November 05, 2011

Tetiba Terlintas

0komentar
Haruskah kita menjadi sedih atas komentar orang lain terhadap diri kita? Sebenarnya, apa yang orang lain tahu tentang kita? Bahkan orang terdekat kita sekalipun, orang tua, suami/istri masih tidak bisa dengan gamblang membaca jalan pikiran atau ikut merasakan tepatnya suasana hati kita. Kita juga tidak akan pernah paham pada apa yang terlintas di pikiran orang lain. Saat kita memandang wajah seseorang, kita hanya bisa menebak-nebak apa yang ada di balik lengkung bibirnya,kedipan matanya, tulang pipi, atau apapun. Tidak bisa memastikan.
Mau tidak mau kita harus mengakui bahwa setiap manusia bangga terhadap apa yang dialaminya. Pengalaman ataupun penderitaan itu unik. Tidak ada yang lumrah. Tidak ada yang sama. Semua hanya melebur dengan yang lain.
Dengan terbangnya waktu, bertambahnya usia, rasanya hal-hal kecil dalam hidup menjadi lebih bermakna. Pertanyaan demi pertanyaan filosofis tak henti-hentinya mengganggu tercapainya kestabilan diri. Mungkin itu akar kelimbungan manuisa. Tapi mungkin disitu juga benih kedewasaan tumbuh.   

Rumah. Malam 10 Zulhijjah.

November 02, 2011

Istirahatlah

0komentar

“Jika kamu mencintai Hujan, jangan hanya mau pelanginya saja. Tapi juga badai dan petirnya.”

Itu adalah salah satu kalimat dari hasil blogwalking di beberapa masa lalu. Aku lupa itu punya siapa. Dan ketika kota Padang diguyur hujan lebat seharian, dari sejak aku bangun pukul 4 dini hari sampai sekarang saat mau tidur, tiba-tiba kalimat itu terlintas lagi. Kalimat yang penuh kekuatan. Kalau cinta, ya terima saja semuanya, jangan bagian enaknya saja. Begitulah kira-kira bahasa awam yang otakku mengerti.
Seperti hari ini. Hujan yang kucintai datang menemani sehari semalam tapi yang kualami tidaklah ringan. Hari ini menjadi hari yang melelahkan. Perasaan, emosi, juga raga semua menyatu dalam satu rasa bernama resah. Tidak hanya hari ini. Beberapa bulan sebelumnya juga sudah sering terasa. Mulai dari konflik batin, pertanyaan filosofis yang tiba-tiba terlintas di otak, tantangan dalam hubungan social, sampai skripsi yang masih saja buram. Namun dalam keletihan sekarang, masih saja kau bisa mengkhawatirkan beberapa orang disana. Aku letih. Dan aku tahu dia juga letih. Mereka juga letih. Disela-sela keletihan ini pikiran tentang mereka toh masih juga muncul begitu saja.
 

tentangku © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates