February 14, 2015

@BloggerPalanta on Social Media Sumbar Festival 2014

2komentar
Iya, ini cerita yang lagi-lagi terlambat di post.

Tapi ini nggak seterlambat beberapa postingan yang akan dibikin setelah ini kok #loh. Tujuannya cuma satu. Buat melunasi hutang-hutang postingan. Bisa jadi karena udah ada draft nya, ataupun yang diketik dari nol. 
lagi nunjukin logo Palanta
20 Desember 2014.
Adalah perayaan ulang tahun Social Media Sumbar yang ketiga. Dengan mengangkat tema “ Kita Bermimpi Kita Beraksi” seluruh komunitas yang ada di Sumatra Barat bersatu dan berubah menjadi Power Ranger sepakat mengadakan SMSFest2014 alias Social Media Sumbar 2014, termasuk Blogger Palanta.

bersama Ketua Panitia SMSFest 2014
Ketua Panitianya kan Palantaers juga -_-"
Dengan segala keterbatasan, seperti susah ngumpul, ga ada banner, dan dekorasi seadanya, Alhamdulillah, kita tetep bisa meramaikan acara.

Mading 2.0
Yang special dalam kumpul Blogger hari itu adalah...
bekal siang
     Yep..yep... entah kesambet dari mana aku rela donk masakin temen-temen Palanta. Mungkin lagi rajin sekalian belajar biar makin bisa masak padahal cuma goreng-goreng. Sayangnya foto waktu makan barengnya Cuma ada satu. Itupun ada di handphone aku yang lagi di RS.
Di TKP, ternyata belum rame. Mungkin karena masih siang dan cuaca emang panas banget. Meskipun gitu semua booth udah rame sama anggota komunitas yang ada. Ada Bayu dan Mpu yang bikin rame karena duet openmic nge-MC. SMSFest 2014 jauh lebih meriah daripada yang sebelumnya, karena masing-masing komunitas lebih bebas nunjukin hasil karya, menampilkan bakat, bahkan dikasih kesempatan untuk talkshow dan memperkenalkan kegiatan komunitas masing-masing. Doorprizenya juga lebih banyak. Salute to all the organizing committee. 
rela banget panas-panasan ya om..tante,,
MC
Eh, Blogger Palanta juga dikasih kesempatan talkshow. Dipandu oleh Awin, Palanta ditandem bersama beberapa komunitas yang terkait dengan IT. Ada Google Developer padang, Relawan TIK SumBar, Neotelemetri, dan Android Ranah Minang. Dan ternyata oh ternyata, yang mewakili masing-masing komunitas itu adalah anak Palanta semua J 
ini talkshow apa reuni?

Google Developer, Blogger Palanta, Neotelemetri, RTIK Sumbar, Android Ranah Minang 
Aul jadi narsum buat On-Air di Classy FM




ada ini di bajunya :) 
Acara puncak adalah tiup lilin dan potong kue sambil nyanyi bareng lagu Selamat Ulang Tahun. Sayangnya, lagi-lagi foto moment ini ada di hp yang lagi dirawat L. Map ya pemirsah. Well, dengan acara seperti ini tentunya diharapkan seluruh komunitas yang ada jadi lebih kompak, lebih banyak ngadain acara, dan lebih dikenal oleh masyarakat luas. Mudah-mudahan tahun depan Social Media Sumbar Festivalnya jauh lebih meriah. 

February 12, 2015

[review] The Silkworm-Ulat Sutra - Robert Galbraith

0komentar

Judul : The Silkworm: Ulat Sutra
Pengarang : Robert Galbraith
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2014
Halaman : 536
Rating : 4 of 5 stars
Tiada kecemasan yang tidak berkesudahan melebihi pikiran-pikiran manusia sendiri. – hlm. 35
Alhamdulillah, buku bantal kedua di 2015. 536 halaman.

Entah kenapa aku lebih suka buku kedua ini daripada Cuckoo’s Calling. Mungkin karena kasusnya lebih menarik. Dan mungkin karena modal minjem temen kantor, juga nggak berekspektasi lebih setelah agak kecewa di buku pertama.  

Setelah terkenal dengan kasus Lula Laundry, jasa detektif partikelir Cormoran Strike berkembang pesat.  Strike mendapat banyak klien setelahnya, meskipun pada umumnya adalah kasus-kasus keluarga dan harta kekayaan.

 Di The Silkworm, Strike masih memecahkan kasus pembunuhan, meski nggak straight to the point. Awalnya Strike hanya diminta eh, dibayar untuk menemukan suami yang hilang karena ngambek buku yang dia tulis yaitu Bombyx Mori (nama latin dari Ulat Sutra) batal diterbikan. Agak aneh sebenarnya, karena sang istri yang menyewa jasa Strike tidak terlihat cemas sama sekali. Bahkan sampai cerita berakhir berakhir beberapa tindakannya tidak menunjukkan ekspresi seperti orang pada umumnya berekasi. Seringnya Leonora terlihat santai dan tenang. Setelah pencarian beberapa hari ternyata Owen Quine, penulis Bombyx Mori ditemukan terbunuh menggenaskan di rumah kosong milik Quine dan temannya.

Dengan latar industri penerbitan buku, tokoh yang dimunculkan dalam The Silkworm agak lebih banyak dari Cuckoo’s Caliing. Beberapa penulis, editor, dengan jalan pikiran dan karakteristik masing-masing mewarnai novel ini dalam ulasannya tentang Bombyx Mori sehingga jauh dari kesan monoton. Well, mungkin karena aku memang suka dunia kepenulisan dan penerbitan buku aja kali.
Ya, ada orang yang diijinkan masuk oleh Penulis dalam hatinya. Tapi dalam Bukunya? Itu special. Itu beda. – hlm. 85
Lagi-lagi tidak seperti buku pertama yang menurutku agak membosankan. Strike juga diceritakan mengalami konflik batin dalam hubungan cintanya. Seperti bagaimana dia memulai berhubungan dengan orang baru, sampai tentang Strike bereaksi ketika mengetahui mantan kekasihnya akan segera menikah. Calon suami Robin, Matthew, juga lebih banyak diceritakan dengan konflik yang menarik. And I love how Strike and Robin built their relation.  Cerita-cerita seperti ini buatku menjadi sedikit angin segar setelah membaca bagian-bagian tentang penyelidikan yang memang agak rumit.

Satu kesamaan dengan novel sebelumnya buatku adalah masih tidak bisa menebak siapa pembunuh sebelumnya. Maybe this is the point I like the most. Yaa...tapi tetap aja sih aku masih terganggu dengan transletnya.      

 

tentangku © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates