iramanya yang konstan, ia meninabobokan kita hingga lupa untuk bergegas. Kita tertinggal. Sementara ia terus melesat. Saya kerap berpikir, waktu ini seperti makhluk yang tak mau kalah. Selalu ingin jadi pemenang. – hal. 265
Membaca buku ini membuat aku ingin melakukan perjalanan lagi. Ingin kembali merasakan sensasi melihat sesuatu yang baru. Tetapi kali ini inginnya menceritakan lengkap dengan segala detail. Mengamati hal-hal yang mungkin terlewati; moment, ekspresi, atau sensasi. Merekamnya di otak dan menuliskannya di catatan untuk kemudian di posting kalau sempat.
Rindu rasanya. Apalagi setelah memasuki dunia 08-05. Masuk jam 8, pulang jam 5 kalau nggak lembur. Bukan, bukan berarti aku mengkambinghitamkan dunia yang aku pilih ini. Aku bersuyukur malahan. Nyari kerja nggak gampang, apalagi dengan penghasilan yang ’lumayan’ untuk aku yang masih sendiri. And i swear to God, it’s worthed. Hanya karena masih baru dan belum mengenal cuti, jadi keinginan untuk jalan-jalan ke tempat yang jauh harus disimpan dulu. Mungkin dimulai dari tempat-tempat di Sumatra Barat aja dulu kali ya.
Eh, jadi inget. Ada hal yang mesti aku syukuri. Menjadi mahasiswa selama 5 tahun 7 bulan membuat aku memiliki kesempatan melihat lebih banyak. Dan itulah yang membuatku ingin mengalaminya lagi.
Eits, satu lagi. Kita juga diingatkan untuk ‘pulang’ ke ‘rumah’, setelah melakukan perjalanan.
Home is a place where you feel more comfortable. Home is a place where you can be and find yourself. – hal. 349

February 14, 2014

[review] Warna Air - Kim Dong Hwa

2komentar

Merupakan buku kedua dari Trilogi Warna. Setelah di buku pertama, Warna Tanah, tokoh Ehwa pada Warna Air telah beranjak remaja. Kendati Ehwa menjadi lebih banyak bercerita kepada Ibu, tapi ia mulai memiliki rahasia, seperti layaknya gadis remaja. Tentang cinta, sosok lawan jenis yang mulai disuka, dan respon-responnya terhadap perasaan yang menyelimuti hatinya.
Masih memakai ‘bunga’ sebagai analogi dalam setiap perubahan psikologis yang terjadi pada diri Ehwa dan masih dengan gaya bahasa yang menyentuh, Kim Dong Hwa lebih berkisah mengenai bagaimana anak gadis di mata seorang Ibu. Dibuktikan dengan beberapa percakapannya dengan Ehwa yang sarat pesan, seperti (lupa cek halaman berapa):
Seorang anak sangat berharga, namun rapuh. Seorang ibu tidak akan membiarkan anaknya tidur di atas lantai yang kasar, makan buah yang bentuknya tidak sempurna, mengenakan pakaian compang-camping, atau menelan makanan yang sulit dikunyah. Begitulah hati seorang Ibu. (hlm. 166)
Jalan seorang wanita berbatu, dan jikalau kau tidak hati-hati, kau akan tersandung dan jatuh dan pincang sepanjang hidupmu. Hidupmu akan sulit dan selamanya kau akan jadi bahan tertawaan dan diasingkan.... Itulah sebabnya para Ibu sangat mencemaskan putri mereka, entah putri mereka berada di luar atau di dalam rumah.
Sesuai dengan usianya, Ehwa pun mulai merasakan yang namanya jatuh hati. Perasaan yang lebih kuat daripada ketika dirinya menyukai si Biksu dan si Pelajar. Kini Ehwa mulai menyukai sosok pria yang lebih dewasa. Dalam moment-moment inlah Ehwa dan Ibu sering membicarakan tentang cinta:
Namun, putriku sayang, meskipun cinta yang di mata bagaikan petir, cinta di hati adalah seperti perapian. Dan sebuah perapian adalah api yang terus menyala sepanjang malam. (hlm. 52)
Hati seorang perempuan benar-benar aneh. Ada saat-saat kita mendambakan perapian tempat kita bisa menghangatkan hati sepanjang malam. Jika tidak memeliki perapian, kita pun mengeluh. Tapi kita mencari penghiburan lewat kehadiran keluarga dan teman-teman. Meskipun begitu, kita mendambakan perapian berkobar-kobar yang dapat kita jaga sepanjang malam. (hlm. 53)
Tidak seperti bunga, manuisa –entah kaya atau miskin,cantik atau tidak—menilai tinggi diri mereka dan menghabiskan waktu dengan meributkan hal itu. mereka berusaha keras untuk menjadi yang pertama mekar, meskipun mereka belum siap.
Konflik yang dimunculkan dalam buku Warna Air juga lebih kompleks. Apalagi konflik ini terus berlanjut sampai ke penghujung cerita. Dan seperti biasa, bikin penasaran!
Yah, berarti mesti segera cari buku ketiganya, Warna Langit.


February 13, 2014

[review] Warna Tanah - Kim Dong Hwa

0komentar
 
Lagi-lagi rejeki waktu nemu dua dari Trilogi Warna ini dengan harga diskon. Termasuk wishlist di Goodreads karena uda @Melviyendra, seorang editor asal Payakumbuh, Sumatra Barat bikin ulasan buku ini dan nulis bahwa ceritanya tentang perempuan, which I always interested in.

Pertama kali baca novel grafis, selalu dibilang komik sama temen-temen -___-“

Kim Dong Hwa, mengisahkan tentang seorang anak gadis bernama Ehwa, dibesarkan oleh Ibunya yang single parent di daerah Namwon, Korea. Perubahan fisik, psikologis, dan kematangan berfikir yang terjadi pada diri Ehwa ternyata mengusik dirinya. Sang Ibu sebagai sosok yang lembut kerap menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan perumpamaan yang tidak vulgar, santai dan cocok untuk anak yang beranjak remaja. Contohnya ketika Ehwa bertanya tentang bagaimana seorang anak bisa muncuk ke dunia, beginilah Si Ibu menjawab:
Dengan penuh kebahagiaan kau akan menerima benih si bayi dan melalui rasa sakit kau akan melahirkan seorang bayi. Tapi inilah yang membuatmu menghargai dan menyayangi anakmu
(hlm. 67)

Analaogi yang dipakai dalam novel ini terasa begitu lembut. Hujan musim semi dipakai sebagai perumpamaan perubahan kedewasaan dalam diri Ehwa. Sayang aja, di Indonesia cuma ada 2 musim.
Muda maupun tua, perempuan makhluk yang aneh. Bersama datangnya setiap musim semi, pikiran mereka semakin matang. (hlm. 37)

 Kemudian bunga sebagai perumpamaan seorang perempuan. Dari novel ini juga aku ‘belajar’ mengenal tentang bunga. Yep, to be honest, aku nggak terlalu suka bunga. Bahkan belum pernah dikasih bunga. Eh, udah dink, waktu wisuda. Tapi yang ngasi perempuan #kode.  Banyak jenis bunga yang disebut, seperti Dandelion, Kamelia, Tiger Lily, Azalea, Hollyhock, sampai Bunga Labu.  

Hati seorang wanita merekah jadi bunga dan bernyanyi bagai burung hanya karena hujan yang tak diundang tahu-tahu singgah (hlm. 108)
Seorang wanita dapat menjadi ratusan jenis bunga sepanjang hidupnya (hlm. 158)

Aku suka dengan kisah Ehwa dan Ibunya yang sarat akan kasih sayang, keterbukaan, dan quality time yang mereka punya. Memang nggak ada yang bisa gantiin posisi Mama kalau mau cerita. Yaah...sedekat apapun anak perempuan ke Papa, ada beberapa hal yang hanya bisa diceritakan ke Mama lebih dulu.
Satu lagi, gaya bahasanya. Puitis.

Apakah wanita makhluk yang sangat rumit? Atau sinar matahari musim semikah yang rumit? (hlm.196) 
Di dunia ini semua orang bekerja keras untuk bertahan, tapi setidaknya kita bisa mendapatkan sedikit kesenangan dari kerja keras kita itu (hlm. 199) 
Inilah caraku menunjukkan cinta. Selalu ada semangkuk sup hangat siap untuk seorang laki-laki yang tidak engatakan kapan atau pada pukul berapa ia akan tiba (hlm. 259)

February 16, 2013

[review] Burung-Burung Manyar - YB. Mangunwijaya

1 komentar
Burung-burung manyar tidak merebut betina dari rivalnya, tetapi menerima dan menghormati pilihan si betina. Boleh sedih, membongkar, dan menghempaskan sarang yang dibangunnya dengan susah payah, dengan dedikasi sepenuhnya, dengan hati seluruhnya. Tetapi jantan yang tidak dipilih tetap menghormati kedaulatan pemilihan betina...
... .Tetapi sekali lagi inilah kesulitanku. Aku bukan manyar. (hlm. 262)
I must confess: I never seen this Burung Manyar before. Baru setelah baca bukunya langsung googling (terpujilah Google dengan segala pengetahuan di dalamnya - @deritamahasiswa). Penasaran, penampakannya kayak gimana, sarangnya seperti apa.
Ternyata butuh waktu seminggu buat namatin buku yang terbilang tipis ini. Lagi-lagi sebuah roman sejarah, yang terjadi ketika masa penjajahan Belanda, Jepang, sampai masa kemerdekaan, memaksa memori megingat kejadian-kejadian sejarah yang pernah dipelajari waktu SMP (atau SMA?) kemudian mengimajinasikannya. Gaya bahasa Romo Mangun yang seringnya berfalsafah membuat pembaca berfikir dua kali atau menelusup dalam untuk mencari maknanya, dan banyak ditemukan di bagian ketiga. Meskipun, pemaparan seperti inilah yang cenderung tidak membuat bosan *pandangan subjektif*
Lalu apa hubungan burung manyar dengan tokoh Aku (Teto) dan Atik? Kisah burung manyar baru akan ditemui di bagian ketiga, di saat Atik sidang untuk mempertahankan tesisnya. Itupun hanya satu bab. Namun, setiap potongan ceita dari bagian pertama dan kedua merupakan sebuah pertalian yang membuat analogi burung manyar sebagai kisah cinta Teto dan Atik menjadi make sense. Well, baca aja kalimat pembuka tulisan ini.

Aku termasuk orang yang berharap cinta Atik dan Seta (Teto) akan bersatu. Meski sayang, harapan itu pupus.
Ah, kalau saja Romo Mangun mau membuat Teto ‘sedikt’ berjuang untuk Atik, cerita ini nggak akan berujung tragedi.
Perang tidak bisa dimenangkan dengan emosi. Tetapi perhitungan yang dingin. (hlm. 85)


Aku tidak tahu apakah harus berterima kasih atau mengutuk memori. Ingatan manusia menolong kita belajar mengalami dan membentuk hari depan yang lebih baik, dan kretivitas kita sebagian besar berudik dari sumber-sumber yang hidup; ingatan kita. Bahkan cinta atau benci hanya mungkin bila memori kita hidup. Tetapi justru itulah, segi-segi gelap seperti benci, balas dendam dan bisa juga kekuatan seperti kebimbangan bermunculan. (hlm. 220) 


February 08, 2013

[review] Ronggeng Dukuh Paruk

0komentar

 Maka orang akhirnya harus percaya akan keperkasaan sang waktu, akan kecanggihan isi perutnya yang mampu menyimpan segala rahasia sejarah. Tetapi, akan ada orang mengatakan, menyerah kepada kunci waktu dalah kelemahan dan keputusasaan yang harus dibuang jauh. Orang-orang semacam itu tetap tidak puas bila rekaman sejarah Srintil sepanjang dua tahun terhapus percuma dan hanya direlakan menjadi bagian rahasia sejarah.
Sejarah adalah sejarah.
Kedudukan sejarah sebagai guru kehidupan tak mungkin disingkirkan. Kedewasaan dan kearifan hidup bisa dibina, baik dengan sejarah pengkhianatan dan kebejatan manusia. 
Atau sejarah sesungguhnya tak pernah berhenti membuat catatan. Pabila sejarah tidak membuat catatan dalam prasasti atau lembaran kertas, dia membuatnya di tempat lain. Tentang riwayat hidup seorang manusia misalnya, maka sejarah pertama-tama mencatatnya pada kepribadian si manusia itu sendiri. 
Pengalaman-pengalaman yang lembut santai mungkin tidak tercatat dalam garis-garis kehidupan secara nyata. Namun, pengalaman-pengalaman yang keras dan getir akan tergores dalam-dalam pada jiwa, pada sikap dan prilaku, dan tak mustahil akanmengubah sama sekali kepribadian seseorang.
--- Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk, hal. 277 (buku tiga: Jantera Bianglala)

Mari kita mulai tulisan ini dengan potongan tulisan di atas. Setelah dihanyutkan dengan ramuan karakter, alur dan latar yang kuat dan memikat hati, kalimat diatas seolah menyentil alam logika.
Ronggeng Dukuh Paruk membawa kita pada sebuah masa dimana bangsa kita diwarnai oleh desa-desa terbelakang dengan gaya hidup yang tergantung pada alam, adat dan mistik. Secara detail digambarkan aktivitas masyarakat pada masa itu yang sarat dengan nilai-nilai sosial yang mereka anut.
Wanita memang selalu menarik untuk dibahas dalam peradaban. Bagaimana sosok wanita dalam masa ini digambarkan dengan kuat dalam berbagai karakter. Mengagumkan bagaimana sosok Ronggeng, perempuan biasa, istri pejabat, istri dukun ronggeng, istri masyarakat awam, atau si nenek, menyatu dalam ikatan budaya yang kemudian mau tidak mau terbawa arus perubahan zaman.  
Benar ini kisah cinta. Kisah cinta seorang ronggeng,  'wanita semua pria'. 
Seperti kisah Geisha. *ya karena baca Memoirs of Geisha duluan sih*. Tapi boleh ya, rating 5 of 5 buat trilogi ini. Ya, aku cinta Indonesia.

Eits, should i tell you ending of this book?
Yes, I hate that!  
  

November 16, 2012

[review] Life of Pi

0komentar

Pindah dari India ke Kanada ternyata mengantarkan Piscine Patel dalam sebuah petualangan luar biasa. Bertahan hidup lebih kurang 6 bulan di atas sebuah sekoci bersama harimau, dan beberapa hewan yang akhirnya mati juga.
Di awal penulis menuturkan ini adalah cerita yang bisa membuat kita percaya pada Tuhan. Nggak berlebihan sepertinya. Berangkat dari kisah masa kecil Pi yang memeluk 3 agama berbeda, akan terasa unik dan mengusik sedikti sisi rohani pembaca. Ditambah kemampuan bertahan hidup Pi yang tentunya bnggak lepas dari kehendak Tuhan.
Martel mendeskripsikan semua yang dialami dengan sangat jelas. Makanya agak sedikit ngeri juga membayangkan beberapa kisah ‘berdarah’ disana. Meskipun latar tempatnya hanya satu: di atas sekoci yang mengarungi Samudra Pasifik, ternyata nggak bikin bosen karena pengalaman dan penemuan Pi selama bertahan hidup.  

Highlited on Life of Pi:
Kalau kita, para warga Negara, tidak memberikan dukungan kepada seniman-seniman kita, berarti kita telah mengorbankan imajinasi kita di altar realitas yag kejam, dan pada akhirnya kita jadi tidak percaya pada apapun, dan mimpi-mimpi kita tak lagi berarti.
` Yann Martel, p. 14
Sebab seperti itulah binatang: konservatif, malah bisa dibilang reaksioner. Perubahan-perubahan sekecil apapun akan mengganggu bagi mereka.
` Pi, p. 38
Memilih keraguan sebagai falsafah hidup sama halnya memilih kemandekan sebagai sarana transportasi.
`Pi, p. 55
Ingatan manusia bagaikan samudra dan dia timbul tenggelam naik-turun di permukaanya.
`Yann Martel p. 74
Kemajuan tidak bakal bisa dihentikan. Kita semua mesti berbaris mengikuti irama gendering. Teknologi akan berperan, dan gagasan-gagasan bagus akan menyebar – itulah hukum alam.
`Ayah Pi, p. 119
Orang berpindah karena berharap memperoleh kehidupan yang lebih baik
`Pi, p. 123
Kalau nyawa kita sendiri terancam, kemampuan kita berempati jadi tumpul oleh hasrat egois yang amat sangat untuk bertahan hidup.
`Pi, p. 178
Benar sekali bahwa kita jadi kreatif kalau terdesak oleh kebutuhan, amat sangat benar.
`Pi, p. 204
Rasa takut adalah satu-satunya lawan sejati kehidupan. Hanya rasa takut yang dapat mengalahkan kehidupan. Rasa takut sama sekali tak kenal malu, tak pedulihukum atau aturan apa pun, dan tak kenal ampun. Dengan mudah dia bisa menemukan kelemahan kita yang utama, dan menyerangnya. Dan yang mula-mula diserang selalu pikiran kita.
`Pi, p. 234
Harimau, bahkan semua binatang, tidak begitu senang dengan menggunakan kekerasan sebagai cara untuk menyelesaikan masalah. Kalu binatang sampai berkelahi, berarti dia memang berniat membunuh, atau merasa dirinya bakal terbunuh.
`Pi, p. 296
 Ada dua jenis rasa takkut yang tidak bisa kita buang dari dalam diri kita: reaksi terkejut karena mendengar suara berisik yang tidak disangka-sangka, dan vertigo
`Pi, p. 371
Kesulitan utama melatih binatang adalah mereka bertindak berdasarkan insting atau kebiasaan. Mereka cukup cerdas untuk memahami asosiasi-asosiasi baru yang bukan bersufat naluriah
`Pi, p. 385
Dunia bukan seperti yang kelihatan. Tapi sesuai cara kita memahaminya,bukan begitu? Dan dalam memahami sesuatu, kita memasukkan sesuatu kedalamnya, bukan begitu?
`Pi, p. 423

July 17, 2012

Movie: New Year's Eve - edisi telat nonton

1 komentar
Okey, bilang aku blegug karena 2012 udah setengah jalan, dan aku baru nonton film ini J
Salahkan folder Film karena isinya nggak pernah dibuka karena takut mengganggu deadline akhir tahun [if ypu know what I mean]. Salahkan juga mood yang lagi ogah-ogahan dibawa noton gara-gara non-stop nonton Big Bang Theory dan akhirnya sejenis eneg nonton movie menyerang.
Setelah folder diubrak abrik, akhirnya nemu beberapa judul seperti How I Meet Your Mother (session 1-7), The Green Lantern, Larva, The Owl [1-52], Iron Lady, NYE, de el el.
Dan mata akhirnya tertuju sama NYE. Sambil mikir, film romance ini pasti enteng, dan nggak perlu banyak mikir. 

Nggak banyak komentar deh buat review New Year's Eve Movie ini. Takut nggak objektif Karen ditonton saat hasrat pengen nonton lagi tinggi. Jadi ya bilang bagus dan meaningful deh.
Terkesan dengan speech yang disampaikan …. *lupa siapa* waktu ada kendala ama bola tahun baruny. [mudah-mudahan nggak salah denger waktu nyatet kata-kata ini]:
“It is suspended to reminds us before we pop the champagne and celebrate the new year, to stop and reflect on the year that has gone by. To remember both out triumphs and our missteps.  Our  promise, made and broken. The time we open ourselves up great adventures or close ourselves down for fear and getting hurt. ‘Coz that’s what new years is all about – to get another chance.A chance to forgive, to do better, to do more, to give more, to love more. And stop worrying about what if and start embracing what will be.
So when the ball drops and it will drop,let’s remember to be nice each other, and kind each other. Not just tonight but all year long.”

Sayangnya, for me, kata-kata ini berlaku bukan di malam tahun baru [hijriah ataupun masehi]. Oya, sangat suka dengan scene di balkon Rumah Sakit *nonton sendiri aja deh bagi yang belum*.
Satu lagi its closing statement:
Sometimes it feels there’s so many things we can’t control. Earthquake, flood, reality shows. But it’s important to remember the things that we can. Like forgiveness, second chance, fresh start.
Because the one thing that turns the world from the lonely place to a beautiful place is love. Love in any of its forms. Love gives us hope. Hope of a new year.
*silahkan koreksi kalo ada speech atau closing statement yang salah J


July 14, 2012

[review] Anak Semua Bangsa - Pramoedya Ananta Toer

0komentar

Buku kedua dari tetralogi buru Pramoedya Ananta Toer. Yang pertama, Bumi Manusia, berhasil bikin penasaran banget sama buku kedua. Seterusnya, ini lagi ‘gantung’, nggak sabar pengen dapet buku ketiga. Begitulah ‘penyakitnya’ kalo baca buku berseri.
Disini Minke dihadapkan dengan situasi yang jauh berubah. Minke diminta, bahkan dipaksa oleh dua orang dekatnya, Jean Marais dan Kommer untuk membuka mata lebar-lebar dan melihat realita yang terjadi pada bangsanya, tepatnya pada penduduk Pribumi. Ditantang menulis dalam bahasa Melayu dan Jawa sering kali menjadi poin yang bisa menyulut emosi. Namun, apa hendak dilawan, niatnya untuk merubah kehidupan bangsa sendiri yang mengharuskan dia, sekuat tenaga, bersikap adil, bahkan sejak di dalam pikiran. Maka niat itu dimulai dengan melihat secara langsung kehidupan salah satu keluarga petani tebu di Tulangan bernama Trunodongso.
Seolah tanpa ada hentinya, Minke masih saja dihadapkan dengan hal-hal yang sampai menghambat dirinya untuk melanjutkan sekolah kedokteran. Setiap hal terjadi untuk menguji keteguhan hati Minke untuk menjadi orang yang sebenarnya terpelajar.
Maka, untuk memperkuat nilai buku ini nggak ada salahnya mengutip potongan kalimat:
… namun juga mengisi isu kesusasteraan yang sangat minim menggarap periode pelik ini. Karena itu, hadirnya roman sejarah ini, memberi bacaan alternatif kepada kita untuk melihat jalan dan gelombang sejarah secara lain dan dari sisinya yang berbeda. mungkin pembaca ada yang mengatakan bahwa novel tak lebih hanya membangun khayal penulisnya. Akan tetapi, roman ini disandarkan penulisnya lewat sebuah penelusuran dokumen pergerakan awal abad 20 yang kukuh dan ketat.

Highlight on Anak Semua Bangsa:
Orang bilang, apa yang ada di depan manusia hanya jarak. Dan batasnya adalah ufuk. Begitu jarak ditempuh sang ufuk menjauh.
~ MInke, 2.

Mendapat upah karena menyenagkan orang lain yang tidak punya persangkutan dengan kata hati sendiri, kan itu di dalam seni namanya pelacuran.
~ Jean Marais, 78.

Sepandai-pandai ahli yang berada dalam kekuasaan yang bodoh ikut juga jadi bodoh, Tuan.
~ Khouw Ah Soe, 88.

Orang tua-tua kami bilang: Di langit ada sorga, di bumi ada Hanchou, dan kami  menambahkan, di hati ada kepercayaan.
~Khow Ah Soe, 89.

Eropa tidak lebih terhormat dari kau sendiri, Nak!
~ Nyai Ontosoroh, 100.

 Benar sekali: batu-batu kali, kerikil, dan cadas pun bisa menyatakan perasaannya. Jangan remehkan satu orang, apalagi dua, karena satu pribadi pun mengandung dalam dirinya kemungkinan tanpa batas.
~ Minke, 108.

Kesulitan terbesar hanyalah karena kehabisan teman.
~ Minke, 114.

Sebesar-besar ampun adalah yang diminta seorang anak dari ibunya, sebesar-besar dosa adalah dosa anak kepada ibunya.
~ Robert Mellema, 130.

Kami percaya, Minke. Akhir-akhirnya semua diciptakan Tuhan untuk kita semua. Dan tiada kebahagiaan tanpa melewati ujian.
~ Miriam de la Croix, 141.

 Semakin sibuk orang mencari-cari dan menemukan, semakin jelas, bahwa dia sebenarnya diburu-buru oleh kegelisahan hati sendiri.
~ Miriam de la Croix, 143.

Untuk apa hidup sesungguhnya? Buakn untuk menampung semua yang tidak diperlukan.
~ Nyai Ontosoroh, 148.

Apa artinya pandai kalu tak berbahagia di rumah sendiri? Belajar juga penting – belajar membangun kehidupan sendiri. Sekolah kan cuma penyempurna saja.
~ Jean Marais, 150.

Pohon tinggi dapat banyak angin. Kalau Tuan segan menerima banyak angin, jangan jadi pohon tinggi.
~ Kommer, 155.

Bahkan tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang takkan mengenal bangsanya sendiri. Dan tanpa mengenal bangsa-bangsa lain, ornag takkan dapat mengenal bangsa sendiri dengan lebih baik.
~ Kommer, 158.

Lulus H.B.S. ternyata hanya makin membikin orang tahu tentang ketidaktahuan sendiri. Maka kau harus belajar berendah hati, Minke!
~ Kommer, 163.

Kritik boleh ditangkis, tapi harus didengarkan dulu, direnungkan, kalau perlu tidak ditangkis dan diterima sebagai saran. Orang tak perlu marah mendapatkan kritik.
~ Kommer, 270.

Kau masih lebih banyak menimbang-nimbang baik-buruk orang lain. Bagaimana tentangmu sendiri? Sudah pernah kau pertimbangkan secara adil?
~ Jean Marais, 275.

Jelas menulis bukan hanya untuk memburu kepuasan pribadi. Menulis juga harus mengisi hidup.
~ Jean Marais, 280.

Pada suatu kali kau akan kecewa karena anggapanmu sendiri.
~ Jean Marais, 293.

Yang tadinya dianggap pegangan yang kukuh, kuat, terpercaya, ternyata hanya tinggal sekepal pasir semata. Barangkali ini yang dinamai tragedi kehidupan. Begini rapuhnya manusia.
~ Nyai Ontosoroh, 338.

Biarpun kecil jumlahnya, kalau suatu golongan sudah bangkit, bangsa yang sekecil-kecilnya juga akan bangkit.
~ Ter Haar, 406.

Semua yang terjadi di kolong langit adalah urusan setiap orang yang berpikir. Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang memang berjiwa kriminal, biar pun dia sarjana.
~ Kommer, 522.



July 02, 2012

[review] Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer

0komentar
Dan tak ada yang lebih sulit dapat dipahami daripada sang manusia… jangan dianggap remeh si manusia, yang kelihatannya sederhana; biar penglihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput. – PAT
Kita disuguhkan dengan kalimat ini sebelum memulai perjalanan menelusuri roman ‘BumiManusia’. Diulang di halaman 165 oleh Nyai Ontosoroh, seolah diingatkan bahwa yang dibicarakan dalam kalimat diatas adalah kita, sang manusia.
Terlepas dari siapa sosok Pramoedya Ananta Toer, kita harus mengakui bahwa karya-karyanya adalah sebuah sumbangan Indonesia untuk dunia. Penyumbang warna tersendiri dalam wajah sastra Indonesia karena gaya bahasa yang khas dan genre yang beda [roman dan novel sejarah].
Buku pertama dari Tetralogi Buru yang ditulis selama di penjara ini bercerita tentang Minke dengan segala lika-liku kehidupannya.  Secara pribadi aku terpikat dengan sosok Nyai Ontosoroh yang luar biasa. Kita bisa menilai sosok perempuan satu ini dari berbagai sudut pandang dan bisa menjadi bahan diskusi yang menarik.

Highlight:
Kau harus berterimakasih pada segala yang memberimu kehidupan,
~ Annelies, 50

Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri dan maju Karena pengalamannya sendiri.
~ Nyai Ontosoroh, 59.

Pendapat umum perlu dan harus diindahkan, dihormati, kalau benar. Kalau salah, menapa dihormati dn diindahkan? Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak pikiran, apalagi dalam perbuatan.
~Jean Marais, 77.

Cinta itu indah, Minke, terlalu indah yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini.
~Jean Marais, 81.

Lagipula, tak ada cinta muncul mendadak, karena dia adalah anak kebudayaan, bukan batu dari langit.
~Jean Marais, 81.

 Wanita lebih suka mengabdi pada kekinian dan gentar pada ketuaan; mereka dicengkam oleh impian tentang kemudaan yang rapuh itu dan hendak bergayutan abadi pada kemudaan impian itu.
~Jean Marais, 89.

Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya.
~Minke, 186.

Kau terpelajar, cobalah bersetia pada katahati.
~Jean Marais, 274.

Melawan pada yang berilmu dan pengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan.
~ Miriam de la Croix, 282.

Jangan takut pada pelajaran apapun, karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua.
~Nenenda Minke, 310.

Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.
~Juffrow Magda Peters, 313.

Dalam kehidupan ilmu tak ada kata malu. Orang tidak malu karena salah atau keliru.
~Dokter Martinet, 375.

Manusia membutuhkan belasan, malah puluhan tahun untuk jadi dewasa, manusia dalam puncak nilai dan kemampuannya. Mantap-tidaknya kedewasaaan dan nilai terantun pada besar-kecilnya dan banyak-sedikitnya ujian, cobaan.
~Dokter Martinet, 392.


May 19, 2012

To Kill A Mockingbird

1 komentar
Ditulis dari sudut pandang seorang gadis cilik berusia 9 tahun yang menceritakan setiap pengalaman masa kecilnya di Maycomb County. Beranjak dari keluguan anak-anak buku ini bisa membuat kita kembali mengikuti jalan pikirannya yang sederhana namun penuh rasa ingin tahu.
Sarat nilai karena sebagai single parent, Atticus Finch, mendidik anak-anaknya, Scout dan Jem, dengan penuh keterbukaan dan rasa percaya. Ditambah lagi Atticus tidak pernah membatasi anak-anaknya berinteraksi dengan Calpurnia, asisten rumah tangga yang berkulit hitam. Cara yang dikhawatirkan oleh keluarga besarnya karena takut anak-anaknya tidak akan bisa menjadi golongan yang terhormat.
        First published on 1960 (goodreads.com) dimana ketika itu diskriminasi, rasisme dan perbudakan masih eksis. Orang berkulit putih dianggap lebih terhormat dan berpendidikan dibandingkan orang berkulit hitam. Maka ketika ada kasus yang ditangani Atticus dan melibatkan irang-orang berkulit hitam, kehidupan keluarga kecil ini otomatis berubah.
Sebuah novel yang menggugah karena banyak potongan-potongan kisah dari lingkungan sekitarnya dimana kita bisa meyerap nilai-nilai kehidupan sebagai pendewasaaan diri.  

Quotes from To Kill A Mockingbird:
Aku baru sadar kalau aku belum pernah gemar membaca. Bukankah orang tak pernah gemar bernafas?
Scout ~hlm. 39
Kau baru bisa memahami seseorang kalau kau sudah memandang suatu situasi dari sudut pandangnya, kalau kau sudah memasuki kulitnya, dan berjalan-jalan di dalamnya.
Atticus ~hlm. 61
Satu hal yang tidak tunduk pada mayoritas adalah nurani seseorang
Atticus~hlm.200
Keberanian adalah saat kau tau kau akan kalah sebelum memulai, tetapi kau tetap memulai dan merampungkannya, apapun yang terjadi.
Atticus  hlm.211
Tidak selalu perlu menunjukkan semua yang kita ketahui. Itu bukan sikap perempuan terhormat.
Calpurnia, hlm.231

April 01, 2012

Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar

0komentar


Judul: Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar
Penulis: Alberthiene Indah
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
2011, 362 halaman

Kayaknya buku ini lebih pas kalau disebut biografi-motivasi deh. Karena cara transfer motivasi melalui kisah nyata sehingga pembaca bisa menyerap sendiri-sendiri nilai dan hikmah dari setiap potongan cerita Mery Riana. Berbeda dengan buku motivasi lainnya yang mungkin lebih menitikberatkan masalah strategi dan konsep, Mery Riana mengajak pembaca untuk mengikuti perjalanan hidupnya yang sulit dan penuh tantangan untuk membangun mental, yang merupakan modal awal untuk menjadi sukses. Kisah hidupnya luar biasa.
Sebenarnya mungkin banyak diantara masyarakat Indonesia, khususnya kalangan mahasiswa, yang mempunyai kisah hidup sperti itu, hanya saja perbedaan mungkin berada dalam mengatur pola hidup demi membangun karakter yang kuat. Once more, it’s because of she shares her life-story to people. And she’s not ashamed of that.
Thumbs up!

Words...:
Proses dalam ketekunan menjalankan pekerjaan demi pekerjaan itu kemudian secara alamiah mengajarkan aku tentang tiga hal penting dalam perjuangan: tekad yang kuat, strategi yang terarah, dan kedekatan pada Tuhan.
Hlm. 12
Di dalam hidup ini kita tidak bisa berharap segala uangkita dambakan bisa diraih dalam sekejap. Lakukan saja perjuangan dan terus berdoa, maka Tuhan akan menunjukkan jalan selangkah demi selangkah. 
 Hlm. 37
 Kebanyakn dari kita tak pernah menduga bahwa sesungguhnya kita memiliki ketangguhan yang amat luar biasa. Kita baru menyadari itu ketika terjepit dalam kondisi yang sangat sulit, dan tak ada jalan keluar selain bertahan, dan bertahan.
Hlm. 42-43
Ketika kita tidak bisa melakukan apapun kecuali bertahan maka yang harus digenjot dalam diri kita asalah keikhlasan dan kesabaran yang kuat.
Hlm. 75
Diri kita perlu dilatih dari tahap nol. Mental kita perlu dibentuk dari situasi yang sangat menguji ketabahan.
Hlm. 99
Kekuataniman sangat berpengaruh dalam membentuk ketabahan seseorang dan ini prinsip yang hakiki.
Hlm. 104
Kita tidak pernah bisa mengatakan bahwa diri kita yang terbaik. Setiap saat orang-orang mengalami kemajuan dan tidak tertutup kemungkinan kita sedang mengalami stagnasi.
Hlm. 143
Berani bertindak belum tentu menjamin keberhasilan. Namun tidak bertindak sudah pasti menjamin kegagalan.
Hlm. 158
Jangan pernah meremehkan arrti realsi yang harmonis dengan orang-orang sekitar kita. Sebab di sanalah berkumpul energi luar biasa yang bisa menerbangkan kita menuju cita-cita besar yang kita impikan.
Hlm. 203
Rasa iba itu harus ditahan karena buah dari kegigihan itu adalah pencapaian yang sangat diharapkan.
Hlm. 256
The Darkest Hour. Teori itu mengatakan bahwa di tahap akhir menjelang titik sukses, orang akan menghadapi tantangan yang luar biasa sulit.
Hlm. 260
Marketing bukan semata bagaimana kita bisa menjual sebanyak-banyaknya produk, melainkan membuat calon klien benar-benar dan yakin dan merasa telah melakukan satu keputusan yang tepat.
Hlm. 268
Kita tidak akan mengetahui seberapa besar kekuatan yang kita punya sebelum kita berani melakukan perjuangan yang maksimal untuk meraih impian besar.
Hlm. 280
Pada dasarnya nilai-nilai atau strategi suksesku muncul dari perjuangan nyata
Hlm. 303
Ketekunan dan terus-menerus merupakan kekuatan yang sangat powerful untuk mencapai target yang kita tuju.
Hlm. 311

March 30, 2012

Rembulan Tenggelam Di WajahMu

0komentar
Judul: Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Grafindo / Republika
2009,  456 halaman / 428 halaman

Ray, diberikan kesempatan untuk menerima 5 jawaban atas 5 pertanyaan terbesar dalam hidupnya. Alur maju mundur yang disuguhkan membuat kita terbawa dalam lika-liku hidupnya. Beranjak dari Ray ‘dewasa’ yang tengah ‘koma’ di rumah sakit lalu diajak untuk kembali menjelajah masa lalunya bersama seseorang. Awal cerita adalah tentang seorang anak perempuan yang tinggal di panti asuhan, yang mana saat dia menangis langit senantiasa menurunkan hujan untuk menemaninya. Tidak ada koherensi langsung antara anak perempuan ini dengan Ray. Namun, seiring berjalannya cerita kita benar-benar dikejutkan bahwa setiap sisi kehidupan Ray menjadi sebab akibat untuk orang lain.

Ya. Sebab akibat. Itulah nilai filosofis yang diangkat dari novel ini. Diracik dengan ringan dan sederhana. Alur maju mundur ternyata tidak selamanya membuat bingung. Dan itu dibuktikan oleh Tere Liye.  

Sepertinya Tere Liye akan menjadi penulis Indonesia favorit aku. Selalu mengangkat tema yang beda dari kebanyakan novel religi yang beredar. Kehebatannya mengangkat kisah-kisah sederhana menjadi sesuatu yang penuh hikmah terbukti dalam setiap novelnya yang pernah aku baca (Hafalan Shalat Delisha, Moga Bunda Disayang Allah, Bidadari-Bidadari Surga). Pendekatan spiritual yang tersirat menjadi salah satu nilai jual dalam setiap bukunya.   
 I do! Highly recommend this novel. 4,5 out of 5.

Baca saja potongan-potongan kalimat sederhana namun mengungkapkan banyak hikmah:
Quotes from Rembulan Tenggelam Di Wajahmu:

Banyak mereka yang tidak menyadari kalau penjelasan itu sudah datang. Mungkin karena mereka terlalu dibutakan oleh kehidupan itu sendiri, mungkin karena mereka tidak pernah memiliki kemampuan untuk menggapai penjelasannya. Mungkin juga karena mereka terlalu berharap penjelasan itu datang dengan amat fantastis. Dalam banyak hal, banyak kasus, justru penjelasan itu datanag dengan sederhana.
Hlm. 46-47

Bagi manusia, hidup ini juga sebab akibat. Bedanya bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus ke berapa kembali lagi ke garis kehidupanmu.
Hlm. 63

Tak ada niat baik yang boleh dicapai dengan cara yang buruk. Tak ada pula niat buruk yang berubah menjadi baik meski dilakukan dengan cara-cara baik.
Hlm. 75

Itulah mengapa tidak semua orang mengerti apa sebab-akibat kehidupannya. Dengan tidak tahu, maka mereka yang menyadari kalau tak ada yang sia-sia dalam kehidupan akan selalu berbuat baik.
Hlm. 89

Tahukah kau, kita bisa menukar banyak hal yang menyakitkan yang dilakukan orang lain dengan sesuatu yang lebih hakiki. Rasa sakit yang timbul karena perbuatan aniaya dan menyakitkan dari orang lain itu sementara. Pemahaman dan penerimaan tulus dari kejadian menyakitkan itulah yang abadi.
Hlm. 122

Orang-orang terpilih sekalipun terkadang lalai mengenali bentuk-bentuk keadilan itu, karena kita selalu berusaha mengenalinya dari sisi yang kasat mata.
Hlm. 182

Apapun bentuk kehilangan itu, kethuilah, cara tebaik untuk memahaminya adalah dari sisi yang pergi. Bukan dari sisi yang ditinggalkan.
Hlm. 339

Orang-orang yang memiliki tujuan hidup, baginya semua kesedihan yang dialaminya adalah tempaan, harga tujuan tersebut.
Hlm. 342

Apapun bentuk kejadian, semua pasti terlampaui, diberingas oleh waktu, dimakan oleh detik-detik kehidupan, menyisakan kenangan. Hanya itu.
Hlm. 445

Begitulah kehidupan. Ada yang kita tahu, adapula yang tidak kita tahu. Yakinlah, dengan ketidaktahuan itu bukan berarti Tuhan berbuat jahat kepada kita. Mungkin saja Tuhan melindungi kita dari tahu itu sendiri.
Hlm. 451


Si Anak Panah

0komentar

Buku ini udah terlalu lama tergeletak di atas lemari. Entah kenapa nggak ada ketertarikan padahal kayaknya ni buku udah manggil-manggil. Mungkin karena belum baca buku pertamanya, Si Anak Kampung, jadi takut nggak seru. Tapi kemudian, niat itu muncul karena saran seorang teman. Dengan modal pede bakalan ngerti walau tanpa baca buku pertamanya, yah, dibaca juga akhirnya. 

Mengangkat kisah Syafii Maarif saat muda. Sebuah novel bertemakan pendidikan yang sangat memotivasi. Sarat nilai dengan cara penyajian yang simpel untuk menggambarkan seorang yang dianggap tokoh di Indonesia. untuk mengerti alurnya dan menangkap nilai yang terkandung dalam cerita juga cukup mudah karena bahasa yang dipakai bukanlah bahasa ilmiah modern yang cenderung berat. Sayangnya, potongan-potongan cerita yang diangkat penulis seolah kurang memiliki koherensi satu sama lain. Banyak potongan cerita yang datang 'tiba-tiba' dan kadang tidak di bungkus dengan baik di akhir sehingga menimbulkan kesan 'gantung'.
         
Quotes dari Si Anak Panah:
Tidak perlu memusingkan hal-hal yang tidak perlu. Karena kadang-kadang ketakutan bisa lebih besar daripada masalah yang ditakuti.
Hlm. 46

Pergilah kemana kau harus pergi, tapi jangan sampai keadaan mendesakmu melakukan apapun yang sedang kau lakukan. Kau harus melakukannya karena kau memang memutuskan untuk itu. Jangan biarkan orang lain mendikte jalan hidupmu.
Hlm. 99

Mengetahui tapi tidak berani menyuarakannya adalah sama saja dengan tidak mengetahui apa-apa.
Hlm. 113



 

tentangku © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates