Showing posts with label #ReadAtYourOwnRiskChallenge. Show all posts
Showing posts with label #ReadAtYourOwnRiskChallenge. Show all posts

April 22, 2016

[review] Semesta Sebelum Dunia - Fahd Pahdepie

3komentar


Judul: Semesta Sebelum Dunia
Penulis: Fahd Pahdepie
Penerbit: Nourabooks
Tahun terbit: 2013
Halaman: 242
Rating: 5 of 5

Pertama-tama dalam melakukan perjalanan, tentukan dulu ke mana arah tujuanmu. Lalu ketika kau mengambil langkah pertama, lakukan terus sampai langkahmu selesai tanpa menyerah – hal. 70
Menempuh sbeuah perjalanan untuk mencapai tujuan tertentu yang benar-benar ingin segera kau capai tak pernah terasa menyenangkan. Perjalanan itu akan benar-benar terasa lama dan membosankan. Tapi itulah tantangannya – hal. 71

Thanks to Kak Ferdi yang udah merekomendasikan buku ini waktu kopdar di Jooks. Aku masi inget waktu dia menggebu-gebu banget cerita pengalamannya baca buku ini. Aku pikir, sebagus apa sih? Taunya, selesai baca buku ini, aku bener-bener puas bahkan sempat nangis di tenga-tengah cerita. Emang dasar rejeki anak shalehah, aku nemuin buku ini di deretan rak buku diskonan di Gramedia Padang. Murah banget. Cuma sepuluh ribu.

Dan jeda membuat kita melihat ke dalam diri kita sendiri. Itu yang penting. – hal. 97

Satu hal yang aku rasakan ketika baca buku ini adalah geli-geli ngilu di bagian perut. Efek yang sering aku rasain kalo ada ibuk-ibuk lagi cerita tentang kehamilan, melahirkan, dan sejenisnya. Meski kali ini agak beda, karena aku bukan mendengar, tapi membaca. Ga disangka, semesta sebelum dunia yang dimaksud adalah alam rahim. And yes, buku ini menceritakan bagaimana proses seorang calon bayi ‘hidup’ sebelum dia lahir di dunia. Lebih serunya lagi, Fahd yang menceritakan dengan cara yang unik. Seolah-olah ada ‘sosok’ yang bercerita kepada diri kita secara langsung. Dan ‘diri kita’ adalah bayi yang sedang berada dalam rahim seorang ibu

Kepala adalah simbol ego dan pantat adalah iymbol kepasrahan – hal. 158

Kalau boleh dibilang buku ini mengandung unsur sains dan spiritual. Tapi sama sekali nggak ngebosenin dan nggak menggurui. Pas baca buku ini, aku secara ‘sukarela’ disadarkan tentang substansi kehadiran manusia di muka bumi. Duh, mulai berat bahsanya. No, no, bahasa yang dipakai oleh penulis nggak seberat itu. Banyak hal yang diingatkan oleh sosok misterius kepada janin (baca: diri kita)/ Dan hal-hal tersebut adalah realita kehidupan dunia. Nggak melulu kebahagiaan yang ditampilkan, tapi selalu ada unsur kebaikan di dalamnya.

Semoga buku ini semakin banyak dibaca orang, agar nilai-nilai kebaikan itu menyebar kemana-mana

Memberi adalah mendapatkan lebih – hal. 74

March 27, 2016

[review] Pulang - Leila S. Chudori

0komentar


Judul: Pulang
Pengarang: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Terbit: 2014
Cetakan: Keenam, Februari 2015
Halaman: 461
Rating: 4 of 5

C’est la vie et l’histoire de la vie – hal. 257

Setelah hampir setahun buku ini dianggurin, bahkan direlain untuk dibaca duluan sama beberapa adek komisariat karena mereka dirasa perlu membaca buku seperti ini. Entah mana yang aku beli duluan, Amba atau buku ini, aku nggak inget. Yang penting keduanya sama-sama bercerita tentang pergolakan Indonesia tahun 1965. Meskipun bagi aku, Pulang terasa lebih kental dan ‘berisi’.

Saya percaya Allah memberi rizki kepada saya dengan menyisakan speetak ruang kecil di hati hamba-Nya. Dalam sepetak ruang suwung, sebuah gelembung kekosongan, yang hanya diisi antara saya dan Dia, di sinilah saya selalu mencoba memahami apa yang terjadi – hal 34

Adalah Dimas Suryo, seorang eksil yang terpaksa tinggal di Paris. Bersama Nugroho, Tjai, dan Risjaf, mereka bukan hanya tidak bisa pulang, tapi juga tidak lepas dari pengamatan intel. Dimas adalah gambaran generasi pertama yang berhubungan langsung dengan peristiwa perburuan 30 September 1965. Meskipun dari yang aku tangkap, Dimas sebenarnya nggak murni ‘kiri’ hanya karena dia sangat dekat degan Hananto. Toh dia juga sering berdiskusi dengan bang Amir tentang agama dan spiritualitas. Tapi kala itu memang begitu kan. Orang-orang dekat juga menjadi incaran. Well, kisah ini berlanjut hingga Mei 1998, ketika Lintang Utara, anak Dimas dengan Vivienne Deveraux, harus mengerjakan tugas akhir berupa  film dokumenter tentang sejarah Indonesia yang juga berkaitan dengan masa lalu ayahnya.

Kalau sebagian pembaca menyukaai the part of romance in this book, aku malah lebih merhatiin tentang aktivitas memasak di Restoran Tanah Air yang banyak menyebutkan bumbu dapur, bau kunyit dan cengkeh, serta resep ikan pindang yang emang sih nggak terlalu dijelasin. Hal itu yang termasuk bikin aku betah bacanya kali ya. Mungkin naluri emak-emak aku lagi terpanggil.

Hal lain yang bikin aku terpesona adalah ketika Leila membuat tokoh-tokoh dalam novelnya terkesan cerdas karena banyak membaca karya sastra tidak hanya Indonesia, tapi juga dunia. Potongan-potongan puisi yang diselipkan bikin novel ‘kelam’ ini menjadi lebih berwarna.

Meskipun berlatar tentang politik dan peristiwa bersejarah di Indonesia, novel ini tidak lantas melelahkan pembacanya. Tutur bahasanya sederhana dan berhasil bikin aku terbawa dengan santai dalam buku yang sebenarnya cukup membuat ‘berpikir’. Leila tidak hanya memberikan cerita tapi juga wawasan. Hubungan antar tokoh juga kuat dan saling mengisi. Aku juga suka little question ending, antara Alam atau Nara.

Pulang, seperti mengajak pembacanya mendefinisi kata itu sendiri.

Pentingkah kita mencari akar jika sudah menjadi sebatang pohon yang kokoh? – hal. 153


February 23, 2016

[review] No Sex In The City - Randa Abdel-Fattah

0komentar


Judul: No Sex In The City
Pengarang: Randa Abdel-Fattah
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: November 2015
Halaman: 416
Rating: 3 of 5

Aku tumbuh dewasa dengan kepercayaan bahwa orang tua tak boleh dilawan; aku putri mereka dan menghormati mereka sebagai orang yang lebih bijak dan berpengalaman. Bukan berarti aku tak pernah bertengkar dan berdebat dan mencoba menggeser keseimbangan kekuasaan, tapi bagiku selalu ada garis—yang diukir rasa hormat, segan dan bersyukur—yang tak berani kulangkahi. – hal. 25
Actually my heart didn’t fit in this book. Ceritanya bikin nggak enak sih, personally. Tapi seru juga kok sebenernya. Mungkin akunya aja yang lagi baper. Tentang Esma, Ruby, Lisa, dan Nirvana, dalam mencari ‘cinta sejati’. Halah. Bukan deh, dalam mencari pasangan hidup tepatnya. Yep, makanya bikin hati nggak enak, hahaha *iykwim*.

Esma dan para sahabatnya mendirikan klub; No Sex In The City, which is mereka sepakat untuk tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah. Berlatar di Australia, tentu nggak gampang memegang prinsip hidup begitu. Tapi bagi Esma seorang Muslim keturunan Turki, yang katanya nggak terlalu taat dalam mematuhi ajaran agama, ia cukup berani memegang teguh beberapa prinsip dasar kayak begini. Well, I like this point, actually.  Esma, 28 tahun, yang masih menjomblo mesti mengalami hari-hari dimana pastinya keluarganya sibuk dalam hal mencomblangkan dia dengan beberapa ‘anak teman Mama/Papa’. Sebenarnya Esma secara pribadi sih nggak masalah for being alone eh single. Daripada dapet calon yang asal-asalan, gitu. *Sounds familiar, yes? Bedanya, adek Esma, Senem sudah memiliki suami, #eh. Hahaha. #bawaketawaaja #padahaldalemhatinangis*

Lika-liku kehidupan Esma, tidak hanya tentang pencarian Mr. Right, tapi juga tentang kehidupan kantor, persahabatan, dan masalah pelik keluarga yang mesti ia simpan berdua dengan Dad. Setiap konflik yang dialami Esma aku pikir diselesaikan penulis dengan tidak terburu-buru. Beberapa bagian malah berhasil bikin deg-degan.

Cinta selalu ada, bahkan jika cinta itu layu dan tergeletak lemas. Itu bukan hal ideal, tapi itulah kehidupan. Menjaga cinta tetap mekar merupakan hal tersulit di dunia. Cinta membutuhkan perhatian yang tak putus. Ada hari-hari ketika akulah yang harus mempertahankannya. Ada hari-hari ketika ayahmu yang mempertahankan. Tapi itu tidak masalah. Sebab kami sama-sama tahu kami tak akan pernah berhenti mencoba. – hal 351
Konflik dalam buku ini juga tidak hanya berkutat tentang Esma. Dibumbui dengan cerita tentang Nirvana dan Rubi tentang ‘calon’ pasangan masing-masing, bikin pembaca sedikit teralihkan dan sukses dalam hal menjaga rasa penasaran. Berbagai konflik yang ditonjolkan sebenarnya bikin buku ini lebih ‘berwarna’. Meski sayang, cerita tentang Lulu tidak terlalu banyak muncul.

Gaya penuturan ceritanya sederhana dan ringan. Termasuk buku yang cepat selesai dibaca deh. Beberapa statement juga quotable. Sayangnya, aku agak terganggu dengan hasil terjemahannya. Meski masih dalam batas toleransi.

Eh, tapi mesti agak hati-hati sih ya bacanya. Kalau boleh aku bilang, buku ini bermaksud ‘meyakinkan’ kita bahwa kalau mau sabar, penantian tersebut akan sepadan dengan hasilnya. Bukan justru kebalikannya. Karena ada beberapa kalimat yang takutnya bikin orang-orang yang mungkin lagi hopeless, berpikir lebih baik sendiri. It’s note to yourself, too, Fia!

*kemudian galau di pojokan*


February 21, 2016

[review] Happily Ever After - Winna Efendi

0komentar

Judul: Happily Ever After
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: Gagas Media
Tahun terbit: Desember 2014
Halaman: 356
Rating: 2 of 5

Sooooooo….drama!

Mulai dari percintaannya, persahabatnnya, kekeluargaannya. Kisah Lulu dengan ayah dan ibunya, konflik Lulu dengan Ezra dan Karin dalam perseteruan cinta segitiga dalam sebuah persahabatan, juga kisah Lulu dengan Eli yang sweet sekali padahal masih anak sekolah *tetiba berasa tua*. Lulu yang dideskripsikan sangat dekat dengan sang ayah harus menghadapi kenyataan bahwa sang ayah menderita sakit parah. Terbiasa dibacakan dongeng sejak kecil membuat Lulu memiliki ketertarikan khusus pada dunia dongeng. Aku suka deh cara penulis menggambarkan Lulu yang ‘pintar’ mengambil hikmah dari cerita-cerita dongeng.

Cerita yang identik dengan dunia anak-anak ternyata mengantarkan Lulu menjadi sosok yang dewasa dan kritis. Butinya, dialah yang memunculkan pertanyaan; apakah di dunia nyata memang ada akhir yang happily ever after. Dan begitulah. Ternyata dunia Lulu tidak happily ever after seperti yang ada dalam dongeng.

Well...meskipun sebenarnya ini udah sering kita denger sih ya.

Ringan dan cukup menghibur. Cerita yang mengalir begitu saja bikin cepet selesai dibaca. Mungkin ini soal selera aja sih. Namanya juga chicklit. Tapi aku cukup terkesan dengan kutipan dari berbagai buku yang selalu dimunculkan di awal bab.  

February 14, 2016

[review] The Coffee Memory - Riawani Elyta

0komentar

Judul: The Coffee Memory
Pengarang: Riawani Elyta
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun terbit: Maret 2013
Halaman: 232
Rating: 3 of 5

Bukan, aku bukan pecinta kopi dan tau banyak tentang per-kopi-an. Jadi bukan karena itu aku mengambil buku ini. Aku hanya penyuka kopi hitam biasa, yang sampai hari ini baru menemukan kopi terenak itu adalah buatan Pak Agus, assistant-man di kantor. Bahkan kopi buatanku nggak seenak itu, eeaaa. Hal menarik yang membuatku mengambil buku ini di leretan buku diskon gramedia adalah sampulnya yang unik. Kayak bungkus kopi. Menarik hati eh mata.

Cerita ringan dan sederhana dari sepasang suami istri pemilik coffee shop ternama di daerah Batam, Nia dan Andro, dimulai dengan klimaks; Andro meninggal. Dibayang-bayangi aroma kopi yang selalu mengingatkan Nia tentang Andro dan kecintaannya dengan kopi, membuat Nia kesulitan melepaskan diri dari kenangan bersama Andro. Di saat yang sama, Nia harus meneruskan usaha coffee shop yang sebelumnya lebih dominan dikelola oleh Andro. Masalah demi masalah muncul, mulai dari loyalitas pegawainya, adanya pesaing baru yang ternyata milik ‘teman’ lama Nia, sampai masalah hati. Tiba-tiba ada pria lain yang mendekat dan ingin menggantikan sosok Andro dalam hidup Nia, padahal Nia belum siap. Meskipun begitu, buatku konflik-konflik baru yang dimunculkan nggak terlalu kerasa gregetnya. Penyelesaian konflik barunya juga kecepetan sih. Coba dibikin lebih dramatis #anaknyalagipenuhdrama

Hmm…satu hal lagi yang aku kurang suka adalah karakter Ratih yang secara langsung disebut plegmatis oleh penulis. Kenapa dia nggak menggambarkan kecenderungan orang-orang plegmatis itu bagaimana dalam cerita ini, instead of langsung nyebutin Ratih adalah orang yang plegmatis. Lantas, kenapa yang lain nggak disebut sebagai orang sanguine atau koleris sekalian? *kemudian ditabok*

Trus…apa lagi yaa..

Cukup menghibur.

Happy ending, off course.

Buat para penikmat kopi dan ingin tau banyak tentang kopi, atau pengen buka usaha kedai kopi, The Coffee Memory bisa deh jadi alternatif bacaan yang ringan dan menarik.  

February 10, 2016

[review] Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi - Eka Kurniawan

3komentar

Judul: Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi
Pengarang: Eka Kurniawan
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun terbit: Maret 2015
Halaman: 170
Rating: 4 of 5

Lagi-lagi karena judulnya. Bikin baper. Impulsif banget sih kamu, fia. *keplak*. Untung aja penulisnya Eka Kurniawan *keplak lagi*. Setelah membaca Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas dan Cantik Itu Luka, aku nggak ragu-ragu buat ambil buku ini.

Sebenarnya sih buku ini kumcer. Jadinya cepet kok diselesaiin padahal sendirinya negbiarin buku ini mendem di tas berhari-hari.

Berisi 15 cerita pendek yang ‘nendang’. Bukan cerita yang biasa-biasa aja, kalau kata orang. Dan yep, aku setuju deh sama statement itu. Tema yang diambil adalah hal-hal yang dekat dengan lingkungan, sehingga pembaca nggak mesti bingung terhadap unsur sastra yang membalut setiap cerita.

Cerita favorit aku adalah tiga cerita pertama *favorit kok banyak gitu*, yaitu gerimis yang Sederhana, Gincu Ini Merah, Sayang, dan Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi.  

Cerita ketiga, yang diambil sebagai tajuk utama kumpulan cerpen ini berkisah tentang Maya yang batal menikah karena diggalkan kekasih semalam sebelum hari pernikahan. Lalu Maya memutuskan ke Pangandaran, mengikuti apa yang ia alami dalam mimpi selama berhari-hari. Di sana ia bertemu Sayuri, perempuan tua yang kelak menjadi kunci atas mimpi-mimpinya selama ini.

Twist yang terletak di menjelang ending bener-bener bikin jleb deh. Meskipun beberapa cerita terakhir aku malah bosen karena ga se-wah sebelumnya. Di buku ini aku melihat lebih dalam kemampuan Eka Kurniawan dalam mengeksplorasi gaya bercerita dan penokohan. Ada-ada saja deh pokoknya.  

Kalau yang nulis anak filsafat emang beda sih ya


February 09, 2016

[review] Tempat Paling Sunyi - Arafat Nur

3komentar

Judul: Tempat Paling Sunyi
Pengarang: Arafat Nur
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juni 2015
Halaman: 328
Rating: 3 of 5

Judulnya. Itu yang membuat aku tertarik untuk membelinya. Selain karena tambahan keterangan di sampul: Peraih Khatulistiwa Literary Award 2011.

Ada kesan tersendiri dari Tempat Paling Sunyi buatku. Buku ini yang secara special menjadi teman perjalanan jauh pertamaku dalam mencari kesunyian terselubung. Meskipun nggak sengaja memilih buku yang terbilang tipis buatku, maksudnya sih biar bisa selesai dibaca selama di pesawat saja.

Kesan pertama yang aku tangkap begitu selesai membaca; buku ini unik.

Siapa sangka buku ini berisi tentang cerita cinta. Cinta dalam rumah tangga. Tentang pergolakan batin seorang Mustafa, yang sering cekcok dengan istrinya, Salma, yang menemukan seseorang lainnya yaitu Riana, karena sikap Salma yang ‘nggak banget deh’ untuk jadi seorang istri. Well, it seems I have to remember and pray not to be like her in the future, eeaaa. Mustafa, yang sebenarnya juga membutuhkan tempat sunyi dan tenang untuk dapat menyelesaikan novel yang ingin ia tulis dengan judul Tempat Paling Sunyi ini.

Dengan latar peperangan dan pemberontakan Aceh yang menurutku tidak terlalu kentara, Mustafa berjuang mati-matian dalam berbagai hal. Mulai dari bertahan dengan Salma yang menurutnya bodoh dan sering mengganggu konsentrasi menulis, berjuang menyelesaikan naskah, entah itu ketika bersama Salma ataupun Riana, berjuang mendapatkan bahan bacaan hingga ke Medan untuk referensi dan inspirasi novelnya, hingga berjuang menyebarkan novel yang ‘akhirnya’ naik cetak ke orang-orang sekitarnya, karena pada masa itu orang-orang masih tidak peduli dengan novel manapun.

Yang mencengangkan adalah ternyata cerita tersebut bukan diceritakan oleh Mustafa. Penggunaan aku memang sempat meragukan, karena Mustafa juga kerap memakai kata aku. Aku, pun bukanlah sosok ketiga di luar cerita. Ketika Mustafa sudah meninggal, Aku muncul dengan sangat dominan. Aku, akhirnya menjadi tokoh penting berikutnya. Selain karena dia juga penulis yang ‘mirip’ dengan Mustafa, dialah yang bersikeras untuk menemukan cetakan novel Tempat Paling Sunyi sudah nggak ada lagi dimana-mana. Aku jugalah, yang mencoba menelusuri kembali catatan-catatan dan buku-buku bacaan Mustafa ketika menulis novel itu. Bahkan Aku mulai tertarik dengan Riana dengan cara yang mirip dengan Mustafa. Aku seolah-olah menjadi tokoh yang hidup dalam Mustafa. Meskipun alurnya agak lambat, ketika udah sampe bagian akhir aku malah penasaran bin nggak sabaran.

Kalau dilihat dari ide cerita sebenarnya mungkin biasa aja ya. Namun cara penyajian Arafat Nur bikin beda.

Oya, aku perrcaya setiap orang perlu tempat paling sunyi dalam hidup.

January 31, 2016

[Review] Hujan - Tere Liye

7komentar


Judul: Hujan
Pengarang: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Januari 2016
Halaman: 320
Rating: 4 of 5

Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya. – hal 201

Well... kejutan baru dari Tere Liye.Sci-Fi bercampur kisah cinta. Berlatar tahun 2042, Tere Liye menceritakan kondisi dunia yang udah canggih banget, namun dengan kondisi bumi yang semakin menua. Unsur science fiction yang dibangun Tere Liye membuat kita berimajinasi mengenai gambaran dunia ini nanti, ketika tahun 2050-an. Sudah ada mobil tanpa supir, juga taksi yang bisa terbang. Beli baju pun gampang, tinggal nyebutin ukuran, warna yang disuka, trus model kayak apa, akan keluar beberapa pilihan di gadget kita. Jadi, toko-toko baju di sana hanya kamuflase. Something yang mungkin aja sih terjadi di masa depan.

Adalah Lail, gadis 13 tahun yang menjadi yatim piatu saat terjadi bencana alam. Gempa bumi dari gunung purba dan mengakibatkan tsunami di belahan bumi lain. Namun, saat bencana itu pulalah ia ‘bertemu’ dengan Esok, lelaki yang menarik tas punggungnya sehingga Lali tidak tergelincir ke dalam lorong kereta bawah tanah. Lail dan Esok kemudian ‘terjebak’ dalam kakak-adik zone selama masa pengungsian. Dimana ada Esok disana ada Lail. Tapi bukan kakak-adik zone yang biasa. Nggak biasa karena mereka berdua memiliki cara yang ‘santun’ dalam menjaga hati #eaaa. Sepertinya Tere Liye menyelipkan nilai-nilai tentang itu di sana.

Juga ada Maryam, sahabat setia Lail. Bertemu setelah masa-masa pengungsian dan mereka pindah ke panti. Sayangnya, hubungan Maryam dengan Lail ini kok perfect banget ya. Kayak nggak ada berantemnya gitu. Apalagi Maryam yang tau bahwa hubungan Esok dengan Lail itu lebih sedari sekedar kaka-adik zone. Nah, dengan karakter Lail yang introvert, kok dia nggak dibikin marah ‘beneran’ ketika Maryam menggoda hubungan yang terjalin antara mereka berdua.

Nah, masa itu diceritakan kalau bencana alam yang terjadi itu baru permulaan. Setelah itu terjadi musim dingin berkepanjangan. Daerah subtropis pun bisa turun salju. Kejadian ini membuat pemerintah meluncurkan sebuah pesawat ulang-alik untuk mengembalikan ke iklim yang semestinya. Sayangnya, ada efek jangka panjang yang harus diterima penduduk bumi.

Kenapa Hujan?

Ceritanya semua hal penting yang terjadi dalam kehidupan Lail terjadi ketika hujan. Apa aja kejadiannya, silakan baca sendiri. Konflik dalam novel ini sebenarnya sudah disuguhkan di awal cerita; ketika Lail ingin menghapus memori tentang hujan. Oh, di buku ini bahkan udah ada teknologi untuk menghapus ingatan. Ingatan yang mana aja kamu mau. Kayak film Eternal Sunshine of the Spotless Mindnya Jim Carrey.
Bukan melupakan masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan. – hal 308
Apa kaitan semua itu dengan Lail? Baca aja sendiri.

Aku suka alurnya. Keseluruhan cerita hanya terjadi kurang dari satu hari, tapi bisa mengisahkan potongan-potongan kejadian bertahun-tahun lalu. Aku juga suka quotenya yang ngena banget #curhat. Haha, bukan..tapi suka dengan nilai-nilai yang ada di dalamnya. And most of all, aku suka endingnya.
 
Buat kamu pecinta hujan, mungkin kamu bakalan suka.
Apalagi kalau bacanya pas lagi hujan.
Atau lagi berusaha untuk deal with memories.    
Toh semua akan kalah oleh waktu. Ibu belajar banyak bahwa sebenarnya hanya orang-orang kuatlah yang bisa melepaskan sesuatu, orang-orang yang berhasil menaklukkan diri sendiri. Mesi terasa sakit, menangis, marah-marah, tapi pada akhirnya bisa tulus melepaskan, maka dia telah berhasil menaklukkan diri sendiri. – hal 298

Hidup ini juga memang tentang menunggu, Lail. Menunggu kita untuk menyadari: kapan kita akan berhenti menunggu – hal 228
Oiya, aku rela nungguin buku ini terbit demi ikutan Reading Challengenya Mbak Yuska. Karena challenge bulan Januari adalah membaca buku dengan judul Hujan/Rain atau buku dengan cover biru. Pas banget kan J
 

tentangku © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates