Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

June 27, 2012

Hujan Bulan Juni

2komentar

Hujan Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu…
Hujan turun. Kau bisikkan puisi itu di depan perutku yang membuncit. Di sebuah sofa kumal dalam rumah sederhana. Dengan tangan saling terkait.
…Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni Dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu…
Dug. Ada tendangan kecil. Genggaman tanganku semakin kuat. Kamu tersenyum. Aku melepas genggaman tangan kita. Kemudian meraba matamu yang tertutup. Aku yakin, mata hatimu dapat melihat selengkung garis itu juga muncul di bibirku.
Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni, dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu
(SDD - Hujan Bulan Juni  – hal. 90)

May 16, 2012

Tamu Itu Bernama Biru

6komentar

Tidak, aku tidak jatuh cinta dengannya.
Namanya Biru.
Dia tidak menggoda. Aku juga tidak tertarik. Aku bahkan tidak ingat kapan persisnya pertama kali aku bertemu dengannya. Pertemuan selanjutnya juga tidak ada yang spesial. Hanya senyum tersungging dari wajahnya kemudian melengah tanpa peduli apakah aku membalas senyumnya atau tidak. Seolah tahu bahwa aku telah membangun dinding di ruang tak terlihat dan tak ada yang bisa masuk.
         Tapi di pertemuan entah keberapa, ada sepotong kata terucap.
         Masih dengan senyum manisnya,“Hai.” Kemudian berlalu.
Satu kata yang di hari-hari berikutnya menjelma menjadi percakapan yang tak terhingga. Ia tersenyum,memintaku untuk mengizinkannya berkunjung ke rumah. Bertamu. Mengajakku mengobrol, menemaniku menghabiskan malam. Semalaman. Hingga malam-malam berikutnya.
Biru.

May 11, 2012

Aku Tulis Ini Untuk Kamu

1 komentar

My dear,
 aku tulis ini untuk kamu…



April 02, 2012

1 Message Received: R

4komentar

Aku menatap layar handphone.
Menu. Message. Create Message. Ok.
Diam.
Kuletakkan lagi.
Kurobek kertas dari blocknote yang tergeletak di sudut meja. Kurogoh pena dalam Gucci hitam yang kuletakkan begitu saja di atas kasur sepulang kantor tadi.
Diam. Berfikir sejenak, lalu menggoreskan
“aku...kangen...”

Seketika kubuat silang besar di atas kalimat itu dan menyobek kertas baru.
Hmmmpph...
Mengalir saja, batinku. Satu kata. Dua kata.

“Malam ini, aku mau bilang, I miss you...”

Jeda.

“...Ketika kamu pilih untuk diam dan tidak mengungkapkan apa-apa. Mungkin itu yang nanti bakal bikin aku kepikiran kamu. Padahal saat sekarang pun aku suka kepikiran kamu, membayangkan kamu ada di dekat aku.
Berlama-lama. Ngobrol apa saja.
Lalu aku pikir-pikir lagi. Tentang kamu.
Kadang ada perasaan kita jauh banget. Merasa ketakutan: nggak cocok, nggak pas, nggak pantes, nggak seharusnya. Ada aja yang muncul ketika aku mengelupas tentang kamu. Dan tetiba bisa jadi nggak enak hati. Bersalah karena ngebiarin pikiran negatif merasuk.
Aku takut. Aku mau kamu. Aku suka kamu. Meski kebanyakan caraku mengatakan itu nggak selalu tepat. Aku tau, setiap pilihan memiliki resiko. Tapi hatiku telah memilih kamu.
Meski aku harus kecewa, sedih yang terlampau banyak.
Malam ini, kamu masih tetap jadi pacar aku kok.
Aku masih kangen kamu.
Kangen ngobrol malem-malem sambil muterin kota tanpa tujuan. Es krim, sate, sup buah, apa saja.
Janji, senin kita kan ketemu?
I miss u...”

Setelah melipatnya menjadi 4 bagian kuselipkan kertas tadi dalam blocknote tempatnya berasal. Lalu kulempar begitu saja keatas kasur, tepat jatuh diatas Gucci hitam pemberian Ray. Kuraih handphone seraya menekan-nekan tombol hurufnya. Merangkaikan kalimat:
       
“Really Miss U. Call me... :*”
Send.
Diam. 5 menit.
I message received: R.
Open.
        “Jangan sekarang. Anakku lagi mainin hp yang ini”
-----

November 09, 2011

Malam Ini Hujan Tak Datang

3komentar

Sudah seharian jari ini terdiam di atas tuts hitam milik notebookku. Sudah puluhan kali pula kakiku mondar-mandir mencari sesudut tempat yang nyaman sambil mengharap sang inspirasi datang. Seketika aku kehilangan kemampuan menulisi apa yang aku pikirkan dan kurasakan. Mungkin karena masih berduka karena tidak mampu melawan sepiku sendiri. Hingga aku hanya bisa diam berjam-jam memandang layar Ms. Word yang masih polos.
Bip. 1 new message.
Hatiku berdetak kencang. Harusnya itu kamu, Ari. Kuraih ponsel dengan tangan gemetar.
Kamu dimana De? Jangan menghilang ginilah. Share donk. Gue pinjemin bahu deh buat nangis. Jangan sok kuat sendiri deh.
Lyra.
Dia pasti tau ada apa-apa padaku karena tak menemukan tulisan baru di teras blog coklat milikku. Antara senang dan kecewa. Senang karena hubungan persahabatan yang telah kami jalin sejak SMP dulu menciptakan ikatan emosi yang kuat. Kecewa, karena itu bukan kamu Ari. Dengan enggan kubalas sms Lyra.
Sabar. Having writer’s block nih.
Sent.
Gambar surat meloncat-loncat di layar ponselku. Seperti pikiranku yang meloncat kian kemari. Pada tiap moment yang telah kulewati bersamamu setelah hampir setahun. Hampir. Beberapa menit lagi. Satu tahun kita.
Sudah hampir jam 9 malam. Belum ada satu kata pun yang kuketik. Juga belum ada satu kabar pun darimu. Aku memutuskan untuk mengambil strawberry cupcake kesukaanmu. Tahukah kamu? Saat aku beli tadi pagi, Ami, si penjaga toko tersenyum padaku. Akhirnya, dia tersenyum! memang sih, ada yang sedikit aneh dari tatapannya. tapi, ingatkah gara-gara kamu sering berbelanja disana, dia naksir kamu dan bersikeras untuk menjadi orang yang selalu melayani kamu? Itu membuat kamu takut. Sehingga sejak saat itu kamu tidak pernah berani menginjakkan kaki ke toko itu tanpa menggandeng tanganku. Sepertinya itu cukup membuat dia patah hati sampai-sampai aku menjadi korban muka masamnya tiap kali aku kesana. Mungkin dia kesal karena aku merebut pujaan hatinya. Hahaha…kamu memang gampang membuat wanita jatuh hati Ari. Wanita mana yang tidak meleleh melihat senyum kamu?
Strawberry cupcake itu masih dalam kotak dan terbungkus plastik. Aku mengeluarkannya dengan hati-hati. Takut lepas dari genggaman tanganku yang mulai mengigil. Aku meletakkannya dari plastik. Berharap beberapa saat lagi kamu datang dan kita berdua bisa menghabiskan malam sambil menyantap cupcake itu sampai habis.

October 25, 2011

Magazimaniac

0komentar

Magazimaniac
Oleh: Hafizhah

“Pergi bentar ya Ma,”
“Masih hujan, Ni… Bentar lagi aja…” seru Mama dari dapur.
“Tenang aja Ma. Nanti keabisan.”
Runi berlari menembus hujan.
-----
Di dalam kamar, Runi mengeluarkan isi lemari bukunya. Tepat ketika ia membuka lemari bagian bawah, semua isinya tumpah, berjatuhan di pangkuan Runi dan karpet yang terbentang. Seolah tak terjadi apa-apa, Runi berdiri dan membuka lemari bagian atas.
Bruuukkk…
        Dengan sigap Runi berpindah selangkah ke kiri. Ia mengangkat pundak dan dan mngeraskan rahangnya menahan kekagetan. Runi tersenyum memandang apa yang baru saja dilakukannya. Ia melihat seisi kamar yang telah penuh dengan berbagai majalah. Pintu kamar seketika terbuka. Mama. Runi terkesiap. Ia lupa mengunci pintu.
        “Runi ngapa…”
        Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, pandangan Mama beralih ke isi kamar yang sekarang seperti kapal pecah. Kemudian matanya tertuju pada lemari buku besar yang seluruh pintunya terbuka kecuali pintu kaca. Runi terkekeh. Tepat pada saat itu pula ekspresi Mama berubah. Mata Mama membesar dan nafasnya tertahan. Nada bicaranya berubah dingin.
        “Tolong kamu jelaskan apa yang terjadi disini anak muda.”
        “Runi lagi ngerapiin kamar, Ma.”
        “Iya, tapi ini apa?”
        “Mm…mm…majalah…” Runi bingung. Plis deh ma, ini aja ngggak tau, batin Runi.
        “Uang darimana kamu bisa beli majalah sebanyak ini?”
        “Uang jajan ada, tabungan ada, uang ikut proyek dosen ada, upah nulis cerpen juga ada, Ma. Kalau yang ini dibeliin Papa. Nah, yang ini hadiah dari Kak Iim waktu Runi ulang tahun. Kebetulan yang ini ada hadiah langsungnya, Ma. Buku agenda yang Runi pakai waktu tahun dua kuliah. Trus…yang ini…” jelas Runi sambil menunjuk-nunjuk majalah yang berbeda.
        “Udah! Maksud Mama kok bisa sebanyak ini?”
        “Kan udah dari SMA, Ma”
        “Buat apa sih? Buang-buang uang aja! Cuma bikin numpuk di lemari kan?”
        “Yaaahhh…Ma. Aku kan mau kerja di majalah, Ma. Kan seru”
        “Iya, tapi kan nggak harus numpuk-numpukin gini. Sampai penuh gitu lemarinya. Udah nggak muat lagi. Inget dong, kamu tuh udah sarjana. Jangan kayak anak-anak gini deh.” 
        “Kan belajarnya dari sini, Ma” suara Runi melunak.
        “Ah, itu nyampah aja. Udah deh, sekarang lemari bukunya udah nggak muat kan? Kamu ambil kardus sekarang. Masukin yang udah nggak perlu gitu. Simpen aja di gudang. Kalau ada tukang loak Mama jualin aja. Ada-ada aja kerjaan kamu!”
        Mama membalikkan badan, lalu menutup pintu. Runi terdiam.
-----
        Hujan masih lebat. Namun Runi sudah siap dengan payung di tangan kanan.
        “Ma, pergi sebentar ya…”
        “Kemana, Nak?”
        “Emm…5 menit kok, Ma.”
        “Loh? Mama kan nanya kemana. Bukan berapa lama. Kok kamu nggak…”
        Ucapan Mama terpotong ketika melihat Runi sudah berlari keluar pagar. Jantung Mama berdegup lebih cepat. Jangan-jangan…
        Mama buru-buru ke kamar Runi. Tak ada yang berubah. Lebih rapi, batin Mama. Mama memandang sekeliling. Kemudian penglihatannya terhenti pada sesuatu berwarna coklat yang disandarkan ke lemari buku. Kardus yang diambil Runi masih terlipat rapi. Mama mengambil kardus itu dan memutar kunci lemari yang tergantung. Koleksi majalah Runi dari SMA sudah tersusun rapi didalamnya.

October 18, 2011

Perempuan Pertama

1 komentar

Perempuan Pertama
Oleh: Hafizhah

Seperti biasa aku menunggumu di ambang  senja.  Saat kakimu mulai letih dan pundakmu rapuh. Wajahmu terbeban oleh setumpuk masalah di kantor. Kau kembali menemuiku. Memelukku dalam bisu. Kemudian aku menatapmu, jauh ke dalam matamu. Ada gelisah yang kau simpan di sana.
“Kenapa sayang?” tanyaku
“Tadi siang Fatia menelfonku. Nirina sakit. Sejak kemarin panas badannya belum turun. “
        Tenggorokanku tercekat. Pantas saja. Anakmu sakit. Setiap Ayah pasti akan cemas jika itu menimpa anak perempuannya. Buah hati yang selalu ada dalam ceritamu. Tiap kata yang meluncur dari mulutmu selalu tentang Nirina dan sejuta tingkahnya yang menggemaskan. Tentang panggilan ‘Ayah’ yang keluar dari bibir mungilnya. Tentang keluhmu ketika si kecil lebih memilih Bunda-nya hanya karena kau larang dia berlari terlalu cepat agar tidak terjatuh. Semua tentang dia. Selalu tentang dia. Hatiku teriris setiap kali mendengarnya. Tak jarang aku berteriak dalam hati agar kamu mau menghentikan ceritamu dan memintamu memandang wajahku. Menikmati sedikit waktu yang kita punya. Tapi aku juga tak mau merampas senyum itu dari wajahmu. Sehingga aku memilih menarik semua teriakan hatiku dalam kebisuan.
        Aku melepasakan pelukanku. Menunduk dan tersenyum pahit. Namun cepat aku menguatkan hatiku, seraya berkata,
        “Kalau begitu, pergilah. Kamu Ayah yang baik.”
        Kamu terpana memandangku. Tapi aku tahu kamu juga tak kuasa meminta hal itu langsung dari mulutmu. Malam ini seharusnya malamku. Malam kita. Sekilas kulihat tatapan kasihan terpancar dari sana. Kamu buru-buru memelukku lagi. Aku tau kamu berterima kasih atas keputusanku ini. Dan aku yakin kamu tengah berpikir untuk membayar pengorbananku. Kamu tak akan tahu, setiap waktu yang hilang tak akan pernah bisa terbayar oleh papaun. Karena bagiku, kehadiranmu adalah segalanya.
        “Cuma buat malam ini. Aku akan mengabarimu,” janjimu.
        “Sampaikan salamku pada Fatia. Aku juga mendoakan kesembuhan Nirina.”
        Tentu saja semua itu agar kamu sgera kembali dalam pelukku. Setelah mengecup bibirku, kamu berlari ke mobil sambil mengeluarkan kunci dari saku. Bisikanku tenggelam dalam suara mesin mobil yang menderu.
        “Aku merindukanmu,”
        Kamu meninggalakanku sebuah senyuman. Aku menatapamu, melepasmu sampai mobil yang kamu bawa hilang dari pandangan. Ketika itu juga seluruh pertahananku hancur. Tangisku pecah.

October 17, 2011

Di Atas Kereta

0komentar

Di Atas Kereta
Oleh: Hafizhah

Pa,
Dulu Papa pernah bilang kalau menulis itu melegakan. Apalagi kalau hati sedang menanggung beban berat. Marah, sedih, rindu, cinta, bahkan maaf. Tapi entah kenapa aku tak pernah mencobanya. Bukan meragukan kata-katamu, Pa. Tapi meragukan kemampuan ku untuk menulis dan merangkai kata yang bagus. Nilai menulisku di kelas Bahasa dulu tak pernah lebih dari 7. Kurasa, aku tak punya bakat. Aku juga takut kalau maksud dan tujuanku tak tersampaikan lewat tulisan. Bagiku, berbicara lebih asik. Lebih langsung dan lebih ekspresif.
Tapi Pa, jangan marah kalau aku baru mencobanya sekarang ya? Butuh keberanian besar untuk menuliskan kalimat pertama. Takut salah. Takut jelek. Takut berhenti di tengah jalan. Tuh, bener kan Pa? Baru saja mau mencoba semua ketakutan sudah muncul lagi. Ah, bingung..
Pa,
Kabarku baik kok Pa. Selalu baik. Aku punya teman-teman yang baik disini. Memang tak selalu ada untukku Pa, karena yang bisa seperti itu cuma Mama dan Papa. Aku jarang sakit. Meski sering begadang, merokok dan pola makanku tak teratur, rasa-rasanya aku menjadi sosok yang lebih kuat sekarang. Aku sanggup tidak tidur tanpa sempoyongan besoknya Pa. Buat Papa, itu bukan suatu yang patut dibanggakan ya? Tapi bagi aku dan teman-teman, itu prestasi Pa.  
Kuliahku,..hmm,…. Aku berterima kasih karena Papa tidak pernah menuntutku. Tapi aku tau, akhir-akhir ini, hal itu yang menjadi beban buatmu. Aku mengerti dari raut wajahmu tertahan sebuah pertanyaan. Yang dulu pernah Papa lontarkan padaku dan seketika perasaanku berubah. Pertanyaan yang bisa membuatku uring-uringan. Itu juga yang membuatku malas pulang ke rumah. Padahal 2 jam perjalanan tidak akan ada artinya jika dibanding dengan senyummu yang menungguku di teras rumah dan urap sayur buatan Mama.

October 16, 2011

Jangan Salahkan Hujan

0komentar

Jangan Salahkan Hujan

Oleh: Hafizhah
(Terinspirasi Blame It On The Rain by He is We)

Semilir angin langsung menyerbu masuk ketika pintu ruangan terbuka. Mataku beralih dari novel yang sedang kubaca ke sosok di yang melangkah memasuki ruangan. Sesaat nafas ku terhenti. Rahangku megeras. Sosok tinggi, agak kurus, dengan tas gitar di punggung menatapku, senyum. Dia mengambil duduk tepat di sampingku dan memindahkan gitar ke pangkuannya. Aku terpana. Aroma Gatsby Woods memburu penciumanku. Senyum tadi hilang digantikan dengan kernyitan di kening.
“Hoi! Pake bengong. Bales senyum gue kek. Kalo tadi ada orang, malu tau. Gue senyum nah elo nya diem aje. “
“Iyaaah..nih.. Gue senyum. Udah kan?”
The Godfather di tanganku langsung mendapat saingan. Tiba-tiba novel itu tak lagi menarik ketimbang berbincang dengannya. Gerry, mahasiswa Fakultas Ekonomi angkatan 2006, belum tamat, hobi main gitar dan game online, selalu memakai kaos hitam dan dilapisi jaket atau sweater. Salah satu senior yang punya banyak fans di Studio Merah, komunitas seni kampusku. Hidungnya mancung, agak sedikit patah. Katanya karena main bola waktu kecil, lawannya yang kalah malahan nendang bola ke muka dia. Rambut keriting, mata bulat, bibir kecil berwarna merah meskipun suka merokok. 
“Buku apaan tuh?”
“The Godfather. Baru dapet pinjeman.”
“Tebel banget. Mau banget sih bacanya? Kenapa ga nonton aja coba?”
“Ntar, baca bukunya dulu. Emang udah nonton?”
Aku bahkan tau kalau dia ngakunya hobi baca. Tapi aku yakin dia bohong. Aku pernah memperhatikan dia sedang berkumpul dengan senior-senior Studio Merah yang lain. Saat itu mereka lagi diskusi tentang filsafat ilmu. Aku tergoda ingin ikut diskusi waktu itu apalagi karena beberapa hari sebelum itu aku baru saja menyelesaikan membaca biografi Nietzsche, seorang filsuf asal Jerman. Tepat ketika aku ingin duduk, Gerry menengok ke arahku mengajak bergabung. Tapi kemudian aku mengambil keputusan yang aku sesali seumur hidup. Aku malah tersenyum dan menggeleng. Kemudian tanpa merasa apa-apa dia memalingkan muka lagi dan melanjutkan obrolan yang sempat terputus.
“Belom. Pesona si Don Corleone ga mempan ama Gue, hehe.. Kok sendirian? Mana yang laen? Mau nunggu atau duluan aja nih?”
“Masih pada kuliah. Terserah yang mau ngajarin donk. Mau dimulai sekarang atau nanti”
“Sekarang aja deh. Nih, pegang gitarnya. Senam jari aja dulu,”
Aku memasukkan novel ke dalam tas dan mengambil gitar dari tangannya. Deg-degan. Sore itu aku habiskan berdua saja, belajar gitar. Dia begitu telaten mengajari ku. Senyumnya berhasil membuatku meleleh dalam hitungan detik. Sikapnya yang begitu baik membangkitkan harapanku. Tapi tentu bukan hanya aku yang merasakan hal ini. Gerry terkenal gampang membuat perempuan jatuh hati. Dan salah satu perempuan yang jatuh itu adalah aku, Nindy.  
------

My Family, My Little Wonders

1 komentar
My Family, My Little Wonders
Oleh: Hafizhah

Let it go. Let it roll right of your shoulder
Don’t you know. The hardest part is over…
Suara jernih Rob Thomas dalam lagu Little Wonder mengalun indah dari mp3 player ku. Gemanya memenuhi kamarku yang kini kosong karena semua barang sudah kumasukkan dalam kardus. Sembari membersihkan sisa-sisa selotip bekas poster yang tertempel di dinding aku mengucapkan selamat tinggal pada kamar yang kutempati 12 tahun terakhir. Aku besar disini, lirihku..
“Silmy….masukinlah barang-barangnya ke mobil.”
Tiba-tiba suara Papa terdengar dari balik pundakku. Aku memandang wajah Papa. Sekilas, kulihat senyumnya untukku. Aku membalas tapi buru-buru aku membalikkan badan mengangkat satu kardus penuh berisi buku-buku diari milikku sejak SD sampai SMA. Aku takut air mata yang mulai menggenang di mata ku terlihat oleh Papa. Papa tidak boleh melihatku menangis. Hanya karena ini.
“Yang itu mau di bawa juga? Emangnya masih dipake?” tanya Papa sambil melirik kardus yang kubawa.
Aku mengangguk cepat. Tentu saja Pa, batinku. Di dalam kardus ini aku mengabadikan huidupku dalam bentuk tulisan. Memang tidak setiap hari aku menulis, tapi aku selalu menyempatkan diri menuliskan setiap moment berharga bagiku. Dan itu sudah kumulai dari sejak kelas  5 SD. Sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di rumah ini 12 tahun yang lalu. Sejak kepindahan pertama ku ke kota ini. Dan kini untuk kedua kalinya dalam hidup, aku dan keluargaku harus pindah. Tapi kali ini dengan nuansa hati yang jauh berbeda.
“Sabar..kita juga pindah buat sementara. Nanti kalo Papa ada rejeki, kita bikin rumah yang lebih bagus. Dan pastinya rumah sendiri. Sekarang kita ngontrak dulu.”
Papa seperti bisa membaca pikiranku. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum. Bukannnya aku tidak setuju untuk pindah. Hanya saja, rumah ini puny nilai sejarah yang tinggi. Terlalu banyak memori yang direkam bersama rumah ini.
“Papa juga sabar ya. Mudah-mudahan skripsi Imy cepet selesai, lulus kompre, wisuda, trus dapet kerja. Abis itu gajinya bisa ditabung buat bantu bikin rumah,”
        Sepertinya Papa tak tahu harus menjawab apa. Karena setelah itu, Papa hanya mengusap rambutku dan membantu mengangkat dua kardus sekaligus. Ini memang yang terbaik. Kami memang harus pindah. Pikiranku kembali melayang ke masa itu. Dulu sekali.
Dulu, 13 tahun lalu, Mei 1998.
       

October 15, 2011

Tentang Kita

0komentar
Tentang KIta

08.03.11 – 09:34
Aku ingin bercerita. Tentang kita.
Tentang malam-malam yang mempertemukan kita.
Tentang rasa dan logika yang menyala seterang-terangnya.
Kemudian membiarkan kita tenggelam dalam kata dan retorika.
Pena kita menari. Otak kita berpacu. Rasa kita meledak
Kita selalu menikmatinya.
Menciptakan mimpi, membangun dunia.
Aku menemanimu memandang senja yang mengantarkan kita pada malam.
Kamu, menemaniku melihat fajar yang menggiring malam kepada pagi.
Begitulah kamu. Datang mengetuk hatiku.
Begitulah aku. Belajar membuka hati yang sempat tertutup karena pernah luka.
Begitulah kita bermula.

08.04.11 – 09:34
Aku masih tidak percaya kalau itu kamu.
Beraninya kamu selalu ada di sisiku meski kita bercerita tentang seseorang di masa laluku
Beraninya kamu memintaku menemanimu menjaga komitmen ini.
Padahal rasamu untukku belum seberapa.
Tapi kamu akui kemudian rasa itu tumbuh begitu cepat dan meledak-ledak. Begitu kata mu.
Sehingga tak ada satu hariku pun tanpamu.
Ah, kamu. Beraninya kamu mengobati luka ku. Karena sepertinya sudah mulai mengering.

08.05.11 – 09:34
Aku mulai mencintai pagi.
Karena pagi yang biasanya menyatukan kita.
Dan karena setiap pagi,
Aku belajar mencintaimu dari sudut yang berbeda.


 

tentangku © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates