Showing posts with label 2014 Reading Challenge. Show all posts
Showing posts with label 2014 Reading Challenge. Show all posts

July 01, 2014

[review] Amba: Sebuah Novel - Laksmi Pamuntjak

1 komentar

Mungkin itu sebabnya kita diajari untuk tidak mengumbar kata, karena begitu sesuatu diikrarkan, kita terikat dan tidak bisa menariknya kembali. Di hari itu aku semakin sadar, tak ada laku yang lebih ksatria dibanding menepati janji – hal. 289
Jleb banget yak?

Butuh waktu dan energi yang lumayan besar untuk menyelesaikan Amba. Novel berlatar sejarah 1965 setebal  496 halaman ini awalnya memang sedikit bikin bingung. Bingung karena,meskipun diramu dengan gaya bahasa yang puitis, kisah yang padat dengan nilai sejarah dan politik bikin aku ga kemudian langsung mengerti dengan sekali baca. Mesti pelan-pelan biar lebih menjiwai  #yakali.  

Memang tentang cinta. Namun mencintai Bhisma, seorang aktivis perkumpulan yang dinilai ‘bertentangan’ pada zaman itu tentu tidak mudah. Pun, mencintai seorang Amba, perempuan yang ‘berbeda’ dari kebanyakan kaumnya  pada masa itu juga bukan perkara gampang. Amba memiliki keteguhan hati dan prinsip. Beradu argument dengan adiknya yang kembar tentang apa itu kebahagiaan dalam membangun rumah tangga, Amba berani mengatakan bahwa ia pikir Ibunya tidak bahagia. Paling tidak begitulah yang dia lihat. Dan dengan gamblangnya Amba mengatakan ia tidak mau seperti itu. Bahkan Amba mampu membuat Si Ibu menangis-nangis karena lebih memilih kuliah dan meraih mimpi-mimpinya ketimbang menikah. Wel, buat kita yang hidup di zaman sekarang mungkin itu biasa. Tapi masa itu? Lain cerita! Terlepas setuju atau tidak pada akhirnya setelah dewasa, bagi Amba, Ibu tetaplah dipandang sebagai sosok yang berperan dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan untuk diri dan adik kembarnya.
Rahasia itu, Nduk, seperti kain lurik. Kita pakai di badan kita seperti tidak ada apa-apa di permukaan, tapi hangatnya menyelimuti tubuh. Itu akan membuat kita tak tergantung pada siapapun. Jangan mudah takut. – hal. 174
Bukankah ibu selalu mengajarkan, sebagai perempuan Jawa tenan, kau tak boleh mengumbar perasaan; Kita tidak dilahirkan dengan bakat menangis di panggung orang ramai.
Ibu, disini, tidak ada panggung orang ramai. – hal. 206
Aku mulai benar-benar menyukai novel ini ketika surat-menyurat antara Salwa dan Amba. Gimana tutur kata Salwa dalam mengekspresikan kerinduan-kerinduan dan harapannya tentang masa depan. Juga sikap Amba dalam merespon setiap surat; setiap keraguan yang muncul, setiap keheranan yang muncul karena Salwa yang begitu setia, semua ditulis dengan bahasa yang penuh kias. Sudut pandang yang berganti-ganti sesuai dengan tokoh membantu aku yang akhirnya mengerti jalan cerita novel ini. Bukan sekedar ‘cinta segitiga’. Karena dari novel ini aku baru tau dan tertarik dengan kisah Mahabrata, bahwa Amba adalah tokoh perempuan yang ditolak dua kali, oleh dua pria yang berbeda. Meskipun dalam novel ini Amba nggak secara eksplisit ditolak juga sih.  Tentang perjuangan Amba mengejar Bhisma sampai ke Pulau Buru dengan segala kenekatan seorang perempuan yang sudah berusia lanjut demi menjawab tanda tanya masa lalu berujung sia-sia, ada poin menarik disana...
Jika aku berbuat dan kalah, setidaknya kekalahan itu tidak kehilangan nilai. – hal. 260
Satu lagi yang membuat aku terkesan dengan novel ini, karena menjadikan Pulau Buru sebagai latar tempat. Jadi bikin nambah wawasan tentang Pulau yang terkenal dengan pengasingan. Kalau ada novel yang ngambil latar di sana, mau deh baca lagi. Entah kenapa aku cukup tertarik dengan cerita-cerita tentang kondisi 1965 yang dibalut dengan ‘ringan’ seperti ini.

Oya, banyak kalimat-kalimat yang bisa diambil buat pembelajaran hidup:
 Aneh memang: selalu ada yang membuat terlena dan tak berdaya pada hujan, pada rintik dan aromanya, pada caranya yang pelan sekaligus brutal dalam memetik kenangan yang tak diinginkan. – hal. 24
Apabila kita bertanya pada seorang ksatria tua, apa keberanian yang paling purba, dia akan menjawab: kewajiban. – hal. 58
Harga diri sering dekat dengan tinggi hati. – hal. 208
Bukankah terpisah,mengucapkan selamat  tinggal, adalah salah satu krisis terhebat dalam kehidupan manusia? – hal. 215
Sebab satu-satunya hal yang kekal adalah cinta orang tua pada anaknya dan cinta itu adalah yang bahagia melihat anaknya bahagia. – hal. 291
 Well, guys, I give 4 of 5 stars for this. Selamat membaca, terus saling berbagi komentar deh. Karena mana tau, apa yang aku nilai nggak sama J   
Kadang-kadang hidup ini bisa begitu...begitu sinting. Bahwa situasi tertentu sering mengundang tafsir tertentu. – hal. 23

June 02, 2014

[review] Life Traveler - Windy Ariestanty

1 komentar

Terima kasih kepada @penuliscemen yang telah meminjamkan buku ini. Nggak murni minjem juga sih, tukar pinjam tepatnya. Aku meminjamkan buku Eka Kurniawan, dia meminjamkan aku ini. Udah lama juga nggak minjem buku ke orang.
Bercerita tentang pengalaman penulis selama travelling di berbagai negara. Kita dibawa meloncat-loncat dari suatu tempat ke tempat lainnya. Aku mengira Windy Ariestanty akan bercerita tentang pengalamannya travelling di Indocina aja, karena itulah yang disuguhkan di awal bab. Ternyata kita dikasih lebih, nggak hanya Indocina, penulis juga bercerita tentang pengalamannya selama di Eropa, seperti Prancis, Jerman, Czech a.k.a Ceska a.k.a Ceko, dan Belanda. Bahkan di akhir bab buku ini juga ada tambahan cerita jalan-jalannya di Indonesia. Sejujurnya ini bikin bingung sih, karena ada bebrapa yang flashback dari perjalanan sebelumnya.
Tapi yang asyik saat membaca buku ini adalah, nggak hanya tentang jalan-jalannya aja. Menceritakan latar tempat adalah hal biasa dalam novel travelling. Yang bikin beda adalah penulis juga menyisipkan beberapa pandangan-pandangan terhadap apa yang dia lihat. Kita jadi tau bagaimana si penulis memaknai nggak hanya setiap perjalananya, tapi juga semua hal yang berhubungan dengan itu. Mulai dari berkemas, melihat kearifan lokal, menunggu, bahkan tentang pulang.
Ini yang berhasil aku kutip, dari novel Life Traveler. Tentang Windy yang melihat perjalanan lebih dari sekedar jalan-jalan:
Berkemas buat saya tak ubahnya dengan menyisakan ruang kosong lebih banyak agar bisa memuat lebih banyak – hal. 3
Hampir setiap hari kita hidup dalam batasan yang dibuat orang lain, nilai kebenaran yang berlaku umum karena dibentuk oleh lingkungan sosial kita. Perjalanan memberikan kita jeda dari itu, sedikit merdeka dari batasan tadi – Hal. 100
Cinta adalah sebuah perjalanan yang tak bisa ditempuh dalam satu atau dua hari. Tidak juga dalam sebulan atau saru tahun. Tidak ada peta untuk menemukan tempat bernama cinta. Tak ada buku panduan travelling yang bisa menuntun kita kesana. Cinta adalah perjalanan panjang, ia tumbuh tua bersama waktu dan manusia. Dan ia tak pernah benar-benar jauh, selalu memeluk manusia dengan erat. Mengisi celah yang mungkin hanya sejengkal itu. Memberi kita alasan untuk selalu pulang. – hal. 117.
Menunggu memang seperti sebuah jebakan. Bersembunyi di antara sela-sela waktu yang tak terduga. Ketika saya ingin bergegas, ia justru membuat saya harus memelankan langkah. Meminta saya melihat sesuatu dengan lebih jeli. Memberi saya sedikit ruang untuk menarik nafas untuk menikmati apapun tanpa tergesa – hal 233.
Entah di sudut mana, ia meninggalkan kita dalam rasa sesal karena kehabisan waktu. Padahal waktu tak pernah habis. Ia hanya terus bergulir dengan iramanya yang konstan, ia meninabobokan kita hingga lupa untuk bergegas. Kita tertinggal. Sementara ia terus melesat. Saya kerap berpikir, waktu ini seperti makhluk yang tak mau kalah. Selalu ingin jadi pemenang. – hal. 265
Membaca buku ini membuat aku ingin melakukan perjalanan lagi. Ingin kembali merasakan sensasi melihat sesuatu yang baru. Tetapi kali ini inginnya menceritakan lengkap dengan segala detail. Mengamati hal-hal yang mungkin terlewati; moment, ekspresi, atau sensasi. Merekamnya di otak dan menuliskannya di catatan untuk kemudian di posting kalau sempat.
Rindu rasanya. Apalagi setelah memasuki dunia 08-05. Masuk jam 8, pulang jam 5 kalau nggak lembur. Bukan, bukan berarti aku mengkambinghitamkan dunia yang aku pilih ini. Aku bersuyukur malahan. Nyari kerja nggak gampang, apalagi dengan penghasilan yang ’lumayan’ untuk aku yang masih sendiri. And i swear to God, it’s worthed. Hanya karena masih baru dan belum mengenal cuti, jadi keinginan untuk jalan-jalan ke tempat yang jauh harus disimpan dulu. Mungkin dimulai dari tempat-tempat di Sumatra Barat aja dulu kali ya.
Eh, jadi inget. Ada hal yang mesti aku syukuri. Menjadi mahasiswa selama 5 tahun 7 bulan membuat aku memiliki kesempatan melihat lebih banyak. Dan itulah yang membuatku ingin mengalaminya lagi.
Eits, satu lagi. Kita juga diingatkan untuk ‘pulang’ ke ‘rumah’, setelah melakukan perjalanan.
Home is a place where you feel more comfortable. Home is a place where you can be and find yourself. – hal. 349

May 28, 2014

[review] Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

0komentar

Bingung.
Itulah yang bisa aku komentarin setelah buku ini selesai dibaca. Gimana nggak, ngebet banget nyari buku ini berari-hari, sampe bela-belain pulang jogging, belom mandi,langsung ke Gramed, eh nggak ada, mensyen akun @Gramediabooks, balik lagi Malam minggu kesana, sendirian demi dapetin ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’. Sebegitu banget? Iya! Tergoda dari judul yang ngena banget bahkan direkomendasiin uda @melviyendra, gimana nggak penasaran, tentang apa sih bukunya?
Taunya, tentang burung. Iya, burung.
Burung yang terbang  di langit? Bukan. Tentang burung yang tertidur sangat lama alias impoten.  
Sumpah aku nggak ngerti.
Sepertinya aku belum punya ilmu tentang buku yang seperti ini. Nama Eka Kurniawan ini sebenarnya pernah aku kenal sebelumnya. Cantik Itu Luka  sudah aku baca sejak kelas 3 SMA. Masih jelas dalam ingatan, saat itu pun aku nggak negrti bukunya tentang apa. Yang aku ingat hanyalah tentang seorang gadis, ada mimpinya, ada harimau (kalau nggak salah) pokoknya jelmaan-jelmaan gitu, ada kuburan. Ah, gitu deh. Dan karena aku nggak ngerti maksud dari cerita itu, aku nggak terlalu tertarik lagi.
Eh, ketemu lagi sama Eka Kurniawan di buku ini. Katanya sih buku ini ditulis setelah vakum sekian lama.
Lalu maksud judulnya apa? Entahlah.
Aku Cuma bisa menebak ‘dendam’ dan ‘rindu’ yang dimaksud mungkin karena Eka Kurniawan yang pernah vakum 10 tahun dalam menulis. Mungkin...
‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’ adalah tulisan di truk milik Ajo Kawir, si tokoh utama. Hal ini pun muncul di sepertiga terakhir cerita. Kemudian, di akhir cerita ketika si burung akhirnya bangun dan ‘sehat’ dengan cara yang tidak terduga, dan ‘berkata’ bahwa dia akan menunggu dengan sabar, sesabar Ajo Kawir yang menunggunya bangun.
Dipaparkan dengan gaya bahasa yang vulgar dan bikin sedikit risih sih sebenarnya. Jadi buat yang gampang ilfeel, mending nggak usah baca deh, apalagi kalau cuma buat nge-judge. Ada banyak tokoh dengan nama yang unik, seperti Tokek yang juga sahabat Ajo Kawir, Rona Merah, perempuan sinting yang menjadi titik ‘kesialan’ Ajo Kawir, Si Kretek, Macan, Iteung, Budi Baik, Jelita, Mono Ompong, , dll.  Penamaan ini juga ada artinya nggak sih? Atau analogi gitu?
Well, I strongly emphasize that I have no idea about the book.
Jadi, ini review apa bukan sih, fhia? Haha..entahlah. kan udah bilang tadi intinya bingung. Aku sendiri akhirnya aku belajar dari sini. Jadi, allowed me to learn it first. Thanks to uda @Melviyendra.  

May 26, 2014

[review] Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

0komentar

Sejatinya, rasa suka tidak perlu diumbar, ditulis, apalagi kau pamer-pamerkan. Semakin sering kau mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya karena untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa memang sesuka itu.
Yeay, Tere Liye lagi!
Kali ini seorang adek komisariat yang katanya baik hati dan ‘elok laku’ (kalem, nggak banyak ulah) meminjamkan begitu saja ke aku. Baik, kan? Namanya Ijek.
Sederhana, Borno. Kau bolak-balik sedikit saja hati kau. Sedikit saja, dari rasa dipaksa menjadi sukarela, dari rasa terhina menjadi dibutuhkan, dari rasa disuruh-suruh menjadi penerimaan, seketika wajah kau tak kusut lagi. Sayangnya itu lebih mudah dikatakan. Praktiknya susah. –Pak Tua (hal. 59)
Sama dengan karangan Tere Liye lainnya; sederhana.

Memang sudah kelebihan Tere Liye sepertinya mengemas kisah-kisah sederhana namun selalu penuh makna. Borno, bujang berhati lurus yang mengalami satu fase disebut jatuh cinta. Tapi...Cinta yang jauh dari kesan murahan. Kepolosan Borno kerap membuatnya bingung dengan yang namanya ‘perasaan’ dan ‘cinta’ sehingga membuat dia sibuk dengan pikirannya sendiri, dengan pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan kepada Pak Tua ataupun Andi. Pak Tua yang bijaksana memang tak jarang memberikan ‘kata mutiara’ meski sering juga mengolok-oloknya.
Dunia  ini terus berputar. Perasaaan bertunas, tumbuh mengakar, bahkan berkembang biak di tempat paling mustahil dan tidak masuk akal sekalipun. Perasaan-perasaan kadang dipaksa tumbuh di waktu dan orang yang salah. – Pak Tua (hal. 146)
Pak Tua benar, masa muda adalah masaketika kita bisa berlari secepat mungkin, merasakan perasaan sedalam mungkin tanpa perlu khawatir jadi masalah. - Borno (hal. 164)
Camkan, cinta adalah perbuatan. Nah, dengan demikian, ingat baik-baik, kau selalu bisa memberi tanpa sedikit pun rasancinta. Tetapi kau tidak akan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi - Pak Tua  (hal. 168)
Mei, gadis bermata sendu menawan. Gara-gara angpau merah yang ternyata sengaja ditinggalkan di sepit milik Borno, kisah itu dimulai. Sengan segala lika-likunya, ternyata angpau merah itulah yang menjadi kunci untuk mengkahiri cerita. Mengambil latar di Kapuas, bikin beberapa moment terasa lebih romantis. Coba bayangin nge-date diatas sungai naik sepit berdua. Jadi lebih gimanaaa gitu. Juga ada Sarah, dokter gigi yang ceria dan riang. Bisa dibilang Sarah Adalah ‘pihak ketiga’ dari hubungan mereka.

Aku tetap suka dengan gaya bahasa dan cara pemaparan cerita Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah, meski nggak segreget waktu baca Rembulan Tenggelam Di Wajahmu. Tapi apapun itu, kalau udah tentang cinta, selalu menarik buat diperbincangkan. Daripada cinta-cintaan ala sinetron mending pad abaca ini deh. Nih, bisa dibaca beberapa kata mutiara *ceile* dari sini:
Dalam banyak urusan kita terkadang sudah merasa selesai sebelum benar-benar berhenti.- Pak Tua (44)
Jangan sekali-kali kau biarkan prasangka jelek, negative, buruk, apalah namanaya itu muncul di hati kau. Dalam urusan ini, selalu berprasangka positif. Selalulah berharap yang terbaik. Karena dengan prasangka baik saja hati kau masih sering ketar-ketir memendam duga, menyusun harap, apalagi dengan prasangka negatif, tambah kusut lagi perasaan kau - Bang Togar (Hal. 299)
Nak, perasaan itu tidak sesederhana satu tambah satu sama dengan dua. Bahkan ketik perasaan itu sudah jelas bagai bintang di langit, gemerlap indah tak terkira teta[p saja dia bukan rumus matematika. Perasaan adlah perasaan. – Pak Tua (355)

April 22, 2014

[review] Bumi - Tere Liye

0komentar

Bumi.
Apapun yang terlihat boleh jadi tidak seperti yang kita lihat. Apapun yang hilang tidak selalu lenyap seperti yang kita duga.
Nggak nyangka kalo ternyata Bumi adalah Novel Fantasi karangan Tere Liye. Dari beberapa karangan Tere Liye yang udah aku baca, memang semua tentang kehidupan sehari-hari yang dibalut dengan pemahaman dalam ruang hikmah yang mendalam. Tapi yang ini beda. Seolah Tere Liye menyuguhkan warna baru dalam tiap karangannya. Mungkin supaya nggak monoton juga. Kan keren ada berbagai genre jadinya. Oiya, aku belum baca yang Sang Penandai sih, jadi nggak tau kalau Tere Liye juga bikin fantasi gini.
          
  Tentang seorang remaja 15 tahun yang memiliki kemampuan menghilang. Plus teman-teman yang masing-masing punya kekuatan berbeda dan dari asal alias klan yang berbeda pula. Diceritakan juga bahwa ada beberapa kehidupan lain yang berjalan dalam waktu yang bersamaan selain Bumi. Hanya saja karena dimensi yang berbeda maka tidak terjadi benturan satu sama lain.  

Awalnya rada ngeri sih. Karena ada makhluk-makhluk apa gitu suka muncul dalam cerminnya Raib. Tapi bikin penasaran juga, karena nggak percaya masa sih Tere Liye cerita tentang hantu-hantuan. Eh, emang beneran bukan sih J.

Yang suka novel fantasi, bolehlah dimasukin dalam daftar bacaannya. Tapi jangan bandingin sama novel fantasi terjemahan ya. Ya jangan bandingin aja deh pokoknya.   
Sumber kekuatan terbaikmanusia dalah yang kalian sering sebut tekad, kehendak. (hlm. 137)

April 15, 2014

[review] Memang Jodoh - Marah Rusli

1 komentar

Adalah hadiah ulang tahun ke 24 dari seorang adik di himpunan yang juga seorang teman di kantor. Termasuk dalam daftar buku yang pengen dibeli sebenarnya. Eh, malah dikasih. Alhamdulillah, rejeki anak shaleh J

Bagi yang nggak tau Marah Rusli, mungkin masih inget sama Siti Nurbaya. Tahun 1920-an (lupa tahun berapa pastinya) Siti Nurbaya merupakan novel roman yang member warna baru dalam dunia sastra Indonesia. Pasalnya, Siti Nurbaya berkisah tentang pertentangan mengenai adat istiadat Minang dalam hal perkawinan. Novel ini merupakan bentuk protes dan perlawanan dari seorang Marah Rusli terhadap adat istiadatnya sendiri. Hebatnya gitu sih, cara melawannya elegan; menulis dan menghasilkan karya.

Nggak berlebihan deh kalau akhirnya beliau dikenal sebagai bapak Roman Modern Indonesia.

Bingung dan kaget karena tiba-tiba ada novel baru dari Marah Rusli. Toh, Beliau udah almarhum. Ternyata, Memang Jodoh udah rampung sejak tahun 1961. Sengaja dirilis tahun 2013, 50 tahun lebih setelah novel ini diselesaikan. Alasannya, buku ini baru boleh diterbitkan setelah orang-orang yang terlibat dalam kisah di dalamnya meninggal dunia.

Dari judulnya aja, kita udah bisa nebak kalau Memang Jodoh lagi-lagi bercerita tentang adat-istiadat perkawinan di Minang. Yang nggak nyangka, ternyata kisahnya adalah kisah pribadi dari Marah Rusli. Maka wajar lah ya, buku ini baru terbit setelah nunggu semua yang terkait udah nggak ada dulu meskipun nama-nama tokoh udah disamarkan.

Dan masih sama seperti karya sastra Indonesia lainnya. Gaya bahasa Indonesia yang masih menggunakan tatanan lama selalu jadi favorit aku.

Memang Jodoh membukakan cakrawala kita dalam melihat kembali nilai historis di Minangkabau. Tentang gaya hidup masyarakat dahulu yang menjaga adat-istiadat dengan tidak megizinkan pernikahan dengan suku lain selain Minang. Meskipun seiring perubahan zaman, kemudian sudah ada kelonggaran dalam banyak hal. Termasuk adaik babuhua sintak kali ya? *sok iyes inih, padahal lupa pelajaran BAM* *yang nggak tau BAM itu apa, silahkan googling*.

Mungkin ‘Memang Jodoh’ sudah kita maklumi dengan celetukan: Ya kalau jodoh, mau gimana lagi?’ 


Tentu saja tiap hidup akan mati dan tiap perjumpaan akan berpisah; tapi bukan itu pint akita. Kita masih muda, baru hendak dewasa. Galibnya, perjalanan kita masih panjang dan masih banyak cobaan yang akan kita tanggung (hlm. 35)
Tetapi janganlah tak kita percayai bahwa Tuhan tidak berbuat sia-sia. Segala perbuatan-Nya niscaya ada juga faedahnya. Apabila kita tak dapat menyelami faedah ini dengan sedalam-dalamnya, bukanlah karena tak ada faedah itu, melainkan semata-mata karena kita yang tak dapat mengetahuinya dengan pancaindra dan pikiran kita.  (hlm. 404)
Bukankah ilmu pengetahuan pun mengakui bahwa pancaindra kita tak sempurna, untuk menyandarkan sekalian yang ada dalam semesta alam ini; karena ia terbatas. (hlm. 404)
Tuhan tidak berbuat sesuatu yang tak baik, atau sesuatu yang sia-sia. Segala perbuatan-Nya semata-mata menuju kepada kebaikan juga, walaupun tidak selamanya dapat kita rasakan dan kita pikirkan. (hlm. 407)

February 14, 2014

[review] Warna Air - Kim Dong Hwa

2komentar

Merupakan buku kedua dari Trilogi Warna. Setelah di buku pertama, Warna Tanah, tokoh Ehwa pada Warna Air telah beranjak remaja. Kendati Ehwa menjadi lebih banyak bercerita kepada Ibu, tapi ia mulai memiliki rahasia, seperti layaknya gadis remaja. Tentang cinta, sosok lawan jenis yang mulai disuka, dan respon-responnya terhadap perasaan yang menyelimuti hatinya.
Masih memakai ‘bunga’ sebagai analogi dalam setiap perubahan psikologis yang terjadi pada diri Ehwa dan masih dengan gaya bahasa yang menyentuh, Kim Dong Hwa lebih berkisah mengenai bagaimana anak gadis di mata seorang Ibu. Dibuktikan dengan beberapa percakapannya dengan Ehwa yang sarat pesan, seperti (lupa cek halaman berapa):
Seorang anak sangat berharga, namun rapuh. Seorang ibu tidak akan membiarkan anaknya tidur di atas lantai yang kasar, makan buah yang bentuknya tidak sempurna, mengenakan pakaian compang-camping, atau menelan makanan yang sulit dikunyah. Begitulah hati seorang Ibu. (hlm. 166)
Jalan seorang wanita berbatu, dan jikalau kau tidak hati-hati, kau akan tersandung dan jatuh dan pincang sepanjang hidupmu. Hidupmu akan sulit dan selamanya kau akan jadi bahan tertawaan dan diasingkan.... Itulah sebabnya para Ibu sangat mencemaskan putri mereka, entah putri mereka berada di luar atau di dalam rumah.
Sesuai dengan usianya, Ehwa pun mulai merasakan yang namanya jatuh hati. Perasaan yang lebih kuat daripada ketika dirinya menyukai si Biksu dan si Pelajar. Kini Ehwa mulai menyukai sosok pria yang lebih dewasa. Dalam moment-moment inlah Ehwa dan Ibu sering membicarakan tentang cinta:
Namun, putriku sayang, meskipun cinta yang di mata bagaikan petir, cinta di hati adalah seperti perapian. Dan sebuah perapian adalah api yang terus menyala sepanjang malam. (hlm. 52)
Hati seorang perempuan benar-benar aneh. Ada saat-saat kita mendambakan perapian tempat kita bisa menghangatkan hati sepanjang malam. Jika tidak memeliki perapian, kita pun mengeluh. Tapi kita mencari penghiburan lewat kehadiran keluarga dan teman-teman. Meskipun begitu, kita mendambakan perapian berkobar-kobar yang dapat kita jaga sepanjang malam. (hlm. 53)
Tidak seperti bunga, manuisa –entah kaya atau miskin,cantik atau tidak—menilai tinggi diri mereka dan menghabiskan waktu dengan meributkan hal itu. mereka berusaha keras untuk menjadi yang pertama mekar, meskipun mereka belum siap.
Konflik yang dimunculkan dalam buku Warna Air juga lebih kompleks. Apalagi konflik ini terus berlanjut sampai ke penghujung cerita. Dan seperti biasa, bikin penasaran!
Yah, berarti mesti segera cari buku ketiganya, Warna Langit.


February 13, 2014

[review] Warna Tanah - Kim Dong Hwa

0komentar
 
Lagi-lagi rejeki waktu nemu dua dari Trilogi Warna ini dengan harga diskon. Termasuk wishlist di Goodreads karena uda @Melviyendra, seorang editor asal Payakumbuh, Sumatra Barat bikin ulasan buku ini dan nulis bahwa ceritanya tentang perempuan, which I always interested in.

Pertama kali baca novel grafis, selalu dibilang komik sama temen-temen -___-“

Kim Dong Hwa, mengisahkan tentang seorang anak gadis bernama Ehwa, dibesarkan oleh Ibunya yang single parent di daerah Namwon, Korea. Perubahan fisik, psikologis, dan kematangan berfikir yang terjadi pada diri Ehwa ternyata mengusik dirinya. Sang Ibu sebagai sosok yang lembut kerap menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan perumpamaan yang tidak vulgar, santai dan cocok untuk anak yang beranjak remaja. Contohnya ketika Ehwa bertanya tentang bagaimana seorang anak bisa muncuk ke dunia, beginilah Si Ibu menjawab:
Dengan penuh kebahagiaan kau akan menerima benih si bayi dan melalui rasa sakit kau akan melahirkan seorang bayi. Tapi inilah yang membuatmu menghargai dan menyayangi anakmu
(hlm. 67)

Analaogi yang dipakai dalam novel ini terasa begitu lembut. Hujan musim semi dipakai sebagai perumpamaan perubahan kedewasaan dalam diri Ehwa. Sayang aja, di Indonesia cuma ada 2 musim.
Muda maupun tua, perempuan makhluk yang aneh. Bersama datangnya setiap musim semi, pikiran mereka semakin matang. (hlm. 37)

 Kemudian bunga sebagai perumpamaan seorang perempuan. Dari novel ini juga aku ‘belajar’ mengenal tentang bunga. Yep, to be honest, aku nggak terlalu suka bunga. Bahkan belum pernah dikasih bunga. Eh, udah dink, waktu wisuda. Tapi yang ngasi perempuan #kode.  Banyak jenis bunga yang disebut, seperti Dandelion, Kamelia, Tiger Lily, Azalea, Hollyhock, sampai Bunga Labu.  

Hati seorang wanita merekah jadi bunga dan bernyanyi bagai burung hanya karena hujan yang tak diundang tahu-tahu singgah (hlm. 108)
Seorang wanita dapat menjadi ratusan jenis bunga sepanjang hidupnya (hlm. 158)

Aku suka dengan kisah Ehwa dan Ibunya yang sarat akan kasih sayang, keterbukaan, dan quality time yang mereka punya. Memang nggak ada yang bisa gantiin posisi Mama kalau mau cerita. Yaah...sedekat apapun anak perempuan ke Papa, ada beberapa hal yang hanya bisa diceritakan ke Mama lebih dulu.
Satu lagi, gaya bahasanya. Puitis.

Apakah wanita makhluk yang sangat rumit? Atau sinar matahari musim semikah yang rumit? (hlm.196) 
Di dunia ini semua orang bekerja keras untuk bertahan, tapi setidaknya kita bisa mendapatkan sedikit kesenangan dari kerja keras kita itu (hlm. 199) 
Inilah caraku menunjukkan cinta. Selalu ada semangkuk sup hangat siap untuk seorang laki-laki yang tidak engatakan kapan atau pada pukul berapa ia akan tiba (hlm. 259)
 

tentangku © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates